Erupsi Anak Krakatau Tekan Okupansi Hotel

Erupsi Anak Krakatau Tekan Okupansi Hotel

Erupsi Gunung Anak Krakatau turut mengubah perilaku wisatawan dan menekan tingkat okupansi bisnis perhotelan.

Erupsi Anak Krakatau Tekan  Okupansi Hotel
Dalam Artikel Ini

Erupsi Gunung Anak Krakatau turut mengubah perilaku wisatawan dan menekan tingkat okupansi bisnis perhotelan. Meskipun demikian, belum ada data konkrit mengenai dampaknya terhadap okupansi perhotelan.

Sekretaris Jenderal Badan Pengurus Pusat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPP PHRI) Maulana Yusran mengatakan sejumlah pelancong  memilih mempercepat kepulangan, sementara sebagian lainnya membatalkan rencana perjalanan ke wilayah yang dikhawatirkan terdampak abu vulkanik.

"Memang banyak di hotel itu traveller khawatir. Satu adalah mereka mempercepat perjalanannya. Jadi mereka sudah ada di sana tapi mereka mempercepat perjalanannya. Kedua adalah mereka batal pergi berlibur, khususnya ke daerah sekitar krakatau," katanya pada SUAR, Kamis (10/9/2026). 

Perubahan tersebut pada akhirnya ikut memengaruhi tingkat hunian hotel. Maulana mengatakan okupansi memang mengalami penurunan, tetapi sejauh ini belum menunjukkan tekanan yang signifikan.

“Kalau dilihat dari sisi okupansi sendiri, memang akan ada pengaruh ya di sana. Tapi memang belum terlalu signifikan,” ujarnya.

Terkait penanganan pembatalan, Maulana menjelaskan mekanismenya bergantung pada jalur pemesanan kamar. Saat ini, banyak konsumen memesan kamar melalui pihak ketiga seperti onlinne travel agent (OTA), sehingga persoalan pembatalan tidak selalu menjadi urusan langsung antara hotel dan tamu. 

Menurut dia, ketentuan mengenai pembatalan dan kondisi force majeure umumnya telah diatur dalam perjanjian bisnis antara hotel dan pihak ketiga. Sementara jika pemesanan dilakukan secara langsung kepada hotel, pelaku usaha dapat menawarkan sejumlah solusi, seperti pengambalian dana atau pemberikan voucher menginap  yang dapat digunakan dalam jangka waktu tertentu. 

Maulana menilai dampak terhadap perhotelan juga berkaitan erat dengan gangguan mobilitas udara. Penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta sebagai salah satu simpul penerbangan utama membuat dampaknya tidak hanya dirasakan hotel di Jakarta, tetapi juga akomodasi di berbagai daerah yang bergantung pada arus wisatawan melalui Jakarta.

Gangguan tersebut terutama menjadi persoalan bagi wisatawan yang melakukan perjalanan ke luar Pulau Jawa maupun wisatawan dari luar negeri. Sementara itu, wisatawan dari wilayah sekitar Pulau Jawa masih memiliki alternatif perjalanan melalui jalur darat.

Di sisi lain, Maulana menegaskan mitigasi bencana di sektor perhotelan bukan hal yang baru. Hotel memiliki standar operasional prosedur (SOP) untuk menangani keselamatan tamu saat terjadi bencana, termasuk proses evakuasi ketika terjadi gempa maupun kebakaran. Pelaku usaha juga berkomunikasi dengan pemerintah daerah, BNPB, serta aparat terkait untuk memperoleh informasi mengenai kondisi di sekitar destinasi.

Untuk kasus abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, komunikasi antara PHRI dan pemerintah disebut tetap berjalan melalui jaringan PHRI di daerah. Menurut Maulana, komunikasi tersebut penting karena bisnis perhotelan sangat bergantung pada ekosistem transportasi dan akses menuju destinasi.

“Informasi-informasi yang harus tersampaikan oleh tamu itu selalu harus menjadi informasi up to date,” kata Maulana.

Pentingnya Rencana Kesinambungan Bisnis

Sementara itu, Guru Besar Ekonomi Universitas Andalas (Unand) Syafruddin Karim menilai hotel perlu mengaktifkan rencana kesinambungan bisnis (business continuity plan) menilai prospek bisnis perhotelan di wilayah terdampak selanjutnya akan sangat bergantung pada durasi aktivitas vulkanik, kondisi akses transportasi, serta persepsi wisatawan terhadap keamanan destinasi. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat penghunian kamar hotel bintang nasional pada Juli 2026 masih 54,54%, dengan kunjungan wisatawan mancanegara 1,53 juta dan perjalanan wisatawan nusantara 107,44 juta.

"Fakta bahwa beberapa bandara kembali dibuka setelah hasil uji abu negatif memberi ruang pemulihan, tetapi risiko tetap tinggi selama abu masih terpantau di atmosfer dan penutupan berulang masih mungkin terjadi," katanya. 

Pesawat maskapai dalam negeri lepas landas dari runway utara Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (8/9/2026). Operasional Bandara Soekarno-Hatta kembali normal dengan rencana 896 penerbangan datang dan berangkat yang mengangkut total 113.001 penumpang pada hari pertama setelah ditutup selama dua hari akibat paparan partikel abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/kye

Sementara itu, Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata, PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero)  memastikan proses pemulihan dan normalisasi operasional bandara yang sempat terdampak erusi Gunung Anak Krakatau terus berjalan optimal. Sebelumnya, delapan bandara  mengalami penutupan sementara sejak 6 September 2026, termasuk empat bandara yang dikelola Injourney sudah kembali beroperasi secara penuh. 

Empat bandara itu adalah Bandara Internasional Soekarno Hatta,  Bandara Halim Perdanakusuma, Bandra Husein Sastranegara, dan Bandara Raden Inten II. Secara  keseluruham, sebanyak 4.174 penerbangan terdampak yang berimplikasi pada perjalanan 455.754 penumpang. 

Direktur Utama InJourney  Maya Watono menegaskan bahwa sejak awal penanganan erupsi Gunung Anak Krakatau, keselematan penumpang menjadi prioritas. 

Setiap keputusan operasional dilakukan berdasarkan asesmen menyeluruh dan pemantauan berkala, dengan mempertimbangkan kondisi abu vulkanik, hasil paper test, serta informasi dan rekomendasi dari BMKG, AirNav Indonesia, VAAC Darwin, regulator, dan otoritas penerbangan. Di saat yang sama, kami terus memastikan kesiapsiagaan pelayanan kebandarudaraan dan seluruh aspek keselamatan terpenuhi sesuai standar yang dipersyaratkan,” tegas Maya. 

Selama periode penutupan bandara melalui InJourney Airports, sambung Maya, mengimplementasikan berbagai strategi mitigasi guna menjaga konektivitas penerbangan nasional dan meminimalkan dampak terhadap mobilitas masyarakat. Salah satu langkah utama adalah dengan melakukan  pengalihan penerbangan ke sejumlah bandara alternatif, seperti Bandara Internasional Yogyakarta, Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali, Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang, Bandara Adi Soemarmo Solo, Bandara Juanda Surabaya, dan Bandara Kertajati. 

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam manajemen krisis pariwisata

Rekomendasi SUAR