Mengapa DVD Hilang, Blockbuster Bangkrut, tetapi Film Tidak Pernah Mati?

Artikel ini merupakan opini dari Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) dan Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) Mohamad Ikhsan

Mengapa DVD Hilang, Blockbuster Bangkrut, tetapi Film Tidak Pernah Mati?
Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Mohamad Ikhsan (Foto: AI/ SUAR)
Daftar Isi

Seri Catatan: Creative Destruction ala Joseph Schumpeter — Bagian 2

Pada awal 2000-an, hampir setiap akhir pekan pusat perbelanjaan dipenuhi orang yang menyewa DVD di Blockbuster—atau membeli VCD dan DVD untuk koleksi pribadi. Punya lemari penuh film adalah kebanggaan tersendiri; deretan sampulnya kita pamerkan seperti trofi.

Dua puluh tahun kemudian, Blockbuster tinggal cerita. Toko DVD nyaris tak ada lagi. Bahkan komputer modern pun sudah tak lagi dilengkapi pemutar DVD. Sebuah kebiasaan seluruh generasi lenyap nyaris tanpa suara.

Namun ada satu hal yang tidak ikut menghilang.

Film.

Kita masih menonton film—bahkan mungkin lebih banyak daripada sebelumnya. Lalu mengapa sebuah industri yang tampak hancur ternyata justru berkembang? Jawabannya sederhana: teknologi tidak menghancurkan film. Teknologi mengubah apa yang dibayar konsumen.

the walking dead dvd movie
Photo by Samuel Regan-Asante / Unsplash

Dari Membayar Kepemilikan menjadi Membayar Akses

Selama puluhan tahun, konsumen membayar untuk memiliki film. Kita membeli kaset VHS, lalu VCD, kemudian DVD. Nilai ekonominya terletak pada kepemilikan—benda fisik yang bisa disimpan di rak.

Netflix membalik logika itu. Konsumen tidak lagi membeli satu film; mereka membeli akses terhadap ribuan film. Perubahan ini tampak sepele, padahal sebuah revolusi ekonomi. Begitu biaya penyimpanan digital dan internet cepat menjadi murah, kepemilikan kehilangan nilainya. Yang bernilai justru kemudahan mengakses kapan saja, di mana saja.

Pola yang sama berulang di mana-mana. CD digantikan Spotify. Perangkat lunak berubah menjadi langganan (Software as a Service). Bahkan mobil mulai bergerak ke arah langganan dan berbagi pakai (shared mobility). Perlahan, ekonomi bergeser dari ownership economy menuju access economy.

Setiap revolusi teknologi tidak pernah benar-benar menghancurkan hiburan; ia hanya memindahkan sumber nilainya. Perhatikan peta perpindahan ini:

Era

Yang dibayar konsumen

Sumber daya langka

Bioskop (1950–1980-an)

Pergi ke gedung bioskop

Akses

VCD/DVD (1990–2000-an)

Memiliki filmnya

Kepemilikan

Blockbuster

Kemudahan menyewa

Inventaris (stok fisik)

Netflix (streaming)

Akses tanpa batas

Waktu

Era AI (?)

Hiburan yang dipersonalisasi

Perhatian

Perhatikan yang luar biasa di sini: industri filmnya sendiri tidak pernah lenyap. Orang tetap menonton film. Yang bergeser hanyalah proposisi nilainya. Mula-mula orang membayar untuk menonton. Lalu membayar untuk memiliki. Kini membayar untuk mengakses. Dan besok, mungkin, membayar untuk pengalaman.

Ownership → access economy.  Ketika biaya marjinal menggandakan dan mengirim satu salinan digital jatuh mendekati nol, nilai berpindah dari benda (yang dimiliki) ke layanan (yang diakses). Konsumen tak lagi membayar untuk menyimpan, melainkan untuk masuk ke dalam pustaka yang selalu ada.

Ekonomi di Balik Netflix

Seberapa besar revolusi ini? Angkanya menjelaskan sendiri. Sepanjang 2024, Netflix membukukan pendapatan sekitar 39 miliar dolar AS dengan margin operasi mendekati 27 persen—tingkat profitabilitas yang jarang dicapai perusahaan media tradisional—dan menargetkan margin 29 persen serta pendapatan di atas 43 miliar dolar pada 2025. Pada akhir 2024 layanannya menjangkau 301,6 juta pelanggan berbayar di sekitar 190 negara, setelah menambah rekor 41 juta pelanggan hanya dalam satu tahun. Dari sebuah perusahaan pengirim DVD lewat pos, Netflix tumbuh menjadi salah satu mesin hiburan terbesar di dunia.

Yang lebih penting adalah bagaimana mesin itu bekerja. Inti bisnis Netflix bertumpu pada empat pilar. Pertama, konten—film dan serial orisinal yang tak bisa ditonton di tempat lain. Kedua, infrastruktur cloud yang mengalirkan tayangan mulus ke ratusan juta layar sekaligus. Ketiga, data perilaku penonton—apa yang ditonton, kapan berhenti, apa yang di-skip—yang memandu keputusan produksi dan rekomendasi. Keempat, penetapan harga yang cermat (right pricing): beberapa tingkat langganan, termasuk paket beriklan sejak 2022, untuk menangkap setiap lapisan kesediaan-membayar konsumen.

Evolusi Netflix (1997 → kini).  1997/98 — lahir sebagai penyewaan DVD lewat pos. 1999 — model langganan tanpa denda keterlambatan. 2000 — menawarkan diri dijual ke Blockbuster seharga $50 juta, ditolak. 2007 — meluncurkan streaming. 2013 — serial orisinal pertama (House of Cards). 2016 — ekspansi global ke ±190 negara. 2022 — paket beriklan; 2023 — penertiban berbagi kata sandi. Setiap lompatan adalah penemuan-kembali model bisnisnya sendiri.
person watching movie
Photo by Krists Luhaers / Unsplash

Blockbuster Kalah Bukan karena Tidak Punya Film

Banyak orang mengira Blockbuster bangkrut karena Netflix punya teknologi lebih baik. Sebenarnya bukan itu penyebab utamanya. Blockbuster justru punya film—jauh lebih banyak, dengan ribuan gerai di seantero Amerika.

Masalahnya, Blockbuster dibangun di atas jaringan toko fisik dan denda keterlambatan (late fees)—sumber pendapatan yang sesungguhnya menghukum pelanggannya sendiri. Pada tahun 2000, Netflix bahkan sempat menawarkan diri untuk dibeli seharga 50 juta dolar; petinggi Blockbuster menampiknya. Sepuluh tahun kemudian, Blockbuster-lah yang bangkrut, sementara Netflix kini bernilai ratusan miliar dolar.

Netflix dibangun di atas internet. Mereka bukan sekadar menawarkan produk berbeda—mereka menghapus seluruh model bisnis lama, termasuk denda yang menjadi napas Blockbuster. Inilah yang disebut Joseph Schumpeter sebagai creative destruction.

Creative destruction (Schumpeter, 1942).  Inovasi bukan sekadar melahirkan perusahaan baru; ia menghancurkan logika ekonomi yang lama. Blockbuster tidak kalah karena kekurangan film, melainkan karena seluruh fondasi pendapatannya—gerai fisik dan denda—dibuat usang oleh model yang sama sekali berbeda.

Empat Paradoks yang Menarik Ditelusuri

Perpindahan nilai ini melahirkan sejumlah paradoks yang menggelitik—dan masing-masing membuka jendela ke arah masa depan.

Paradoks 1 — Sang penghancur kini terancam.

Netflix menghancurkan Blockbuster. Kini Netflix sendiri tertekan oleh YouTube, TikTok, dan konten buatan AI. Mengapa? Karena Netflix berebut dua jam waktu malam Anda, sementara TikTok cukup meminta dua menit—lalu dua menit berikutnya. Medan perangnya bergeser: sumber daya yang paling langka bukan lagi film, melainkan perhatian.

Attention economy (Herbert Simon, 1971).  Peraih Nobel Herbert Simon merumuskannya jauh sebelum ada streaming: “kelimpahan informasi menciptakan kemiskinan perhatian.” Ketika tayangan melimpah tanpa batas, perhatian penontonlah yang menjadi mata uang yang diperebutkan.

Paradoks 2 — Produksi $200 juta kalah oleh video gim.

Hollywood menghabiskan sekitar 200 juta dolar untuk membuat satu film blockbuster. Namun jutaan anak muda justru asyik menonton orang lain bermain gim di YouTube atau Twitch. Ini pergeseran ekonomi yang luar biasa: konsumen berpindah dari konten yang diproduksi secara profesional menuju konten yang otentik. Kedekatan dan keaslian ternyata bisa mengalahkan anggaran produksi raksasa.

Paradoks 3 — Memiliki film menjadi tak berharga.

Dulu, semasa mahasiswa, banyak orang bangga memiliki ratusan VCD atau DVD. Hari ini anak muda nyaris tak punya satu pun. Spotify melakukannya pada CD, Netflix pada DVD, Steam pada gim komputer, dan komputasi awan pada perangkat lunak. Satu per satu, kepemilikan digantikan oleh akses.

Paradoks 4 — Bioskop tidak mati, sama seperti toko buku.

Kalau semua bisa ditonton di rumah, mengapa bioskop belum punah? Jawabannya sama persis dengan kisah Barnes & Noble di Bagian 1: bioskop tidak lagi sekadar menjual film, mereka menjual pengalaman—layar raksasa, tata suara imersif, dan sensasi menonton bersama. Suasana yang tidak bisa diunduh dari internet. Buktinya, box office global mencapai sekitar 30 miliar dolar pada 2024—memang di bawah level pra-pandemi 2019 (sekitar 42 miliar dolar), tetapi tetap pasar raksasa yang bertahan justru karena menawarkan sesuatu yang layar ponsel tak bisa tiru.

Grafis ini merupakan materi penulis

Sebuah Trilogi: Satu Pola, Tiga Wajah

Bila direnungkan, ketiga catatan dalam seri ini sebenarnya menuturkan satu pola yang sama—hanya dengan tiga wajah berbeda. Di setiap babak, sesuatu yang dahulu langka menjadi berlimpah, dan kelangkaan berpindah ke tempat baru.

Bagian 1 — Barnes & Noble.  Informasi menjadi gratis; perhatian menjadi berharga.

Bagian 2 — Netflix.  Kepemilikan menjadi tak perlu; akses menjadi berharga.

Bagian 3 — AI.  Konten menjadi berlimpah; penilaian (judgment) dan makna menjadi berharga.

Tiga pasar, tiga teknologi, satu hukum yang sama. Setiap kali biaya memperoleh sesuatu jatuh mendekati nol, nilai tidak lenyap—ia hanya berpindah ke lapisan yang lebih tinggi: dari benda ke pengalaman, dari informasi ke perhatian, dari data ke kebijaksanaan.

the beatles vinyl record sleeve
Photo by Tyson Moultrie / Unsplash

Pelajaran Ekonomi

Perjalanan dari DVD ke Netflix mengajarkan satu hal penting: teknologi jarang menghancurkan kebutuhan manusia. Manusia tetap ingin menikmati musik, menonton film, membaca buku. Yang berubah adalah cara kebutuhan itu dipenuhi—dan, dalam bahasa ekonomi, sumber nilai tambahnya. Dahulu kita membayar kepemilikan. Hari ini kita membayar akses. Besok, mungkin, kita membayar pengalaman yang dipersonalisasi oleh AI.

Karena itu, creative destruction bukan berarti kehancuran. Ia adalah perpindahan nilai dari model lama menuju model baru. Dan mereka yang paling jeli membaca ke mana nilai itu berpindah—merekalah yang akan menjadi pemenang dalam setiap revolusi teknologi.

“Teknologi tidak menghapus nilai—ia hanya memindahkan tempatnya bersembunyi.”

Opini ini sepenuhnya merupakan pandangan penulis. Bila Anda tertarik untuk menjadi kontributor opini, silakan mendaftarkan diri Anda dengan kirim email ke [email protected]

Sumber data

—  Kinerja keuangan & pelanggan Netflix 2024 (pendapatan ±$39 miliar, margin ±27%, 301,6 juta pelanggan, rekor 41 juta penambahan; target margin 29% & pendapatan >$43 miliar 2025) — laporan Q4 2024 Netflix, dikutip TheWrap.

—  Box office global 2024 ±$30 miliar (vs ±$42 miliar pada 2019) — Gower Street Analytics & Variety.

—  Tawaran akuisisi Netflix oleh Blockbuster $50 juta (2000) yang ditolak — Cato Institute; liputan sejarah Netflix–Blockbuster.

—  Evolusi Netflix 1997–kini (DVD-pos → streaming 2007 → orisinal 2013 → global 2016 → paket iklan 2022) — riwayat perusahaan Netflix.

—  Attention economy — Herbert A. Simon (1971), “Designing Organizations for an Information-Rich World.”

Author

Mohamad Ikhsan
Mohamad Ikhsan

Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) dan Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) UI

Baca selengkapnya