Sederhana Saja Malah Berhasil, Belajar dari Apple & Steve Jobs

Sederhana Saja Malah Berhasil, Belajar dari Apple & Steve Jobs

Ada sebuah paradoks. Menyederhanakan sesuatu itu rumit. Sebaliknya, merumitkan persoalan itu justru lebih sederhana.

Sederhana Saja Malah Berhasil, Belajar dari Apple & Steve Jobs
Dalam Artikel Ini

Banyak yang berpandangan, bisnis yang sukses itu yang rumit dan kompleks. Padahal konsumen itu lebih suka yang sederhana, simpel, dan mudah.

Tahun 1997 jadi masa yang pelik bagi Apple Inc. Hanya berjarak 90 hari dari kebangkrutan total, perusahaan putuskan kembali merekrut Steve Jobs sebagai CEO Interim dengan harapan tangan dinginya bisa membawa perseroan keluar dari krisis ini. Nyatanya, sang founder perusahaan yang sempat didepak keluar 1985, bisa membalikkan krisis yang terjadi di sana secara radikal.

Salah satu pangkal persoalan adalah Apple mengeluarkan varian produk yang terlalu banyak. Tim engineering Apple mengerjakan lebih dari 350 produk berbeda secara bersamaan. Bukan belasan, bukan puluhan, tapi 350 jenis produk.

Saat itu, terdapat belasan varian komputer Macintosh—seperti seri Quadra, PowerBook, Centris, dan Performa. Di luar komputer, Apple juga memproduksi printer, scanner, kamera digital QuickTake, hingga asisten digital genggam Newton. 

Sumber daya perusahaan terpecah habis. Biaya manufaktur membengkak. Para insinyur dan teknisi kelelahan karena harus mengupayakan ribuan suku cadang berbeda untuk produk-produk yang tidak memiliki orientasi pasar yang jelas.

Tidak hanya cuma di lini produksi, persoalan juga datang dari lini bisnis pemasaran dan penjualan. Rupanya, fitur satu produk dengan lainnya itu tidak jauh berbeda. Ini membuat staf penjual dan pemasaran pun kesulitan menjelaskan perbedaannya kepada konsumen. 

Artinya, dari produksi dan pemasaran sama-sama rumit. 

Di tengah rapat tinjauan strategi produk yang berlangsung rumit dan bertele-tele, Jobs menghentikan presentasi para eksekutif. Ia berjalan ke papan tulis, mengambil spidol, lalu menggambar sebuah bagan matriks.

Di bagian atas matriks, ia menuliskan dua kolom: Consumer (Konsumen Umum) dan Pro (Profesional). Di bagian samping, ia menuliskan dua baris: Desktop (Komputer Meja) dan Portable (Laptop).

Jobs menegaskan bahwa Apple hanya akan membuat empat produk utama, yaitu satu produk unggulan untuk setiap kuadran tersebut. Semua proyek yang tidak masuk ke dalam salah satu dari empat kotak ini harus dihentikan saat itu juga. 

Dari 350 produk yang dikembangkan akhirnya dipangkas secara radikal hanya jadi 4 produk saja.  

Keputusan radikal ini langsung memangkas beban kerja operasional perusahaan secara drastis. Energi mereka yang sebelumnya terbagi ke ratusan proyek kini tercurah sepenuhnya pada pembuatan iMac G3 untuk kuadran Desktop Consumer dan PowerBook G3 untuk kuadran Portable Pro.

Peluncuran iMac G3 pada tahun 1998 menjadi titik balik finansial Apple. Komputer transparan berwarna-warni tersebut menjadi salah satu produk terlaris dalam sejarah Apple, membalikkan posisi keuangan perusahaan menjadi profitabel, dan meletakkan fondasi lahirnya iPod serta iPhone di kemudian hari.

Perhatian terpusat

Dari kisah di atas, kita bisa belajar satu hal yakni less is more. Rupanya 4 produk saja itu lebih baik ketimbang 350 produk.

Jobs menyebut ada “keindahan” dari kesederhanaan. Salah satunya adalah fokus perhatian yang terpusat pada kualitas alih-alih kuantitas. Lebih baik sedikit tapi betul-betul berkualitas, ketimbang banyak tapi tidak punya nilai jual istimewa.

"Fokus dan kesederhanaan adalah salah satu mantra saya. Membuat sesuatu jadi sederhana bisa jauh lebih sulit daripada membuatnya rumit. Anda harus bekerja keras membersihkan jalan pikiran agar bisa menyederhanakannya," ujar Steve Jobs.

Dalam buku Good to Great (2001), Jim Collins menjelaskan bahwa perusahaan unggul tidak mencoba melakukan segala hal, melainkan menyederhanakan dunia yang rumit menjadi satu gagasan tunggal yang fokus dan tajam. 

Konsep ini menekankan bahwa keberhasilan berasal dari titik temu (intersection) tiga lingkaran: apa yang paling Anda kuasai, apa yang menggerakkan mesin ekonomi Anda, dan apa yang paling Anda tekuni. Segala proyek atau lini produk di luar titik temu ini harus dieliminasi. Artinya fokus saja pada kekuatan inti perusahaan kita.

Ilustrasi fokus dan tepat sasaran. Foto: engin akyurt / Unsplash

Ini sejalan dengan teori The Core Competence of The Corporation yang dicetuskan C.K Prahald & Gary Hamel. Diterbitkan di Harvard Business Review (1990), teori ini memperingatkan bahaya over-diversification (terlalu banyak lini produk dan proyek yang terpisah-pisah). 

Prahalad dan Hamel menekankan bahwa perusahaan harus mengkonsolidasikan sumber daya pada kompetensi inti (core competencies)—yaitu kemampuan teknis dan operasional dasar yang membedakan perusahaan dari pesaing—daripada terpecah mengurusi belasan varian produk yang tidak fokus.

Sederhana bukan berarti suwung. Bukan berarti ala kadarnya. Sederhana artinya praktis dan jitu. Tanpa belibet. Fokus pada keunggulan serta sesuai kebutuhan konsumen saja.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Moonlight