Intensifikasi Kunci Melawan Godzilla

Menghadapi El Nino, Indonesia bersiap dengan menumpuk cadangan pangan. Pebisnis agribisnis menyiasati dengan peningkatan produktivitas.

Intensifikasi Kunci Melawan Godzilla
Petani memanen selada air sistem hidroponik di Desa Curahpetung, Kecamatan Kedungjajang, Lumajang, Jawa Timur, Rabu (15/4/2026). Pemerintah Kabupaten Lumajang meningkatkan upaya mitigasi kekeringan melalui penerapan pertanian modern seperti sistem hidroponik dan teknologi irigasi hemat air guna menjaga produktivitas di tengah potensi dampak fenomena El Nino. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya
Daftar Isi

Belum habis dampak guncangan geopolitik akibat perang di Timur Tengah, sektor bisnis di Indonesia diprediksi bakal segera mendapat tekanan lagi akibat memburuknya iklim.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi sinyal, diperkirakan akan ada fenomena El Nino “Godzilla” yang diprediksi berpotensi terjadi di Indonesia selama musim kemarau tahun ini, sekitar April hingga Oktober 2026.

Istilah “Godzilla” lebih bersifat populer untuk menggambarkan El Nino yang sangat kuat dan berdampak luas.

Foto udara pompa air tenaga surya mengairi irigasi lahan pertanian padi di Lumajang, Jawa Timur, Senin (6/4/2026). ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya

Secara historis, episode El Niño dapat memangkas produksi beras nasional hingga 2%–3%. Lalu, dampak El Nino tak akan berhenti di kelangkaan beras. Ia akan menjalar cepat: membuat pasokan jadi menipis  hingga harga naik.

Di sinilah persoalan bergeser dari sektor pertanian ke ekonomi makro. Bank Indonesia melihat risiko ini sebagai potensi lonjakan inflasi pangan—komponen paling volatil dalam indeks harga konsumen. Ketika harga pangan naik, daya beli rumah tangga melemah, dan konsumsi—yang menyumbang lebih dari separuh PDB—ikut tertekan.

Struktur pertanian tergantung curah hujan

Pengamat pertanian Center of Reform on Economics (CORE)  Eliza Mardian mengatakan super El Nino tahun ini menjadi risiko serius bagi sistem pangan Indonesia. Fenomena ini dinilai bukan sekadar siklus iklim biasa, melainkan berpotensi menimbulkan tekanan besar terhadap produksi pertanian nasional, terutama jika terjadi bersamaan dengan fase Indian Ocean Dipole Positif (IOD).

Pekerja menggunakan alat berat ekskavator amfibi melakukan proses normalisasi Waduk Pusong, Lhokseumawe, Aceh, Senin (30/3/2026). NTARA FOTO/Rahmad

Menurutnya, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa kombinasi El Nino dan IOD hampir selalu menghasilkan musim kemarau yang lebih panjang, penurunan curah hujan secara signifikan, serta tekanan besar terhadap ketersediaan air. Dampak tersebut paling terasa di wilayah sentra produksi pangan nasional, khususnya Pulau Jawa.

"Dalam kondisi seperti itu, sektor pertanian berpotensi mengalami perlambatan, bahkan kontraksi di beberapa wilayah kalalau gagal tanamnya meningkat luas," katanya kepada SUAR, Senin, 13 April 2026. 

Ia mengatakan, dampak El Nino sebenarnya tidak bersifat pasti menurunkan produksi pertanian secara signifikan. Karena bergantung pada kapasitas mitigasi dan respons kebijakan. 

Jika penurunan luas tanam akibat kekeringan masih bisa dikompensasi oleh peningkatan produktivitas, maka total produksi masih dapat dijaga relatif stabil. Hal ini pernah terjadi di Cina saat El Nino 2023, ketika luas panen mengalami penurunan, tetapi produksi tetap meningkat berkat dukungan sistem irigasi yang kuat, teknologi pertanian yang maju, serta manajemen produksi yang efisien.

Namun di Indonesia, kapasitas untuk melakukan kompensasi tersebut masih terbatas. "Struktur pertanian kita masih sangat bergantung pada curah hujan, banyak lahan sawah tadah hujan, dan sistem irigasi belum sepenuhnya mampu mengantisipasi kekeringan skala besar," katanya. 

Adopsi varietas tahan kekeringan dan teknologi budidaya juga belum merata. Banyak petani masih menggunakan benih yang dirilis lebih dari dua dekade lalu. Kondisi ini diperparah oleh skala usaha pertanian yang kecil, di mana mayoritas petani tergolong petani gurem dengan luas lahan kurang dari 0,5 hektare. Skala usaha yang terbatas membuat intensifikasi pertanian sulit dilakukan secara cepat.

Eliza mengatakan secara historis El Nino memang menurunkan produksi padi Indonesia di kisaran 1%–3% secara nasional, dan bisa mencapai 2–5% dalam kondisi lebih ekstrem. Namun, angka ini  sering menutupi dampak yang jauh lebih besar di tingkat daerah.

Di daerah yang memang sulit air, penurunan produksi bisa jauh lebih dalam, akibat kekeringan dan puso. Selain itu dampak terbesar El Nino bukan hanya pada volume produksi, tetapi pada terganggunya kalender produksi. "Membuat banyak petani menunda tanam, sehingga panen mundur dan menciptakan kekosongan pasokan sementara di pasar," katanya. 

Eliza mengatakan kondisi tersebut sangat berpotensi mendorong kenaikan harga beras.  Ditambah lagi faktor ekspektasi pasar, di mana pedagang cenderung menahan stok saat ada potensi gangguan produksi, sehingga tekanan harga bisa menjadi lebih besar. 

Jika tidak segera diantisipasi, akan berdampak langsung pada inflasi pangan dan menekan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah. 

Manajemen air yang optimal

Untuk itu, Eliza menilai diperlukan langkah antisipasi yang sistemik. Pemerintah perlu memastikan manajemen air berjalan optimal melalui optimalisasi waduk, perbaikan irigasi, serta percepatan pembangunan infrastruktur air, terutama di wilayah rawan kekeringan.

Selain itu, penyesuaian kalender tanam berbasis data iklim menjadi kunci agar fase kritis tanaman tidak bertepatan dengan puncak kemarau. Distribusi benih tahan kekeringan, penguatan penyuluhan, serta dukungan teknologi hemat air juga perlu diperluas.

Petani mengecek kondisi pompa air tenaga surya untuk mengairi irigasi lahan pertanian padi di Lumajang, Jawa Timur, Senin (6/4/2026). OTO/Irfan Sumanja

Di sisi lain, penguatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) juga menjadi penting sebagai buffer untuk meredam gejolak harga dan memastikan distribusi antarwilayah berjalan lancar. Dengan demikian, ketika harga beras naik, masyarakat berpendapatan rendah masih dapat mengakses beras dengan harga terjangkau.

"Para pelaku usaha juga perlu menyesuaikan strategi, termasuk diversifikasi sumber pasokan dan penguatan manajemen stok agar tidak terjadi disrupsi rantai pasok," katanya.

Mitigasi dengan intensifikasi pertanian

Persiapan menyambut kondisi iklim yang ekstrim juga sudah dilakukan para pebisnis sektor pertanian. Mitigasi perlu dilakukan, karena fenomena seperti El Nino juga bukan ancaman yang tidak bisa ditaklukkan. 

Karenanya,  Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai fenomena El Nino tahun ini tidak serta-merta berdampak langsung pada penurunan produksi kelapa sawit nasional. 

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan produksi tidak turun drastis kecuali terjadi kebakaran lahan kebun.  "Justru dampak baru terasa tahun depan sampai 2 tahun ke depan, produksi biasanya akan turun," katanya. 

 Edy menambahkan seluruh wilayah yang ada sawit akan terdampak El Nino tahun ini.  Jika terjadi kemarau panjang, maka penurunan produksi sawit di tahun berikutnya mencapai 10 - 30%.  Namun angka itu bisa berubah tergantung dengan perawatan tanamannya. 

Perkebunan yang memiliki manajemen pemeliharaan yang baik dapat mengurangi risiko penurunan produksi .

Edy mengatakan jika produksi menurun dan tidak mampu memenuhi permintaan pasar global, maka volume ekspor berpotensi mengalami penurunan. Di sisi lain, berkurangnya pasokan minyak sawit akibat dampak El Nino berpotensi mendorong kenaikan harga crude palm oil (CPO) global. "Kalau suplai berkurang harga minyak sawit dunia biasanya akan naik," katanya. 

Untuk mengantisipasi dampak El Nino, pelaku industri sawit menekankan pentingnya perawatan tanaman yang optimal selama musim kemarau. Selain itu, pencegahan kebakaran lahan menjadi langkah krusial, mengingat kebakaran dapat menyebabkan penurunan produksi secara signifikan. 

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan dampak El Nino terhadap produksi kelapa sawit nasional dapat diminimalkan.

Posisi stok pangan masih aman

Sementara itu Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebut saat ini kondisi pangan Indonesia masih di level aman.  Cadangan beras nasional pada bulan April 2026 pun mencapai 4,59 juta ton, hampir 4,6 juta ton yang mana merupakan tertinggi sepanjang sejarah sejak Indonesia merdeka.

“Kondisi stok beras nasional di Indonesia dipastikan aman untuk 10 sampai 11 bulan ke depan, di sisi lain El Nino diperkirakan 6 bulan jadi insya Allah pangan kita aman,” kata Amran.

Buruh mengangkut beras untuk kesiapan stok beras di gudang Perum Bulog Lhokseumawe, Aceh, Rabu (1/4/2026). ANTARA FOTO/Rahmad

Menurut Amran, dalam rangka antisipasi musim kemarau yang terjadi pada tahun ini, Kementerian Pertanian menginstruksikan kepada seluruh gubernur dan bupati se-Indonesia agar melakukan mapping wilayah langganan kekeringan. 

“Kita ada  early warning system, perlu optimalisasi pengolahan air irigasi dan melalui rehabilitasi irigasi embung sumur, air dangkal dan sumur air dalam, serta memanfaatkan pompanisasi perpipaan irigasi perpompaan,” tegasnya.

Selain itu, Mentan Amran juga meminta seluruh pemimpin daerah itu untuk melakukan percepatan tanam dengan varietas tahan kekeringan, mengatur pola tanam, dan meningkatkan koordinasi serta sinergi antara pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

“Untuk mendukung langkah-langkah tersebut, Kementerian Pertanian telah menyiapkan alat dan mesin pertanian berupa pompa air, traktor, handspray, transplanter, dan lain-lain sebanyak 171.000 unit tahun 2024-2045,” jelasnya.

Di tahun 2026, Kementerian Pertanian menargetkan akan mendistribusikan bantuan alat dan mesin pertanian pra panen sebanyak 37.738 unit dengan rincian 10.130 unit pompa air, 13.735 unit hand sprayer, 1.616 unit rice transplanter, 6.960 unit traktor R2, 1.804 unit traktor crawler, dan 3.493 unit traktor R4.

Sementara itu distribusi infrastruktur air pada tahun 2024-2025 juga terdapat sebanyak 94.813 unit yang diantaranya merupakan irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, bangunan konservasi, rehabilitasi jaringan irigasi tersier, dan pompa air yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. “Intinya, krisis yang kita hadapi, yang lalu dan yang akan datang, sudah kita beresin,” tegas Amran.

Serentak, masif dan tak boleh terlambat

Sebagai Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Amran menegaskan bahwa berdasarkan proyeksi neraca pangan nasional hingga bulan Mei 2026, ketersediaan komoditas pangan strategis masih berada pada kondisi yang aman dan bahkan surplus. Komoditas beras, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, dan juga jagung dinyatakan telah swasembada.

“Ketersediaan komoditas pangan strategis nasional berada pada kondisi surplus dan relatif aman. Beberapa komoditas utama tercatat surplus antara lain beras 16,39 juta ton, jagung 4,3 juta ton, gula konsumsi 632 ribu ton, daging ayam 837 ribu ton, telur ayam 423 ribu ton,” ungkap Amran.

Stok beras Perum Bulog pada tahun 2026 juga telah mencapai 4.586.009 ton, dengan 23.346 ribu ton di antaranya merupakan stok komersial. Di tahun 2026 sendiri, penyaluran untuk SPHP beras tercatat sebesar 77.473 ton, bantuan pangan beras pada Februari hingga Maret sebesar 32.146 ton, dan untuk bencana serta keadaan darurat sebesar 11.184 ton.

Pada pekan lalu, dalam rangka mengantisipasi potensi dampak iklim khususnya El Nino Godzilla, Kementerian Pertanian mempercepat program Gerakan Tanam Serentak di lahan Cetak Sawah Rakyat yang tersebar di 19 provinsi.

Gerakan ini dilaksanakan secara serentak pada Kamis, 9 April 2026 dengan Kalimantan Selatan dipusatkan sebagai aksi tersebut dan menjadi bagian dari strategi nasional untuk menjaga produksi pangan tetap aman terkendali di tengah ancaman iklim.

Amran menegaskan, percepatan tanam tersebut merupakan langkah yang krusial untuk menghindari penurunan produktivitas pertanian akibat cuaca ekstrem yang mengintai. “Kalau kita lambat tanam, kita berisiko kehilangan produksi. Karena itu kita harus serentak, masif, dan tidak boleh terlambat,” tegasnya.

Mukhlison, Gema Dzikri, Feby Febriana Nadeak

Baca selengkapnya

Ω