Membaca Arah Baru Investasi Nikel Indonesia

Membaca Arah Baru Investasi Nikel Indonesia

Investasi di industri nikel terus menggeliat seiring maraknya hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah bagi komoditas mineral.

Membaca Arah Baru Investasi Nikel Indonesia
Dalam Artikel Ini

Investasi di industri nikel Indonesia masih menunjukkan nilai besar di tengah berlanjutnya ekspansi hilirisasi, pengembangan produk bernilai tambah, serta meningkatnya tuntutan terhadap produksi yang lebih berkelanjutan.

Mengutip data dari Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), realisasi investasi hilirisasi industri nikel sepanjang 2020–2025 mencapai Rp690,3 triliun atau sekitar USD44,54 miliar.

Adapun berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), nilai investasi industri nikel menjadi kontributor terbesar investasi hilirisasi lebih tinggi dibandingkan komoditas lainnya seperti bauksit, besi baja, gas bumi, minyak bumi dan lain-lain. Adapun nilainya mencapai Rp71 triliun atau porsi 23,65% dari total investasi hilirisasi.

Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdanakusumah mengatakan, derasnya investasi tersebut tidak terlepas dari perkembangan ekosistem hilirisasi nikel sejak pemerintah memberlakukan pelarangan ekspor bijih nikel pada 2014.

"Industri hilirisasi nikel Indonesia telah berkembang sangat masif sejak pemerintah memberlakukan pelarangan ekspor bijih nikel tahun 2014 hingga saat ini," kata Arif kepada SUAR, Rabu (16/9/2026).

Menurut Arif, Indonesia menambah kapasitas terpasang fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel sekitar 1,5 juta ton Ni sepanjang 2020–2025. Total kapasitas terpasang hingga 2025 mencapai sekitar 2,7 juta ton Ni, mencakup fasilitas pirometalurgi dan hidrometalurgi yang menghasilkan nickel pig iron (NPI), ferro nickel (FeNi), matte, mixed hydroxide precipitate (MHP), dan nikel sulfat.

Investasi masih berpotensi bertambah seiring pengembangan fasilitas high pressure acid leach (HPAL). Penambahan kapasitas HPAL pada 2026–2028 diperkirakan membutuhkan investasi sekitar USS20 miliar.

Arif mengatakan arah investasi tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong industri nikel bergerak ke produk dengan nilai tambah lebih tinggi, sebagaimana tercermin dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 2025.

"Pemerintahan telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) 28 tahun 2025 investasi di bidang industri nikel lebih didorong ke industri yang jauh lebih hilir lagi menghasilkan produk-produk dengan nilai tambah lebih tinggi, seperti stainless steel, nikel sulfat, prekusor, katoda hingga baterai untuk kendaraan listrik dan lainnya," jelasnya.

Posisi Indonesia sebagai negara dengan cadangan nikel besar dan ekosistem industri yang telah terbentuk turut mendukung masuknya investasi baru. Namun, arah investasi mulai bergeser dari sekadar peningkatan volume menuju proyek bernilai tambah yang mampu menyerap kenaikan struktur biaya produksi domestik.

Dari sisi permintaan, industri baja nirkarat masih akan mendominasi kebutuhan nikel global dalam beberapa tahun ke depan. Sementara kebutuhan nikel untuk industri baterai saat ini masih sekitar 15–18%.

Vale Kebut Investasi Hilirisasi

Arah baru investasi tersebut terlihat dari ekspansi PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Salah satu holding MIND ID tersebut mempercepat pembangunan tiga proyek Indonesia Growth Project (IGP) di Morowali, Pomalaa, dan Sorowako, Sulawesi, dengan total investasi sekitar USD7,2 miliar.

Investasi terdiri atas IGP Morowali USD1,9 miliar, IGP Pomalaa USD3,2 miliar, dan IGP Sorowako USD2,1 miliar. Ketiganya diarahkan untuk mengembangkan produk bernilai tambah, khususnya MHP, sekaligus memperluas rantai pengolahan di luar produksi nikel matte.

Presiden Direktur dan CEO Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan proyek hilirisasi merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global sekaligus menangkap perkembangan teknologi pengolahan nikel.

“Kami memandang proyek hilirisasi sebagai investasi jangka panjang untuk membangun posisi Indonesia dalam rantai pasok global, serta menangkap peluang perkembangan teknologi pengolahan nikel di masa datang,” kata Bernardus kepada SUAR, Selasa (15/9/2026).

Materi paparan public VALE

IGP Pomalaa menjadi proyek dengan perkembangan fsilitas HPAL yang telah memasuki tahap pre-commissioning dan dijadwalkan melakukan first feed sekitar 15 September 2026. Vale juga mempercepat target mechanical completion dari Desember 2026 menjadi sekitar September atau Oktober 2026.

Setelah itu, perseroan menargetkan ramp-up selama tiga hingga enam bulan sebelum mencapai produksi penuh pada 2027 dengan kapasitas 120.000 ton MHP per tahun. Berdasarkan paparan perusahaan di Public Expose, progres tambang IGP Pomalaa mencapai 83%, sementara pembangunan fasilitas HPAL 86%.

IGP Morowali mencatat progres tambang 100%, sedangkan fasilitas HPAL mencapai sekitar 36% pada semester I 2026. Proyek senilai US$1,9 miliar tersebut memiliki kapasitas produksi 60.000 ton MHP per tahun. Mechanical completion lini pertama ditargetkan pada akhir 2026, sementara lini kedua dan ketiga dilanjutkan pada 2027.

Adapun IGP Sorowako bernilai US$2,1 miliar, dengan progres tambang 50% dan pembangunan HPAL sekitar 19%–20%. Kapasitasnya ditargetkan mencapai 60.000 ton MHP per tahun.

Pengembangan HPAL tersebut ditujukan untuk mengolah bijih limonit menjadi MHP, salah satu bahan baku dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.

Masuknya MHP ke portofolio produksi juga diproyeksikan mengubah struktur pendapatan Vale. Bernardus berharap produk tersebut menjadi salah satu kontributor utama setelah fasilitas HPAL beroperasi komersial.

“Ke depannya dengan mulainya fase produksi dari HPAL itu akan menambah revenue stream untuk PT Vale. MHP inilah yang ke depannya diharapkan akan menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan perseroan,” ungkap Bernardus.

Nilai tambah dan ramah lingkungan

Prospek investasi di sektor nikel Indonesia masih dinilai kuat di tengah berlanjutnya pengembangan industri hilirisasi. Namun, peluang investasi kini mulai bergeser dari sekadar pembangunan tambang dan smelter dasar menuju industri pengolahan dengan nilai tambah yang lebih tinggi.

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan arah investasi nikel mulai bergerak ke pengembangan teknologi HPAL, bahan prekursor, katoda, sel baterai, hingga produk logam bernilai tinggi. Namun tantangannya kelebihan pasokan nikel global membuat proyek berbiaya tinggi semakin selektif. 

"Karena itu, prospek terbaik bukan menambah kapasitas feronikel atau NPI secara agresif, melainkan memperdalam rantai nilai, memperbaiki efisiensi energi, dan menghubungkan produksi dengan permintaan baterai serta industri maju," katanya pada SUAR, Selasa (15/9/2026). 

Foto udara tungku smelter menumpahkan slag nikel di areal pembuangan PT VDNI di Kecamatan Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Sabtu (29/8/2026). ANTARA FOTO/Andry Denisah/foc.

Ia menilai Indonesia sebenarnya masih menjadi tujuan investasi nikel paling menarik secara skala karena memiliki kombinasi cadangan, produksi, infrastruktur pengolahan, dan ekosistem hilirisasi yang sulit ditandingi. International Energy Agency (IEA) menempatkan Indonesia sebagai pusat pertumbuhan pasokan dan pemurnian nikel global. 

Keunggulan tersebut menciptakan ekonomi skala, kedekatan antara tambang dan smelter, serta akses ke rantai pasok baterai. Namun, daya tarik tersebut  tidak otomatis permanen. 

Syafruddin mengatakan investor juga menghitung kepastian aturan, biaya energi, kualitas infrastruktur, standar lingkungan, akses pembiayaan, dan risiko perubahan kuota produksi.

"Karena itu, faktor penentu Indonesia ke depan bukan hanya murahnya bijih nikel, melainkan kemampuan menawarkan biaya total investasi yang kompetitif sekaligus kepastian dan standar ESG yang kredibel," katanya. 

Hal senada juga dikemukakan Arif dari FINI. Ia mengatakan industri nikel Indonesia mulai merespons tuntutan tersebut melalui pengurangan emisi karbon, pengelolaan sumber daya, pelibatan masyarakat lokal, serta pemenuhan ketentuan lingkungan.

"Arah industri kini menuju operasi yang lebih efisien energi, sirkular, dan rendah karbon, dengan fokus pada inovasi teknologi dan pengelolaan dampak sosial-lingkungan," imbuhnya.

Menurut Arif, sejumlah fasilitas pengolahan dan pemurnian telah menunjukkan perkembangan dalam penerapan ESG. Namun, fasilitas hilirisasi yang relatif baru masih memiliki aspek yang perlu dibenahi, terutama pengelolaan dan perlindungan lingkungan.

Pelaku industri juga wajib memenuhi ketentuan lingkungan, termasuk AMDAL dan persetujuan teknis sebelum memperoleh persetujuan lingkungan. Kinerja lingkungan perusahaan dievaluasi melalui PROPER. Sejumlah perusahaan juga menjalankan audit sukarela berdasarkan standar Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA).

Bagi Vale, hilirisasi dan dekarbonisasi berjalan beriringan. Bernardus mengatakan daya saing nikel ke depan tidak hanya ditentukan volume dan harga, tetapi juga penggunaan energi, intensitas emisi, pengelolaan lingkungan, serta praktik sosial dan tata kelola.

“Kami juga terus mengevaluasi peluang penggunaan energi dan teknologi yang lebih rendah karbon seperti HPAL sesuai dengan karakteristik masing-masing proyek dan perkembangan teknologi yang

ESG masuk pertimbangan investor

Dari perspektif pasar modal, keberlanjutan mulai masuk dalam pertimbangan investor ketika menilai emiten nikel. Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta mengatakan perusahaan yang menghasilkan nikel dengan intensitas karbon lebih rendah dan memenuhi standar ESG memiliki faktor pendukung untuk menjaga daya saing jangka panjang.

“Keunggulan biaya tetap penting, tetapi ke depan kualitas dan jejak karbon produk juga semakin menjadi faktor diferensiasi,” kata Nafan.

Namun, kinerja ESG tidak otomatis membuat saham memperoleh valuasi premium. Investor tetap memperhatikan pertumbuhan laba, arus kas, struktur biaya, belanja modal, neraca, serta prospek harga nikel.

“ESG lebih tepat dilihat sebagai faktor yang dapat mengurangi risk discount atau menurunkan cost of capital,” ujarnya.

Nafan juga meminta investor mencermati ekspansi HPAL karena membutuhkan modal besar dan membawa risiko operasional serta lingkungan, termasuk pengelolaan tailing, penggunaan air dan energi, serta potensi dampak terhadap ekosistem.

“Ekspansi HPAL perlu dilihat secara lebih selektif,” ujarnya.

Menurut Nafan, kualitas pengelolaan limbah, kepatuhan lingkungan, pemantauan, dan transparansi ESG menjadi bagian dari analisis risiko emiten. Risiko lingkungan yang tidak dikelola dapat menimbulkan biaya remediasi, sanksi, gangguan operasional, maupun risiko reputasi.

Prospek nikel di tengah perubahan teknologi

Selain keberlanjutan, perkembangan teknologi baterai menjadi faktor dalam prospek permintaan nikel. Baterai berbasis lithium iron phosphate (LFP) berkembang sebagai alternatif baterai berbasis nikel.

Vale tetap melihat ruang pertumbuhan produk nikel dalam rantai pasok energi dan kendaraan listrik. Bernardus mengatakan perseroan akan menyesuaikan pengembangan produk dengan kebutuhan pasar dan perkembangan teknologi.

“Pasar untuk baterai berbasis nikel masih akan tetap berkembang meskipun ada tekanan dari baterai berbasis LFP. Kami meyakini nikel akan tetap memainkan peran penting dalam transisi energi global, sehingga fokus Perseroan adalah menghasilkan produk nikel bernilai tambah yang kompetitif, berkelanjutan, dan relevan bagi berbagai teknologi masa depan,” ujar Bernardus.

Melalui tiga proyek hilirisasi, Vale mengembangkan kapasitas MHP hingga 240.000 ton per tahun dari Pomalaa dan Sorowako, ditambah 60.000 ton per tahun dari Morowali.

Ekspansi tersebut menunjukkan arah investasi nikel Indonesia yang tidak lagi hanya berfokus pada penambahan kapasitas, tetapi juga produk bernilai tambah dan penyesuaian terhadap tuntutan pasar global.

Di sisi lain, investasi sektor ini tetap menghadapi kebutuhan modal besar, volatilitas harga, struktur biaya, perkembangan teknologi baterai, serta tuntutan pengurangan emisi. Nafan mengatakan faktor-faktor tersebut semakin relevan bagi perusahaan nikel yang ingin memperluas kapasitas sekaligus mempertahankan akses terhadap pasar global dan sumber pendanaan.

“Pemenang di industri nikel ke depan bukan hanya produsen dengan kapasitas terbesar,” kata Nafan.

Perkembangan investasi nikel Indonesia selanjutnya akan berjalan bersamaan dengan perluasan hilirisasi, peningkatan efisiensi produksi, serta penyesuaian proses pengolahan terhadap tuntutan keberlanjutan dan perubahan kebutuhan pasar.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Nikel

Rekomendasi SUAR