Cerita Duta Besar Cairkan Obrolan Dunia Lewat Batik

Cerita Duta Besar Cairkan Obrolan Dunia Lewat Batik

Batik menjadi jembatan entry point membangun trust untuk merepresentasikan budaya Indonesia yang tangible. 

Cerita Duta Besar Cairkan Obrolan Dunia Lewat Batik
Dalam Artikel Ini

Dialog di meja perundingan internasional tak selalu berjalan alot. Ada kalanya sebuah percakapan hangat melalui motif batik yang dikenakan bisa mencairkan suasana dingin dan kaku tersebut. 

Hal tersebut membuktikan bahwa batik bukan sekadar busana formal, melainkan instrumen soft power paling ampuh yang dimiliki Indonesia. Sejak UNESCO menetapkan batik sebagai warisan dunia pada 2009, nama batik kian bergema di mancanegara.

Kain ini tak sekadar jadi seragam kebanggaan delegasi Indonesia di kancah internasional, tetapi juga memikat hati pemimpin dunia sekelas Nelson Mandela dan Ratu Beatrix dari Belanda yang juga pernah mengenakan batik.

Dalam peringatan Hari Batik Nasional pada hari ini, 2 Oktober, sejumlah Duta Besar Indonesia dan perwakilan negara sahabat memberikan cerita eksklusif arti batik bagi dunia diplomasi internasional serta bagaimana kain tradisional Nusantara ini menjadi jembatan persahabatan antarnegara.

Bagi Duta Besar RI untuk Austria, Slovenia, dan Organisasi Internasional di Wina, Damos Dumoli Agusman. (Foto: Kedubes)

Perjuangan batik di meja perundingan PBB

Bagi Duta Besar RI untuk Austria, Slovenia, dan Organisasi Internasional di Wina, Damos Dumoli Agusman, batik bukan sekadar busana formal, melainkan bagian dari identitas dan kekayaan intelektual bangsa yang memiliki sejarah perjuangan panjang.

Jauh sebelum menjabat sebagai Duta Besar, Damos merupakan juru runding Indonesia di World Intellectual Property Organization (WIPO) Jenewa yang memperjuangkan pembentukan rezim internasional untuk perlindungan pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya (traditional cultural expressions).

"Dahulu saya ikut memperjuangkan perlindungan ekspresi budaya tradisional Indonesia melalui meja perundingan internasional. Sekarang, sebagai Duta Besar, saya dapat memperkenalkan kekayaan budaya tersebut dengan cara yang jauh lebih sederhana yaitu dengan mengenakannya," ujar Damos.

Pemilihan jenis batik yang ia kenakan selalu disesuaikan dengan konteks acara. Damos juga kerap menyelaraskan motif batiknya dengan busana istri saat menghadiri berbagai kesempatan resmi.

"Untuk agenda diplomatik yang formal, ia cenderung memilih batik yang elegan dan tidak terlalu ramai, sementara dalam kegiatan promosi budaya, ia lebih berani menampilkan warna dan motif yang khas," ujar dia.

Duta Besar RI untuk Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara, Listiana Operananta bersama Secretary for Culture, Education and Relations of the President of Bulgaria. (Foto: Kedubes)

Penggunaan batik dalam perhelatan diplomasi tingkat tinggi juga diingat betul oleh Duta Besar RI untuk Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara, Listiana Operananta. 

Ia mengenang momen bersejarah saat Indonesia berhasil memegang presidensi Dewan Keamanan PBB di New York pada 2019 silam.

Pada sidang Open Debate bertema "Menabur Benih Perdamaian" yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri RI kala itu, diplomasi Indonesia berhasil mengajak seluruh anggota Dewan Keamanan, termasuk Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres untuk menghadiri sidang dengan mengenakan batik.

"Batik dapat menggantikan pakaian resmi yang selama ini digunakan dalam berbagai kegiatan internasional. Ia bukan sekadar dipakai, melainkan juga menceritakan sejarah dan filosofinya," kata Listiana.

Beberapa delegasi lainnya yang juga memakai batik dan tenun antara lain delegasi Jerman, China, Pantai Gading, Amerika Serikat, Peru, Republik Dominika dan Prancis.

Duta Besar RI untuk Kazakhstan merangkap Tajikistan, Fadjroel Rachman. (Foto: Kedubes)

Insiden salah sapa hingga inovasi Indokaze

Diplomasi batik di Asia Tengah justru berawal dari sebuah pengalaman yang mengundang gelak tawa dari Duta Besar RI untuk Kazakhstan merangkap Tajikistan, Fadjroel Rachman.

Saat dirinya baru menjabat di awal masa tugasnya di Astana, dirinya justru disambut dengan ucapan “Selamat datang kepada Duta Besar Malaysia”

Pengalaman unik sekaligus lucu itu menyentak Fadjroel. Ia mengatakan ada pekerjaan rumah besar yang menanti di kawasan yang dihuni sekitar 20 juta warga Kazakhstan dan 10 juta warga Tajikistan tersebut. 

"Batik itu Indonesia, Indonesia adalah batik. Batik harus menjadi top of mind bagi masyarakat Kazakhstan dan Tajikistan,” kata dia 

Sejak kejadian tersebut, Fadjroel semakin terdorong untuk mengangkat batik sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia di Kazakhstan dan Tajikistan. 

Menurut dia, masyarakat di kedua negara tersebut perlu mendapatkan pemahaman bahwa batik merupakan warisan budaya Indonesia, bukan berasal dari negara tetangga. 

Upaya itu tidak hanya dilakukan dengan mengenakan batik dalam berbagai kegiatan diplomatik, tetapi juga melalui berbagai kegiatan kebudayaan yang dapat mempertemukan masyarakat Kazakhstan dengan kekayaan batik Indonesia.

Menariknya, batik yang diperkenalkan tidak harus selalu terpaku pada satu motif tertentu. Fadjroel sendiri memiliki motif favorit, yakni Sasirangan dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. 

Pilihan tersebut menggambarkan bahwa kekuatan batik Indonesia justru terletak pada keberagaman daerah yang melahirkannya. 

“Dari Jawa, Sumatra, Kalimantan hingga berbagai wilayah Nusantara lainnya, setiap daerah memiliki karakter, cerita, warna, dan filosofi yang dapat menjadi bagian dari narasi besar batik sebagai identitas Indonesia,” kata dia.

Motif Indokaze, perpaduan motif khas Kazakhstan saat dipakai oleh Duta Besar RI untuk Kazakhstan merangkap Tajikistan, Fadjroel Rachman. (Foto : Dokumentasi Pribadi)

Upaya mempertemukan budaya Indonesia dan Kazakhstan bahkan melahirkan inovasi melalui Batik Indokaze. Produk tersebut menggabungkan unsur batik Indonesia dengan nuansa dan motif yang terinspirasi dari Kazakhstan. 

Kehadiran Batik Indokaze menunjukkan bahwa diplomasi budaya tidak selalu berarti membawa budaya Indonesia secara utuh ke negara lain, tetapi juga dapat menciptakan ruang pertemuan dan dialog antara dua kebudayaan melalui karya kreatif.

Duta Besar RI untuk Jerman, Abdul Kadir Jailani (Foto: Kedubes RI di Berlin)

Ice breaker efektif antar negara

Semua Duta Besar sepakat kalau batik dapat bertindak sebagai ice breaker atau pembuka percakapan yang sangat efektif. 

Duta Besar RI untuk Jerman, Abdul Kadir Jailani, menilai batik sebagai bentuk soft power yang tidak menggurui, tetapi mampu mengundang rasa ingin tahu.

"Pakaian adalah bahasa diplomasi. Pertanyaan sederhana seperti 'What is the story behind your batik?' dapat membuka percakapan yang jauh lebih personal. Batik adalah sarana untuk mencairkan jarak formal," jelas Abdul Kadir.

Batik, kata dia juga bisa menjadi jembatan entry point membangun trust untuk merepresentasikan budaya Indonesia yang tangible.  

“Saya melihat batik sebagai sarana ice breaker yang memiliki identitas lebih dari memperkenalkan Indonesia, batik juga memberikan orang lain kesempatan untuk menyentuh, bertanya serta mengenal Indonesia lebih dalam,” kata dia.

Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab, Judha Nugraha. (Foto: Tria Dianti/ SUAR)

Hal senada disampaikan oleh Duta Besar RI untuk Uni Emirat Arab, Judha Nugraha. Ia menceritakan di Abu Dhabi, batik bahkan dijadikan seragam kerja resmi di KBRI selama musim panas. 

Judha juga menceritakan pengalamannya saat bertemu dengan Menteri Toleransi dan Koeksistensi UEA, Sheikh Nahyan bin Mubarak Al Nahyan.

"Beliau mengenakan kondura (pakaian khas Emirati), sementara saya mengenakan batik. Ketika berdampingan, keduanya terlihat indah karena sama-sama menunjukkan identitas budaya masing-masing. Di sinilah batik menjadi titik temu yang natural untuk saling mengenal," tutur Judha.

Wakil Kepala Perwakilan RI di Moskow, Hartyo Harkomoyo. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Sementara itu, Wakil Kepala Perwakilan RI di Moskow, Hartyo Harkomoyo, menekankan bahwa dari satu motif batik saja, seorang diplomat bisa menceritakan banyak hal tentang Indonesia. 

"Satu corak batik bisa menceritakan asal daerahnya, kulinernya, wisatanya, hingga potensi kerja sama ekonomi Indonesia dengan negara sahabat," kata dia.

Penyuka motif batik sogan ini menilai hal yang penting untuk disampaikan adalah penguatan semangat dan kesadaran kolektif untuk meneruskan peran batik sebagai bagian dalam budaya dan diplomasi kebudayaan Indonesia kepada para generasi muda.

"Dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi digital dan komunikasi yang tanpa sekat, para pemuda kita dapat terus mempromosikan batik sebagai kekayaan budaya," ujar dia. 

Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Dato’ Muzafar Shah Mustafa di ruang kerjanya di Kedutaan Besar Malaysia, Kuningan, Jakarta, Rabu (30/09/26). (Foto: Ahmad Afandi/ SUAR)

Menenun kembali benang serumpun

Di antara semua kesaksian diplomasi tersebut, nada paling menyentuh berembus dari Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Dato’ Muzafar Shah Mustafa. Di tengah riak-riak sejarah sentimental mengenai klaim kepemilikan budaya di kawasan Nusantara, diplomat asal Negeri Jiran ini memilih untuk memandang batik dengan kacamata yang teduh dan jernih.

Bagi Dato’ Muzafar, batik bukanlah pemicu perselisihan, melainkan tali pengikat keserumpunan yang terbentang di sepanjang Kepulauan Nusantara.

“Pencetakan kain dengan teknik-teknik serupa batik bukan saja di daerah Nusantara, tapi juga di negara-negara lain. Kita boleh menyebut yang diakui UNESCO batik Indonesia, yang mempuynyai identitasnya sendiri. Tetapi jangan lupa, negara-negara lain di kawasan Nusantara juga mempunyai tradisi batik, yang berbeda dari batik Indonesia, dan memiliki ciri dan identitas mereka sendiri,” kata Dato Muzafar.

Menurutnya, pemahaman mendalam mengenai sejarah motif sangat penting bagi generasi muda di kedua negara agar tidak terjebak dalam patriotisme sempit yang memecah belah. Keserumpunan batik dapat diarahkan menjadi jembatan yang memperkuat hubungan kedua negara.

"Ini adalah satu warisan yang kita warisi bersama. Kita tidak perlu memperdebatkan asalnya, selama kita mengakui keunikan yang berkaitan erat dengan tradisi mendalam bagi kedua negara. Keserumpunan batik dapat diarahkan menjadi jembatan yang memperkuat hubungan bilateral," kata dia.

Dubes Mustafa mengungkapkan, ia pernah diundang mengunjungi sejumlah produsen batik eksklusif di Indonesia. 

Melihat sendiri kompleksitas prosesnya, ia tak heran jika batik tulis berkualitas dihargai sangat tinggi dan hanya terjangkau di kalangan tertentu. Namun, di sisi lain, proses yang rumit itu juga menegaskan betapa pentingnya mengapresiasi satu lembar batik yang dibuat dengan kehati-hatian.

Direktur Divisi Hubungan Masyarakat dan Kebudayaan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Oshino Tomoyuki. (Foto: Kedubes Jepang di Jakarta)

Canting bagi negeri Sakura

Apresiasi terhadap batik juga terpancar kuat dari perwakilan negara sahabat lainnya. Direktur Divisi Hubungan Masyarakat dan Kebudayaan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Oshino Tomoyuki yang melihat adanya ikatan estetika yang sangat kuat antara Batik Indonesia dengan tradisi tekstil Jepang.

Bagi masyarakat Jepang, cara batik menghormati alam dan musim melalui guratan motif memiliki kesamaan filosofis yang mendalam dengan Kimono dan teknik perintangan warna Shibori.

Kekerabatan visual ini bukan kebetulan belaka. Menelusuri lorong sejarah hingga abad ke-16, perahu-perahu dagang Nanban telah membawa kain-kain berukir dari Indonesia—yang di Jepang dikenal dengan nama Sarasa, ke hadapan para Daimyo dan maestro seni teh Kerajaan Jepang. 

Kekaguman pada Sarasa Indonesia itulah yang kelak mengilhami lahirnya Yuzen, teknik pewarnaan sutra paling legendaris di Jepang.

Puncak penghormatan itu terpancar anggun pada Juni 2023. Saat melangkah di atas batu-batu purba Candi Borobudur, Kaisar Jepang Naruhito hadir dalam balutan kemeja batik. 

“Momen tersebut menjadi simbol penghormatan tertinggi terhadap budaya Indonesia," cerita Oshino.

Bahkan, Kedutaan Besar Jepang di Jakarta secara khusus merancang motif batik orisinal yang memadukan corak Indonesia dengan lambang Pemerintah Jepang, Go-Shichi no Kiri (daun Paulownia).

“Sebuah simbol akulturasi yang indah tentang bagaimana dua kebudayaan besar saling memberi salam,” kata Oshino.

Menjaga api tradisi di tangan generasi muda

Pengakuan UNESCO pada 2009 bukanlah titik akhir. Seluruh diplomat sepakat bahwa tantangan terbesar saat ini adalah memastikan batik tetap hidup (living heritage) di tangan generasi muda.

Menutup perbincangan peringatan Hari Batik Nasional, para Duta Besar mengajak masyarakat Indonesia, khususnya anak muda, untuk memakai batik.

"Saya ingin mengajak masyarakat Indonesia untuk mengenakan batik tidak hanya dengan rasa bangga, tetapi juga dengan rasa ingin tahu. Kenali motifnya, daerah asalnya, siapa yang membuatnya, dan cerita di baliknya," kata Dubes Damos di Austria.

Karena ketika kita mengenakan batik, lanjutnya, sesungguhnya kita tidak hanya mengenakan selembar kain. Kita membawa pengetahuan, sejarah, kreativitas, dan cerita Indonesia.

"Semakin sering cerita itu kita bawa ke berbagai penjuru dunia, semakin kuat pula kehadiran budaya Indonesia dalam hubungan antarbangsa," tutup Damos

Batik bukan bagian dari fast fashion. Di dalamnya terkandung ketekunan, kesabaran, nilai-nilai ekologis, serta penghidupan bagi para perajin lokal di berbagai daerah.

Sebab, setiap kali seseorang mengenakan selembar kain batik, ia sejatinya sedang menceritakan sebuah kisah tentang sejarah, identitas, dan peradaban Indonesia kepada dunia.

"Berbanggalah dengan keberadaan batik yang mampu menembus dan diterima oleh berbagai budaya dan bangsa," kata Dubes Listiana. 

Ridho Sukra dan Chris Wibisana turut berkontribusi dalam artikel ini

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Hari Batik Nasional

Rekomendasi SUAR