Kuliner Mesin Baru Penggerak Ekonomi Kreatif Indonesia

Prospek industri makanan, minuman, dan hospitality Indonesia juga terus menunjukkan tren positif dengan menyumbang sekitar 2,68 persen terhadap PDB nasional atau Rp639 triliun pada 2025.

Kuliner Mesin Baru Penggerak Ekonomi Kreatif Indonesia
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya di Acara Food and Hospitality, Jiexpo Kemayoran, Jakarta (22/7) (Humas Kementerian Ekraf)
Daftar Isi

Subsektor kuliner terus menjadi penggerak perekonomian, dengan kontribusi yang terus menunjukkan tren positif. Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya mengatakan, subsektor kuliner tidak hanya berperan sebagai penyedia kebutuhan pangan, tetapi juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi, pencipta lapangan kerja, serta wadah pelestarian kekayaan budaya Nusantara melalui berbagai inovasi produk.

Berdasarkan data Kementerian Ekonomi Kreatif, subsektor kuliner menyumbang sekitar 40,27 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif, atau setara hampir Rp648 triliun. Kontribusi tersebut menjadikan kuliner sebagai subsektor terbesar dibandingkan subsektor ekonomi kreatif lainnya, sekaligus memperlihatkan besarnya potensi industri makanan dan minuman dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Pekerja mengolah adonan saat memproduksi roti di Pabrik Roti Cari Rasa, Kosambi, Bandung, Jawa Barat, Senin (22/6/2026). Kementerian Ekonomi Kreatif menyebutkan, ekosistem ekonomi kreatif di subsektor kuliner, terutama Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di bidang bakery dan cake saat ini terus tumbuh yang didorong oleh populasi kelas menengah yang meningkat, pendapatan kelompok muda yang lebih tinggi, serta popularitas layanan pesan antar online serta berdampak untuk membuka banyak peluang usaha bagi masyarakat. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Selain memberikan kontribusi terhadap PDB, industri kuliner juga menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di sektor ekonomi kreatif. "Tercatat sebanyak 15,58 juta orang bekerja di subsektor ini, dengan sekitar 57 persen diantaranya berasal dari generasi muda berusia di bawah 42 tahun,” kata Teuku Riefky dalam acara Food and Hospitality Indonesia di Jiexpo, Kemayoran, Jakarta (22/7/2026).

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri kuliner mampu menjadi ruang bagi lahirnya wirausaha baru sekaligus mendorong inovasi yang sesuai dengan perkembangan tren pasar.

Festival kuliner dan peran starategisnya

Ia menuturkan untuk memperkuat ekosistem industri kuliner, pemerintah terus mendorong penyelenggaraan berbagai festival dan pameran sebagai sarana promosi produk lokal. Salah satunya melalui Festival Burger Dunia yang digelar pada 5–7 Juni 2026 dengan melibatkan 18 jenama kuliner, terdiri atas 17 pelaku UMKM dan satu perusahaan waralaba.

Kegiatan tersebut menargetkan kunjungan sekitar 10.000 orang sekaligus menjadi wadah kolaborasi antara pelaku usaha, konsumen, dan berbagai pemangku kepentingan.

Menurutnya, festival kuliner memiliki peran strategis dalam memperkenalkan produk-produk lokal kepada masyarakat yang lebih luas. Selain meningkatkan penjualan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk membangun jejaring bisnis, bertukar ide, serta menghadirkan inovasi menu yang mampu mengangkat cita rasa lokal dengan sentuhan yang lebih modern dan kompetitif.

Ke depan, pemerintah akan terus mendorong UMKM kuliner agar mampu menembus pasar internasional melalui penguatan kualitas produk, peningkatan kapasitas pelaku usaha, serta strategi pemasaran yang lebih efektif. 

“Penguatan branding dan pemanfaatan konten digital menjadi salah satu fokus utama agar produk kuliner Indonesia semakin dikenal di pasar global dan memiliki daya saing yang lebih kuat,” ungkap dia.

Pemerintah juga berkomitmen membangun ekosistem ekonomi kreatif yang lebih terintegrasi dengan menghubungkan pelaku usaha, investor, komunitas, hingga konsumen melalui jejaring bisnis kreatif.

Dengan kolaborasi yang semakin kuat, subsektor kuliner diharapkan tidak hanya menjadi kontributor terbesar bagi ekonomi kreatif nasional, tetapi juga mampu menjadi duta budaya Indonesia yang memperkenalkan kekayaan cita rasa Nusantara ke berbagai negara.

Mesin pertumbuhan alternatif

Di satu sisi, Teuku menuturkan pemerintah terus memperkuat arah pembangunan ekonomi kreatif nasional. Penguatan ini sebagai komitmen untuk menciptakan jagoan-jagoan ekonomi kreatif lokal untuk bisa menembus pasar global.

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 37 Tahun 2026 tentang Rencana Induk Ekonomi Kreatif (Rindekraf) 2026–2045. Aturan ini disusun melalui kolaborasi lintas kementerian/lembaga dan pendekatan heksa heliks yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. 

“Rindekraf diharapkan menjadi pedoman pembangunan ekonomi kreatif jangka menengah dan panjang untuk mewujudkan ekonomi kreatif sebagai The New Engine of Growth,” ujar dia dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (22/7)

Melalui peraturan ini, Presiden RI Prabowo Subianto ingin membangun ekosistem ekonomi kreatif yang kuat dari hulu hingga hilir untuk 20 tahun ke depan. Tujuannya adalah memastikan karya, talenta, dan produk kreatif Indonesia tidak hanya berjaya di dalam negeri, tapi juga mampu bersaing menjadi pemain utama di pasar dunia. Mengangkat jagoan lokal menjadi jagoan nasional, serta mendorong jagoan nasional memiliki panggung di tingkat global.

Pengesahan ini merupakan langkah nyata untuk mewujudkan visi ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045. 

Guna mencapai visi tersebut, Kementerian Ekraf menetapkan misi penguatan ekosistem berbasis kekayaan intelektual (KI) yang mencakup pengembangan riset, pendidikan, akses pembiayaan, penyediaan infrastruktur, sistem pemasaran, insentif, fasilitasi KI, hingga perlindungan hasil kreativitas. 

Misi tersebut dijalankan melalui pemberdayaan sumber daya manusia serta penguatan daya saing usaha. 

Hingga saat ini, sebanyak 13 provinsi dan 24 kabupaten/kota telah memiliki kelembagaan ekonomi kreatif, sementara 17 provinsi dan 67 kabupaten/kota lainnya sedang dalam proses penguatan kelembagaan. 

Ia menuturkan perkembangan yang terjadi dalam waktu kurang dari dua tahun ini menunjukkan semakin besarnya komitmen pemerintah daerah dalam memperkuat tata kelola ekonomi kreatif sekaligus menjadi modal penting bagi implementasi Rindekraf secara nasional.

Saat ini ekonomi kreatif seperti kuliner, kriya, dan fashion sudah berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Menyusul game, aplikasi, film, dan musik yang pertumbuhannya sangat pesat. 

Industri mamin tumbuh 7% tahun ini

Bagi Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) optimistis, maraknya sektor kuliner ini juga bisa berdampak pada kinerja industri makanan dan minuman (mamin) nasional. Dimana sektor ini mampu mencatatkan pertumbuhan sekitar 7% hingga akhir 2026.

Optimisme tersebut didorong oleh mulai membaiknya sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai mampu mengurangi tekanan biaya produksi, sehingga memberikan ruang bagi pelaku industri untuk meningkatkan daya saing dan menjaga ekspansi usaha.

Peserta pelaku usaha kuliner binaan Kementerian Ekraf dalam pameran Food and Hospitality Indonesia 2026 yang digelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (21/7/2027). ANTARA/Fitra Ashari

Ketua GAPMMI Adhi S. Lukman mengatakan pertumbuhan industri makanan dan minuman pada tahun ini memang tidak berlangsung merata di seluruh subsektor. Sejumlah subsektor masih mampu membukukan pertumbuhan yang tinggi, sementara sebagian lainnya tumbuh lebih moderat bahkan mengalami perlambatan. Meski demikian, secara keseluruhan kinerja industri diperkirakan tetap lebih baik, dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Adhi, keyakinan tersebut juga didukung oleh langkah pemerintah yang mulai merespons berbagai persoalan yang selama ini dihadapi industri. Salah satu kebijakan yang dinilai memberikan dampak positif adalah penurunan harga gas untuk sektor industri.

"Kebijakan tersebut diharapkan dapat menekan biaya operasional perusahaan, mengingat energi merupakan salah satu komponen biaya produksi yang cukup besar,” ujar dia ketika ditemui dalam acara Konferensi Pers Pameran Food Ingredients 2026 di Westin Hotel, Jakarta (2/7/2026).

Selain itu, pemerintah juga memberikan relaksasi bea masuk terhadap bahan baku plastik yang banyak digunakan dalam industri makanan dan minuman, khususnya untuk kebutuhan kemasan. Kebijakan tersebut dinilai mampu membantu pelaku usaha mengurangi beban biaya produksi di tengah masih tingginya tekanan biaya operasional. 

"Kemudian masalah plastik ya. Itu juga pemerintah juga sudah mengeluarkan peraturan untuk membebaskan bea masuk sementara untuk plastik, supaya menurunkan biaya-biaya produksi kita," ujar Adhi.

Ajang perkenalan produk dan berjejaring

Acara Food & Hospitality Indonesia (FHI) 2026 digelar selama empat hari, dari Selasa (21/7/2026) sampai Jumat (24/7/2026) di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat. Tahun ini FHI kembali mempertemukan pelaku industri, pengambil kebijakan, asosiasi, hingga berbagai perusahaan nasional dan glonal dalam satu ekosistem bisnis.

Pada gelaran FHI ke-20 ini, ada lebih dari 500 perusahaan dari 32 negara, serta pelaku industri lokal yang ikut berpartisipasi. Founder Novio Fresh Retno Wulansari mengatakan pihaknya turut berpartisipasi dalam ajang Food & Hospitality Indonesia (FHI) sebagai bagian dari upaya memperkenalkan produk pangan segar (fresh) dan artisan buatan Indonesia kepada pelaku industri kuliner, sektor perhotelan, serta pasar yang lebih luas.

Keikutsertaan dalam pameran tersebut menjadi momentum bagi Novio untuk menunjukkan bahwa produk lokal memiliki kualitas dan daya saing yang mampu memenuhi kebutuhan industri makanan dan minuman.

Ekspor Meningkat, Trade Expo Andalkan Produk Kuliner Berkelas
Sebanyak 1.619 peserta berpartisipasi dalam TEI 2025, dan sudah ada 8.045 buyers dari 130 negara sudah terdaftar.

Melalui FHI, Novio berkesempatan bertemu dengan para chef, pelaku usaha kuliner, distributor, hingga berbagai mitra bisnis dari berbagai sektor. Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman, membangun jejaring kerja sama, sekaligus memperkenalkan solusi berbasis bahan pangan berkualitas yang dapat mendukung inovasi menu maupun operasional bisnis para pelaku industri.

Beragam produk unggulan diperkenalkan Novio dalam pameran tersebut, mulai dari sayuran segar, artisan hot sauce, vinegar, kombucha, matcha, madu, hingga berbagai produk inovatif lainnya. 

“Setiap produk dikembangkan dengan mengedepankan kualitas bahan baku, proses produksi yang terjaga, serta cita rasa yang autentik untuk memenuhi kebutuhan konsumen dan pelaku usaha yang semakin mengutamakan kualitas,” ujar dia.

Novio meyakini bahwa setiap bahan pangan terbaik memiliki cerita dan nilai yang layak untuk dibagikan. Karena itu, partisipasi di Food & Hospitality Indonesia tidak hanya menjadi ajang promosi produk, tetapi juga langkah memperkuat kolaborasi dengan para pelaku industri sekaligus mendorong semakin luasnya pemanfaatan produk pangan lokal Indonesia di pasar domestik maupun internasional.

Penulis

Ridho Sukra
Ridho Sukra

Wartawan ekonomi makro dan DPR

Baca selengkapnya