Sampah Plastik Jadi Furnitur Estetik, Koboi vs Tertib serta Bermula dari Tukang Kayu

Sampah Plastik Jadi Furnitur Estetik, Koboi vs Tertib serta Bermula dari Tukang Kayu

Sampah Plastik Jadi Furnitur Estetik, Koboi vs Tertib serta Bermula dari Tukang Kayu
Dalam Artikel Ini

Selamat berakhir pekan. 

Berikut informasi seputar tren yang sedang ramai dibahas di publik.

Andi Septiadi Ubah Sampah Plastik Jadi Furnitur Estetik

Suara mesin pencacah itu terdengar bising. Tiga pekerja laki-laki terlihat dari kejauhan bergerak cepat dalam bekerja. Situasi itu merupakan keseharian CV Recycle Investama, pabrik pengolahan di kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Dalam gudang berlantai dua itu, beberapa pekerja terlihat lihai dengan tugas masing-masing. Ada yang menyortir limbah plastik, ada yang mencuci dan ada yang memasukkannya dalam mesin pengering.

Tak jauh dari sana, terbentang di hamparan area tersebut, karung-karung berisi ragam sampah plastik, mulai dari botol air minum kemasan, gelas kemasan, hingga tutup botol, menggunung menunggu giliran untuk diproses.

Sampah-sampah itu menjadi bisnis menjanjikan bagi Andi Septiadi (39), pendiri CV Recycle Investama. Ia menghasilkan omset ratusan juta rupiah per bulan dengan mengolah sampah plastik itu menjadi berbagai furnitur.

Andi Septiadi selaku owner CV Recycle Investama yang menggerakkan ekonomi sirkular di Setu, Cipayung Jakarta Timur. Foto: Nana/Suar.id

Indonesia Design Week (IDW) 2026 yang berlangsung pada 18–27 September di Indonesia Design District, PIK 2, merupakan opsi kegiatan akhir pekan yang menarik untuk dikunjungi bersama keluarga. Acara ini menyajikan ragam pameran serta program kreatif seputar desain, arsitektur, kriya, hingga busana yang cocok untuk mencari inspirasi rumah. Selain itu, para orang tua dapat memanfaatkan momen jalan-jalan santai di area ini untuk mengenalkan instalasi karya visual yang inspiratif kepada anak-anak.

Korea Travel Fair 2026 yang hadir pada 18–20 September di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, menjadi pilihan kegiatan akhir pekan gratis yang pas untuk dinikmati bersama keluarga. Diselenggarakan oleh Korea Tourism Organization Jakarta Office, acara ini menyajikan berbagai pengalaman menarik serta informasi wisata seputar Korea bagi para pencinta budaya K-Pop dan drama. Tanpa perlu naik pesawat, para orang tua dan anak-anak bisa merasakan suasana liburan ke luar negeri sambil mengikuti beragam aktivitas seru di lokasi.

NISKALA – Suara Kepulauan yang digelar pada Sabtu, 19 September 2026, di Galeri Indonesia Kaya, menawarkan pertunjukan seni yang ideal untuk mengisi kegiatan akhir pekan bersama keluarga. Pertunjukan gratis untuk semua umur ini menghadirkan kolaborasi musikal antara Svbito String Quartet dan Dhea Seto melalui alunan string quartet serta interpretasi tari lagu-lagu daerah. Memiliki dua pilihan jadwal tampil (pukul 15.00 dan 19.00 WIB), acara ini menjadi momen yang tepat bagi para orang tua untuk mengenalkan kekayaan budaya nusantara kepada anak-anak dengan catatan perlu melakukan reservasi terlebih dahulu.

Gaya Koboi dan Gaya Tertib

Koboi. Itulah deskripsi umum publik tentang Purbaya Yudhi Sadewa. Gaya slengean. Bicara blak-blakan. Kerap bergerak keluar batas pakem lazim.

180 derajat berbeda dengan Purbaya adalah Suahasil Nazara. Sosoknya tenang. Bicaranya tertata dan santun. Suahasil bak murid teladan yang disiplin menaati koridor aturan sekolah.

Kita baru saja menyaksikan estafet kepemimpinan bendahara negara dari seorang bergaya bak koboi menjadi pemimpin bergaya tertib. 

Tulisan ini dibuat tidak untuk menilai Purbaya atau memprediksi kebijakan Suahasil. Tidak. Tapi mari kita tarik ke konteks korporasi. Bila anda jadi pemimpin perusahaan, pendekatan gaya manajerial seperti apa yang anda pilih? Bergaya koboi atau gaya tertib?

Bermula dari Tukang Kayu

Saudaraku, Indonesia ini negeri kayu. Rumah-rumah dulu bersandar pada reng dan kaso; tiang, kursi sidang, hingga palu hakim lahir dari batang hutan. Kayu bukan sekadar benda, tapi bahasa kehidupan.

Namun, antara perlindungan dan ancaman, batasnya tipis. Di tangan tukang kayu yang arif, negeri tertata. Tapi, jika tukang kayu “main kayu”, tangan yang mestinya menyokong jadi mengacaukan.

Menata bangsa pun mesti dimulai dari hikmah kayu—tersirat dalam peribahasa, tersimpan dalam filosofi yang pelan-pelan terlupakan.

“Adakah kayu di rimba sama tinggi?” Tidak. Rimba mencerminkan masyarakat: ada yang cendekia, ada yang tersisih; yang kaya menjulang, yang papa merunduk. Maka, adil-lah dalam menakar.

Cendekiawan Muda Yudi Latif (Foto: AI/ Tim SUAR)
ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Weekend Bright

Rekomendasi SUAR