Dampak inflasi terhadap dunia usaha, kebijakan pemerintah, dan daya beli masyarakat.
Kombinasi tekanan ekonomi dari sisi supply dan demand mendorong Indonesia mendekati jurang stagflasi. Pemulihan kredibilitas makroekonomi menentukan sejauh mana RI bisa menjauh dari bahaya tersebut.
Perkembangan tingkat inflasi tahunan di Indonesia sepanjang 2025 hingga Mei 2026 menunjukkan pola volatilitas yang dinamis. Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau memegang peranan yang sangat krusial.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Mei 2026 naik ke tingkat 3,08% secara tahunan (Year on Year/YoY), dengan inflasi month-to-month mencapai (0,28)%.
Tekanan inflasi yang tercatat dalam IHK pada bulan April tercatat lebih rendah dibanding kondisi Maret 2026 yang mengalami inflasi 0,41% mtm.
Pengeluaran untuk perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kelompok pengeluaran utama masyarakat di tahun 2025, menggeser pengeluaran untuk makanan dan minuman. Selain itu, kondisi geografis juga menentukan prioritas pengeluaran masyarakat.
Inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,07% memberikan andil terbesar, mencapai 0,32% terhadap total inflasi bulanan.
Lonjakan konsumsi di saat Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri menjadi siklus musiman yang mendorong kenaikan inflasi. Pada Maret 2026, siklus tersebut kembali berulang, dengan kenaikan harga terutama pada komoditas pangan.
Mengamati komponen peningkatan inflasi awal 2026 ini, terdapat kecenderungan disebabkan oleh Cost-Push Inflation (Inflasi Dorongan Biaya) daripada Demand-Pull.
Kenaikan ini masih disebabkan basis perhitungan inflasi tahunan lebih rendah atau low base effect akibat diskon tarif listrik pada Februari 2025. Namun, pasca lebaran yakni April 2026, inflasi diperkirakan akan melandai dan terkendali.
Di awal tahun 2026, inflasi Indonesia tercatat tembus 3,55% secara tahunan. Harga komoditas emas turut berperan dan memperkuat tren sebagai penyumbang utama inflasi Indonesia dalam satu tahun terakhir.
Sepanjang 2025 inflasi terkendali baik karena angka ini masih berada dalam rentang target pengendalian inflasi dari Bank Indonesia (BI) dan pemerintah yakni 1,5%-3,5%
BPS mengumumkan inflasi November 2025 melambat dari 2,86% YoY pada Oktober menjadi 2,72% YoY. Kecukupan stok bahan pangan dan deflasi harga beras menjadi penyebab inflasi melambat di pengujung tahun 2025.
Menampilkan 12 dari 16 total postingan
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.