Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), kinerja penjualan mobil secara whole sales sepanjang Januari hingga Juni 2026 mencatatkan angka yang positif. Penjualan pada paruh pertama 2026 ini mencapai sekitar 436.569 unit.
Angka tersebut merepresentasikan pertumbuhan year-on-year (yoy) sebesar 15,9% jika dibandingkan tahun 2025 yang hanya mencatatkan 376.707 unit. Tren positif ini memberikan sinyal kuat bahwa daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah, mengalami perbaikan pasca-dinamika ekonomi tahun sebelumnya.
Secara bulanan (month-to-month/m-t-m), fluktuasi pasar menunjukkan lonjakan permintaan di momen-momen tertentu. Berdasarkan data penjualan, bulan Februari 2026 mencetak rekor tertinggi di sepanjang kuartal pertama dengan 81.247 unit atau naik 22,1% dibandingkan Januari.
Di bulan April 2026 penjualan tercatat 80.779 unit, melonjak sekitar 55% secara tahunan dibandingkan April 2025 yang sempat lesu di angka 52.108 unit. Semester pertama tahun ini ditutup dengan penjualan 77.550 unit, naik 12% secara bulanan dan melonjak 32,8% secara tahunan dibandingkan Juni 2025.
Membaiknya kinerja di sektor riil otomotif ini turut berdampak bagi industri jasa keuangan, khususnya perusahaan pembiayaan. Ketergantungan portofolio pembiayaan pada kendaraan roda empat yang telah terbentuk sejak 2025, di mana porsi roda empat selalu mendominasi kini kembali bertahan menyokong kinerja pembiayaan.
Tingginya angka serapan unit mobil di semester pertama 2026 ini berkorelasi dengan naiknya penyaluran kredit di periode yang sama. Hal ini terkonfirmasi dari data terkini yang menunjukkan bahwa nilai pembiayaan mobil baru dan bekas oleh multifinance menembus angka fantastis sebesar Rp 230,47 triliun per Juni 2026. Angka tersebut naik tipis dari capaian di tahun sebelumnya yang berkisar Rp 228,42 per Desember 2025.
Dominasi sektor otomotif dalam portofolio industri multifinance terlihat sangat jelas dari dominasi penyaluran kredit kendaraan roda empat. Hingga Juni 2026, capaian pembiayaan khusus untuk mobil baru dan bekas yang menembus angka Rp 230,47 triliun menjadi penyokong sektor ini adalah tulang punggung utama bisnis perusahaan pembiayaan.
Mengacu pada data historis tren penyaluran pembiayaan sepanjang tahun 2025, kendaraan roda empat secara konsisten menyerap porsi terbesar, dan pola determinan ini terus berlanjut di 2026. Dengan rata-rata total penyaluran pembiayaan industri multifinance yang stabil di kisaran Rp 530 triliun per bulannya, angka Rp 230,47 triliun tersebut mengindikasikan bahwa pembiayaan mobil mendominasi persentase yang besar, yakni mencakup sekitar 43-45% dari total portofolio kredit multifinance.
Besarnya persentase ini tidak hanya menegaskan bahwa roda empat adalah komoditas utama penyerap likuiditas kredit, tetapi juga merepresentasikan tingginya kepercayaan dan keyakinan lembaga keuangan terhadap kualitas pengembalian kredit konsumen otomotif di tengah tren lonjakan penjualan unit.
Dinamika peningkatan penjualan dan likuiditas pembiayaan tersebut turut menjadi daya tarik dalam menentukan kebijakan strategis. Meningkatnya penyaluran kredit berarti perlunya ketersediaan dana, terutama di sektor perbankan untuk menjaga likuiditas.
Kondisi likuiditas yang memadai akan memberi keleluasaan bagi perbankan dan lembaga pembiayaan untuk menjaga tingkat suku bunga kredit kendaraan bermotor. Hal ini berimplikasi pada terbukanya aksesibilitas konsumen terhadap kepemilikan mobil baru, yang terefleksi dari naiknya angka penjualan.