Ringkasan Eksekutif: Meminimalkan Dampak El Nino

Jika tidak segera diantisipasi, El Nino akan berdampak langsung pada inflasi pangan dan menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah.

Ringkasan Eksekutif: Meminimalkan Dampak El Nino
Anak-anak bermain di sawah yang mengering pada musim kemarau di Desa Pajukukang, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Minggu (25/6/2023). Foto: Antara/Arnas Padda.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi meningkatnya risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Ancaman ini seiring dengan kemungkinan berkembangnya fenomena El Nino pada paruh kedua 2026. Peluang kemunculan fenomena tersebut diperkirakan mencapai 50% hingga 80% dengan intensitas lemah hingga moderat.

Intensitas El Niño tahun ini diperkirakan bisa memicu musim kering lebih panjang di Indonesia. Di Indonesia, kehadiran El Nino akan berdampak luas,  tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga merambat ke berbagai sektor ekonomi. Seperti industri makanan dan minuman, distribusi logistik, inflasi hingga melemahkan daya beli masyarakat.

Efek domino ke dunia usaha

1. Tekanan Biaya (Cost Push)

  • Penurunan pasokan air → produksi turun
  • PLTA melemah → biaya energi naik
  • Harga bahan baku meningkat.

2. Pelemahan Permintaan (Demand Shock)

  • Harga pangan naik → disposable income turun
  • Konsumen shifting ke kebutuhan pokok.

3. Disrupsi Operasional

  • Gangguan irigasi dan logistik
  • Risiko kebakaran hutan → gangguan distribusi.

Bagi sektor consumer goods, ini berarti margin tergerus. Bagi perbankan, ini berarti kenaikan risiko kredit, terutama di sektor agrikultur dan UMKM.

Pemerintah tidak tinggal diam. Sejumlah langkah sudah dan akan ditempuh:

1. Stabilitas Pasokan Pangan

  • Cadangan pangan nasional relatif aman hingga pertengahan 2026
  • Surplus komoditas seperti jagung (4,35 juta ton) dan telur (423.000 ton).

2. Intervensi Produksi

  • Penyesuaian pola tanam
  • Optimalisasi irigasi dan waduk
  • Operasi modifikasi cuaca (OMC).

3. Pengendalian Harga

  • Intervensi pasar melalui stok pemerintah
  • Menjaga harga di bawah HET (Harga Eceran Tertinggi).

Strategi ini menunjukkan pendekatan pemerintah yang masih bertumpu pada buffer supply dan stabilisasi harga.

Ω