Lensa Kamera Bentuk Karakter Direktur APEKSI
Dari meliput tawuran sampai meliput bencana tsunami Aceh, Alwis berhasil mengatur jalan hidupnya bak rol film dalam kameranya.
Dari meliput tawuran sampai meliput bencana tsunami Aceh, Alwis berhasil mengatur jalan hidupnya bak rol film dalam kameranya.
Jauh sebelum berkecimpung mengurus pemerintahan daerah, tak ada yang menyangka kalau Direktur Eksekutif Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI), Alwis Rustam adalah seorang Fotografer andal.
Ia mengaku sudah terbiasa menyusuri gang-gang rawan di Jakarta demi menangkap momen melalui lensa kameranya, sebuah hobi yang tanpa disadari justru membentuk garis hidup dan kariernya hingga kini.
Momen Alwis dengan fotografi berawal dari tanah kelahirannya di Bukittinggi, Sumatera Barat, era 1990-an. Alwis tumbuh di keluarga yang dekat dengan dunia jurnalistik. Kakek dan pamannya bekerja sebagai jurnalis dan kerap membawa kamera ketika meliput. Dari situlah ketertarikannya terhadap fotografi mulai tumbuh.
Langkahnya kian mantap saat merantau ke Jakarta. Nyantri di Pondok Pesantren Darunnajah, Alwis tak membuang peluang.
Ia tekun mengikuti pelatihan jurnalistik pesantren dan berjejaring dengan praktisi media. Memasuki bangku kuliah, hobi itu bertransformasi menjadi penopang hidup. Lensa kameranya membidik panggung-panggung pernikahan.
Uang yang dihasilkan dari memotret pernikahan ia gunakan untuk membiayai kuliah serta kebutuhan hidupnya.
“Biaya kuliah, hidup, bahkan bisa ngasih pinjaman ke teman, bisa sedikit ngejajanin, traktir pacar, itu benar-benar dari fotografi,” kata Alwis kepada SUAR, Kamis (24/9/2026).
Pada semester akhir kuliah, Alwis kemudian mengikuti pelatihan di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA). Di sana, ia bertemu sejumlah fotografer senior, antara lain Oscar Matuloh dan Arbain Rambe. Alwis kemudian menjadi fotografer lepas dan stringer Antara. Ketertarikannya pada fotografi jurnalistik juga kemudian membawanya menulis tentang dunia fotografi untuk Harian Kompas.
Ia tidak hanya memotret acara, tetapi juga meliput berbagai peristiwa. Salah satu foto yang paling ia ingat terjadi ketika ia meliput sebuah seminar di Jakarta.
Dalam acara tersebut, ia mengabadikan momen mantan Gubernur Aceh Ibrahim Hasan tiba-tiba dipukul oleh seorang pemuda yang berkaitan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
"Saya bawa lari-lari ke Kompas, ke Mas Kartono Riyadi, fotografer senior Kompas. Terus, saya yakin ini dimuat di halaman satu dan benar halaman satu waktu itu," katanya.

Tak hanya itu, ia juga memotret berbagai peristiwa sosial di Jakarta, termasuk kerusuhan di kawasan Manggarai.
Alwis juga menggarap foto esai tentang berbagai persoalan sosial di Jakarta. Salah satunya ia kerjakan di kawasan Manggarai. Ia masuk ke lingkungan yang saat itu dikenal rawan tawuran dan memotret kehidupan serta kekerasan di kawasan tersebut.
Dalam salah satu fotonya, Alwis mengabadikan sosok yang disebutnya sebagai “panglima tawuran”. Pria tersebut mengenakan celana dalam dan memegang samurai. Alwis memilih mendekatinya dan mengambil foto dari jarak dekat.

Ia kemudian membawa karya tersebut ke pameran fotografi di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA), di kawasan Pasar Baru.
Sebuah kejadian di pameran itu bahkan membuat Alwis mengetahui sisi lain dari foto yang ia buat.
Seorang pengunjung menunjuk foto “panglima tawuran” tersebut dan mengatakan bahwa orang yang ada di dalam foto pernah menjadi korban pembunuhan yang ia lakukan. Alwis mengaku terkejut mendengar cerita tersebut.
“Tiba-tiba ada orang. Datangnya biasa aja, dia orang tua tadi kayak pengunjung biasa lah gitu. Dia bilang ‘ini yang motret siapa?’. Dia nunjuk foto saya itu. Yang bikin saya merinding itu waktu dia bilang yang saya foto itu dulu dia pernah bunuh. Dia bilang ‘dia pernah saya karungin di Manggarai’. Saya kaget banget,”cerita Alwis.
Pengalaman fotografi Alwis terus berlanjut. Ia pernah terlibat dalam penanganan bencana tsunami Aceh pada akhir 2004.
Saat itu, ia baru kembali dari Australia dan kemudian bekerja bersama organisasi internasional, termasuk Islamic Relief dan badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam penanganan dampak bencana.
Alwis ditempatkan sebagai koordinator wilayah di Simeulue dan Nias. Di tengah pekerjaan tersebut, kemampuan fotografi yang telah ia tekuni sejak kuliah kembali banyak digunakannya untuk mendokumentasikan kondisi di lapangan.
Setelah menjalani pekerjaan di Aceh, Alwis kemudian melanjutkan kariernya di sejumlah proyek pembangunan yang banyak berhubungan dengan pemerintah daerah.

Bagi Alwis, pengalaman panjang sebagai fotografer akhirnya tidak berhenti pada karya-karya yang dipamerkan. Cara bekerja dengan film, menghadapi situasi yang tidak terduga, hingga berhadapan dengan beragam karakter orang ikut membentuk cara Alwis menjalankan pekerjaannya saat ini.
Salah satu kebiasaan yang paling terbawa adalah soal persiapan. Bertahun-tahun memotret menggunakan film membuat Alwis terbiasa memperhitungkan setiap jepretan karena jumlah frame dalam satu rol terbatas.
Ia harus membagi penggunaan film sesuai kebutuhan, terutama ketika memotret acara yang berlangsung berjam-jam. Setiap jepretan harus diperhitungkan agar film tidak habis sebelum momen penting terjadi.
“Harus hemat membagi frame film itu supaya tidak boros, tidak efisien banget lah menggunakannya, dan ketika dicetak enggak terlalu banyak buang-buang,” ujarnya.
Kebiasaan tersebut menurut Alwis terbawa hingga pekerjaannya sekarang. Ia terbiasa memikirkan berbagai kemungkinan sebelum menjalankan sebuah kegiatan, termasuk menyiapkan rencana cadangan apabila terjadi kendala.
“Filosofi tentang me-manege rol film itu membuat saya tuh agak lebih well-prepared ya untuk setiap hal,” katanya.
Dalam pekerjaannya di APEKSI, ia mengaku terbiasa mengantisipasi berbagai kemungkinan ketika menggelar kegiatan.
“Kalau saya mengadakan sesuatu itu ada di pikiran kejadian dan antisipasi plan B-nya segala macam,” ujarnya.
Selain soal persiapan, fotografi juga membentuk cara Alwis berkomunikasi dengan orang lain. Selama menjadi fotografer, ia bertemu dengan berbagai kalangan, mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat dan tokoh nasional.
Pengalaman tersebut membuatnya terbiasa membangun komunikasi dengan orang yang berbeda-beda. Ia berusaha menjaga sikap agar tetap percaya diri ketika berhadapan dengan pejabat atau tokoh yang lebih senior, tetapi tidak terkesan berlebihan.
“Enggak arogan, enggak belagu, tapi juga enggak kikuk atau minder,” katanya.
Kebiasaan lain yang terbawa ke pekerjaannya adalah melakukan profiling sebelum bertemu seseorang. Saat menjadi fotografer, Alwis terlebih dahulu mencari tahu karakter dan kesukaan klien agar lebih mudah membangun komunikasi selama pemotretan.
Kebiasaan itu kini ia terapkan ketika berkomunikasi dengan kepala daerah. Sebelum bertemu Wali Kota atau kepala daerah, ia berusaha mempelajari latar belakang dan karakter orang yang akan ditemuinya.
“Sampai sekarang pun kalau sebelum berdiskusi dengan para Wali Kota, dengan kepala daerah, saya pasti mempunyai profiling,” ujarnya.

Menurut Alwis, setiap kepala daerah memiliki karakter dan gaya komunikasi yang berbeda. Ada yang lebih nyaman dengan pembicaraan ringan dan tidak terlalu akademis, sementara yang lain lebih menyukai diskusi yang serius dan dapat membahas berbagai persoalan.
Pengalaman menjadi fotografer juga mengajarinya menjaga batas dalam berinteraksi dengan orang lain. Saat memotret klien, ia harus memahami karakter orang yang dihadapinya sekaligus menyesuaikan cara berkomunikasi agar pekerjaan tetap berjalan profesional.
"Dulu bahkan di laptop saya itu saya punya profil kepala daerah. Jadi kalau saya ngomong ke Wali Kota A, dengan ke gubernur B, atau ke Wali Kota yang lain itu pasti tone, gaya, cara, topik pembicaraan saya tuh pasti beda-beda," katanya.
Bagi Alwis, pengalaman fotografi yang ia jalani sejak era 1990-an akhirnya menjadi lebih dari sekadar hobi atau pekerjaan sampingan.
Keterbatasan film mengajarinya untuk lebih siap menghadapi kemungkinan, sementara pertemuan dengan beragam orang membentuk cara dia membaca karakter dan membangun komunikasi.