Memaknai Diplomasi Pragmatis Prabowo

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa rentetan kunjungan kerjanya ke luar negeri merupakan langkah strategis pemerintah untuk menjamin ketersediaan energi, terutama minyak bumi, bagi masyarakat Indonesia.

Memaknai Diplomasi Pragmatis Prabowo
Presiden Prabowo Subianto menuruni anak tangga pesawat kepresidenan setibanya di Bandar Udara Orly, Paris, Prancis, Senin (13/4/2026). (ANTARA FOTO/HO/Bakom RI/bay/kye)
Daftar Isi

Sejumlah pengamat memaknai intensitas perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto belakangan ini sebagai manifestasi diplomasi pragmatis. Di tengah eskalasi geopolitik global yang kian meruncing, langkah ini dinilai sebagai upaya mencari solusi praktis guna mengamankan kepentingan nasional di atas segala galanya. 

Ketidakpastian kini memang tengah menyelimuti kawasan Timur Tengah. Utamanya, setelah Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer gabungan berskala besar bernama “Epic Fury” terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Operasi ini menandai babak baru konflik terbuka yang melumpuhkan stabilitas kawasan.

Rangkaian serangan udara dan rudal di pagi hari itu menyasar instalasi nuklir strategis serta pusat-pusat kota utama di Iran. Teheran pun tidak tinggal diam. Sebagai balasan, Iran menghujani pangkalan militer AS di Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar dengan rudal. Puncaknya, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, yang menjadi nadi energi dunia. Sebanyak 20 persen pasokan minyak global melalui selat itu.

Blokade di Selat Hormuz menjadi ancaman serius bagi dunia, khususnya pasar Asia, mengingat negara-negara eksportir utama seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Irak sangat bergantung pada jalur tersebut. Bagi Indonesia, gangguan berkepanjangan ini berpotensi mengguncang rantai pasok energi domestik secara fundamental.

Di tengah situasi genting itu, Presiden Prabowo Subianto baru saja menuntaskan maraton diplomatik selama 11 hari ke Amerika Serikat, Inggris, Yordania, dan UEA. Safari ini menghasilkan sejumlah kerjasama, mulai dari kerja sama pengiriman tenaga ahli hingga pengembangan teknologi dan investasi strategis.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa rentetan kunjungan kerjanya ke luar negeri merupakan langkah strategis pemerintah untuk menjamin ketersediaan energi, terutama minyak bumi, bagi masyarakat Indonesia.

"Ada yang bilang Prabowo hobi ke luar negeri. Saudara-saudara sekalian, untuk mengamankan minyak, ya saya harus jemput bola ke berbagai tempat," tegasnya di hadapan jajaran menteri saat Rapat Kerja Pemerintah di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/4).

Presiden Prabowo Subianto (kedua kiri) bersama Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) berjalan keluar usai melakukan pertemuan di Istana Kremin, Moskwa, Rusia, Senin (13/4/2026). (ANTARA FOTO/HO/Bakom RI/bay/kye.)

Ambisi "Seribu Kawan Terlalu Sedikit"

Sejak dilantik pada 20 Oktober 2024 hingga April 2026, Presiden Prabowo tercatat telah melakukan 49 kunjungan luar negeri ke 28 negara. Beberapa negara bahkan dikunjungi lebih dari satu kali, sebuah intensitas yang tidak lazim dalam tradisi kepresidenan sebelumnya.

Pakar Hubungan Internasional dari Griffith University, Rizky Ihsan, menilai langkah ini sebagai bentuk personal interest Presiden yang memiliki minat besar pada dunia diplomasi. Rizky melihat latar belakang militer yang kuat turut mempengaruhi cara pandang Prabowo terhadap peta politik dunia.

"Beliau terlihat enggan memiliki 'lawan' politik, baik di domestik maupun internasional. Ini berkelindan dengan slogan yang sering beliau sampaikan: satu musuh terlalu banyak, seribu kawan terlalu sedikit," ujar Rizky saat dihubungi, Kamis (23/4).

Menurut Rizky, di tengah ancaman kelangkaan pangan dan energi, Prabowo memilih jalan untuk merangkul semua pihak. Indonesia tetap menjaga kedekatan dengan Amerika Serikat, namun secara simultan merajut relasi intens dengan Rusia dan Tiongkok, dua poros kekuatan besar lainnya yang kerap berseberangan dengan Amerika Serikat.

Menariknya, dalam safari ini, negara-negara tetangga di Asia Tenggara justru tampak mendapatkan porsi perhatian yang lebih kecil. Rizky berpendapat, Prabowo memandang level Indonesia kini sudah sejajar dengan kekuatan besar dunia.

“Pilihan negara tujuan didasari pada apa yang bisa ditawarkan negara tersebut bagi kepentingan nasional secara langsung. Rusia, misalnya, dipandang mampu menopang keamanan energi, sementara UEA dan Arab Saudi menjadi motor ekonomi. ASEAN dinilai kurang memiliki 'daya tawar' pragmatis sekuat negara-negara besar tersebut,” tambahnya.

"Prabowo lebih melihat pada aspek pragmatis yang negara-negara tersebut bisa berikan ke kita. Sementara negara-negara Asia Tenggara tidak terlalu unggul dalam memberikan keuntungan pragmatis tersebut buat Indonesia," tambah Rizky.

Panen komitmen di Asia Timur

Prabowo melanjutkan kunjungan maraton ke Asia Timur pada akhir Maret 2026. Bertemu Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Tokyo dan dilanjutkan ke Korea Selatan, kunjungan ini mencatatkan angka investasi yang fantastis.

Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa kunjungan resmi Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan kunjungan kenegaraan ke Republik Korea menghasilkan capaian konkret berupa komitmen kerja sama bisnis dengan nilai yang sangat signifikan.

Dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (02/04/2026), Teddy menjelaskan bahwa total nilai kesepakatan bisnis yang berhasil dihimpun dari kedua negara mencapai USD 33,89 miliar atau setara dengan Rp575 triliun.

“Dari Jepang tercatat komitmen bisnis sebesar USD 23,63 miliar atau setara Rp401,7 triliun, sementara dari Republik Korea mencapai USD 10,26 miliar atau setara Rp174 triliun. Sehingga total keseluruhan mencapai USD 33,89 miliar atau sekitar Rp575 triliun,” tulisnya.

Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan investor global terhadap arah kebijakan ekonomi Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, khususnya dalam mendorong hilirisasi industri, penguatan ketahanan energi, serta pembangunan sektor strategis nasional. 

Di Korea Selatan, capaian ini mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari ekspansi rantai nilai material baterai oleh LS MnM, kerja sama carbon capture antara Pertamina dan ExxonMobil, hingga pengembangan lahan di BSD City oleh Daewoo.

Forum bisnis ini membuka peluang kerja sama di berbagai sektor mulai dari industri manufaktur, ekonomi digital, hingga energi hijau. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut:

  1. MoU antara Kadin dan Korea Chamber of Commerce and Industry (KCCI)
  2. MoU antara Danantara dan Korea Overseas Infrastructure & Urban Development Corporation (KIND)
  3. MoU antara Danantara dan Korea Eximbank
  4. MoU antara PLN IP dan LXI tentang studi bersama potensi pengembangan proyek pembangkit energi baru dan terbarukan di Indonesia
  5. MoU antara Pertamina Hulu Energi (PHE) dan POSCO tentang amandemen kedua untuk studi bersama energi baru dan terbarukan
  6. Pengumuman LS MnM tentang ekspansi rantai nilai material baterai melalui akuisisi mayoritas strategis atas PT Teluk Metal Industry
  7. MoU antara Sinarmas Land (PT Bumi Serpong Damai) dan Daewoo tentang kemitraan pengembangan lahan residensial dan komersial di BSD City
  8. MoU antara PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan ExxonMobil tentang kerja sama lintas batas carbon capture and storage (CCS)
  9. MoU antara PT Fortuna Integritas Mandiri dan Dunamu tentang penguatan ekosistem aset digital Indonesia
  10. MoU antara Kadin Jakarta dan KCCI Incheon
  11. LoI Ecopro tentang investasi pada rantai nilai terintegrasi material baterai sekunder
  12. Pengumuman Sambu tentang investasi pabrik manufaktur tas
  13. Pengumuman Dorco tentang investasi pabrik manufaktur pisau cukur
  14. Pengumuman E3 Mobility tentang transportasi ramah lingkungan
  15. LoI POSCO tentang ekspansi fase 2 PT Krakatau POSCO
  16. MoU antara PT Pertamina dan POSCO tentang teknologi rendah karbon
  17. LoI KCC Glass tentang pengadaan katoda tembaga

Rusia dan Prancis

Berikutnya, langkah diplomatik Prabowo yang menyambangi Rusia dan Prancis juga dibaca sebagai strategi hedging atau lindung nilai untuk mengelola risiko dampak ketidakpastian global.

Kunjungan ke Rusia dilakukan selang beberapa hari setelah Kremlin menyatakan kesiapannya untuk memasok kebutuhan minyak mentah ke Indonesia di tengah meningkatnya pengaruh Amerika Serikat di kawasan.

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tholchenov mengungkapkan bahwa pihaknya menyadari situasi energi di Indonesia, termasuk kabar mengenai sejumlah kapal Pertamina yang masih tertahan di Selat Hormuz. 

Sergei menegaskan posisi Moskow sebagai eksportir yang fleksibel bagi negara sahabat.

"Presiden kami telah berkali-kali menyebutkan bahwa bagi negara-negara sahabat, kami siap bekerja sama di bidang minyak dan gas. Jika Indonesia membutuhkan, silakan hubungi kami," ujar Tholchenov kepada sejumlah wartawan di Jakarta, Selasa malam (1/4).

Dubes Rusia untuk Indonesia Sergei Tholchenov di depan Kapal Korvet Gromky-335 saat bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (31/3/2026). (Foto: Tria Dianti/SUAR)

Peneliti Hubungan Internasional CSIS, Muhammad Waffaa Kharisma, menilai kunjungan ini bertujuan menyeimbangkan dominasi pengaruh AS. 

Selain penguatan posisi geopolitik, kunjungan ini juga disinyalir akan membawa agenda krusial terkait pengamanan pasokan energi nasional.

"Bisa dikatakan sebagai perilaku yang menggambarkan hedging. Visit yang satu mungkin akan lebih kepada ekonomi, yang satu kepada pertahanan. Kunjungan ke Rusia adalah untuk tukar pendapat dengan Presiden Putin, sekaligus mendiskusikan krisis ketersediaan energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah," ujar Waffaa kepada SUAR melalui sambungan telepon di Jakarta, Selasa (14/4).

Kedatangan Prabowo di ibu kota fesyen dunia itu merupakan kelanjutan dari rangkaian diplomasi strategis Indonesia di Eropa, setelah sebelumnya melaksanakan pertemuan bilateral intensif dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, di Istana Kremlin, Moskow.

Prabowo dijadwalkan melakukan pertemuan empat mata dengan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, di Istana Élysée. Pertemuan tersebut akan membahas peningkatan kerja sama strategis kedua negara di berbagai sektor prioritas.

Indonesia dan Prancis selama ini telah menjalin kerja sama erat di berbagai bidang, antara lain pertahanan, termasuk pengadaan alutsista dan penguatan industri pertahanan; energi dan transisi energi, khususnya pengembangan energi baru terbarukan; serta infrastruktur dan transportasi.

Selain itu, kerja sama juga mencakup bidang pendidikan dan riset, ekonomi kreatif, serta penanganan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan. Prancis juga menjadi salah satu mitra penting Indonesia di kawasan Eropa dalam mendorong investasi dan perdagangan.

Selain berkonsultasi, Presiden RI Prabowo Subianto mengatakan bahwa kunjungannya ke Rusia untuk penguatan kerja sama di bidang energi dan ekonomi.

Berbagai kerjasama disepakati mulai dari energi, antariksa, pertanian, industri, dan farmasi. Bahkan, Indonesia dan Rusia serius untuk bekerja sama di bidang militer, yakni di sektor pendidikan untuk personel.

Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Eric Hermawan menuturkan dalam kunjungan tersebut, Presiden tidak hanya memperkuat hubungan diplomatik, tetapi juga mendorong kerja sama ekonomi yang konkret, terutama dalam sektor perdagangan dan energi. 

Rusia menjadi salah satu mitra potensial dalam penyediaan energi, termasuk minyak, yang dapat membantu Indonesia menjaga ketahanan energi nasional di tengah fluktuasi harga global. Sementara itu, Jepang tetap menjadi mitra utama dalam investasi, teknologi, dan pengembangan industri bernilai tambah.

“Upaya diversifikasi sumber impor dan perluasan pasar ekspor menjadi fokus penting dalam agenda kunjungan ini,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (21/4).

Pemerintah berupaya mencari sumber impor yang lebih kompetitif, termasuk untuk komoditas strategis seperti minyak, guna menekan biaya dan menjaga stabilitas ekonomi domestik. Di sisi lain, peluang ekspor produk Indonesia ke pasar Rusia dan Jepang juga terus didorong, mulai dari komoditas unggulan hingga produk manufaktur.

Melalui langkah ini, Indonesia berupaya memperkuat posisi dalam rantai pasok global sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi nasional. Kunjungan ke berbagai negara tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan kesepakatan jangka pendek, tetapi juga membuka peluang kerjasama jangka panjang yang berkelanjutan, sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif yang mengedepankan kepentingan nasional.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (kanan) menyapa para calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang akan ke Jepang di Terminal 3, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (3/4/2026). (ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/sgd)

Diversifikasi mitra global 

Dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Probo Darono Yakti, mengatakan kunjungan Prabowo ke berbagai negara merupakan strategi diversifikasi mitra global. Strategi diplomatik tersebut seharusnya dibaca sebagai konsistensi untuk tidak menggantungkan ruang gerak Indonesia pada satu kutub.

"Jadi memang di luar poros tradisional, tetap kita menjaga fleksibilitas di tengah kompetisi kekuatan besar dan memperbesar ruang manuver Indonesia tanpa harus masuk pada blok tertentu Dan Indonesia membuka relasi pertahanan dengan aktor lain dengan menunjukkan orientasinya yang bersifat multi-alignment dan cukup pragmatis," katanya. 

Ia juga menekankan kunjungan luar negeri Prabowo tidak bisa dilihat sekadar sebagai agenda diplomatik rutin, melainkan sebagai bagian dari upaya memperluas ruang manuver strategis Indonesia di tengah kompetisi global yang kian intens.

Dalam pandangannya, isu kunci yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kerja sama yang dijalin membawa dampak positif bagi Indonesia. Ia mentohkan  kerja sama pertahanan yang dijalin dengan Prancis harus berkontribusi terhadap penguatan otonomi strategis nasional.

Menurutnya, langkah strategis yang harus ditempuh adalah menggeser pola relasi dari sekadar pembeli-penjual menjadi kemitraan berbasis co-development dan kerja sama industri. Transfer of Technology (ToT) menjadi elemen krusial yang tidak bisa ditawar, guna memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga bagian dari rantai produksi dan inovasi global.

"Ukuran keberhasilan ini bukan karena banyaknya MOU, tapi banyaknya kemampuan Indonesia untuk memastikan bahwa kerja sama itu benar-benar meningkatkan kapasitas nasional dan memperdalam industrialisasi strategis, sekaligus menjaga otonomi kebijakan luar negeri Indonesia," katanya.

Meski terlihat sukses merangkul banyak pihak—termasuk membawa Indonesia masuk ke dalam blok BRICS—strategi diplomasi ini bukan tanpa kritik. Beberapa kesepakatan internasional yang dijalin belakangan ini mulai dipertanyakan urgensinya, seperti kerja sama Board of Peace (BoP) dan isu over flight yang dinilai sebagian kalangan tidak sepenuhnya sejalan dengan kepentingan nasional.

Kini, publik menanti sejauh mana hasil nyata dari "politik bebas aktif" versi Prabowo ini. Di tengah dunia yang sedang dipenuhi konflik dan krisis pasokan, mampukah strategi merangkul semua kawan ini benar-benar menyelamatkan ekonomi Indonesia, atau justru menjadi beban komitmen yang sulit untuk dilunasi di masa depan.

Presiden Prabowo Subianto (kanan) dan Presiden Prancis Emmanuel Macron (kiri) berbincang saat bertemu di Paris, Prancis, Selasa (14/4/2026). (ANTARA FOTO/HO/Bakom RI/app/YU)

Berdampak ke industri

Situasi global yang penuh ketidakpastian itu kini berimbas langsung pada sektor industri dalam negeri.

Industri kemasan plastik nasional menjadi salah satu yang paling terdampak akan ditutupnya selat Hormuz, seiring potensi kelangkaan bahan baku impor dan lonjakan harga resin yang diperkirakan meningkat hingga dua kali lipat.

Pelaku usaha berharap rangkaian kunjungan Prabowo ke sejumlah negara dapat segera menghadirkan solusi atas tekanan yang mereka hadapi.

Business Development Director Indonesian Packaging Federation Ariana Susanti mengatakan pelaku industri kemasan mulai menghadapi tekanan pasokan akibat terganggunya rantai distribusi global, meskipun sejumlah pesanan bahan baku telah dilakukan sebelumnya. 

"Dampaknya yang jelas, kenaikan harga tidak bisa dihindari lagi, masalahnya juga kelangkaan bahan baku, walaupun sudah ada PO (pre-order), supply chainnya masih terhambat," katanya pada SUAR. 

Menurut Ariana, stok bahan kemasan yang tersedia saat ini diperkirakan hanya mampu menopang produksi hingga Mei–Juni, sementara ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah masih terus berlangsung.

Industri kemasan plastik nasional sendiri masih sangat bergantung pada impor bahan baku. Lebih dari 50% kebutuhan resin plastik dipasok dari luar negeri, sementara kapasitas produksi dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar setengah dari kebutuhan nasional. 

Bahan baku utama seperti polypropylene (PP) dan polyethylene (PE) umumnya dipasok dari Singapura, Thailand, China, India, Korea Selatan, serta sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

"Situasi semakin kompleks setelah sejumlah produsen petrokimia di Timur Tengah menyatakan kondisi force majeure, yang menimbulkan ketidakpastian pasokan," katanya. Pelaku industri memperkirakan stok yang tersedia saat ini hanya mampu menopang produksi sekitar dua hingga tiga bulan ke depan, tergantung perkembangan distribusi global.

Ridho Sukra turut berkontribusi dalam laporan ini 

Baca selengkapnya

Ω