Telkom Pacu Data Center dan Fiber Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Pengembangan data center jadi motor baru pertumbuhan bisnis Telkom
Pengembangan data center jadi motor baru pertumbuhan bisnis Telkom
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) memperkuat transformasi bisnis dengan mengarahkan pertumbuhan tidak hanya dari bisnis seluler, tetapi juga infrastruktur digital, data center, fiber, serta layanan B2B. Strategi tersebut berjalan bersamaan dengan penataan portofolio dan disiplin alokasi modal untuk menjaga pertumbuhan serta profitabilitas sepanjang 2026.
Dalam Public Expose Live 2026 yang digelar secara virtual, Senin (7/9/2026), Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini mengatakan, transformasi Telkom Group dijalankan melalui empat pilar utama dalam TLKM30, yakni Operational and Service Excellence, Streamlining, Unlock Value, dan Modus Operandi Shift.
Pada saat yang sama, Telkom terus merampingkan portofolionya. Hingga semester I 2026, dua bisnis telah didivestasi, delapan ditutup, dan dua dikonsolidasikan. Lebih dari 94% belanja modal atau capital expenditure (Capex) dialokasikan untuk bisnis inti B2C dan B2B infrastruktur.
Dian mengatakan penyederhanaan tersebut juga mengubah pola pengelolaan bisnis Telkom dari struktur yang sebelumnya banyak berbasis customer-facing unit dan functional unit menjadi pelaporan berbasis lima segmen utama, yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, International, serta Others and Ancillary.
Menurut dia, perubahan tersebut bertujuan memperjelas akuntabilitas, profitabilitas, arus kas, dan modal yang diinvestasikan pada masing-masing bisnis.
Direktur Wholesale dan International Service Telkom Indonesia, Budi Satria Dharma Purba, mengatakan Telkom saat ini memiliki lebih dari 211.000 kilometer jaringan fiber backbone domestik dan internasional yang menjangkau 501 kota di Indonesia serta terhubung dengan 27 sistem kabel laut internasional.
Infrastruktur tersebut juga didukung 122 point of operations, lebih dari 45.000 menara telekomunikasi, 301.000 BTS, 35 data center, serta tiga satelit aktif dengan total kapasitas 42,2 Gbps.
Budi mengatakan Telkom juga terus memperkuat konektivitas internasional, salah satunya melalui pengembangan Nongsa-Changi Cable yang menghubungkan Batam dan Singapura. Perseroan juga mengembangkan data center di Batam untuk memperkuat ekosistem digital Batam-Singapura.
“Yang kami bangun bukan hanya skala aset, tetapi ekosistem infrastruktur digital yang saling terhubung, mulai dari fiber, subsea cable, hingga data center, tower, dan satelit,” ujar Budi.

Salah satu fokus utama Telkom adalah monetisasi aset fiber melalui Infranexia. Tahap pertama telah selesai pada Desember 2025 dengan pengalihan lebih dari 50% aset fiber terpilih dan nilai transaksi sekitar Rp35,8 triliun.
Tahap kedua masih berjalan dan ditargetkan selesai sekitar akhir September hingga awal Oktober 2026. Setelah proses tersebut rampung, Infranexia akan beroperasi sebagai neutral carrier dengan kepemilikan dan pengelolaan fiber secara end-to-end dalam satu entitas.
Saat ini kontribusi pelanggan eksternal berada pada kisaran 10%-15% dari pendapatan Infranexia. Telkom menargetkan porsinya meningkat menjadi sekitar 25%-30% melalui model open access network, dengan Telkomsel dan Indibiz tetap menjadi anchor tenant utama.
Bisnis data center menjadi salah satu area yang mendapat perhatian dalam transformasi Telkom. Direktur Enterprise dan Business Service Telkom Indonesia Veranita Yosephine mengatakan pendapatan Telkom Data Ekosistem mencapai Rp867 miliar pada semester I 2026, tumbuh 11% secara tahunan dan 17% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Total kapasitas efektif data center Telkom saat ini mencapai 49,9 megawatt dengan lebih dari 3.000 rak melalui NeutraDC. Pelanggannya berasal dari berbagai sektor, mulai dari global cloud providers, institusi keuangan, perusahaan teknologi hingga pelanggan enterprise.
Cikarang Data Center memiliki kapasitas efektif 15,5 megawatt dengan okupansi 96% dan secara keseluruhan telah fully leased, termasuk kapasitas yang masih dalam pengembangan. Sementara itu, Singapore Data Center memiliki okupansi 90%.

Untuk Batam Data Center, Telkom menargetkan fasilitas dengan kapasitas awal 6 megawatt mulai beroperasi pada semester II 2026. Kapasitas tahap pertama di Batam kemudian ditargetkan mencapai 18 megawatt pada 2027.
Veranita mengatakan Telkom juga mengevaluasi peluang strategic partnership untuk mempercepat ekspansi data center.
Budi menambahkan proses kemitraan strategis untuk NeutraDC telah memasuki tahap evaluasi binding offers dan ditargetkan selesai pada akhir 2026. Skema tersebut dapat melibatkan pelepasan mayoritas kepemilikan.
“Struktur ini diharapkan memungkinkan bisnis data center untuk berkembang lebih cepat tanpa seluruh kebutuhan ekspansi harus dibiayai oleh Telkom sendiri,” kata Budi.
Menurut dia, masuknya mitra strategis juga dapat membagi kebutuhan modal sekaligus memberikan fleksibilitas lebih besar bagi Telkom dalam mengalokasikan dana hasil transaksi untuk investasi bisnis inti, penguatan neraca, maupun potensi shareholder return.
Dari sisi keuangan, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Indonesia, Arthur Angelo Syailendra, mengatakan pendapatan konsolidasi Telkom pada semester I 2026 tumbuh 3,9% secara tahunan menjadi Rp75,9 triliun.
Telkomsel tetap menjadi kontributor utama dengan pendapatan Rp55,6 triliun. EBITDA Telkomsel tumbuh 8,6%, dengan margin meningkat 230 basis poin menjadi 46,9%.
Pada B2B Infrastructure, gross revenue tumbuh 19% menjadi Rp33,1 triliun, didukung bisnis menara dan data center. Sementara pendapatan B2B ICT tercatat Rp8,8 triliun atau turun 5,4% secara tahunan akibat proses streamlining sejumlah entitas anak dan penurunan belanja pemerintah.

Namun, beberapa area prioritas B2B ICT masih tumbuh. Pendapatan segmen usaha kecil dan menengah atau SMI naik 11,5%, sedangkan pelanggan Indibiz meningkat 11,7% menjadi 756.000.
Bisnis internasional membukukan pendapatan Rp6,3 triliun, dengan sekitar 91% berasal dari pelanggan eksternal. Pendapatan external connectivity tumbuh 18%, kapasitas jaringan internasional terpakai naik 25%, dan pendapatan IPLC meningkat lebih dari 41%.
Untuk keseluruhan 2026, Telkom mempertahankan panduan pertumbuhan normalized revenue sebesar 1%-3%. Margin EBITDA semester I tercatat 49,4%, sementara pada kuartal II telah meningkat di atas 50%. Rasio Capex terhadap pendapatan semester I mencapai 14,2%, sedangkan panduan setahun penuh tetap sekitar 17%-19%.
Prospek industri menara dan data center Indonesia dinilai masih kuat seiring pertumbuhan cloud computing, kecerdasan buatan (AI), digitalisasi, dan meningkatnya kebutuhan hyperscaler.
Namun, pertumbuhan kapasitas belum otomatis mendorong pendapatan dan laba emiten jika kapasitas yang dibangun belum terisi dan menghasilkan pendapatan berulang (recurring revenue).
Managing Research Samuel Sekuritas Harry Su mengatakan, katalis terhadap kinerja keuangan emiten data center baru akan signifikan ketika kapasitas yang tersedia telah termonetisasi. Karena itu, investor tidak cukup hanya melihat penambahan kapasitas data center.
“Prospek data center Indonesia masih sangat kuat, didorong pertumbuhan cloud, AI, digitalisasi, serta kebutuhan hyperscaler. Namun, katalis ke pendapatan dan laba baru akan signifikan ketika kapasitas yang dibangun sudah terisi dan menghasilkan recurring revenue. Jadi, pertumbuhan kapasitas saja belum tentu langsung berarti pertumbuhan laba,” kata Harry kepada SUAR.
Menurut dia, operator data center menjadi penerima manfaat utama dari pertumbuhan industri tersebut. Dampak tidak langsung juga dapat dirasakan oleh penyedia listrik, konektivitas dan fiber, serta kawasan industri yang menopang ekosistem data center.
Harry mengatakan investor perlu mencermati sejumlah indikator untuk mengukur seberapa jauh pertumbuhan industri data center telah berdampak terhadap kinerja emiten. Indikator tersebut antara lain kapasitas yang telah terpakai, utilization rate, kontrak dengan hyperscaler, pendapatan per megawatt (MW), margin EBITDA, serta kemampuan perusahaan memperoleh pasokan listrik yang andal dan kompetitif.
“Untuk beberapa emiten, manfaatnya sudah mulai terlihat di kinerja, tetapi ekspektasi pasar juga sudah cukup tinggi. Karena itu investor perlu membandingkan pertumbuhan laba dengan valuasinya. Kalau harga saham naik jauh lebih cepat dibandingkan pertumbuhan earnings dan kapasitas yang benar-benar termonetisasi, upside dari tema data center bisa menjadi lebih terbatas,” ujarnya.

Harry menilai tingkat keterpaparan langsung terhadap bisnis data center juga menjadi pembeda antar-emiten. Perusahaan yang memperoleh manfaat nyata dari tren tersebut semestinya mulai menunjukkan peningkatan pendapatan, utilisasi, kontrak pelanggan, atau margin.
Sebaliknya, emiten dengan kontribusi bisnis data center yang masih kecil tetapi mengalami kenaikan harga saham karena rencana ekspansi atau narasi industri memiliki risiko lebih tinggi.
“Cara membedakannya adalah melihat seberapa langsung exposure perusahaan terhadap data center dan kontribusinya terhadap earnings. Emiten yang benar-benar diuntungkan harus menunjukkan peningkatan revenue, utilization, kontrak pelanggan, atau margin. Kalau kontribusi bisnisnya masih kecil tetapi harga saham naik hanya karena rencana atau narasi data center, risikonya tentu lebih tinggi,” kata Harry.
Di sisi lain, ekspansi kapasitas data center yang agresif membuka risiko overcapacity. Pertumbuhan pasokan kapasitas dalam satuan MW yang lebih cepat dibandingkan permintaan dapat menekan tingkat utilisasi dan harga layanan.
Harry menambahkan, kondisi tersebut juga dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya karena perusahaan tetap harus menanggung belanja modal (capex), depresiasi, dan biaya bunga meski kapasitas belum sepenuhnya menghasilkan pendapatan.
“Risiko overcapacity tetap ada, terutama karena ekspansi kapasitas saat ini cukup agresif. Apabila supply MW bertambah jauh lebih cepat dibandingkan demand, utilization dan pricing bisa tertekan sementara capex, depresiasi, dan biaya bunga meningkat. Jadi ke depan kami lebih menyukai perusahaan yang ekspansinya didukung kontrak atau visibility demand yang jelas dibandingkan pembangunan secara spekulatif,” ujarnya.