Ringkasan Eksekutif: Diplomasi Pragmatis Prabowo

Ringkasan Eksekutif: Diplomasi Pragmatis Prabowo
Presiden Prabowo Subianto (kiri) berbincang dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskwa, Rusia, Senin (13/4/2026). (ANTARA FOTO/HO/Bakom RI/app/sgd)

Intensitas safari diplomasi Presiden Prabowo Subianto belakangan ini menjadi sorotan, terutama di tengah ketegangan geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah.

Namun, penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang mengancam 20 persen pasokan minyak dunia membuat langkah kunjungan marathon ke negara-negara produsen energi terasa mendesak. Strategi “jemput bola” ini dimaknai sebagai upaya praktis untuk memastikan ketersediaan bahan bakar dalam negeri sekaligus meredam potensi guncangan rantai pasok global. Berbagai pakar berkomentar terkait ini, berikut ringkasannya:

  • Melalui slogan "Seribu Kawan Terlalu Sedikit", Indonesia menjalankan strategi hedging (lindung nilai) dengan merangkul kutub-kutub yang berseberangan—seperti AS, Rusia, dan Tiongkok—guna menjaga fleksibilitas politik luar negeri yang tidak lagi bergantung pada satu blok tertentu.
  • Diplomasi saat ini lebih menitikberatkan pada negara kekuatan besar yang mampu memberikan keuntungan nyata (pragmatis) bagi ketahanan pangan dan energi, sehingga porsi perhatian terhadap kawasan Asia Tenggara (ASEAN) cenderung mengalami de-eskalasi.
  • Kunjungan ke Jepang dan Korea Selatan berhasil membukukan komitmen investasi sebesar USD 33,89 miliar (±Rp575 triliun).
  • Sinergi dengan Korea Selatan terus diperdalam untuk meningkatkan Foreign Direct Investment (FDI) dan devisa, yang mencakup spektrum luas mulai dari industrialisasi, ketahanan pangan, hingga sektor industri kreatif.
  • Kerja sama dengan Rusia dan Prancis difokuskan pada diversifikasi sumber impor komoditas strategis dan energi. Penekanan diberikan pada pola kemitraan co-development dan Transfer of Technology (ToT) agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi bagian dari rantai pasok global.
  • Di sisi lain, krisis global mulai menekan industri kemasan plastik nasional akibat lonjakan harga bahan baku dan kelangkaan resin impor, yang diperkirakan hanya mampu bertahan hingga medio tahun 2026.

Baca selengkapnya

Ω