Ringkasan Eksekutif: Membaca RAPBN dan Nota Keuangan 2027
Target ambisius dalam RAPBN 2027, perlu dilihat sebagai optimisme Pemerintah menatap masa depan. Apakah semua indikator akan mendungkung?
Target ambisius dalam RAPBN 2027, perlu dilihat sebagai optimisme Pemerintah menatap masa depan. Apakah semua indikator akan mendungkung?
Pemerintah memasang target pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 6 persen, inflasi 2,5 persen, imbal hasil SBN 10 tahun 6,9 persen, dan nilai tukar rupiah Rp17.500 per dolar AS. Defisit anggaran ditargetkan 2,4 persen dari PDB. Di sektor energi, asumsi yang digunakan antara lain harga minyak mentah Indonesia US$75 per barel dan lifting minyak 610 ribu barel per hari.
Pertumbuhan 6 persen adalah titik paling ambisius. Ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Sedangkan pada semester I, pertumbuhan mencapai sekitar 5,45 persen. Angka itu sebenarnya cukup baik, tetapi justru memperlihatkan jarak yang harus ditempuh untuk mencapai 6 persen.
Lebih penting lagi, struktur pertumbuhan tersebut perlu diperhatikan. Konsumsi pemerintah tumbuh sangat tinggi, 15,97 persen pada kuartal II. Sementara konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen dan investasi 6,87 persen.
Artinya, mesin ekonomi memang masih bekerja, tetapi belum semuanya bekerja pada kecepatan yang dibutuhkan, untuk membawa pertumbuhan ke 6 persen secara berkelanjutan.
Ada sebuah kombinasi yang menarik dalam RAPBN 2027. Pertumbuhan 6 persen, inflasi 2,5 persen, rupiah Rp17.500, yield SBN 6,9 persen, dan defisit hanya 2,4 persen.
Masing-masing angka bisa dibela. Tetapi jika digabungkan, tantangannya menjadi jauh lebih besar. Pertumbuhan 6 persen dapat meningkatkan permintaan impor dan tekanan terhadap rupiah. Rupiah yang melemah dapat meningkatkan tekanan inflasi. Untuk mempertahankan stabilitas rupiah, kebijakan moneter mungkin harus lebih hati-hati. Suku bunga yang lebih tinggi dapat menekan investasi.
Sebaliknya, disiplin fiskal dapat meningkatkan kepercayaan investor, menurunkan risk premium, membantu stabilitas rupiah dan menjaga yield obligasi. Di sisi lain, ekonomi tidak tumbuh karena angka ditulis dalam Nota Keuangan. Ekonomi tumbuh ketika investasi benar-benar terjadi, produktivitas meningkat, industri berkembang, konsumsi masyarakat menguat, ekspor naik dan dunia usaha percaya terhadap masa depan.
Karena itu, angka pertumbuhan 6 persen sebaiknya tidak diperlakukan sebagai ramalan, melainkan sebagai janji kebijakan. Karena Pemerintah telah menetapkan garis finishnya.
