Kementerian Perdagangan mendorong pelaku usaha nasional memanfaatkan pameran internasional untuk memperluas akses pasar dan menggenjot ekspor kopi. Langkah ini dinilai krusial guna mentransformasi kopi Indonesia dari sekadar komoditas primer menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kementerian Perdagangan, Miftah Farid, mengungkapkan bahwa di tengah pencapaian nilai ekspor yang tinggi, industri kopi nasional masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Tantangan tersebut meliputi perubahan iklim yang mempengaruhi pola produksi, produktivitas kopi nasional yang masih perlu ditingkatkan, serta kerentanan komoditas terhadap fluktuasi harga global.
Sejak beberapa tahun terakhir, nilai ekspor kopi Indonesia ke luar negeri pun terus mengalami pertumbuhan dan bahkan pada tahun lalu mencapai titik tertingginya dalam sejarah.
Meski demikian, Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kementerian Perdagangan Miftah Farid mengatakan, di tengah pencapaian tersebut, industri kopi nasional tengah menghadapi sejumlah tantangan antara lain perubahan iklim yang mempengaruhi pola produksi, produktivitas kopi nasional yang masih perlu ditingkatkan lagi, dan tantangan yang terakhir adalah kopi sebagai komoditas ini rentan mengalami fluktuasi harga.
"Selama kopi masih diposisikan sebagai komoditas, harganya akan terus mengikuti siklus pasar yang sangat fluktuatif di mana harga dapat melonjak tinggi namun juga dalam waktu singkat dapat turun drastis," kata Farid dalam sebuah seminar yang digelar oleh Kementerian Perdagangan, Selasa (04/08/2026).
Oleh karena itu, ia mendorong transformasi kopi sebagai sebuah produk premium yang memiliki nilai tambah dengan penguatan kualitas, storytelling, hingga identitas suatu produk yang unik.
“Kalau kita sudah memiliki transformasi tersebut, kita perlu ada wadah untuk bisa menyalurkan untuk bisa mengekspos value dari kopi kita. Wadah yang paling memungkinkan adalah melalui platform promosi atau melalui pameran,” kata Farid.
Kopi sebagai salah satu komoditas unggulan nasional, tidak hanya berperan sebagai penyumbang devisa, tetapi juga sebagai mata pencaharian jutaan petani Indonesia. Sehingga, posisi industri kopi dalam negeri ini dipandang sangat strategis untuk mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia.
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, tren pertumbuhan ekspor kopi dalam lima tahun terakhir terus mengalami kenaikan dengan rata-rata pertumbuhan mencapai 28,4 persen. Bahkan pada tahun 2025, Indonesia mencatatkan rekor volume ekspor kopi tertinggi sepanjang sejarah dengan capaian 511 ribu ton atau bernilai USD 2,5 miliar. Sebelumnya, Kementerian Pertanian bahkan membidik nilai ekspor kopi Indonesia ke depan dapat menembus angka Rp100 triliun per tahun.
Perluasan promosi dan keberhasilan di Eropa
Dengan berpartisipasi di berbagai pameran internasional, para pelaku usaha di industri kopi dapat secara langsung membangun hubungan bisnis dengan para calon pembeli dari berbagai negara. Selain itu, pameran juga dipandang sebagai momentum untuk memperkenalkan kualitas, karakteristik, pemberdayaan, aspek ketertelusuran, dan juga keberlanjutan, yang mana hal tersebut sudah menjadi sebagai sebuah standar baru di beberapa pasar kopi tertentu seperti Amerika dan juga Eropa.
Sebagai langkah konkret, Indonesia secara aktif berpartisipasi dalam pameran internasional bergengsi, seperti World of Coffee Brussels 2026 di Belgia pada akhir Juni lalu. Ajang tersebut merupakan pameran specialty coffee terbesar di Eropa yang diikuti oleh lebih dari 445 peserta pameran dan 14.400 pengunjung dari 142 negara.
Atase Perdagangan Brussels, Lusyana Halmiati, menyebutkan bahwa keikutsertaan 11 pelaku usaha kopi Indonesia dalam ajang tersebut membuahkan hasil positif. Dari pameran itu, tercatat sebanyak 87 prospek bisnis (business leads) dengan potensi transaksi mencapai USD 10 juta atau hampir setara dengan 1.500 ton kopi.
Di sana, ada 11 pelaku usaha Indonesia yang ikut berpartisipasi dan mempromosikan produknya. Tak sedikit pula pengunjung yang tertarik dengan produk-produk kopi dari Indonesia.
“Masing-masing pelaku usaha ini membawa beberapa jenis kopi dari berbagai daerah dari produknya masing-masing. Dari pameran kemarin, catatan dari seluruh peserta, ada 87 business leads yang tercatat dan potensi transaksinya apabila semua terealisasi itu kurang lebih USD 10 juta, atau secara tonase itu hampir 1.500 ton, tentunya ini masih potensi yang perlu ditindaklanjuti agar terealisasi,” ungkapnya.
Baca lagi:

Respon para pengunjung yang mengunjungi paviliun Indonesia (Pavindo) pun beragam. Meskipun banyak yang mengaku belum terlalu mengenal kopi Indonesia, namun setelah dicoba Kopi Indonesia berhasil menarik perhatian mereka dari aspek rasa dan juga cerita yang dibawa.
“Cita rasanya banyak dipuji dari pengunjung, presentasi dari para peserta lalu juga cerita yang ditawarkan dari masing-masing kopi ini menarik bagi mereka, dan turut berpengaruh terhadap keputusan mereka untuk mencoba dan harapan kami semoga bisa membeli kopi Indonesia,” katanya.
Indonesia sendiri sebenarnya memiliki peluang yang besar untuk produk-produk kopinya diekspor ke kawasan Uni Eropa, mengingat Uni Eropa merupakan konsumen kopi terbesar dengan nilai pasarnya yang diproyeksikan akan meningkat menjadi USD 66,98 miliar pada tahun 2033 mendatang.
Pada tahun 2025, Uni Eropa mengimpor kopi senilai EUR 18,7 miliar dengan berat 2,9 juta ton, yang mayoritas atau 96% merupakan green beans.
Kendati demikian, Lusyana mengingatkan para eksportir agar memahami kiat-kiat khusus sebelum mengikuti pameran internasional, mulai dari lolos proses kurasi, mempelajari tren dan regulasi pasar, memastikan kesiapan produk, memanfaatkan fasilitas paviliun secara optimal, memperluas jaringan, hingga memastikan komitmen tindak lanjut pasca-pameran.
Di dalam negeri, pemerintah juga bersiap menyelenggarakan kembali Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 pada 14–18 Oktober mendatang di ICE BSD City, Kabupaten Tangerang. Dalam pameran tersebut, disiapkan satu hall khusus untuk memperkenalkan kualitas dan keunggulan kopi nasional kepada buyers global.

Manavigasi karakteristik pasar global
Direktur Utama Gravfarm Indonesia Lucy Tedjasukmana, mendorong para pelaku usaha di industri kopi untuk melakukan ekspor ke luar negeri, mengingat nilai pasar kopi dunia saat ini yang menyentuh USD 200 miliar akan terus bertumbuh setiap tahunnya.
Kopi specialty dari Indonesia juga dikatakan lebih dihargai dan diapresiasi dengan baik oleh para pembeli dari negara-negara yang tepat.
Meski demikian, setiap pasar global memiliki karakteristik unik yang harus dipahami. Eropa, Amerika Serikat, hingga Asia, memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga para pengekspor harus melakukan penyesuaian.
“Eropa sangat sensitif dengan isu deforestasi, jadi memiliki regulasi EU Deforestation Regulation, jadi kopi-kopi yang boleh masuk ke pasar Eropa adalah kopi-kopi yang ramah lingkungan, bukan kopi-kopi yang tumbuh dari hasil penebangan pohon atau penggundulan hutan. Di Indonesia kita melakukan reforestasi ujadi untuk masuk ke dalam pasar Eropa isu EUDR itu masih sangat bisa kita pertanggungjawabkan,” katanya.
Begitu juga dengan negara-negara di Asia, China ataupun India cenderung memiliki pasar yang tidak terlalu memikirkan kopi dengan kualitas tinggi, namun lebih kepada kapasitas produksi dan volume yang besar. Semetnara, Jepang dan Korea Selatan sensitif terhadap isu pencemaran di kopinya, sehingga para pengekspor perlu mengantongi sertifikat safety food dan lain sebagainya.
Mengikuti pameran internasional pun bukan berarti target sudah berhasil tercapai, melainkan langkah terpenting selanjutnya yang perlu dilakukan adalah melakukan tindak lanjut dari pertemuan dengan para calon pembeli saat pameran berlangsung.
“Pameran-pameran di luar negeri itu sifatnya mungkin 80% adalah promosi. Kalau kita lihat persentasi sampai dengan letter of intent (LOI) itu hanya 10-20% sebenarnya. Sisanya harus deal berdasarkan follow up. Jadi memang sumber utama kontrak itu lahir dari komunikasi setelah pameran,” tegasnya.

Dihubungi terpisah, pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE) Eliza Mardian menilai, untuk mencapai target ekspor yang dibidik oleh pemerintah, Indonesia perlu melakukan transformasi secara struktural dari pengekspor biji mentah menjadi pemain rantai nilai yang lebih tinggi. Hal ini dapat diwujudkan melalui upaya peningkatan produktivitas, hilirisasi, hingga penguatan kopi specialty.
Menurutnya, sejauh ini kenaikan nilai ekspor dalam negeri terkait dengan kopi masih lebih banyak didorong akibat kenaikan harga dunia dibandingkan dengan volume, produktivitas, ataupun kualitasnya.
“Kalau kita bandingkan tingkat produktivitas kebun kita masih relatif rendah, sepertiganya Vietnam dan lebih dari 95% produksi kopi kita oleh petani kecil dengan minim pengolahan. Kita punya keunggulan komparatif di profil rasa specialty arabica yang unik, tapi di sisi lain kita masih tertinggal dalam hal skala produksi, efisiensi, pengolahan hilir, dan integrasi global value chain dibanding Brasil, Vietnam, dan Kolombia,” jelas Eliza.
Oleh karena itu, diperlukan adanya suatu kebijakan yang lebih terintegrasi dengan fokus kepada penguatan kapasitas pengolahan lokal, traceability, peremajaan tanaman, hingga adopsi teknologi tahan iklim.
Baca lagi:

Dalam jangka pendek, petani juga harus mendapatkan jaminan pasar dan juga harga, dengan melakukan monitoring dan juga stabilisasi di tingkat petani. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan kontrak ataupun penyediaan informasi pasar secara real-time dan juga fasilitasi ekspor.
“Jangka menengah dan panjang, perlu membangun klaster pengolahan dan roasting di sentra produksi dengan insentif fiskal dan infrastruktur yang memadai. Dorong para petani berkoperasi untuk bisa mengolah bijinya. Lalu sistem traceability nasional untuk penuhi EUDR dan tuntutan buyer premium,” tutupnya.
Penelitian dan pengembangan varietas tahan perubahan iklim hingga pelatihan intensif kepada para petani juga perlu dilakukan demi pengembangan industri kopi nasional. Sementara dari sisi konsumen, masyarakat harus menumbuhkan budaya mencintai produk lokal sehingga branding kopi specialty nasional perlu dikampanyekan lebih giat.