Meneropong Keyakinan Dunia Usaha di Triwulan Terakhir 2026 Sebagai Landasan 2027
Menilik bagaimana perkiraan perekonomian pada triwulan IV-2026 dan 2027.
Menilik bagaimana perkiraan perekonomian pada triwulan IV-2026 dan 2027.
Tahun 2026 menyisakan kurang dari dua bulan lagi. Kinerja di triwulan terakhir tahun ini dapat menjadi landasan bagaimana laju perekonomian di tahun 2027. Lantas peneropongan ke depannya?
Untuk melihat bagaimana keyakinan ke depan, ada baiknya kita melihat kondisi terkini terlebih dahulu. Suar mencoba mengulas hal ini dengan mengambil riset dari dunia usaha, lembaga negara, dan lembaga riset/think thank.
Dalam survei Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Business Pulse Q3-2026 terungkap bagaimana kondisi dunia usaha saat ini dibandingkan kondisi sebelumnya dan bagaimana persepsi keyakinan mereka ke dapan. Adapun survei dilakukan pada 330 anggota Kadin di 28 provinsi pada periode 14 September – 30 September 2026. Ini merupakan survei rutin tiap triwulanan yang dilakukan Kadin untuk
Sebanyak 23,9% responden menjawab setuju bahwa kondisi bisnisnya pada triwulan terkini lebih baik ketimbang triwulan sebelumnya. Dibandingkan survei triwulan sebelumnya, jumlah responden yang menjawab kondisi yang lebih baik dibanding sebelumnya sebesar 22,8%.
Sementara itu, jumlah responden yang tidak setuju turun menjadi 40,6% dari sebelumnya 47,1%. Sedangkan sebanyak 35,5% responden menjawab biasa saja.
Menurut Direktur Insights Kadin Indonesia Institute Fakhrul Fulvian survei ini menunjukkan tekanan yang dialami pengusaha mulai mereda. Namun, perbaikan ini belum sepenuhnya diikuti sentimen positif. Pola ini menunjukkan bahwa pelaku usaha yang sebelumnya pesimistis lebih banyak bergeser ke posisi netral, bukan ke optimisme.
Dalam Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) triwulan III-2026 yang dirilis Bank Indonesia (BI) menyebut kapasitas produksi yang terpakai mencapai 73,75% sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan II-2026 yang sebesar 73,80%.
Berdasarkan kondisi keuangan perusahaan, responden menilai likuiditas perusahaan dalam kondisi lebih baik pada triwulan III 2026. Hal ini tecermin dari Saldo Bersih (SB) Likuiditas triwulan III 2026 sebesar 15,56%, lebih tinggi dibandingkan SB 15,03% pada triwulan II 2026. Persentase responden yang menjawab kondisi likuiditas pada triwulan III 2026 “lebih baik” sebesar 23,42%, lebih tinggi dibandingkan 22,78% pada triwulan sebelumnya
SKDU merupakan survei triwulanan yang mengambil responden kurang lebih 3.000 pengusaha di seluruh Indonesia.
Sementara itu menurut para ekonom punya pandangan berbeda. Para ekonom menilai kondisi terkini memburuk dibandingkan tiga bulan lalu. Survei Ahli Ekonomi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) mengemukakan 33 dari 63 responden (52%) ekonom menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini memburuk dibandingkan tiga bulan lalu.
“Ini ditandai dengan tekanan inflasi yang tinggi, penciptaan lapangan kerja lebih rendah dan lingkungan bisnis yang memburuk,” ujar Direktur LPEM UI Chaikal Nuryakin.
Survei dilakukan kepada 63 ahli ekonomi dari berbagai latar belakang, dari akademisi, lembaga penelitian, think tanks, sektor swasta, dan organisasi/institusi multinasional. Para ahli berasal dari berbagai daerah di Indonesia yakni Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Banten, Bali, Maluku Utara, Kalimantan Selatan, dan Jawa Timur. Responden dari luar negeri berasal dari Australia, Inggris, Korea Selatan, dan Tiongkok, serta institusi multinasional.
Lantas bagaimana kondisi ke depan? Bagaimana keyakinan dunia usaha ke depan?
Dalam survei Kadin menyebut, sebanyak 40% responden menjawab “tidak setuju” untuk berinvestasi dalam enam bulan ke depan. Namun, angka ini membaik ketimbang sebelumnya yang sebanyak 43,5%. Sedangkan responden yang menjawab biasa saja naik dari 22,1% menjadi 27,6%. Sisanya, responden yang menjawab setuju sebanyak 32,4%.
Fakhrul Fulvian dari Kadin Indonesia Institute menjelaskan, survei ini menunjukka, pelaku usaha yang menolak berinvestasi bergeser ke sikap “wait and see”, bukan ke rencana ekspansi.
Melemahnya minat investasi sejalan dengan biaya modal dan ketidakpastian kurs yang lebih tinggi. BI menaikkan BI-Rate 100 bps pada akhir Q2-2026 menjadi 5,75% dan menahannya sepanjang Q3-2026 demi menjaga stabilitas rupiah, sementara sejumlah ekonom melihat peluang kenaikan lanjutan pada akhir tahun apabila tekanan eksternal berlanjut.
Sementara itu menurut SKDU yang dirilis BI, responden memprakirakan kegiatan usaha pada triwulan IV 2026 tetap tumbuh positif. Kinerja sejumlah Lapangan Usaha (LU) yang diprakirakan meningkat, antara lain pada LU Transportasi dan Pergudangan, LU Informasi dan Komunikasi, LU Real Estat, LU Jasa Perusahaan, serta LU Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Motor. Hal ini sejalan dengan peningkatan aktivitas saat Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan libur akhir tahun.
Sedangkan menurut pandangan para ahli seperti terungkap dalam Survei Ahli Ekonomi LPEM UI sebanyak 33 dari 63 ahli (52 % ) memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi dalam tiga bulan mendatang tidak berubah dari angka terbaru. Pada arah melambat terdapat 21 ahli (33 % ): 16 ahli (25 % ) menjawab melambat dan 5 ahli (8% ) menjawab melambat signifikan. Adapun 9 ahli (14 % ) memperkirakan melaju, dan tidak ada ahli yang memperkirakan melaju signifikan.
Berlanjutnya ketidakpastian perekonomian global dan volatilitas pasar keuangan pada tahun 2027 menuntut pengusaha mempraktikkan kewaspadaan sehat. Saat keputusan ekspansi dan perencanaan keuangan dibayangi tekanan eksternal yang tidak dapat dikendalikan, kehati-hatian mengambil keputusan investasi dan keuangan di saat menyempitnya ruang manuver menjadi penentu masa depan seluruh perusahaan.
Kepala Ekonom OCBC Group Research Selena Ling menjelaskan, dengan lanskap global yang semakin terpolarisasi, perekonomian dunia 2027 akan ditandai tiga fitur utama.
Pertama, konstelasi geopolitik yang menentukan harga energi dan inflasi global. Kedua, meningkatnya arus deras investasi AI dan cloud. Ketiga, serta mengetatnya kebijakan moneter global sebagai pilihan paling memungkinkan oleh berbagai bank sentral global.
“Semakin ketegangan geopolitik menahan harga energi, impor dan tekanan inflasi akan semakin lama. The Fed berpeluang menaikkan suku bunga acuan Fed Funds Rate satu kali lagi sebesar 25 bps pada Desember sebelum memberikan jeda panjang pada 2027, sementara AS akan semakin berhati-hati terhadap tekanan inflasi,” tutur Selena dalam OCBC Outlook 2027 di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Menghadapi situasi tersebut, Selena menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diprakirakan mencapai 5,2% (yoy) pada tahun 2026 dan bertahan di atas 5% pada 2027 memiliki fondasi cukup kuat. Ini ditandai dengan pasar ketenagakerjaan yang relatif stabil dengan tingkat pengangguran terbuka 4,65%, inflasi IHK yang terjaga pada rentang 1,5-3,5%, dan kehati-hatian Bank Indonesia (BI) dalam mengatur suku bunga acuan.
Di sisi lain, kondisi tersebut juga menuntut Indonesia mewaspadai tiga ancaman perekonomian imbas poly-crisis saat ini, yakni inflasi harga pangan akibat El-Nino berkepanjangan dan kenaikan harga energi yang memengaruhi harga bahan baku impor. Selain itu, potensi mengetatnya kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi. Tidak hanya itu, tantangan juga datang serta rapuhnya daya beli rumah tangga serta kepercayaan dunia usaha melanjutkan ekspansi.
“Kemampuan Indonesia menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5% adalah fondasi yang sangat kuat. Prioritas investasi hilirisasi hingga Rp480 triliun, masuknya investasi cloud dan digital Microsoft senilai USD 1,7 miliar, dan pembangunan pusat data hyper-scaler menjadi sejumlah tanda partisipasi Indonesia dalam investasi industri dan digital secara bersamaan,” imbuhnya.