Indonesia Menyongsong Surplus Perdagangan Melalui Kerja Sama Strategis Dengan Thailand

Setelah mencatat defisit perdagangan dengan Thailand selama periode 2021-2025, Indonesia berharap perubahan menjadi surplus melalui kemitraan strategis yang baru.

Indonesia Menyongsong Surplus Perdagangan Melalui Kerja Sama Strategis Dengan Thailand

Pertemuan bilateral antara Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di Jakarta pada Senin (3/8/2026), menjadi momentum untuk memperkuat hubungan diplomasi kedua negara khususnya kerja sama bidang ekonomi. 

Kunjungan kenegaraan Perdana Menteri (PM) Thailand ke Indonesia menghasilkan sejumlah kesepakatan kemitraan strategis antar-kedua negara. Khususnya di bidang ekonomi perdagangan dan investasi, PM Thailand juga menegaskan bahwa kondisi dan stabilitas ekonomi Indonesia memberikan optimisme tinggi. Sehingga, para pelaku usaha Thailand terus memperluas jangkauan kerja sama perdagangan dan penanaman modal di Indonesia.

Komitmen strategi tersebut dilandasi dinamika perdagangan bilateral yang sudah kuat. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, total nilai perdagangan kedua negara sempat melonjak 18,19% dari 16,23 miliar dolar AS pada tahun 2021 menjadi 19,19 miliar dolar AS pada 2022. 

Setelah sempat terkoreksi ke level 17,50 miliar dolar AS pada 2023 dan 17,44 miliar dolar AS pada 2024, aktivitas perdagangan tetap stabil dengan tumbuh 1,35% (secara tahunan/yoy) menjadi 17,67 miliar dolar AS pada 2025. Kinerja positif tersebut berlanjut hingga semester I-2026 (Januari–Juni) dengan akumulasi total perdagangan mencapai 9,80 miliar dolar AS.

Tren perdagangan ini terutama pada neraca perdagangan Indonesia menunjukkan perbaikan yang signifikan. Setelah mengalami defisit terbesar mencapai 3,05 miliar dolar AS pada 2023, defisit Indonesia perlahan menurun menjadi 2,02 miliar dolar AS pada 2024, hingga tercatat hanya 140,6 juta dolar AS pada 2025 akibat lonjakan ekspor sebesar 13,73% (yoy). 

Puncaknya terjadi pada paruh pertama tahun 2026, di mana Indonesia berhasil membalikkan keadaan dengan mencetak surplus perdagangan sebesar 237,1 juta dolar AS. Perbaikan ini terjadi berkat capaian ekspor sebesar 5,02 miliar dolar AS yang melampaui angka impor sebesar 4,78 miliar dolar AS.

Perubahan neraca perdagangan ini dipengaruhi oleh struktur komoditas unggulan kedua negara. Komoditas utama ekspor Indonesia ke Thailand didominasi oleh bahan bakar mineral, kendaraan beserta bagiannya, mesin/peralatan mekanis, tembaga, serta lonjakan signifikan pada produk perhiasan dari 244,3 juta dolar AS di 2024 menjadi 1,42 miliar dolar AS pada 2025.

Angka ekspor minyak dan gas (migas) terus melaju hingga 1,26 miliar dolar AS pada Januari–Juni 2026 di tengah gejolak rantai pasok bahan bakar mineral dari Timur Tengah. Sektor ini secara total nilai pada 2025 mengambil porsi ekspor sekitar 15,7% dari total.

Di sisi lain, impor Indonesia dari Thailand masih didominasi oleh produk otomotif/kendaraan, mesin-mesin mekanis, bahan plastik, dan peralatan listrik. Sementara komoditas pangan seperti gula dan kembang gula juga turut mendominasi di posisi ke lima dengan nilai yang fluktuatif sepanjang lima tahun terakhir.

Melihat tren basis perdagangan bilateral tersebut, momentum kemitraan strategis yang baru disepakati membuka ruang kerja sama yang lebih luas. Terutama di sektor energi, secara khusus PM Thailand mengharapkan dihidupkannya kembali Indonesia-Thailand Energy Forum sebagai wadah kolaborasi utama untuk memperkuat ketahanan energi kawasan. 

Reaktivasi forum ini diproyeksikan tidak hanya akan mendorong investasi baru dalam pengembangan energi terbarukan dan eksplorasi migas. Forum tersebut juga diharapkan menjadi pilar utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan saling menguntungkan bagi kedua negara pendiri ASEAN ini.

Author

Baca selengkapnya