Rencana pemerintah dalam meluncurkan entitas motor listrik nasional dalam waktu dekat, mendapatkan sambutan yang baik dari para pelaku industri. Peluncuran ini pun diharapkan menjadi momentum kebangkitan industri otomotif sekaligus mendorong reindustrialisasi ekonomi nasional.
Meski demikian, kalangan pelaku usaha dan pakar menilai keberhasilan program tersebut tidak hanya ditentukan oleh hadirnya merek motor listrik nasional semata, melainkan sejauh mana mampu memperkuat industri komponen inti, meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), hingga memperluas rantai pasok lokal.

Kabar peluncuran ini datang dari Presiden Prabowo Subianto saat memimpin Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI di Kabupaten Malang pada Jumat (17/07/2026) dan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di Jakarta pada Selasa (21/07/2026).
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setiyadi berharap, dengan adanya motor listrik nasional yang akan diluncurkan pemerintah, bisa berdampak kepada kebangkitan industri otomotif khususnya sepeda motor listrik.
“Saya kira ini momentum yang bagus. Artinya Bapak Presiden memandang perlu bahwa sudah saatnya Indonesia mendorong kebangkitan industri sepeda motor listrik,” kata Budi, Kamis (23/07/2026).
Pengembangan industri motor listrik nasional ini dinilai sebagai langkah penting dalam upaya mengurangi kebutuhan anggaran subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM) yang terus meningkat seiring bertambahnya jumlah sepeda motor berbahan bakar fosil atau internal combustion engine (ICE) yang masih tumbuh setiap tahun.
Bersama membangun industri otomotif nasional
Karenanya, pemerintah perlu mempercepat pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT), yang salah satunya adalah melalui pengembangan kendaraan listrik.
“Kalau pemerintah serius ya pasti nanti industri sepeda motor listrik nasionalnya akan didorong dan pastinya ekosistem akan terbangun dengan bersamaan itu terutama di infrastruktur untuk charging, kemudian bengkel, financing. Dan semakin lama kalau sepeda motor listrik semakin banyak, akan terbentuk juga secondary market yang sekarang mungkin masih belum terbentuk dengan bagus,” jelas Budi.
Aismoli yang menaungi puluhan merek sepeda motor listrik ini pun menyatakan kesiapannya untuk menjalin kolaborasi dengan pemerintah dalam hal penguatan dan percepatan perkembangan dari industri sepeda motor listrik dalam negeri.
“Kita siap berkolaborasi dengan pemerintah, terutama untuk mengedukasi kepada masyarakat, untuk mendorong masyarakat, bahwa sepeda motor listrik ini sangat efisien dan juga sangat bersih untuk lingkungan,” tegasnya.

Dari sisi permintaan, motor listrik juga masih menunjukkan peningkatan dari masyarakat, mengingat isu pasokan energi dan harga BBM yang tak menentu akibat dinamika geopolitik, akan semakin menjadi perhatian. Perkembangan teknologi dan kualitas produksi motor listrik juga dinilai semakin baik, sehingga meningkatkan kepercayaan.
“Tapi tidak seperti yang motor combustion engine ya yang pertumbuhannya sedemikian cepat, motor listrik ini tetap ada pertumbuhan tapi ya enggak begitu cepat. Artinya bertahap, masyarakat semakin paham bahwa motor listrik ini cukup dibutuhkan untuk kepentingan kondisi sekarang ini, dan ke depannya juga,” lanjut Budi.
Budi menambahkan, secara regulasi di dalam negeri yang mendorong pertumbuhan dari industri motor listrik di Indonesia ini sebenarnya sudah cukup lengkap dan mengakomodasi para pelaku usaha. Seperti hadirnya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2022, di mana seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah diinstruksikan untuk memprioritaskan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KLBB) sebagai kendaraan dinas.
“Jadi tinggal keseriusan pemerintah untuk menjalankan. Secara regulasi sudah lengkap, tinggal di tataran implementasi saja. Jadi kalau pemerintah pusat sudah mendorong ya, pastinya terjadi pertumbuhan yang cepat untuk industri motor listrik ini,” ungkapnya.
Penguatan sektor manufaktur
Senada, analis kebijakan ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani mengatakan, hadirnya motor listrik nasional ini juga merupakan upaya sistematis negara untuk memperkuat dan mengembangkan sektor manufaktur di dalam negeri.
“Hal ini tentunya menjadi angin segar, agar sektor manufaktur bisa kembali terdorong dan menjadi lokomotif penggerak perekonomian nasional, serta menjadi sektor penyerap tenaga kerja yang berkualitas,” ucap Ajib, Selasa (21/07/2026).
Ketika motor listrik nasional ini bisa diwujudkan dengan baik, menurut Ajib setidaknya ada tiga hal positif yang berdampak terhadap perekonomian nasional. Kesesuaian antara rancangan dengan kebutuhan masyarakat akan sepeda motor menjadi salah satu hal yang positif.
Selain itu, pengurangan emisi gas buang dari kendaraan berbasis EBT ini bisa mengurangi emisi gas buang secara signifikan, sehingga sejalan dengan target green economy dan juga net zero emission.

Begitu juga ketika masyarakat sudah banyak yang beralih menggunakan sepeda motor listrik, subsidi terhadap BBM pun juga ke depannya akan berkurang.
“Saat ini, teridentifikasi bahwa pengguna sepeda motor di Indonesia lebih dari 145 juta unit. Jika asumsi penggunaan per hari 1 liter Pertalite per hari per motor, pemerintah perlu menggelontorkan subsidi lebih dari Rp500 miliar per hari. Angka ini adalah asumsi selisih subsidi yang harus dibayar pemerintah, selisih antara harga ekonomi Pertalite dengan harga subsidi yang ditetapkan,” ujarnya.
Dorong peningkatan konten lokal
Akan tetapi, untuk bisa disebut benar-benar sebagai motor listrik nasional dan memberikan dampak untuk industri, setidaknya produk yang akan diluncurkan pemerintah ini harus memenuhi sejumlah unsur, seperti TKDN lebih dari 50% dan juga perluasan rantai pasok komponen lokal, dengan menggandeng koperasi hingga para pelaku usaha kecil maupun menengah di industri otomotif.
“Kalau Indonesia benar-benar bisa memproduksi motor listrik nasional, ini akan menjadi momentum reindustrialisasi untuk membangun ekosistem ekonomi domestik yang kuat dan mendorong pertumbuhan ekonomi di atas 6%,” katanya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan pemerintah dalam waktu dekat ini akan segera meluncurkan motor listrik buatan anak bangsa. Nantinya, motor listrik ini akan digunakan sebagai sarana mobilitas sehari-hari masyarakat, dan bahkan ia berharap para petani Tanah Air juga dapat menggunakan moda transportasi yang satu ini untuk beraktivitas.
“Sebentar lagi kita sudah punya motor nasional. Saya akan launching beberapa minggu ini, motor listrik nasional. Saya berharap nanti petani-petani kita minimal naik motor, motor listrik,” ungkap Prabowo, Jumat (17/07/2026).
Rencana motor listrik nasional ini dipandang sebagai simbol kebangkitan industri nasional dan upaya memperkuat kemandirian ekonomi bangsa.
“Pemerintah yang saya pimpin bertekad untuk berbuat yang terbaik untuk menggapai sasaran yang tertinggi dalam waktu yang secepat-cepatnya. Kita tidak mau menjadi bangsa yang santai, kita akan buktikan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia sedang bangkit dengan kekuatan kita sendiri,” tegasnya.

Mengurangi ketergantungan konsumsi BBM
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa kehadiran motor listrik buatan Indonesia ini tidak hanya berbicara soal kemampuan anak bangsa dalam memproduksi kendaraan berbasis EBT. Lebih jauh dari itu, ini juga sebagai upaya pemerintah dalam mendorong pengurangan ketergantungan terhadap konsumsi BBM.
“Saya kira itu juga perlu menjadi perhatian kita bahwa sebuah prestasi itu tidak berdiri sendiri, juga tidak sekedar memberi efek atau impact ke dunia otomotif tapi juga membawa pengaruh kepada konsumsi bahan bakar kita yang berbasis fosil, jadi kita bisa mengurangi ketergantungan ke BBM kita,” Selasa (21/07/2026).
Meski begitu, agar benar-benar menjadi tonggak kebangkitan industri, motor listrik nasional ini harus benar-benar memberikan manfaat ekonomi yang nyata dan dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai, arah kebijakan pemerintah dalam membangun industri motor listrik ini sebenarnya sudah tepat. Akan tetapi, kapasitas perakitan sepeda motor listrik di Indonesia saat ini dikatakan masih jauh di atas serapan pasar yang baru sekitar 55 ribu unit per tahun.
Baca juga:

TKDN dalam perakitan motor listrik nasional ini juga menjadi perhatian penting, sehingga nilai tambah dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh industri dalam negeri.
“Peluncurannya juga perlu dibaca secara cermat, karena pengembangan model baru umumnya membutuhkan sekitar tiga hingga empat tahun sejak tahap desain sampai siap produksi. Artinya, jika peluncuran dilakukan dalam waktu dekat, proyek tersebut hampir pasti sudah dipersiapkan jauh sebelumnya,” kata Yannes, Kamis (23/07/2026).
Anchor costumer bagi industri komponen inti
Pemerintah juga didorong untuk membuka informasi lebih lanjut mengenai motor listrik nasional ini, seperti siapa pemegang desain dan hak kekayaan intelektualnya, berapa TKDN riil yang telah terverifikasi, serta sejauh mana transfer teknologi dilakukan.
“Pabrik motor listrik nasional akan jauh lebih strategis apabila diposisikan sebagai anchor customer bagi industri komponen inti yang dibangun secara paralel, bukan hanya menjadi fasilitas perakitan akhir. Selama simpul rantai nilai belum diperkuat, kita berisiko memperbesar kapasitas produksi tanpa benar-benar memperkuat fondasi industrinya,” jelasnya.
Jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti China dan juga Jepang, keduanya telah lebih dahulu memiliki ekosistem kendaraan listrik yang lebih baik dibandingkan dengan Indonesia. China disebut memiliki keunggulan dalam hal skala produksi baterai dan komponen inti yang membuat biaya menjadi lebih efisien. Sementara, Jepang memiliki jaringan dealer dan layanan purna jual bengkel ataupun suku cadang yang sangat luas, sehingga kepercayaan konsumen tinggi.
Baca juga:

Tetapi, Yannes menilai bahwa motor listrik Indonesia ini tetap memiliki potensi yang kuat untuk bersaing dengan negara-negara lain.
“Indonesia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara, yaitu cadangan nikel yang besar, pasar sepeda motor terbesar ketiga di dunia setelah India dan China, serta peluang membangun industri kendaraan listrik yang jauh lebih sedikit komponennya tanpa terbebani investasi besar pada teknologi combustion engine,” katanya.
Modal tersebut pun harus menjadi daya tawar yang dimanfaatkan dalam melakukan negosiasi kepada investor global.