Ringkasan Eksekutif: Kebun Kakao Produktif, Cokelat Menangguk Devisa
Setahun Presiden Prabowo Subianto menjabat, kakao menjadi salah satu sub komuditas yang sedang diusahakan menjadi pertumbuhan efektif
Setahun Presiden Prabowo Subianto menjabat, kakao menjadi salah satu sub komuditas yang sedang diusahakan menjadi pertumbuhan efektif
Pemerintah mendorong peningkatan produksi perkebunan untuk menggenjot devisa, salah satunya dengan fokus pada hilirisasi kakao. Kebijakan ini ditempuh karena produksi kakao menurun, dari 821 kg/ha (2013) menjadi 719 kg/ha (2023). Luas lahan turun dari 1,74 juta ha (2013) menjadi 1,39 juta ha (2023).
Sedangkan jumlah pabrik pengolah kakao turun dari 31 menjadi 19–21 pabrik, mendorong impor biji kakao. Kendala utama untuk meningkatkan produksi adalah bibit yang perlu ketelusuran, pupuk mahal, tanaman peneduh (kelapa), serta persyaratan ketat peremajaan (hanya ±5% lolos).
Pemerintah melalui Kemenperin juga melakukan penguatan industri kakao dari hulu hingga hilir. Salah satunya dengan program Cocoa Doctor (2024): melatih 450 pendamping, menjangkau 40.000 petani. Beberapa dampaknya:
Cokelat dari berbagai wilayah Indonesia memiliki rasa khas sesuai karakter lingkungan asalnya.
Pasar Indonesia awalnya hanya mengenal cokelat manis tinggi gula. Monggo memperkenalkan cokelat premium berbahan murni kakao Indonesia dengan teknik Belgia. Edukasi konsumen berlangsung ±15 tahun, hingga produk dark chocolate 100% menjadi bestseller.
Perusahaan juga membangun Museum Chocolate Monggo di Yogyakarta untuk edukasi publik.
Sedangkan Chau Chocolate didirikan di Tabanan, Bali (2014), beroperasi sejak 2016. Fokus pada green industry: produksi organik, fair trade, pemberdayaan petani.
Cau Chocolate membantu petani meningkatkan pendapatan (Rp 7 juta-Rp 10 juta/bulan). Pendampingan dilakukan agar kakao memenuhi standar fermentasi & organik.