Ekspansi HEAL Memasuki Babak Baru
Hermina yang sebelumnya dikenal sebagai rumah sakit ibu dan anak kini memperluas layanan menjadi rumah sakit umum.
Hermina yang sebelumnya dikenal sebagai rumah sakit ibu dan anak kini memperluas layanan menjadi rumah sakit umum.
PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) tetap melanjutkan ekspansi jaringan rumah sakit dan pengembangan layanan medis. Hermina yang sebelumnya dikenal sebagai rumah sakit ibu dan anak kini memperluas layanan menjadi rumah sakit umum dengan layanan unggulan, antara lain onkologi, jantung terpadu, stroke terpadu, fertilitas dan bayi tabung, ortopedi, uronefrologi, rehabilitasi medik berbasis robotik, hingga kedokteran nuklir.
Direktur Utama HEAL, Yulisar Khiat, mengatakan ekspansi perseroan tidak hanya diarahkan untuk menambah rumah sakit dan tempat tidur, tetapi juga meningkatkan kompleksitas serta kualitas layanan. Strategi tersebut dilakukan melalui pengembangan Center of Excellence, penambahan dokter spesialis dan subspesialis, serta penguatan layanan pasien non-BPJS dan eksekutif.
Per Juni 2026, Hermina memiliki 54 rumah sakit di 36 kota dengan 9.019 tempat tidur. Jaringan tersebut didukung lebih dari 4.200 dokter, termasuk sekitar 3.500 dokter spesialis dan 700 dokter subspesialis.
“Dengan demikian, pertumbuhan perseroan ke depan akan semakin didorong oleh peningkatan kualitas layanan, bukan semata-mata oleh penambahan jumlah pasien,” kata Yulisar dalam Public Expose Live 2026, Selasa (8/9/2026).
Hermina yang sebelumnya dikenal sebagai rumah sakit ibu dan anak kini memperluas layanan menjadi rumah sakit umum dengan layanan unggulan, antara lain onkologi, jantung terpadu, stroke terpadu, fertilitas dan bayi tabung, ortopedi, uronefrologi, rehabilitasi medik berbasis robotik, hingga kedokteran nuklir.
Dari sisi ekspansi, Hermina Badung di Bali mulai beroperasi pada April 2026, disusul Hermina Kepanjen di Kabupaten Malang yang diresmikan pada 26 Agustus 2026 sebagai rumah sakit ke-54. Pemilihan lokasi dilakukan berdasarkan feasibility study, kebutuhan layanan kesehatan, serta usulan dari dokter setempat.
“Berdasarkan hasil dari survei dan feasibility study termasuk undangan dari dokter-dokter putra daerah spesialis tempat, kami memutuskan membangun di dua lokasi tersebut,” ujar Yulisar.

Perseroan menargetkan pembukaan minimal dua rumah sakit setiap tahun dengan kombinasi strategi greenfield dan brownfield. Untuk 2026, dua rumah sakit yang telah dibuka merupakan proyek greenfield, sementara perseroan masih melihat peluang akuisisi rumah sakit melalui skema brownfield.
Selain pembangunan rumah sakit baru, HEAL mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (Capex) sekitar Rp1,3 triliun pada 2026 untuk pembangunan, renovasi rumah sakit eksisting, serta pembelian peralatan medis.
Direktur Keuangan HEAL Yustinus Immanuel Herawan mengatakan sisa Capex tahun ini akan lebih banyak diarahkan untuk pengembangan rumah sakit yang telah beroperasi.
“Fokus kami bukan pada pembangunan rumah sakit lagi, tapi lebih pada pengembangan dari rumah sakit yang kami miliki,” kata Yustinus.
Di tengah ekspansi tersebut, pendapatan HEAL pada semester I 2026 mencapai Rp3,61 triliun atau naik 6,5% secara tahunan. Pendapatan rumah sakit tumbuh 8%, didukung peningkatan volume pasien dan intensitas layanan rawat inap.
Perseroan menambah 353 tempat tidur pada kuartal I 2026 sehingga total tambahan tempat tidur mencapai 732 dibandingkan semester I 2025. Tingkat keterisian atau bed occupancy rate (BOR) tercatat 68%.
Jumlah pasien rawat inap tumbuh 6%, sedangkan pasien rawat jalan meningkat 9%. Pendapatan rawat inap naik sekitar 12%. Pendapatan per hari rawat inap pasien BPJS dan non-BPJS masing-masing meningkat 6,5% dan 7,1%. Khusus pasien non-BPJS pada kuartal II, pendapatan per hari rawat inap tumbuh 25%.
Laba kotor meningkat menjadi Rp1,24 triliun dengan margin 34,2%. Margin farmasi juga membaik dari 27% menjadi 31% seiring pengelolaan biaya obat yang lebih efektif.
Namun, EBITDA relatif stabil di sekitar Rp940 miliar, sedangkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (PATMI) turun 13,8% menjadi Rp193 miliar.

Yustinus menjelaskan tekanan laba terutama berasal dari kenaikan beban penyusutan akibat penambahan tempat tidur, rumah sakit baru, dan peralatan medis. Perseroan juga mulai membebankan biaya operasional Hermina Badung yang beroperasi pada kuartal II.
Pertumbuhan pendapatan per hari rawat inap non-BPJS, menurut Yustinus, menunjukkan peningkatan service intensity sehingga pertumbuhan tidak hanya mengandalkan jumlah pasien.
Untuk meningkatkan kontribusi pasien non-BPJS dan eksekutif, Hermina memperkuat layanan unggulan, pemasaran, sumber daya manusia, serta mutu pelayanan.
Direktur HEAL Susi Setiawaty mengatakan perseroan masih menghadapi persepsi bahwa Hermina identik dengan rumah sakit ibu dan anak serta layanan BPJS. Karena itu, perseroan memperkuat layanan jantung dan onkologi, sekaligus menyasar perusahaan dan asuransi melalui program medical check-up (MCU).
Perseroan juga menambah dokter spesialis dan subspesialis melalui kerja sama dengan universitas serta program pendidikan dokter.
“Selain itu juga kami melakukan strategi dari SDM-nya, jadi melengkapi dokter-dokter spesialis dan subspesialis,” kata Susi.
Hermina menyiapkan Medical Relationship Officer (MRO) untuk menjadi penghubung dengan perusahaan dan asuransi, khususnya dalam menangani pasien korporasi. Perseroan juga telah menandatangani kerja sama dengan AIA terkait skema Coordination of Benefit (COB) dalam kerangka Koordinasi Antar Penyelenggara Jaminan (KAPJ).
Yulisar menegaskan penguatan layanan non-BPJS tidak akan mengurangi pelayanan bagi pasien BPJS. “Kami tetap mendukung BPJS. Namun untuk strategi non-BPJS tetap kami fokuskan,” ujarnya.
Dari sisi pelanggan korporasi, kerja sama dengan Astra dan Djarum berkontribusi sekitar 3% terhadap pendapatan Hermina, antara lain melalui layanan MCU. Perseroan masih membuka peluang memperluas kerja sama dengan Astra, termasuk melalui asuransi dan skema COB.
“Kami yakin bahwa untuk tahun 2027 peningkatannya itu bisa naik lebih dari 25% dari yang dicapai di tahun 2026,” ujar Yulisar.
Prospek sektor kesehatan Indonesia masih menarik bagi investor karena permintaan layanan kesehatan memiliki karakter struktural.
Namun, Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman menilai investor perlu semakin selektif dalam memilih perusahaan kesehatan, terutama dengan mempertimbangkan efisiensi, kualitas pendapatan, arus kas, dan tingkat pengembalian modal.
Menurut Rizal, pertumbuhan sektor kesehatan dalam jangka panjang ditopang oleh sejumlah faktor, mulai dari penuaan penduduk, meningkatnya penyakit kronis, penetrasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang luas, hingga pertumbuhan kelas menengah.
Kondisi tersebut membuat bisnis rumah sakit relatif defensif terhadap siklus ekonomi. Kendati demikian, investor tidak cukup hanya melihat pertumbuhan kapasitas atau jumlah rumah sakit yang dimiliki perusahaan.
Rizal menilai investor seharusnya memberikan premium valuasi kepada operator yang mampu meningkatkan pertumbuhan melalui utilisasi fasilitas, pengembangan layanan spesialis, serta peningkatan produktivitas.
Di sisi lain, tekanan efisiensi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan berpotensi membuat investor semakin selektif. Rumah sakit yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasien JKN, tetapi memiliki tingkat efisiensi rendah dan case mix yang kurang optimal, menghadapi risiko tekanan terhadap margin.
Sebaliknya, operator dengan komposisi pembayar (payer mix) yang lebih seimbang, layanan bernilai tambah, tingkat okupansi tinggi, serta pengendalian biaya yang baik dinilai memiliki posisi yang lebih kuat.
"Jadi, pertumbuhan pendapatan saja tidak cukup, investor perlu melihat kualitas revenue dan kemampuan mengubahnya menjadi EBITDA serta arus kas," kata Rizal.
Risiko lain berasal dari pelemahan nilai tukar rupiah. Tingginya komponen impor dalam alat kesehatan dapat meningkatkan biaya operasional sekaligus kebutuhan belanja modal (capex) perusahaan kesehatan.
Dalam kondisi tersebut, perusahaan dengan tingkat leverage tinggi, kebutuhan ekspansi besar, dan ketergantungan tinggi terhadap alat kesehatan impor menghadapi risiko lebih besar terhadap free cash flow.
Sebaliknya, operator dengan neraca yang sehat, kemampuan pengadaan (procurement) yang kuat, ruang melakukan repricing, utilisasi alat yang tinggi, serta disiplin ekspansi dinilai lebih defensif.
Karena itu, Rizal menilai investor perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap arus kas dan return on invested capital (ROIC), dibandingkan hanya mengejar pertumbuhan jumlah rumah sakit.
Sementara itu, ekspansi rumah sakit ke daerah masih memberikan peluang pertumbuhan bagi sektor kesehatan. Namun, investor perlu membedakan ekspansi yang benar-benar menjawab kebutuhan layanan kesehatan yang belum terpenuhi (unmet demand) dengan ekspansi yang sekadar menambah aset.
"Rumah sakit di kota-kota sekunder (secondary cities) berpotensi mencatat pertumbuhan apabila didukung ketersediaan dokter spesialis, daya beli masyarakat, jaringan rujukan, serta volume pasien yang memadai," jelas Rizal.