Eksklusif: Strategi Wali Kota Surakarta Jaga Warisan Batik Tulis
"Untuk para perajin batik tulis, tolong jangan ragu, percaya dirilah, jaga kualitas, kita target ke top spenders."
"Untuk para perajin batik tulis, tolong jangan ragu, percaya dirilah, jaga kualitas, kita target ke top spenders."
Perkembangan industri tekstil modern menghadirkan tantangan tersendiri bagi kelestarian batik tulis di Indonesia.
Serbuan kain bermotif batik hasil cetakan pabrik (printing) dengan harga murah kian menggeser keberadaan karya kerajinan tangan yang kaya akan filosofi dan nilai seni ini.
Fenomena tersebut disinyalir turut berdampak langsung pada penurunan jumlah perajin serta kesejahteraan para pelaku usaha batik tradisional, khususnya di pusat peninggalan budaya seperti Surakarta.
Sebagai upaya merespons dinamika ini, Pemerintah Kota Surakarta atau yang lebih dikenal dengan Kota Solo merumuskan visi strategis untuk menjaga keberlanjutan dan meningkatkan nilai ekonomis batik tulis.
Pendekatan yang diambil menekankan pada penguatan identitas karya budaya, perlindungan ekosistem perajin, serta penerapan strategi pemasaran yang menyasar segmen pasar bernilai tinggi (top spenders).
Bersama dengan redaksi SUAR, Sutta Dharmasaputra, Tria Dianti, Agung Mahesa, Ridho Syukra dan pewarta video Ahmad Afandi di Bogor, Selasa, 29 September 2026 lalu, Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardiyanto memaparkan langkah, tantangan, serta filosofi di balik pelestarian warisan budaya batik tulis Surakarta.
Berikut petikannya:
Bagaimana Pak Wali Kota melihat ekosistem batik dan boleh dikatakan Surakarta sebagai Ibu Kota batik. Apakah industri batik saat ini itu sebetulnya sudah berjalan dengan baik? Atau pasti perlu dijaga bahkan dibuat menjadi lebih berkesinambungan?
Kami memahami betul. Batik itu tidak hanya sekedar pakaian. Batik itu dulu hanya dikenakan untuk bawahan. Namun akhirnya diwajibkan dipakai untuk atasan. Batik sendiri itu ada yang namanya kain batik, ada yang namanya kain bermotif batik. Jadi ada batik tulis, cap dan printing.
Nah batik tulis ini adalah yang dibuat, dilapis, diwarna. Orang Solo jaman dulu kepandaiannya itu bagaimana dia bisa meramu tulisan, dan meramu pewarnaan dengan menggunakan bahan-bahan.
Kami juga melindungi pengrajin kami, untuk bisa terus mempromosikan, dan memang harus menyampaikan, ini nilainya. Ini tidak sekadar kain, tapi ini adalah nilai seni dan budaya nasional.
Tadi dikatakan ada batik tulis, ada batik cap tapi juga sekarang seiring dengan perkembangan era-era, muncul batik printing yang sangat masif. Banyak orang belum mengerti keindahan batik tulis. Bagaimana menurut bapak?
Jadi memang kami di Surakarta biasanya dibagi menjadi beberapa daerah yang dikenal sebagai penghasil perajin batik tulis. Mereka banyak berjualan di kampung Batik Kauman dan Laweyan. Itu kalau orang yang mengerti pasti mengetahui valuenya.
Dan saya sampaikan ke para perajin batik tulis di sana tolong jangan jual murah. Karena ini, cara kita harus menghormati kesejahteraan para perajin, ekosistem batik tulis itu harus naik, karena kalau kita jual murah, ini akan mendegradasi kita.
Kami memahami ada UMKM naik kelas yang dimulai dari batik printing. Tapi batik tulis, saya berharap akan menjaga kualitas, lalu kemudian mendapatkan harga yang pantas yang diberikan.
Saya sudah membuka Fundamental Economy Kota Surakarta, Kota Solo. Itu konsep 80-20. 80 merupakan kelas ekonomi menengah. Itu kita harus upselling the top spenders.
Jadi para perajin batik. Saya minta sampaikan ke mereka, jangan ragu, percaya diri, jaga kualitas, kita target ke top spenders. Kota Solo ini, Pak, harus naik ke top spenders. Orang yang punya daya beli yang kuat itu akan mensubsidi 20 persen lainnya.
Jadi para pelaku usaha, ayo, percaya diri. Untuk jualan barang batik tulis dengan harga yang proper, harga yang pas.

Sebetulnya harga proper untuk batik tulis dan batik cap itu seperti apa sih?
Intinya, kalau batik tulis itu kan lukisan, pakai tangan. Misal pergi kondangan tampil beda dan tidak mungkin dikembarin, itu pasti batik tulis. Saya memang ingin dengan meningkatnya kualitas, pasti digunakan di berbagai forum tertentu.
Beberapa showroom menampilkan batik-batik yang kuno berupa peninggalan leluhur. Harganya bisa mencapai Rp25 juta, Rp50 juta bahkan Rp100 juta untuk satu lembar kain. Para kolektor bersedia membelinya karena kain itu seperti lukisan.
Apakah perlu dijelaskan oleh perajin bahwa batik tulis dibuat berapa hari sehingga karya itu menjadi semakin mahal? Sejauh mana pemerintah Solo mendukung itu?
Kami memaknai hari batik full di bulan Oktober. Konsepnya adalah di bulan batik namanya batik trip. Karena, saya menyadari dengan narasi yang jelas, dengan storytelling yang jelas, atau kita sebut sebagai storynomics Batik tulis itu dari mulai selembar kain putih, butuh proses yang luar biasa. Mulai dari perajin di desa didistribusikan ke kota, di-display dan laku di pasaran. Ini butuh waktu dari dia melukis, membuat malam, menjemur, pewarnaan, motong, menjahit sampai finishing berhasil.
Tadi Pak Wali menyebut, perajin masih banyak, itu generasi tua atau banyak juga generasi muda?
Challenge-nya di situ, ya. Tapi memang ada SMK-SMK, yang memang sudah mulai, ada, mengajarkan menulis batik itu. Itu tantangan butuh kesabaran, butuh ketelatenan.
Tugas kami untuk memastikan SMK-SMK, sekolah-sekolah itu membuka jurusan batik untuk para perajin batik. Karena pewarnaan itu memang sulit.
Saya mengenal semua para pelaku usaha tadi sudah second generation. Mereka banyak yang sudah mulai ragu. Saya harus terus menyemangati mereka.
Saya rumahnya di Laweyan, proses batik tulis itu dengan menggunakan kayu bakar, terus pakai kayu besar, dan aduk kain, untuk mewarna. Anaknya udah gak mau, tapi kan autentiknya di situ.
Seringkali justru penghargaan terhadap hasil karya batik itu yang masih rendah justru di tingkat perajinnya. Kalau di tingkat pedagangnya ini sudah dapat margin yang cukup besar. Nah ini gimana Pak Wali mengubah bahwa justru keuntungan terbesar harusnya justru didapatkan oleh perajin. Karena mereka sebetulnya adalah para pembuat-pembuatnya yang membutuhkan keterampilan yang luar biasa?
Makanya saya mengajak kementerian ekonomi kreatif khususnya, karena ini masuk 18 subsektor ekonomi kreatif. Saya mohon bantuannya dan kementerian perdagangan. Tolong apresiasi batik tulis. Saya lihat kok yang diapresiasi kok kain batik gitu loh.
Kami butuh bantuan Kementerian Perdagangan, Kementerian Ekraf untuk masuk ke perajin batik. Di wilayah Sukoharjo di Solo, ada sebagian dan toko-toko yang memang ada tanda otentisitasnya, Pak.
“Ayolah, mari nanti menggandeng dengan pemerintah daerah kami tunjukkan. Ini loh yang pengrajin asli. Ini loh yang memang dia sudah melestarikan lama.”
Kalau memang itu nanti dari Kementerian akan membantu ngeboost para perajin, otomatis, reseller akan berdatangan. Itu memotong mata rantai lah. Pastinya kesejahteraan para pengrajin pasti akan meningkat dan akan menginspirasi para anak muda mau kembali lagi ke batik tulis.
Atau mungkin dari pemerintah kota Surakarta sendiri, Pak Wali. Apakah punya semacam kayak marketplace khusus untuk batik tulis?
Jadi kami di INAKRAF Dekranas Expo-Expo Nasional di JCC itu selalu hadir dan yang kami bawa itu batik tulis. Tapi memang yang namanya batik tulis harus terus dipromosikan.
Tapi Surakarta belum punya, Pak, ya? Semacam aplikasi untuk membeli khusus karya-karya batik tulis di Surakarta?
Pemerintah Surakarta hanya memfasilitasi dan mempromosikan. Ayo gunakan batik tulis, ayo gunakan batik cap. Justru mempersilahkan mereka untuk menjualnya di mana saja. Justru kami tidak ingin nampak seperti berbisnis gitu dengan masyarakat. Tapi kami mempromosikan untuk orang menghormati kain batik tadi. Jadi, identitas ya.
Dan kami juga lagi mengusungkan Solo Wellness City 2030. Jadi ekosistem wellness ini termasuk promosi di Solo. Ini kan orang sudah tahu pasti kuliner, belanja batik. Belanja batik dan ini kan ada experience untuk wellness-nya. Nah, salah satu workshop yang sekarang anak-anak muda senang, itu adalah belajar membatik.
Anak-anak ternyata, oh begini ya. Ternyata susahnya ya. Ada membatik yang sederhana pakai malam, pakai canting yang ditiup-tiup, terus menggambar.
Itu kan juga bentuk relaksasi, mindfulness. Dan ini ternyata diminati. Kami lagi mengajak teman-teman muda ekonomi kreatif untuk mari menjaga apa yang sudah ada dari leluhur ini, kita packaging ulang. Kita buat narasi ekonominya, storynomics tadi. Ayo kita jual. Jangan jual murah. Upselling the top spenders. Target untuk mereka yang punya daya beli
Ada data tidak, Pak, di Surakarta sebetulnya perajin batik tulis itu ada berapa banyak?
Perajin kita berkurang terus ya. Namun,saya jujur belum punya data real untuk pengurangannya.
Perajin tersebar di Surakarta dan Yogyakarta. Kalau yang di Jalan Malioboro itu showroom biasanya, toko saja, untuk berdagang.
Kami di Surakarta ini menawarkan experience berbelanja dengan kampung wisata. Kami juga memiliki museum Batik Danar Hadi.
Ngomong-ngomong, Pak Wali paling senang batik corak apa ini, Pak Wali?
Kalau saya sih sukanya Wahyu Tumurun. Karena Wahyu Tumurun itu apapun ya, kita kepercayaan agama pun, bahwa wahyu itu turun, nggak bisa dari bawah, gitu.
Bahwa kewahyon, takdir, kita untuk mengingat terus bahwa itu atas kebesaran Yang Maha Kuasa. Kita sebagai sesama manusia, sama-sama minum kalau haus. Sama-sama makan kalau lapar. Intinya sesama manusia. Tapi ketika kita diberi wahyu dari Sang Maha Kuasa, Sang Maha Pencipta, ya kita tidak boleh melupakan bahwa kita sesama manusia.

Bisa diceritakan sedikit, Pak Wali, filosofi-filosofi apa dari balik batik Surakarta ini?
Kami sangat menghormati namanya batik parang. Batik parang digunakan oleh raja-raja. Kami menghormati para raja-raja Kasunanan, Mangkunegara. Batik parang ini seperti gelombang. Seperti huruf S yang berjejer seperti ombak.
Filosofinya batik parang itu, kita dihantam ombak berulang-ulang itu bukan sebagai musibah. Tapi justru menempa kita untuk jadi lebih kuat. Kita menjadi pribadi yang lebih kuat. Dengan ujian-ujian hidup.
Semua orang, semua profesi mulai dari rekan-rekan pengundi becak, driver ojol, pedagang, guru, dosen, pengusaha, politisi, profesional, dan lain-lain.
Itu semua pernah diuji. Tapi kami filosofi Jawa batik parang ini kita dalam mendapatkan ujian harus benar-benar kuat untuk pribadi yang lebih baik. Itu yang kami ingin sampaikan.
Jadi artinya dalam mengenakan pakaian batik itu sebetulnya itu pun menggambarkan filosofi yang sebetulnya sangat dalam ya?
Seperti layaknya filosofi orang Solo, kita tahu posisi ketika berada di suatu tempat, suatu ruangan. Batik pun juga begitu. Ketika kita berkunjung ke Keraton, nggak boleh batik parang. Jadi kita, kalau orang Jawa, ngrumangsani (tahu diri) atau menghormati.
Kami di kota Solo ada sister city dengan kota Xi'an di China.Nanti kami akan diberikan sesi untuk pertukaran budaya dengan memasang monumen batik parang di kota Xi'an pada akhir Oktober.
Nah, bicara tentang negara lain, Pak Wali. Sebetulnya bagaimana langkah Pak Wali juga ini meningkatkan market batik ini bukan saja dia menjadi tuan rumah di dalam negeri, tapi juga justru ke mancanegara?
Di Solo itu ada yang ekspor batik, tapi bukan batik tulis, melainkan batik pantai, karena di Eropa tidak begitu senang dengan batik tulis. Orang Eropa biasanya maunya warna soft. Dia nggak mau corak ramai.
Di Amerika Latin juga ada marketnya seperti Kolombia yang senang batik cap atau batik tie dye. Mereka juga senang dengan yang warnanya gonjreng. Potensi ekonominya luar biasa. Dan banyak sekali data kami yang batik mahal justru ke penuh Amerika. Tapi bukan batik tulis.
Tapi saya sangat berharap memang batik tulis ini filosofinya bisa dikenal oleh orang asing. Kita undang mereka, kita terus promosi supaya mereka bisa beli batik ke Indonesia. Dari sisi devisa juga meningkat.
Sebetulnya apa kendala ekspor dari batik tulis, Pak?
Market-nya nggak ada, Pak. Memang nggak ada market-nya. Berbagai event kita ikuti sampai atase perdagangan. Konsep orang Barat itu tidak menggunakan pakaian bercorak.
Bagaimana kalau di negara-negara Asia?
Kalau Asia pun, ya biasanya kita pakai itu untuk sebagai craft to souvenir. Misal, lukisan tapi motifnya batik. Bukan untuk dikenakan sebagai pakaian. Itu masih ada. Cuma kan memang nggak bisa dalam jumlah besar.

Menurut bapak, batik merupakan alat soft diplomacy untuk menghangatkan budaya antar-negara?
Ya benar, it's just like diplomacy. Tapi nggak bisa semasif barang ekonomi. Ekspor terbesar masih berasal dari biji-bijian, cocoa, vanili, hasil bumi dan pertanian.
Tapi kalau craft, itu masih banyak di mebel. Saya masih lihat craft-nya pasti kebanyakan masih di furniture. Kalau kain, iya ada. Namun tidak sebesar Bangladesh.
Bagi saya, batik ini saya tetap berharap quality. Ini adalah warisan budaya bangsa yang harus kita lestarikan. Dan nilai ekonominya, IP-nya, valuasinya harus naik terus. Karena ini sejarah kita, peninggalan dari leluhur kita.
Saya dengar Pak Wali sangat aktif mengkampanyekan batik di Surakarta, bahkan sampai mendorong perajin batik yang disabilitas ya, Pak Wali? Bagaimana ceritanya?
Jadi, karena batik ini sudah membudaya, ada namanya di Kelurahan Serengan itu, dia punya cara, teman-teman disabilitas dengan keterbelakangan mental, kita ajak membatik. Namanya batik ciprat.
Kita pakai malam (lilin). Malam itu kan direbus, panas. Nanti kalau sudah mengering kan jadi motif ciprat. Imajinasi menurut mereka. Setelah diciprat nanti dikeringkan, diwarnai dan di-finishing sama mereka. Nanti terus dipamerin kita di acara-acara, kita promosiin. Abstrak, motifnya. Tapi kita narasinya adalah membantu rekan-rekan dari dinas sosial kami, para relawan kami yang mendampingi kaum disabilitas itu.

Jadi kalau dilihat dari gender, Pak Wali, kebanyakan pebatik itu pasti perempuan?
Jadi orang Laweyan, sudagar Laweyan, termasuk leluhur saya, orang Solo itu biasanya laki-laki itu sebagai kurator. Nah, yang bekerja luar biasa itu istri. Ini agak patriarki, ya. Mungkin sudah nggak relevan dengan sekarang, gitu. Dia yang bisa nulis keuangan, dia yang tahu motif, dia yang pedagang berjualan. Suami, itu yang mengkurasi.
Suami yang mewarnai, mengaduk-aduk. Bahasanya bohir-nya lah. Istri yang canvassing, jualan.
Itu nenek-nenek saya, saya mohon maaf, bukan sekarang, gitu. Tapi, ini kulturnya orang dulu. Para saudagar Batik Laweyan Solo ini, dianggap berhasil suami-istri, ketika istri pandai membantu suami mencari uang. Itu dulu.
Apakah Bapak ada mimpi akan membawa ke mana Surakarta ini? Sampai ke titik mana batik Surakarta ini?
Jadi, kami targetnya, kita ada dua kampung batik yang luar biasa, yaitu Kampung Batik Kauman, Kampung Batik Laweyan ini. Saya berharap ini menjadi destinasi spot internasional yang dikenal dunia akan mempelajari tentang batik di Kota Solo. Batik itu tidak hanya tentang nilai ekonomi, tidak hanya tentang pakaian.
Saya berharap, target saya, batik menjadi filosofi internasional, menjadi warisan budaya Indonesia, warisan tak benda yang ada berbentuk intangible asset-nya Indonesia untuk dunia. Itu target saya.
Kami lagi mengonsep kawasan K3 di Solo yaitu Kemlayan - Keprabon dan Kauman. Kemlayan bergerak di sektor ekonomi kreatif. Keprabon lebih ke daerah mangkunegaran yang dekat dengan kawasan heritage, sedangkan Kauman lebih ke wilayah cendekiawan.
Nah, Pak Wali itu untuk meraih mimpi tadi yang disampaikan Pak Wali, menjadikan Surakarta sebagai pusat dunia, bahkan untuk belajar tentang batik khususnya di Laweyan dan Kauman, tentunya pemerintah kota tidak bisa sendirian. Harus dapat support juga dari pemerintah provinsi, bahkan pemerintah pusat. Kira-kira apa yang diharapkan dari pemerintah pusat untuk men-support inisiatif dari Pemkot Surakarta ini yang saya rasa sangat baik ke depan?
Simpel saja Pak, sebetulnya kami butuh dari pemerintah pusat itu sederhana saja. Untuk membantu mempromosikan batik tulis dan batik cap. Itu saja Pak. Membantu mempromosikan dan memberikan pengertian ke masyarakat luas.
Kami ingin Kementerian Ekraf, Kementerian Budaya Kementerian Pariwisata, Kementerian Perdagangan terutama Kementerian Perdagangan mungkin ya untuk mengenalkan batik tulis, mempromosikan khususnya batik tulis dan batik cap.
Apa yang ada di gambaran Pak Wali mengharapkan empat kementerian itu untuk mempromosikan? Detail seperti apa?
Mempromosikan agar masyarakat tahu filosofi batik dan akhirnya lebih menghormati apa itu batik tulis. Sebenarnya kita cuma ingin menghormati batik tulis dan lebih nilai sebuah batik ini jangan sembarangan. Itu saja. Karena unggah-ungguh, ada budi pekerti itu bisa dipelajari melalui batik.
Di program kementerian masing-masing saya harapkan ada promosi tentang batik. Dan membedakan kain motif batik dengan batik asli.
Terakhir Pak Wali ada himbauan ya atau mungkin harapan kepada Sobat Suar yang decision maker, business leader atau public figure tentang batik, khususnya di hari batik ini?
Jadi, untuk memperingati hari batik ini saya mengajak seluruh Sobat Suar yang hadir, yang melihat di mana pun berada, mari kita lestarikan warisan budaya dari leluhur kita. Dengan menggunakan batik, dengan mempelajari batik saya berharap mindfulness ketenangan jiwa dan keteguhan mental untuk membawa keberkahan dan kebermanfaatan untuk masyarakat kita lebih luas. Batik membawa berkah untuk bangsa Indonesia.