Fenomena Kredit Investasi yang Melambung dan Perlunya Pengelolaan Kehati-hatian

Fenomena Kredit Investasi yang Melambung dan Perlunya Pengelolaan Kehati-hatian

Kredit investasi bertumbuh kencang. Ada kebutuhan pendanaan tapi harus diarahkan supaya lebih berkualitas serta tetap mengedepankan kehati-hatian.

Fenomena Kredit Investasi yang Melambung dan Perlunya Pengelolaan Kehati-hatian
Dalam Artikel Ini

Pertumbuhan kredit investasi mencatatkan rekam jejak impresif dengan konsistensi pertumbuhan di atas 20% secara tahunan (year-on-year) setiap bulannya sejak awal tahun hingga Juli 2026. Tercatat hanya 1 kali yakni pada bulan April pertumbuhan kredit di bawah 20%.

Ini menunjukkan permintaan investasi cukup menggeliat. Namun, perlu dilihat sejauh mana investasi ini bisa berkualitas untuk mendorong perekonomian. Serta bagaimana ke depan pengelolaan prinsip kehati-hatian.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit investasi mengalami tren kenaikan pertumbuhan sejak Mei 2026. Pada bulan Mei 2026, pertumbuhan kredit investasi mencapai 21,95% secara tahunan (Year on Year/YoY), dilanjutkan bertumbuh menjadi 24,9% YoY pada Juni 2026, dan 25,13% YoY pada Juli 2026.

Sebelumnya pada Januari 2026 hingga April 2026 kredit investasi juga masih bertumbuh kencang di atas 20% namun alami tren sedikit perlambatan sehingga pada April 2026 pertumbuhannya mencapai 19,48% YoY.

Sepanjang kurun yang sama, pertumbuhan kredit dari segmen debitur korporasi turut menanjak. Dari level pertumbuhan berkisar antara 14,74-16,07% sepanjang triwulan I-2026, kredit korporasi mulai tumbuh 18,39% (yoy) pada bulan Mei, dan terus menanjak hingga tumbuh 20,45% (yoy) pada Juni 2026 dan 22,10% (yoy) pada Juli 2026.

Aman tapi perlu berdampak

Kepala Divisi Riset dan Kajian Ekonomi Perbanas Aviliani menilai terdapat dua faktor yang memicu pertumbuhan kredit investasi melaju secara ekspansif.

Pertama, pertumbuhan realisasi investasi, khususnya investasi padat modal di sektor digital dan teknologi seperti pembangunan data center. Kedua, penarikan kredit oleh sektor konstruksi untuk pembangunan Koperasi Merah Putih dan Sekolah Rakyat. Meski berasal dari program prioritas pemerintah, keduanya direken sebagai kredit investasi.

“Memang benar pertumbuhan kredit investasi tinggi, hanya kita harus hati-hati karena masalahnya nanti kena di likuiditas, kan. Saat ini saja LDR bank-bank KBLI 4 itu sudah rata-rata di atas 100. Pertumbuhan harus dijaga, tetapi jangan sampai memicu inflasi juga,” ujarnya kepada SUAR, Selasa (8/9/2026).

Dalam hal ini, Aviliani mengingatkan tantangan lebih besar adalah mendorong dampak kredit terhadap investasi yang lebih berdampak menyerap tenaga kerja. Insentif untuk lapangan-lapangan usaha dengan daya serap tenaga kerja tinggi seperti pertanian dan manufaktur dibutuhkan agar ekspansi usaha keduanya dapat membuka kesempatan kerja lebih luas.

Tak hanya itu, karakteristik kredit investasi yang baru akan menerima pembayaran kembali dalam 5-15 tahun ke depan juga menaikkan level kehati-hatian perbankan. 

Memang, perbankan tidak perlu untuk kredit investasi yang berasal dari proyek pemerintah karena jaminan APBN. Namun, di luar itu, debitur swasta relatif tidak mendapat kemudahan yang sama dalam mengakses fasilitas kredit investasi/

“Saat ini banyak bank-bank yang juga sangat memperhitungkan siapa yang meminjam kepada mereka. Jika tidak melakukan itu, tentu kenaikan NPL tidak wajar akan segera masuk dalam pengawasan OJK. Maka yang perlu dijaga adalah kebijakan yang konsisten dan tidak membuat dunia usaha khawatir,” tegasnya.

Adanya perbaikan situasi dalam dua bulan terakhir, Aviliani menambahkan, menjanjikan perbaikan risk appetite perbankan seiring penguatan permintaan. Di sisi lain, kucuran likuiditas dan injeksi dana SAL dari pemerintah juga membantu DPK bank terjaga tumbuh hingga 11,21% pada akhir Juli 2026.

“Hanya saja ketika suku bunga tidak naik, maka penyaluran kredit akan menggerus NIM, yang dulu rata-rata 7% sekarang sudah tinggal 4,6%. Sekalipun dari sisi pertumbuhan bagus, persaingan suku bunga masih sangat tinggi karena bank memilih mengorbankan NIM daripada menaikkan suku bunga, karena pembayarannya berjangka sangat panjang,” pungkas Aviliani.

Sesuai perkembangan

Dihubungi secara terpisah, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility Bank Central Asia (BCA) Hera F. Haryn berpendapat pertumbuhan ekspansif kredit investasi relatif sejalan dengan perkembangan kredit secara agregat. 

Di perseroannya, kredit produktif BCA tercatat tumbuh 11% (yoy) mencapai Rp802 triliun. Pertumbuhan ini mendominasi capaian penyaluran kredit BCA yang secara total naik 8% (yoy) mencapai Rp1.036 triliun.

“Secara khusus, penyaluran kredit investasi BCA mencapai Rp388 triliun dan tumbuh 16% (yoy). Kredit investasi dan modal kerja BCA per Juni 2026 banyak disalurkan ke berbagai sektor, seperti manufaktur, perdagangan, restoran dan hotel, jasa bisnis, dan lainnya,” kata Hera kepada SUAR, Senin (7/9/2026).

Likuiditas Bank Menumpuk di SRBI, Arah Pertumbuhan Kredit Dipertegas
Kelimpahan likuiditas perlu segera dialirkan agar pertumbuhan kredit dua digit lebih berdampak terhadap roda perekonomian

Pada umumnya, Hera menilai, tren penyaluran kredit selalu berjalan linier dengan kondisi perekonomian. Untuk itu, selain berkomitmen terus menyalurkan kredit produktif ke berbagai segmen, BCA juga selalu siap memperhatikan kemampuan calon debitur beradaptasi terhadap perubahan kebijakan maupun kondisi ekonomi.

“Langkah ini juga sejalan dengan pertimbangan prinsip-prinsip kehati-hatian sebagai salah satu unsur manajemen risiko,” tandas Hera.

Likuiditas melimpah dan penyaluran kredit

Kendati pertumbuhan kredit investasi melambung sepanjang tahun ini, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae memastikan likuiditas perbankan saat ini terjaga pada level yang memadai.

“Rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 102,45% dan 23,10%, masih di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%. Adapun liquidity coverage ratio (LCR) berada pada level 187,5%, masih sangat mencukupi kebutuhan intermediasi,” ujarnya dalam konferensi pers hasil rapat dewan komisioner bulanan OJK, Senin (7/9/2026).

Tak hanya itu, rasio kredit macet (non-performing loans) pun masih terjaga dengan tingkat NPL bruto sebesar 2,10%, sementara NPL neto sebesar 0,81%. Di saat bersamaan, tingkat kredit berisiko (loan at risk) pun berhasil ditekan dari level 8,47% pada Juni 2026 menjadi 8,39% pada akhir Juli 2026.

Meski demikian, Dian tak menafikan bahwa tingginya pertumbuhan kredit secara agregat telah berimbas pada perang suku bunga di satu sisi, dan penggerusan (net interest margin) bank di sisi lain. Namun, ia mengingatkan, besaran biaya dana yang berkait langsung dengan profitabilitas itu tidak serta-merta disebabkan satu faktor tunggal.

“Oleh karena itu, OJK mendorong agar bank lebih mengedepankan penguatan core deposits, peningkatan kualitas layanan, dan inovasi produk dalam menghimpun dana masyarakat sehingga persaingan tidak serta-merta bertumpu pada pemberian suku bunga yang lebih tinggi,” sarannya.

Ke depan, Dian menambahkan, OJK akan terus memantau agar profitabilitas perbankan dapat tetap sehat di tengah menyempitnya ruang gerak suku bunga kredit. Tergerusnya NIM, yang relatif sejalan dengan tren kenaikan BI-Rate, mau-tak-mau menjadi akibat sementara agar kredit dapat terus berjalan dan roda perekonomian tetap berputar.

“OJK memproyeksikan NIM perbankan akan tetap sehat dan moderat dengan transmisi suku bunga yang efisien. OJK akan terus memantau perkembangan guna memastikan industri perbankan mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” tutup Dian.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Perbanas

Rekomendasi SUAR