Ringkasan Eksekutif: Merayakan Batik Indonesia

Ringkasan Eksekutif: Merayakan Batik Indonesia

Pemerintah kota Surakarta melakukan pendekatan storynomics serta penerapan model ekonomi upselling yang membidik segmen pembeli berdaya beli tinggi (top spenders).

Ringkasan Eksekutif: Merayakan Batik Indonesia
Dalam Artikel Ini

Eksklusif: Strategi Wali Kota Surakarta Jaga Warisan Batik Tulis 

Pemerintah Kota Surakarta merumuskan arah strategis untuk menjaga keberlanjutan batik tulis di tengah masifnya gempuran kain bermotif batik cetak (printing) murah. Strategi utama yang diusung oleh Wali Kota Respati Achmad Ardiyanto menekankan pada pendekatan storynomics serta penerapan model ekonomi upselling yang membidik segmen pembeli berdaya beli tinggi (top spenders). Langkah ini diambil untuk memastikan perajin mendapatkan harga yang layak dan proporsional atas karya seni bernilai tinggi yang mereka hasilkan.

Beberapa hal yang dilakukan Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardiyanto antara lain:

  • Wali Kota Surakarta mendorong perajin batik tulis untuk berani menetapkan harga yang layak demi menjaga kualitas dan meningkatkan kesejahteraan ekosistem perajin.
  • Pemkot Surakarta menerapkan strategi upselling yang menyasar konsumen berdaya beli tinggi untuk mendukung keberlanjutan ekonomi para pelaku usaha batik tulis.
  • Pendekatan storynomics dan edukasi proses pembuatan kain digunakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap nilai seni batik tulis.
  • Regenerasi perajin terus diupayakan melalui pembukaan jurusan batik di sekolah menengah kejuruan serta pemberian motivasi bagi generasi penerus.
  • Membatik kini dikembangkan sebagai bagian dari program wellness city yang menawarkan aktivitas relaksasi dan mindfulness bagi generasi muda.
  • Motif batik tradisional seperti Wahyu Tumurun dan Parang memiliki filosofi mendalam mengenai spiritualitas, keteguhan hidup, dan penghormatan pada tata krama.
  • Solo akan melakukan pertukaran budaya dengan Kota Xi'an di China melalui rencana pemasangan monumen bermotif batik parang di sana.
  • Kendala utama ekspor batik tulis ke pasar Barat adalah ketiadaan minat pasar yang cenderung lebih menyukai pakaian tanpa corak ramai.
  • Wali Kota Surakarta bercita-cita menjadikan Kampung Batik Kauman dan Laweyan sebagai pusat destinasi serta pembelajaran batik tingkat internasional.

Video:
Dalam menyambut hari Batik, Pemimpin Redaksi sekaligus Founder Suar.id Sutta Dharmasaputra mewawancarai Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto, membahas upaya menjaga keberlangsungan batik tulis dan batik cap, meningkatkan apresiasi serta kesejahteraan perajin, hingga mendorong generasi muda untuk meneruskan tradisi batik sebagai bagian dari kekuatan ekonomi kreatif.
Solo juga memiliki ambisi menjadikan Kampung Batik Kauman dan Laweyan sebagai destinasi internasional untuk mengenal lebih dalam proses, sejarah, dan filosofi batik.
Seperti apa strategi Solo membawa batik ke panggung dunia? Dan mampukah generasi muda meneruskan warisan batik tulis? Saksikan wawancara lengkapnya hanya di laman Suar.Id dan Kanal Youtube Suar.id

Menjaga Warisan Batik Tulis Surakarta
Batik Solo bukan sekadar kain, tetapi warisan budaya yang menyimpan nilai seni, filosofi, dan identitas masyarakat. Dalam menyambut hari Batik, Pemimpin Redaksi sekaligus Founder Suar.id Sutta Dharmasaputra mewawancarai Wali Kota Surakarta Respati Achmad Ardianto, membahas upaya menjaga keberlangsungan batik tulis dan batik cap, meningkatkan apresiasi serta kesejahteraan perajin, hingga

Rahasia Membuat Batik Tulis Berharga Fantastis

  • Pendekatan modern dan strategi inovatif kini menjadi kunci utama para pelaku usaha dalam mengubah persepsi publik serta mendongkrak nilai jual industri batik di Indonesia. CEO Batik Trusmi, Sally Giovanny, dan Pendiri Batik Garuda Kencana, Yos Christian Addyputra, secara konsisten memadukan unsur tradisional dengan gaya kontemporer demi menjangkau pasar kelas atas hingga Generasi Z.
  • Lewat transformasi desain, penataan galeri yang personal, hingga penerapan kampanye internasional dan keberlanjutan lingkungan, batik berhasil didorong naik kelas dari sekadar busana formal menjadi produk fesyen berkelas dunia. Langkah adaptif ini dibarengi pula dengan upaya menjaga keberlanjutan ekosistem batik dan autentisitas nilai sejarahnya. Kedua pengusaha tersebut berfokus pada kekuatan cerita (storytelling), layanan eksklusif, serta efisiensi produksi ketimbang terjebak dalam persaingan harga melawan produk kain bermotif cetak (printing).
Berbagai jenis batik tulis premium terpajang di etalase galeri Store Batik Trusmi di Jakarta, Senin (28/09/2026). (Foto: Ahmad Afandi/SUAR)

Cerita Duta Besar Cairkan Obrolan Dunia Lewat Batik

  • Dialog di meja perundingan internasional tak selalu berjalan alot. Ada kalanya sebuah percakapan hangat melalui motif batik yang dikenakan bisa mencairkan suasana dingin dan kaku tersebut. Hal tersebut membuktikan bahwa batik bukan sekadar busana formal, melainkan instrumen soft power paling ampuh yang dimiliki Indonesia. Sejak UNESCO menetapkan batik sebagai warisan dunia pada 2009, nama batik kian bergema di mancanegara.
  • Kain ini tak sekadar jadi seragam kebanggaan delegasi Indonesia di kancah internasional, tetapi juga memikat hati pemimpin dunia sekelas Nelson Mandela dan Ratu Beatrix dari Belanda yang juga pernah mengenakan batik. Dalam peringatan Hari Batik Nasional pada hari ini, 2 Oktober, sejumlah Duta Besar Indonesia dan perwakilan negara sahabat memberikan cerita eksklusif arti batik bagi dunia diplomasi internasional serta bagaimana kain tradisional Nusantara ini menjadi jembatan persahabatan antarnegara. Berikut lengkapnya:
Para Duta Besar Indonesia dan Negara Sahabat membagikan kisahnya menggunakan batik. (Foto: Kreasi AI/ SUAR)

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Ringkasan Eksekutif

Rekomendasi SUAR