Kehilangan Ibu Dorong Adithia Kwee Dirikan Klinik Kanker
Setelah bertahun-tahun hidup mapan di Jerman, yang ia cari saat ini adalah makna hidup.
Setelah bertahun-tahun hidup mapan di Jerman, yang ia cari saat ini adalah makna hidup.
Keseharian di Jerman mengajarkan Adithia Kwee arti kesabaran dalam kedukaan. Lelaki berdarah Indonesia itu akhirnya pulang ke tanah air pada 2023 usai kepergian sang Ibu tercinta akibat kanker.
Alih-alih terus berlarut dalam kesedihan, pria berusia 38 tahun ini nekat pulang ke Indonesia untuk mendirikan Kaiser Cancer Center di BSD City, sebuah layanan kesehatan untuk penanganan pasien kanker.
"Ibu saya menderita kanker paling progressive yang obatnya sangat jarang ketika itu," kata Kwee yang menjabat Founder dan Managing Director Kaiser Cancer Center kepada SUAR di Jakarta, Kamis (1/10).
Adithia mengatakan, saat ibunya sakit, keluarga termasuk dirinya merasakan betul sulitnya mendapatkan fasilitas kesehatan yang mumpuni untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.
Ibunya yang ternyata menderita kanker otak dengan metastasis ke sumsum tulang belakang sulit terdeteksi sehingga harus menjalani pemeriksaan dari berbagai dokter spesialis.
Diagnosis kanker, kata dia didapatkannya ketika kondisi sang Ibu sudah memburuk. Hal tersebut memaksa dirinya dan keluarga mencari berbagai macam alternatif tata laksana untuk menanganinya.
Berangkat dari kisah perjuangan ibunya melawan kanker itu, Kwee ingin menghadirkan rumah kedua bagi para pejuang kanker di Indonesia agar tak lagi merasa kesepian di masa pengobatan.
Layaknya 'event organizer' Kaiser Cancer Center akan menyediakan jasa kesehatan global di Indonesia, termasuk mendatangkan obat asing dari berbagai negara.
Hal tersebut dilakukan agara warga Indonesia tak perlu lagi jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk berobat atau mendapatkan fasilitas kesehatan terbaik.

Impian itu menemukan jalan pada akhir 2024 ketika ia menemukan peluang di Kawasan Ekonomi Khusus Edukasi, Teknologi dan Kesehatan Internasional (KEK ETKI) atau D-HUB SEZ di BSD City.
Ia lalu membuat logo dan situs web untuk Kaiser Clinic untuk ibu dan anak. Namun, aturan ketat di kawasan Biomedical Campus yang tidak membolehkan layanan rawat inap maupun tindakan bedah mayor.
Hal ini membuat Adithia harus memutar otak dengan mencari konsep pelayanan kesehatan yang dapat dikembangkan dengan pendekatan rawat jalan.
Pilihannya kemudian mengarah pada layanan rawat jalan pasien kanker. Menurut dia fasilitas semacam ini mendesak namun belum tergarap dengan baik.
Ia melihat bahwa layanan klinik kanker masih relatif belum lazim di Indonesia, berbeda dengan Singapura dan Malaysia yang telah memiliki banyak fasilitas serupa.
“Gagasan tersebut mulai saya wujudkan melalui pembentukan perusahaan pada Februari 2025," kata dia.
Setelah melalui proses penggalangan dana, pembangunan fasilitas, hingga pengurusan berbagai perizinan, Kaiser Cancer Center akhirnya resmi beroperasi pada Mei 2026.

Kaiser Clinic hadir sebagai integrated women-centric cancer clinic yang menghadirkan layanan kanker berstandar global dengan fokus pada kebutuhan kesehatan perempuan, khususnya kanker payudara, kanker serviks, kanker rahim, dan kanker ovarium.
Sebagai pusat layanan kanker, Kaiser mengusung pendekatan Integrated Precision Oncology melalui konsep one-stop end-to-end oncology care.
Layanan yang diberikan mencakup penilaian risiko atau risk assessment, pencegahan, deteksi dini, diagnosis, pengobatan, hingga survivorship dan pendampingan jangka panjang.
Pendekatan ini dirancang agar pasien tidak harus berpindah-pindah fasilitas kesehatan untuk memperoleh berbagai tahapan penanganan kanker.
Seluruh proses diupayakan berlangsung secara terintegrasi dengan mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Kaiser juga menjadi penyedia layanan kesehatan pertama di Indonesia yang menggunakan platform e-health Siemens Healthineers. Dukungan teknologi tersebut memungkinkan proses diagnosis berlangsung lebih cepat, membantu penyusunan perencanaan terapi yang lebih tepat, sekaligus memberikan pengalaman pelayanan yang lebih terintegrasi bagi pasien.

Adithia melihat salah satu persoalan utama penanganan kanker di Indonesia adalah keterbatasan jumlah dokter spesialis dan subspesialis onkologi.
Proses pendidikan untuk menjadi dokter spesialis kanker membutuhkan waktu panjang, sementara jumlah pasien terus bertambah.
“Kondisi tersebut dapat memicu antrean panjang, keterlambatan pemeriksaan, hingga tertundanya diagnosis. Padahal, dalam penanganan kanker, kecepatan memperoleh diagnosis dan menentukan terapi menjadi faktor yang sangat penting. Melalui model layanan klinik, Saya ingin menghadirkan proses yang lebih praktis dan efisien tanpa mengesampingkan ketepatan medis,” ujar dia.
Menurut Adithia, pasien tidak semestinya hanya bergantung pada penilaian satu dokter ketika menghadapi penyakit yang kompleks seperti kanker. Karena itu, Kaiser melibatkan sejumlah dokter dari bidang keahlian berbeda untuk mendiskusikan kondisi pasien sebelum menentukan diagnosis dan rencana penanganan.
"Dengan cara tersebut, keputusan medis diharapkan lebih komprehensif dan risiko kesalahan dapat ditekan. Dari sisi operasional, model klinik juga memungkinkan pengalaman pelayanan yang lebih praktis dan biaya operasional yang relatif lebih efisien dibandingkan rumah sakit besar," kata dia.
Setelah bertahun-tahun hidup mapan di Jerman, yang ia cari saat ini adalah makna hidup.
Di kantor yang ia pimpin, Adithia menerapkan gaya manajemen yang memanusiakan manusia.
Belajar dari pengalamannya di masa pandemi COVID-19, ia membebaskan tim mudanya untuk bekerja dari mana saja, selama tanggung jawab tertunaikan.
Bagi Adithia, jam kehadiran fisik di kantor tidak pernah menjadi tolok ukur produktivitas. Satu-satunya hal yang ia haramkan di ruang kerjanya hanyalah kebohongan, sebab industri yang ia geluti menyangkut nyawa dan kepercayaan manusia.
Ia menganggap kesalahan dalam bekerja merupakan hal yang manusiawi dan dapat diperbaiki. Namun, kebohongan merupakan sesuatu yang sulit ditoleransi karena dapat merusak kepercayaan dalam organisasi.
Dalam membangun perusahaan yang bergerak di sektor kesehatan, prinsip tersebut menjadi semakin penting karena bisnis yang dijalankan berkaitan langsung dengan keselamatan dan kepercayaan pasien.
Sosok yang menjadi salah satu panutan Adithia dalam membangun bisnis adalah Yitming Liao, Founder Foundation Healthcare di Singapura. Ia tertarik pada perjalanan Liao yang membangun jaringan layanan kesehatan dengan misi membuat biaya pelayanan medis lebih terjangkau.
Model bisnis tersebut dikembangkan melalui klinik umum, layanan bedah satu hari, hingga fasilitas diagnostik pencitraan. Adithia menilai pendekatan tersebut membuktikan bahwa pelayanan kesehatan berkualitas tidak harus selalu bergantung pada rumah sakit besar dengan biaya operasional tinggi.

Di luar kesibukannya mengurus perusahaan, Adithia memiliki hobi berolahraga, terutama berlari, berenang, dan pergi ke pusat kebugaran. Kebiasaan berlari mulai terbentuk ketika ia tinggal di Jerman.
Saat itu, kesibukan pekerjaan membuatnya sulit mengatur waktu untuk olahraga bersama orang lain, seperti bermain sepak bola atau bulu tangkis yang membutuhkan sejumlah peserta.
"Berlari menjadi pilihan karena dapat dilakukan sendiri dan lebih fleksibel mengikuti jadwal pekerjaan," kata dia.
Kebiasaan tersebut kemudian terbawa hingga kembali ke Indonesia. Menariknya, dari olahraga lari ia mendapatkan pelajaran tentang pentingnya kebersamaan. Ia menyukai sebuah ungkapan,
"If you want to go fast, go alone. If you want to go far, go together," kata dia seraya mengatakan berlari bersama orang lain dapat memberikan motivasi tambahan untuk terus melangkah meskipun tubuh mulai lelah.