Inflasi Agustus 2026 Naik 3,19%

Inflasi Agustus 2026 Naik 3,19%

Inflasi didorong dari unsur harga pangan bergejolak (volatile foods).

Inflasi Agustus 2026 Naik 3,19%
Dalam Artikel Ini

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2026 naik ke tingkat 3,19% secara tahunan (Year on Year/YoY), dengan inflasi month-to-month mencapai 0,21%, sementara inflasi secara tahun berjalan (year-to-date) tercatat 1,86%. Inflasi didorong dari unsur harga pangan bergejolak (volatile foods).

Dalam Rilis Berita Statistik di Jakarta, Selasa (1/9/2026), Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng menjelaskan, secara bulanan, BPS mencatat kenaikan IHK dari 108,51 pada Juli 2026 menjadi 111,97 pada Agustus 2026, telah memicu inflasi sebesar 3,19% year-on-year.

Secara bulanan, inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencapai 0,57%, dengan andil 0,17% terhadap total inflasi bulanan. Komoditas dominan yang mendorong inflasi bulanan dari kelompok ini berasal daging ayam ras, dengan besaran andil antara 0,17%. Sementara itu, cabai rawit, ikan segar, dan beras memberikan andil 0,02%.

"Kelompok transportasi mengalami deflasi 0,50%, dan memberikan andil deflasi -0,06%. Komoditas yang dominan mendorong deflasi pada kelompok transportasi adalah tarif angkutan udara dengan andil deflasi 0,06% dan bensin dengan andil deflasi 0,03%," tuturnya.

Inflasi harga pangan bergejolak pada Agustus 2026, Ateng menjelaskan, tidak lepas dari dua faktor pendorong utama. Pertama, peningkatan permintaan daging ayam ras pada Agustus 2026 untuk kebutuhan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, HUT RI, dan berlanjutnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah periode libur sekolah berakhir.

Di sisi lain, produksi komoditas hortikultura menunjukkan penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Cabai rawit mengalami penurunan produksi terutama di daerah sentra, antara lain Kabupaten Sampang, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Temanggung.

Di saat bersamaan, komoditas bawang merah mencatat peningkatan produksi di Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Bantaeng.

Sementara itu, secara tahunan, inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 3,86% (yoy) dengan andil inflasi hingga 1,13%. Komoditas yang mendorong inflasi kelompok ini mencakup daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, sigaret kretek mesin, cabai rawit, daging sapi, sigaret putih mesin, dan cabai merah.

Kenaikan inflasi tahunan sejalan dengan terjadinya inflasi pada komponen inti, harga diatur pemerintah (administered price), dan harga bergejolak (volatile food) yang mencatatkan inflasi masing-masing sebesar 2,92%, 3,32%, dan 4,06%.

Komoditas komponen inti yang memberikan inflasi adalah emas perhiasan, minyak goreng, serta nasi dengan lauk. Sementara itu, komoditas yang mendorong inflasi pada kelompok harga diatur pemerintah adalah bensin, tarif angkutan udara, sigret kretek mesin, serta bahan bakar rumah tangga.

"Secara tahunan, seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi, dengan tingkat tertinggi terjadi di Maluku Utara sebesar 5,28%, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kalimantan Utara, sebesar 2,17%," imbuh Ateng.


Artikel breaking news ini akan kami lengkapi dengan pengamat dan suara pengusaha.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Ekonomi

Rekomendasi SUAR