Kemesraan Gagal dan Berhasil
Mengungkap relasi unik antara gagal dan berhasil.
•
3 Menit Baca
Oleh:
Usai membaca judul artikel ini, mungkin anda akan mengernyitkan dahi. Kok bisa kegagalan itu punya hubungan mesra dengan berhasil? Bukankah keduanya saling bertolak belakang satu sama lain?
Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gagal ya artinya tidak berhasil. Sementara berhasil artinya mendatangkan hasil. Gagal adalah negasi dari berhasil. Dari definisinya saja antara gagal dan berhasil itu sudah berbeda 180 derajat. Lantas hubungan mesranya dimana?
Mari kita sejenak belajar dari sejarah untuk bisa memahami hal ini lebih dalam.
Anda tahu Abraham Lincoln? Dia adalah presiden Amerika Serikat (AS) ke-16 yang menjabat pada 1861-1865. Dia merupakan salah satu presiden AS yang namanya tetap dikenal harum ratusan tahun bahkan hingga saat ini. Semua ini tak lain karena tangan dinginnya berhasil membawa AS melewati perang saudara dan menghapuskan perbudakan.
Namun, tahukah anda, orang sehebat Abraham Lincoln pun sebelumnya kerap kali dihadang kegagalan. Catatan sejarah menyebutkan tak kurang 11 kali Lincoln alami kegagalan dalam hidupnya. Dia berulang kali alami kegagalan baik dalam bisnis maupun gagal menjadi anggota legislatif atau senator di AS.
Kendati berkali-kali gagal, Lincoln tidak pernah menyerah. Dia terus yakin dan percaya diri akan kemampuannya. Dia tidak membiarkan rentetan kegagalan itu menjadi definisi hidupnya. Hingga pada akhirnya dia berhasil menjadi orang nomor satu di negeri Paman Sam.
Contoh lain dari dunia olahraga, Michael Jordan. Siapa yang tidak kenal dengan megabintang pebasket terbaik sepanjang masa ini.
Jordan mengoleksi 6 gelar juara dari total bermain 15 musim di NBA. Secara statistik, dia menjalani 9 musim lainnya tanpa menjadi juara. Data ini menunjukkan, bahkan atlet mahabintang sehebat Michael Jordan pun juga pernah alami kegagalan. Jordan tidak selalu menang sepanjang karirnya.
Bahkan Jordan harus menunggu 7 tahun sejak debutnya di 1984 untuk berhasil meraih gelar juara pertama kalinya pada 1991. Baru setelah itu, Jordan tak terbendung di lapangan basket. Hasilnya, Jordan kembali berturut-turut meraih juara pada 1992 dan 1993. Prestasi istimewa menjadi juara tiga tahun beruntun ini biasa disebut Three-peat.
Tak lama kemudian, Jordan memutuskan pensiun, sebelum akhirnya kembali ke lapangan basket pada 1995. Tak butuh waktu lama, Jordan kembali mendominasi di kompetisi basket paling kompetitif di dunia itu dengan kembali jadi juara tiga kali beruntun pada 1996,1997, dan 1998.
Jordan sukses meraih three-peat kedua sepanjang karirnya. Bahkan, hanya Jordan satu-satunya pemain yang bisa meraih dua kali three-peat di satu klub dalam sejarah NBA
"Saya telah gagal dalam lebih dari 9.000 tembakan sepanjang karier saya. Saya kalah dalam hampir 300 pertandingan. 26 kali, saya dipercaya untuk mengambil tembakan penentu kemenangan dan gagal. Saya telah gagal berulang kali dalam hidup saya. Dan itulah mengapa saya berhasil," ujar Jordan.
Kegagalan sejatinya bukan akhir, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan. Ibarat perjalanan dari Jakarta ke Bandung misalnya, maka harus melewati sejumlah daerah dulu seperti Bekasi, Karawang, Purwakarta, baru tiba di Bandung. Begitu pula perjalanan kita menuju keberhasilan juga diraih melalui sejumlah kegagalan terlebih dahulu.
Thomas Alva Edison sang penemu lampu pijar contohnya. Sebelum berhasil menemukan inovasi yang mengubah gelap malam jadi bercahaya ini, ilmuwan brilian ini melewati 9.000 kegagalan eksperimen. Namun, dia tidak pernah menyerah dengan ribuan kegagalannya.
Kita perlu meneladani cara berpikir iterasi ala Edison. Iterasi adalah proses melakukan suatu kegiatan atau langkah-langkah secara berulang-ulang hingga mencapai hasil, target, atau kondisi tertentu yang diinginkan.
Berbagai percobaan itu tentu berujung pada hasil, meskipun hasilnya belum sesuai yang diharapkan. Dia bisa saja memaknai itu sebagai kegagalan. Namun, dia menganggap berbagai eksperimen yang belum berhasil itu sebagai proses mencari formula yang tepat sampai kita berhasil mencapai hal yang kita harapkan.
Ketika ditanya mengenai ribuan kegagalannya, Edison menjawab, “Hasil? Saya sudah mencapai banyak hasil. Saya tahu akhirnya beberapa ribu hal yang tidak berhasil.”
Dalam menjalani hidup, bekerja, dan berusaha, pasti berujung pada dua hal yaitu gagal dan berhasil. Itu lumrah. Memang begitulah hidup.
Namun, banyak orang yang sering lupa, pemenang sejati adalah mereka yang justru tidak pernah menyerah, terus bangkit dari kegagalan. Kejatuhan dan kegagalan itu hanyalah bagian dari proses perjalanan.
Jadi bila hari ini sedang jatuh dan alami kegagalan, ingatlah itu hanya bagian dari perjalanan menuju keberhasilan. Mari belajar dari kesalahan itu bangkit kembali dengan lebih kuat.