Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 2026, refleksi terhadap arah perekonomian nasional kembali menjadi penting. Indonesia memiliki modal besar berupa jumlah penduduk yang mencapai ratusan juta jiwa sehingga menciptakan pasar domestik yang luas. Besarnya pasar dalam negeri selama ini menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi.
Namun, mengandalkan konsumsi domestik semata tidak cukup untuk membawa Indonesia menuju perekonomian yang lebih maju dan berdaya saing global.
Tantangan ke depan bukan hanya bagaimana menjaga konsumsi masyarakat, tetapi juga mendorong dunia usaha Indonesia naik kelas. Pelaku usaha perlu mendapatkan kesempatan sekaligus didorong untuk bersaing di pasar internasional.

Dalam konteks tersebut, kebijakan outward looking menjadi penting karena dapat membuka ruang bagi industri nasional untuk menembus pasar global, memperluas ekspor, menarik investasi asing, serta meningkatkan perolehan devisa. Dengan demikian, keterlibatan Indonesia dalam perekonomian dunia tidak sekadar sebagai pasar, tetapi juga sebagai produsen yang mampu menciptakan produk bernilai tambah tinggi.
Optimalisasi di pasar ekspor
Rektor Universitas Paramadina dan Pengamat Ekonomi Didik Rachbini menuturkan Indonesia sebenarnya memiliki pengalaman yang dapat dijadikan best practice dalam menerapkan strategi outward looking.
Pada era 1980-an, pemerintah mendorong investasi dan pengembangan industri yang berorientasi ekspor. Kebijakan tersebut kemudian berkontribusi terhadap periode pertumbuhan ekonomi yang tinggi, bahkan berada di kisaran 7-8 persen dalam rentang waktu yang panjang.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketika sektor industri diarahkan untuk terintegrasi dengan pasar global, terdapat peluang lebih besar bagi Indonesia untuk menciptakan pertumbuhan yang kuat sekaligus mempercepat transformasi struktural.
“Pemerintah tidak perlu selalu mencari formula baru untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Salah satu pilihan adalah mengulang dan menyesuaikan kebijakan yang pernah berhasil pada masa lalu dengan kondisi ekonomi global saat ini,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (10/8/2026).

Didik menuturkan belanja pemerintah tetap memiliki peran penting sebagai stimulus ekonomi, tetapi tidak dapat menjadi satu-satunya tumpuan untuk menghasilkan pertumbuhan tinggi secara berkelanjutan. Mesin pertumbuhan perlu diperluas melalui peningkatan produktivitas industri, investasi, ekspor, serta keterhubungan Indonesia dengan rantai pasok global.
Indonesia memang tidak sepenuhnya mengabaikan sektor luar negeri. Sejumlah pelaku usaha tetap melakukan ekspor, pemerintah terus berupaya menarik penanaman modal asing, dan program hilirisasi juga telah diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas nasional.
Persoalannya, sektor luar negeri tersebut belum sepenuhnya ditempatkan sebagai mesin utama transformasi struktural dan industrialisasi. Kebijakan ekonomi masih relatif kuat bertumpu pada pasar domestik, substitusi impor, penguasaan sumber daya, dan konsumsi dalam negeri.
“Ke depan, orientasi tersebut perlu dilengkapi dengan kebijakan yang lebih agresif dalam menembus pasar internasional. Indonesia harus membangun daya saing industri yang kuat, meningkatkan kapasitas ekspor, memanfaatkan investasi global,” ujar dia.
Pada akhirnya, refleksi ekonomi menjelang usia 81 tahun Indonesia harus diarahkan pada pertanyaan mengenai sumber pertumbuhan ekonomi dalam beberapa dekade mendatang. Besarnya pasar domestik merupakan kekuatan yang tidak boleh diabaikan, tetapi pasar domestik saja tidak cukup untuk menciptakan industrialisasi berkelas dunia.
Ia mengatakan jika Indonesia ingin mencapai tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan, sektor luar negeri harus kembali ditempatkan sebagai salah satu mesin utama pertumbuhan melalui kebijakan yang berorientasi ekspor.
Pengelolaan sektor luar negeri secara lebih strategis akan menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya tumbuh karena besarnya pasar sendiri, tetapi juga tumbuh karena mampu memenangkan persaingan di pasar dunia.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal II 2026 Tumbuh 5%
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud mengatakan Badan BPS melaporkan perekonomian Indonesia tetap tumbuh di atas level 5% pada kuartal II-2026. Meski demikian, laju pertumbuhan mulai melambat dibandingkan tiga bulan pertama tahun ini seiring normalisasi aktivitas ekonomi.
Berdasarkan data BPS, ekonomi Indonesia pada periode April–Juni 2026 tumbuh 5,29% secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% yoy.
Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku (ADHB) pada kuartal II-2026 mencapai Rp 6.552,1 triliun.
Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan (ADHK) 2026 tercatat sebesar Rp 3.576,2 triliun. “Pertumbuhan ekonomi kuartal II mencapai 5,29% year on year,” ujar Edy dalam konferensi pers, di kantornya (5/8/2026).
Secara triwulanan, ekonomi Indonesia tumbuh 3,73% quarter to quarter (qtq). Sementara secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi pada semester I-2026 mencapai 5,45% cumulative to cumulative (ctc) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dilihat dari sisi lapangan usaha, Industri Pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap pembentukan PDB dengan pangsa 18,50%.
Posisi berikutnya ditempati Pertanian sebesar 13,57%, Perdagangan 13,02%, Konstruksi 9,79%, dan Pertambangan 8,87%. Kelima sektor tersebut menjadi penyumbang terbesar terhadap aktivitas ekonomi nasional pada kuartal II-2026.
Kebutuhan energi konsumen meningkat
Dari sisi pertumbuhan, sebagian besar lapangan usaha mencatatkan kinerja positif. Pengadaan Listrik dan Gas menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi, yakni 10,81% yoy, disusul Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 10,60%.
Sementara itu, sektor Informasi dan Komunikasi tumbuh 6,97%, Administrasi Pemerintahan 6,89%, Jasa Kesehatan 6,88%, Konstruksi 6,68%, dan Perdagangan 6,39%.
Adapun Pertambangan menjadi satu-satunya lapangan usaha yang mengalami kontraksi dengan pertumbuhan minus 1,64% yoy, sedangkan Pengadaan Air hanya tumbuh 0,03%.

BPS menjelaskan tingginya pertumbuhan pada sektor Pengadaan Listrik dan Gas didorong oleh meningkatnya penjualan listrik di hampir seluruh segmen konsumen, terutama rumah tangga, bisnis, dan industri.
Sementara itu, pertumbuhan sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum ditopang meningkatnya okupansi hotel dan kinerja jasa boga seiring semakin luasnya jangkauan penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di sisi lain, sektor Informasi dan Komunikasi terus mencatatkan pertumbuhan kuat karena semakin luasnya pemanfaatan jasa telekomunikasi di berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga perdagangan.
Kondisi tersebut turut menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah perlambatan laju ekspansi dibandingkan kuartal sebelumnya
Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih rapuh
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menilai capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,29 persen secara tahunan yoy pada kuartal II-2026. masih tergolong rapuh.
Pertumbuhan ekonomi masih rapuh karena sektor riil masih menghadapi berbagai tekanan sepanjang kuartal II. "Kami tentu mengapresiasi data capaian pertumbuhan Q2 2026 yang mencapai 5,29 persen yoy. Ini adalah capaian yang sangat positif dan perlu kita pastikan agar dapat bertahan, bahkan naik, ke depannya hingga akhir tahun," ujar dia kepada SUAR di Jakarta (10/8)
Menurut Sinta, kuartal II menjadi periode yang cukup berat bagi dunia usaha. Konflik di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga energi menyebabkan banyak industri menghadapi tekanan kenaikan biaya produksi atau cost-push inflation.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut meningkatkan beban biaya bahan baku impor dan ongkos produksi.
"Dari sisi sektor riil, kuartal II-2026 merupakan kuartal yang berat karena banyak industri yang mengalami cost-push inflation akibat imbas konflik di Selat Hormuz (kenaikan harga energi) dan efek pelemahan nilai tukar terhadap peningkatan beban biaya produksi dan bahan baku impor," ujar dia.
Sinta mengatakan, tekanan tidak hanya berasal dari sisi biaya produksi. Permintaan ekspor dari berbagai negara mitra dagang Indonesia juga melemah akibat dampak konflik geopolitik terhadap daya beli global.
Di saat yang sama, isu perdagangan seperti investigasi Amerika Serikat terhadap Indonesia ikut mengganggu permintaan ekspor nasional. Di dalam negeri, pelaku usaha juga menghadapi perlambatan permintaan setelah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).