Dominasi Nikel Indonesia di Tengah Arus Diversifikasi Investasi China

Industri nikel Indonesia bergantung pada China sebagai pasar dan sumber investasi. Namun, kini investor China mulai melirik industri di Afrika.

Dominasi Nikel Indonesia di Tengah Arus Diversifikasi Investasi China

​Kebijakan hilirisasi menjadi salah satu strategi yang berhasil mendorong Indonesia menjadi produsen nikel terbesar di dunia. Kebijakan pelarangan ekspor bijih mentah (raw material) menjadi kunci mendorong nilai tambah produk nikel. 

Keberhasilan hilirisasi tentu tidak ketinggalan didorong oleh kucuran dana miliaran dolar dari raksasa smelter asal China, seperti Tsingshan dan Huayou Cobalt yang berada di pusat-pusat industri strategis, seperti Morowali dan Weda Bay. 

Meski demikian, dukungan investasi oleh China tersebut mulai menghadapi tantangan baru. Menghadapi potensi kejenuhan pasar nikel serta ketatnya regulasi geopolitik, seperti Undang-Undang Pengurangan Inflasi (IRA) Amerika Serikat yang membatasi komponen dari entitas asing yang menjadi perhatian (Foreign Entity of Concern), para investor China kini mulai melirik Afrika sebagai alternatif. 

​Ketergantungan industri nikel Indonesia terhadap pasar China tercermin dalam kinerja perdagangan luar negeri. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor nikel Indonesia didominasi oleh pasar China, baik dari segi nilai maupun volume. Pada tahun 2024, nilai ekspor nikel ke China mencapai 6.260,3 juta dolar AS dari total ekspor keseluruhan sebesar 7.985,1 juta dolar AS, atau menyumbang sebesar 78,40% dari total nilai ekspor. 

Dominasi ini kian kentara di sisi volume, di mana pasokan nikel ke China mencakup 1.769,6 ribu ton atau mencapai 92,00% dari total volume ekspor nasional yang berada di angka 1.923,5 ribu ton. Angka-angka ini menegaskan krusialnya posisi China sebagai penyerap utama hasil hilirisasi nikel Indonesia.

​Dominasi tersebut bahkan semakin menguat memasuki tahun 2025 sebelum sedikit melandai akibat dinamika awal tahun 2026. Sepanjang tahun 2025, nilai ekspor nikel Indonesia ke China melonjak hingga mencapai 7.859,8 juta dolar AS, menguasai 80,85% dari total nilai ekspor yang sebesar 9.721,6 juta dolar AS. 

Sejalan dengan nilainya, volume ekspor ke China juga naik ke angka 2.226,5 ribu ton atau mencakup 92,98% dari total volume ekspor nasional sebesar 2.394,7 ribu ton. Sementara itu, pada triwulan pertama tahun 2026 (Januari–Maret), nilai ekspor ke China tercatat sebesar 2.801,3 juta dolar AS atau berkontribusi sebesar 86,06% dari total nilai triwulanan yang sebesar 3.255,2 juta dolar AS. Dari segi volume juga tercatat mencapai 518,4 ribu ton atau setara 92,85% dari total volume ekspor nasional yang sebesar 558,3 ribu ton. 

Data dua tahun terakhir tersebut memperlihatkan bahwa ketika ada pergeseran kebijakan dagang atau arah investasi China dipastikan akan berdampak langsung pada stabilitas perdagangan nikel Indonesia.

​Kekuatan dukungan China tidak hanya terekam pada aktivitas ekspor, melainkan juga berakar kuat pada realisasi investasi domestik pada sektor-sektor penopang nikel. Sepanjang tahun 2022 hingga awal 2026, arus modal dari China terus mengalir deras ke tiga sektor utama terintegrasi, yakni industri logam dasar, perdagangan besar, dan pertambangan. 

Pada sektor industri logam dasar yang menjadi tulang punggung pembangunan smelter, realisasi investasi China berfluktuasi namun tetap kokoh. Setelah sempat mencapai Rp 19,09 triliun pada kuartal keempat (Q4) tahun 2023, sektor logam dasar menyentuh angka tertinggi di Q4-2025 dengan realisasi menembus Rp 20,21 triliun. Namun, akhirnya bertengger di angka Rp 13,81 triliun pada kuartal pertama (Q1) tahun 2026.

​Pertumbuhan yang tidak kalah menarik terlihat pada distribusi dan perdagangan besar nikel, yang mencerminkan kesiapan China dalam menguasai jalur logistik hasil olahan mineral ini. Sektor perdagangan besar mencatatkan lonjakan investasi luar biasa, melesat dari hanya puluhan miliar rupiah pada awal 2022 menjadi Rp 1,96 triliun pada Q1-2025, dan mencatatkan rekor tertingginya pada Q1-2026 dengan torehan nilai sebesar Rp 3,58 triliun. 

Meskipun investasi di sektor pertambangan mentah sempat melonjak sesaat hingga Rp 2,66 triliun pada Q2-2025 seiring dinamika izin tambang, tren umum investasi China tetap berfokus pada hilirisasi dan distribusi perdagangan dengan total kontribusi tiga sektor ini kerap mendominasi hingga lebih dari 60% dari seluruh total investasi China di Indonesia. 

Meski aliran modal saat ini masih terlihat masif, ancaman diversifikasi investor China ke Afrika perlu menjadi perhatian sekaligus diantisipasi. Hal itu untuk mencegah perlambatan investasi baru pada proyek lanjutan seperti HPAL (High-Pressure Acid Leaching) untuk baterai kendaraan listrik. Indonesia perlu terus menyeimbangkan tata kelola regulasi domestik dan memperkuat daya saing geopolitik di tingkat global.

Baca selengkapnya