Hobi Fotografi Alwis Rustam, Kemesraan Gagal dan Berhasil, dan Mengukir Hari
•
3 Menit Baca
Oleh:
Selamat berakhir pekan.
Berikut informasi seputar tren yang sedang ramai dibahas di publik.



Pestapora 2026 : Festival musik tahunan Pestapora 2026 kembali menghentak Jakarta selama tiga hari penuh pada 25–27 September 2026 di Gambir Expo & Hall D2 JIEXPO. Acara ini menghadirkan ratusan musisi lintas genre dan generas mulai dari Sheila On 7, Dewa 19 feat. Ello, Raisa feat. Andi Rianto, hingga jajaran aksi kolaborasi spesial lainnya.
Konser The Weeknd 2026 : Penyanyi papan atas global, The Weeknd, akhirnya resmi menyapa kembali para penikmat musik di Indonesia lewat rangkaian "After Hours Til Dawn Tour" yang digelar selama dua hari pada 26 dan 27 September 2026 di Jakarta International Stadium (JIS). Penampilan yang menandai bagian akhir dari perjalanan tur bahagian Asia ini dipastikan bakal memanjakan fans dengan lagu-lagu hits dari era After Hours hingga Dawn FM, sekaligus mengobati kerinduan setelah kunjungan terakhirnya di Bali pada DWP 2018 lalu.
FIFA ASEAN Cup 2026: Event ini akan digelar di Indonesia dan Hong Kong, pada 24 September hingga 5 Oktober 2026. Indonesia bertindak sebagai tuan rumah untuk Division 1 yang dilangsungkan di Jakarta dan Bandung dengan Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) dan Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, sebagai lokasi pertandingan. Sementara itu, Division 2 FIFA ASEAN Cup 2026 berlangsung di Hong Kong, China.

Usai membaca judul artikel ini, mungkin anda akan mengernyitkan dahi. Kok bisa kegagalan itu punya hubungan mesra dengan berhasil? Bukankah keduanya saling bertolak belakang satu sama lain?
Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gagal ya artinya tidak berhasil. Sementara berhasil artinya mendatangkan hasil. Gagal adalah negasi dari berhasil. Dari definisinya saja antara gagal dan berhasil itu sudah berbeda 180 derajat. Lantas hubungan mesranya dimana? Mari kita sejenak belajar dari sejarah untuk bisa memahami hal ini lebih dalam.

Saudaraku, di antara denyut waktu yang tak pernah letih berjalan, kita menapaki pagi dengan dada yang penuh harap, seakan tiap embun yang jatuh di ujung daun adalah bisikan lembut Sang Waktu: “Inilah awal yang baru.”
Kita bukan hanya pengamat hari—kita adalah pemahat sunyi, pengukir makna. Dengan pahat bernama tekad dan palu bernama doa, kita memahat tiap detik menjadi jejak yang tak mudah hilang dari batu waktu.
Ada luka yang terselip, tapi kita tahu: tak ada ukiran indah tanpa gores dan gesek. Ada lelah yang mengendap, namun jiwa yang mencintai proses takkan tunduk pada jeda.
Dan bila malam terasa seperti batu yang terlalu keras, ingatlah: bahkan bintang pun lahir dari tekanan gelap.
