Pecah Rekor 6 Tahun, Surplus Neraca Dagang RI Merosot Signifikan

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan keberhasilan Indonesia mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan atau enam tahun berturut-turut sejak Mei 2020. Meski demikian, angka surplus neraca dagang RI tercatat merosot tajam menjadi USD 89,1 juta pada April 2026.

Pecah Rekor 6 Tahun, Surplus Neraca Dagang RI Merosot Signifikan
Foto udara aktivitas bongkar muat peti kemas di Terminal Internasional, Belawan, Medan, Sumatera Utara, Selasa (28/4/2026). ANTARA FOTO/Yudi Manar/wsj.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan keberhasilan Indonesia mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 72 bulan atau enam tahun berturut-turut sejak Mei 2020. Meski, angka surplus neraca dagang RI itu tercatat mulai merosot tajam menjadi USD89,1 juta pada April 2026.

Dalam Rilis Berita Statistik di Jakarta, Selasa (2/6/2026), BPS mencatat nilai total ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai USD25,30 miliar, naik 21,98% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Year on Year/YoY).

Sementara nilai total impor Indonesia pada April 2026 tercatat USD25,21 miliar, melambung 22,49% YoY. Dengan demikian, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan terkecil pada April 2026 sebesar USD89,1 juta. Angka surplus ini mengalami penurunan tajam, dibandingkan surplus neraca perdagangan bulan Maret 2026 sebesar USD3,32 miliar.

Manufaktur jadi penopang perdagangan RI

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menjelaskan, kenaikan ekspor pada April 2026 tetap didorong pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 23,36% YoY menjadi USD 24,15 miliar dengan komoditas lemak/minyak hewani dan nabati, nikel, dan mesin/peralatan mekanis menjadi penyumbang utama.

Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi tiga negara tujuan ekspor utama Indonesia pada April 2026. Nilai ekspor nonmigas ke Tiongkok menduduki tempat tertinggi sebesar USD 22,76 miliar, dengan komoditas besi dan baja mendominasi 25,94% dari total ekspor ke negeri tirai bambu itu.

Pekerja merakit sepeda motor listrik Gesits di pabrik PT Wika Industri Manufaktur (WIMA), Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Sementara itu, ekspor ke AS dan India masing-masing mencapai USD10,17 miliar dan USD6,14 miliar dengan komoditas dominan mesin dan perlengkapan elektrik ke AS dan bahan bakar mineral ke India, masing-masing memberikan andil 16,21% dan 32,78% terhadap total ekspor ke masing-masing negara tersebut.

Kenaikan impor sebesar 22,49% YoY menjadi USD25,21 miliar pada April 2026 menyebabkan anjloknya surplus neraca perdagangan RI. Ini didorong lonjakan impor migas sebesar 82.52% YoY, dengan impor minyak mentah dari Nigeria, Brasil, dan Kazakhstan naik 67,49%. Sementara itu, impor olahan minyak melambung 87,76% dengan negara asal impor Malaysia, Singapura, dan Mesir.

"Surplus USD89,1 juta merupakan surplus terendah dalam 6 tahun terakhir. Perdagangan dengan Tiongkok mengalami defisit USD 7,59 miliar, lebih dalam dengan defisit dibandingkan tahun lalu sebesar USD 6,28 miliar," imbuh Pudji.

Meski ada penurunan tajam akibat lonjakan impor migas yang menggerus surplus, Pudji menggarisbawahi pertumbuhan ekspor nonmigas, termasuk dari sektor manufaktur yang tumbuh 29,07% YoY masih menjadi penopang neraca perdagangan RI. 

Ini memungkinkan neraca perdagangan kumulatif RI sepanjang caturwulan pertama 2026 tetap mencatatkan surplus USD 5,64 miliar, dengan USD 3,10 miliar berasal dari surplus neraca perdagangan nonmigas. Surplus tersebut didorong peningkatan ekspor lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Waspadai ekspor bersih

Dihubungi secara terpisah Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko menilai, anjloknya surplus neraca perdagangan bisa dilihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan kontribusi ekspor bersih terhadap PDB, kini berada di posisi terendah dalam lima tahun terakhir (Maret 2022-Maret 2026). 

Jika pada Maret 2022 kontribusinya masih mampu menopang sekitar 2,47% terhadap perekonomian nasional atau PDB, memasuki Maret 2026 angka tersebut menyusut hingga tersisa 0,93%. "Ini dipicu ketimpangan masif antara laju pertumbuhan ekspor nasional yang berjalan di tempat dan lonjakan impor industri yang melesat,” jelasnya.

Foto udara kapal tanker membongkar muat crude palm oil (CPO) di Terminal Belawan, Medan, Sumatera Utara, Kamis (21/052026). ANTARA FOTO/Yudi Manar

Pada triwulan-I 2026, ekspor riil nasional tercatat hanya tumbuh tipis 0,90%, sementara laju impor justru melesat hingga 7,18%. Akibatnya, pertumbuhan ekspor bersih secara riil kembali mengalami kontraksi dan tumbuh minus hingga 24,3%.

“Kinerja ekspor seperti ini tentu jadi beban bagi perekonomian nasional yang diharapkan melesat menuju di atas 6%. Kinerja ekspor yang masih berjalan lambat ini berpotensi menjadi batu sandungan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Melihat anomali data tersebut, Christiantoko menilai struktur perdagangan Indonesia yang masih sangat bertumpu pada momentum harga komoditas global dan dinamika impor domestik. 

"Ketika harga komoditas global melonjak atau impor melemah, ekspor bersih kita akan terlihat impresif sebagai penopang PDB. Begitu harga komoditas kembali turun dan kebutuhan aktivitas industri dalam negeri meningkat, kontribusinya langsung menyempit. Artinya, mesin pertumbuhan eksternal yang stabil," ujarnya.

Mengacu pada data TradeMap, lonjakan impor tertinggi Indonesia pada triwulan I-2026 terjadi pada komoditas pesawat terbang, pesawat ruang angkasa, dan bagiannya yang tumbuh 546,5% YoY dari US$132,99 juta pada triwulan I-2025 menjadi US$859,86 juta pada triwulan I-2026. 

Sementara komoditas impor lain yang mencatatkan kenaikan signifikan adalah garam, belerang, tanah, dan batu yang naik 71,95% YoY, disusul bijih logam, terak, dan abu yang tumbuh 60,64% YoY.

“Kenaikan pada komoditas-komoditas ini menjadi sinyal, bahwa aktivitas industri domestik sedang bergerak. Namun di sisi lain, tingginya impor bijih logam mengindikasikan pasokan domestik belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan industri pengolahan dalam negeri,” sambung Christiantoko.

Agenda memperkuat ekspor bersih harus ditempatkan sebagai bagian mendasar dari transformasi ekonomi yang lebih luas.

Menghadapi situasi ini, ia berharap pemerintah tidak melihat pelemahan ekspor bersih lebih dari persoalan naik-turunnya angka perdagangan jangka pendek. Agenda memperkuat ekspor bersih harus ditempatkan sebagai bagian mendasar dari transformasi ekonomi yang lebih luas.

“Langkah penguatan ke depan perlu difokuskan pada perluasan basis ekspor, penguatan hilirisasi, memperdalam rantai pasok industri di dalam negeri, serta memastikan impor benar-benar menjadi input produktif bernilai tambah, bukan sekadar menggerus neraca belanja negara,” tandasnya.

Neraca pembayaran melebar bertahap

Kepala Penelitian Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata, Faisal Rachman menambahkan, dengan pelemahan pertumbuhan ekspor secara bertahap sepanjang paruh pertama 2026, tidak tertutup kemungkinan defisit neraca pembayaran akan melebar.

Pasalnya, kombinasi kebijakan pro-growth di dalam negeri dan perlambatan permintaan global sebagai dampak rambatan konflik di Timur Tengah semakin sulit untuk dihindarkan dalam memengaruhi kinerja ekspor RI. 

“Indonesia akan terus mencatat surplus perdagangan, meski akan menyempit secara bertahap, karena pertumbuhan impor melampaui pertumbuhan ekspor. Di sisi ekspor, pertumbuhan akan kembali normal setelah pengiriman ke AS yang dilakukan awal pada tahun lalu, sementara melemahnya permintaan global, terutama dari Tiongkok, diperkirakan akan membebani kinerja ekspor,” jelas Faisal.

Saat ini, dengan asumsi ketegangan geopolitik mereda secara signifikan pada paruh kedua 2026, Faisal memproyeksikan defisit neraca pembayaran akan melebar menjadi 1,07% dari PDB pada 2026, dari defisit 0,11% dari PDB pada 2025. 

Apabila lingkungan risiko global lebih kondusif sehingga mendukung neraca transaksi keuangan, cadangan devisa RI diproyeksikan berada di sekitar USD145,27 miliar pada akhir 2026, dibandingkan dengan USD156,47 miliar pada akhir 2025. 

“Kondisi tersebut akan mendukung Bank Indonesia (BI) dalam mempertahankan sikap kebijakan moneternya saat ini, yang tetap berorientasi pada pemeliharaan stabilitas, terutama terkait dengan jalur suku bunga BI,” ujarnya.

Author

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ekspor-Impor, Ketenagakerjaan, dan Teknologi

Baca selengkapnya