Mental Baja Tahan Banting

Mental Baja Tahan Banting

Di tengah situasi yang penuh tekanan ekonomi hingga tsunami informasi, bagaimana caranya agar tetap menjaga kewarasan, bermental baja, dan tahan banting?

Mental Baja Tahan Banting
Dalam Artikel Ini

“Enggak dulu deh.”

“Tidak. Terima kasih ya.”

“Mohon maaf, kami belum bisa bekerja sama.”

Begitulah rupa-rupa kalimat yang sering didengar oleh pengusaha ketika menghadapi penolakan dari calon klien/konsumen. Kendati penolakan itu adalah sesuatu yang mungkin terjadi, tetapi menghadapi situasi ini tidak pernah mudah. 

Saking seringnya, bahkan di jagat penjualan sampai mengenal selorohan law of averages (hukum rata-rata) keberhasilan penjualan mencapai 10%. Artinya, dari 10 orang calon klien/pembeli yang ditawarkan, akhirnya hanya 1 orang yang akhirnya berhasil dikonversi menjadi kesepakatan. 

Belum lagi perkembangan terkini kondisi sosial politik Tanah Air yang kian memanas. Masyarakat pun waswas dengan kondisi panas dingin. Tingkat kepercayaan dan keyakinan dunia usaha pun jadi mengendur dan lebih memilih berhati-hati.

Bahkan, saat hendak melepas penat dengan membuka media sosial, kita malah dikepung oleh tsunami informasi mulai dari rentetan kabar buruk hingga berita bohong. Alamak! Malah makin pusing kepala ini rasanya.

Begitulah gambaran dunia usaha akhir-akhir ini. Penuh tekanan di sana-sini.

Ilustrasi foto: Brett Jordan / Unsplash

Tuntutan tangguh

Anda, kita, sebagai pimpinan maupun eksekutif perusahaan harus punya mental baja tahan banting dalam hadapi segala tantangan. Pimpinan tidak boleh terlihat takut apalagi resah dan gelisah. Walau dalam hati ada sebetulnya deg-deg-an juga. Wajar, namanya juga manusia.

Ada baiknya kita bisa belajar dari konsep filsafat stoikisme.

Benang merah ajaran ini agar kita fokus hanya pada hal-hal yang berada di bawah kendali seperti pikiran, niat, dan tindakan sendiri. Selain itu, kita perlu melepaskan atau abaikan hal-hal di luar kendali seperti kejadian eksternal, opini orang lain, masa lalu, dan masa depan.

Konsep ini yang dianut oleh Marcus Aurelius, Kaisar Romawi periode 161-180 Masehi yang berhasil membawa kekaisaran ini menuju masa jayanya. Bayangkan betapa pusingnya Marcus harus memikirkan hajat hidup jutaan rakyatnya di bawah kekaisarannya yang seluas jutaan kilometer persegi. Dia pun harus memikirkan menjaga pertahanan wilayahnya dari potensi serangan kerajaan musuhnya. Belum lagi dia harus memikirkan intrik politik di lingkaran senat kerajaannya. 

Namun, berbekal konsep fokus mengendalikan apa yang dalam kontrolnya, membuatnya menjadi pemimpin bertangan dingin yang membawa kerajaannya menuju masa jayanya.

Kekuatan konsistensi

Bicara bermental baja, kita bisa mengikuti teladan Harry Kane yang baru saja meraih Ballon D’Or 2026 atau pesepakbola terbaik tahun ini. Kane adalah gambaran sempurna dari bekerja dalam diam dan biarkan kesuksesannya yang berbicara. Kane percaya bahwa proses dan kerja keras tidak akan mengkhianati hasil.

Karir Kane tidaklah mulus malah panjang dan berliku. Mengawali karir di Tottenham Hotspurs pada 2009, Kane tidak langsung bisa merebut kepercayaan pelatih untuk tampil di tim senior. Ia malah dipinjamkan dulu selama 4 tahun memperkuat berbagai tim gurem Liga Inggris mulai dari yakni ke Leyton Orient, Millwall, Norwich City, dan Leicester. 

Baru pada 2013 Kane kembali ke Spurs dan mulai dipercaya menjadi starter di lini depan. Sepanjang karirnya di Spurs, Kane selalu memberikan yang terbaik. Kane berhasil menjadi top skor Liga Inggris pada musim 2015/2016, 2016/2017, dan 2020/2021. Dia bahkan menjadi pencetak gol terbanyak klub itu dengan 280 gol.

Kiprahnya kala berseragam Tiga Singa juga tak kalah trengginas. Kini, ia merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang masa tim nasional Inggris dengan koleksi 91 gol. Raihan golnya melewati pemegang rekor sebelumnya yang juga legenda Inggris lainnya yakni Wayne Rooney dengan 53 gol.

Kendati sudah lama dikenal sebagai predator haus gol di kotak penalti lawan dan sudah mencatat berbagai prestasi sebagai top skor, namun ironisnya Kane harus menunggu 16 tahun karirnya baru bisa mengangkat trofi. 

Bayangkan Kane telah memulai debut profesionalnya sejak 2009 bersama Tottenham Hotspurs, tetapi dia baru mengecap nikmatnya mengangkat trofi pada 2025 usai menjuarai Bundesliga bersama Bayern Munich. 

Dulu dia sempat jadi bahan olok-olok sebagai raja tanpa mahkota. Rajin cetak gol tapi timnya tak pernah juara. Tapi dia tetap konsisten bekerja keras. Hingga pada akhirnya Kane berhasil merebut tahta pesepakbola terbaik pada 2026. Kini namanya sejajar di antara legenda sepakbola lainnya peraih Balon D'Or seperti Ronaldo, Ronaldinho, Marco Van Basten, Johan Cruyff, dan lainnya.

Harry Kane kala memenangkan piala Balon D'Or 2026. Foto: Instagram Hary Kane

Kane memang tidak setenar Lionel Messi apalagi Cristiano Ronaldo. Karirnya juga tidak segemerlap kedua megabintang itu. Tapi kita bisa belajar ketangguhan mental dan konsistensi kerja keras yang tiada duanya dari kapten tim nasional Inggris itu. 

Kita bisa belajar dari ketangguhan mental Kane yang tidak pernah membiarkan kegagalan demi kegagalan itu menghantui dirinya. Dia terus konsisten bekerja keras hari demi hari hingga akhirnya mendapatkan kemenangannya. Mari kita perkuat diri dengan bermental baja yang tahan banting. 

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Moonlight