Perjalanan Nunung Rusmiati Rawat Bisnis Pariwisata
Industri pariwisata membutuhkan profesionalisme, kemampuan beradaptasi, serta pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan
Industri pariwisata membutuhkan profesionalisme, kemampuan beradaptasi, serta pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan
Tak ada bisnis yang dijalani mudah, sama seperti perjalanan Nunung Rusmiati dalam mengembangkan bisnis perjalanan wisata yang telah digulitinya selama lebih dari tiga dekade.
Pemilik sekaligus CEO PT Patih Indo Group dan Ketua Umum Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) ini menceritakan kalau industri pariwisata telah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Rusmiati memulai bisnis perjalanan wisata pada 1992. Dari usaha yang dirintisnya itu, ia kemudian mengembangkan berbagai layanan, mulai dari perjalanan komersial, kebutuhan perjalanan perusahaan dan instansi pemerintah, perjalanan kelompok, hingga umrah.
Bisnisnya juga berkembang ke bidang meetings, incentives, conferences, and exhibitions (MICE), konsultasi, serta penelitian.
"Pariwisata tidak hanya berkaitan dengan perjalanan seseorang dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga berhubungan dengan pelayanan, kebudayaan, ekonomi, dan terbukanya peluang usaha bagi masyarakat. Pengembangan usaha ini mengajarkan saya bahwa industri pariwisata membutuhkan profesionalisme, kemampuan beradaptasi, serta pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan," ujar Rusmiati di Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Rusmiati mengawali pendidikan profesional di London School of Public Relations Jakarta, tempat ia meraih gelar sarjana komunikasi dengan peminatan hubungan masyarakat pada 2006 dan gelar magister Komunikasi Korporat pada 2008. Pada 2009, ia menyelesaikan pendidikan doktoral di bidang Ilmu Komunikasi di Universitas Sahid Jakarta.
Berbagai pelatihan juga ia ikuti seperti pengembangan sumber daya manusia dan keterampilan di industri perjalanan wisata yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Komunikasi pada 1994 dan program magang setahun di Tokyo, Jepang.
Seiring waktu, ia juga mengambil peran dalam organisasi yang menaungi perusahaan perjalanan wisata di Indonesia, termasuk bergabung dengan Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata di Indonesia (ASITA)
Pengalaman organisasi itu mengantarkannya menjadi Ketua Umum ASITA untuk periode 2019–2024. Ia kembali memimpin organisasi tersebut untuk periode 2024–2029.
Bagi Rusmiati, keterlibatan di ASITA membuka ruang untuk berkontribusi lebih luas bagi industri pariwisata. Pengalaman sebagai pengusaha memberinya pemahaman mengenai kebutuhan pelaku usaha, termasuk tantangan yang mereka hadapi dalam mengembangkan bisnis.
“Bagi saya, perjalanan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan kesempatan untuk berkontribusi lebih luas bagi kemajuan industri pariwisata nasional,” katanya.

Di luar urusan bisnis dan organisasi, Rusmiati memiliki dua hobi, yakni berenang dan bepergian. Keduanya menjadi kegiatan yang ia nikmati di tengah berbagai tanggung jawab profesional.
Berenang menjadi salah satu caranya menjaga kebugaran tubuh. Namun, ada pula nilai lain yang ia dapatkan dari kegiatan tersebut, yakni konsistensi dan disiplin.
“Bagi saya, nilai-nilai tersebut juga relevan dalam kepemimpinan, karena membangun organisasi membutuhkan komitmen, ketekunan, dan upaya yang berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, bepergian memberinya kesempatan untuk mengenal tempat baru, melihat keragaman budaya, dan memahami karakter masyarakat di berbagai daerah. Pengalaman tersebut juga memperluas pandangannya mengenai potensi pariwisata Indonesia. Setiap daerah memiliki karakter dan daya tarik yang berbeda. Keragaman itu menjadi bagian dari kekuatan pariwisata Indonesia yang dapat terus dikembangkan.
Namun baginya, bepergian bukan semata-mata kegiatan untuk mengisi waktu luang, melainkan kesempatan untuk melihat lebih dekat kekayaan destinasi dan budaya yang dimiliki Indonesia.
Bepergian juga memberikan kesempatan untuk memahami keragaman budaya, karakter masyarakat, serta kebutuhan orang-orang dengan latar belakang berbeda. Hal ini sangat relevan dengan industri pariwisata yang menuntut keterbukaan, kemampuan beradaptasi, dan penghargaan terhadap perbedaan
“Bagi saya, kedua kegiatan ini (berenang dan bepergian) memiliki nilai tersendiri. Saya percaya bahwa pengalaman hidup dan kegiatan di luar pekerjaan dapat memperkaya cara pandang seseorang dalam memimpin," katanya.

Mengelola perusahaan, memimpin organisasi, dan menjalankan tanggung jawab keluarga membuat Rusmiati juga perlu membagi perhatian di antara berbagai peran. Ia menilai, kemampuan menentukan prioritas dan menjaga komitmen menjadi kunci dalam menjalani tanggung jawab tersebut.
“Tantangannya adalah bagaimana mengelola berbagai tanggung jawab tersebut secara bijaksana, memahami prioritas, serta menjaga komitmen terhadap setiap peran yang dijalankan,” ujarnya.
Rusmiati meyakini perempuan dapat tetap aktif secara profesional dan ekonomi tanpa mengabaikan keluarga. Baginya, setiap peran membutuhkan perhatian yang sesuai dan perlu dikelola dengan bijaksana.
Prinsip serupa ia terapkan dalam memandang kepemimpinan. Menurut Rusmiati, membangun organisasi tidak bisa dilakukan seorang diri. Komunikasi, kolaborasi, dan kepercayaan terhadap tim diperlukan agar setiap anggota dapat berkontribusi dalam mencapai tujuan bersama.

Pandangan tersebut sejalan dengan harapannya terhadap ASITA. Ia ingin organisasi itu terus memperkuat profesionalisme anggota, membangun sinergi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan, serta mendukung terciptanya iklim usaha yang kondusif bagi perusahaan perjalanan wisata.
Setelah lebih dari tiga dekade berkecimpung di industri pariwisata, Rusmiati berharap pengalamannya dapat terus memberi manfaat bagi perkembangan sektor tersebut. Ia ingin perusahaan perjalanan wisata nasional memiliki kesempatan lebih besar untuk tumbuh, mengembangkan usaha, dan meningkatkan daya saing.
“Saya berharap dapat terus berkontribusi dalam memperkuat industri pariwisata Indonesia, mendukung pertumbuhan perusahaan perjalanan wisata nasional, serta membuka lebih banyak kesempatan bagi para pelaku usaha untuk berkembang dan berdaya saing,” ujarnya.