Erupsi Gunung Anak Krakatau dan Dampak Aktivitas Ekonomi
Aktivitas penerbangan di kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau dihentikan untuk alasan keamanan.
Aktivitas penerbangan di kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau dihentikan untuk alasan keamanan.
Sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda sejak Jumat (4/9/2026) hingga Minggu (6/9/2026) berdampak pada aktivitas perekonomian. Sebanyak 1.039 penerbangan dengan 166.351 penumpang terdampak. Aktivitas penerbangan di kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau dihentikan untuk alasan keamanan.
Sampai dengan Senin (7/9/2026), pukul 00.00 WIB, Kementerian Perhubungan memutuskan untuk menghentikan operasional penerbangan di 7 bandara hingga 7 September 2026 pukul 08.59 WIB. Adapun 7 bandara itu adalah

Akibat persebaran abu vulkanik pasca erupsi Gunung Anak Krakatau, Kementerian Perhubungan mencatat ada 1.039 penerbangan yang terdampak. Adapun rinciannya sebanyak 746 penerbangan domestik, 272 penerbangan internasional, dan 21 penerbangan. Jumlah penumpang yang terdampak tak kurang 166.351 penumpang.
Adapun rute terdampak terbanyak untuk penerbangan domestik adalah dari dan menuju Makassar. Sedangkan rute penerbangan terdampak terbanyak untuk internasional adalah dari dan menuju Singapura.

Dalam keterangan persnya, Minggu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyebutkan, pihaknya melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara terus melakukan pemantauan dan koordinasi intensif bersama operator penerbangan, pengelola bandara, layanan navigasi penerbangan, BMKG, serta pihak terkait lainnya terhadap dampak aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap operasional penerbangan.
Ia menegaskan bahwa hak-hak penumpang yang terdampak akibat penutupan sementara bandara tetap harus dipenuhi oleh maskapai sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Maskapai wajib memberikan pelayanan dan penanganan kepada penumpang terdampak, termasuk informasi mengenai perubahan status penerbangan serta pilihan penanganan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
"Guna menghindari penumpukan penumpang, pemerintah mengimbau masyarakat atau calon penumpang yang akan melakukan perjalanan melalui bandar udara terdampak untuk tidak datang ke bandara selama periode penutupan dan senantiasa memantau informasi terbaru dari maskapai terkait status penerbangannya," ujarnya.
Aspek keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional. Penyesuaian dan pemulihan operasional penerbangan akan terus dilakukan secara dinamis berdasarkan perkembangan kondisi abu vulkanik dan hasil koordinasi dengan BMKG serta pihak terkait.
Corporate Secretary Group Head InJourney Airports Arie Ahsanurrohim mengatakan penyampaian informasi secara berkala dan pelayanan kepada penumpang terdampak menjadi prioritas InJourney Airports, untuk memastikan penumpang mendapat asistensi yang diperlukan dari bandara.
Pihak maskapai penerbangan juga membuka layanan di setiap terminal di Bandara Soekarno-Hatta terkait kondisi ini.
“Kami juga mengimbau agar calon penumpang pesawat memantau informasi terbaru dari maskapai mengenai status penerbangan dan opsi yang tersedia,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (6/9/2026).

Prosedur Service Recovery Action (SRA) telah diaktifkan InJourney Airports di bandara untuk penanganan terhadap penumpang terdampak. Di Bandara Soekarno-Hatta, termasuk dalam SRA ini adalah penyediaan makanan dan minuman ringan bagi penumpang pesawat terdampak, bus untuk mengantar penumpang terdampak menuju hotel melalui koordinasi dengan maskapai penerbangan, dan penyiapan beberapa area khusus di terminal bagi penumpang terdampak.
Seluruh personil dan fasilitas bandara InJourney Airports juga disiagakan sebagai lokasi alternate serta parkir pesawat untuk mendukung operasional maskapai.
Menyikapi kondisi ini, dalam siaran persnya, Minggu, Garuda Indonesia melakukan penyesuaian operasional penerbangan menyusul penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta hingga pukul 13.30 WIB dan Bandara Radin Inten II, Lampung, hingga pukul 14.00 WIB pada Minggu (6/9/2026).
Dengan demikian, penerbangan Garuda Indonesia dari dan menuju kedua bandara yang terjadwal selama periode penutupan tersebut tidak dapat dioperasikan. Sehubungan dengan kondisi tersebut, Garuda Indonesia mengimbau seluruh penumpang yang memiliki tiket penerbangan hari ini, khususnya dari dan menuju Jakarta serta Lampung, untuk memeriksa status penerbangan secara berkala sebelum berangkat menuju bandara.
Penutupan bandara ditetapkan melalui pembaruan Notice to Airmen (NOTAM) sebagai langkah antisipatif terhadap sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang berpotensi memengaruhi ruang udara dan jalur penerbangan.
Keputusan tersebut mengacu pada hasil pemantauan perkembangan sebaran abu vulkanik serta koordinasi bersama otoritas penerbangan, pengelola bandara, AirNav Indonesia, dan instansi terkait lainnya. Keselamatan penumpang dan awak pesawat senantiasa menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional Garuda Indonesia.

Penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta berdampak pada sejumlah penerbangan domestik dan internasional Garuda Indonesia yang menghubungkan Jakarta, di antaranya dengan Denpasar, Palembang, Pekanbaru, Yogyakarta, Banjarmasin, Palu, Manado, Gorontalo, Ternate, Singapura, serta sejumlah destinasi lainnya.
Sementara itu, penutupan Bandara Radin Inten II turut memengaruhi operasional penerbangan Garuda Indonesia dari dan menuju Lampung.
Penanganan terhadap penerbangan terdampak dilakukan melalui pembatalan, penundaan, maupun pengalihan penerbangan dengan mempertimbangkan waktu keberangkatan, posisi pesawat, kondisi jalur penerbangan, serta hasil koordinasi dengan otoritas terkait.
Operasional penerbangan akan kembali dilayani secara bertahap setelah masing-masing bandara dinyatakan dapat beroperasi oleh otoritas terkait dan seluruh persyaratan keselamatan terpenuhi. Proses pemulihan operasional juga akan mempertimbangkan kesiapan pesawat dan awak, posisi armada, serta penataan kembali rotasi penerbangan.
Garuda Indonesia memahami bahwa kondisi ini dapat memengaruhi rencana perjalanan penumpang. Bagi penumpang terdampak, Garuda Indonesia menyediakan opsi perubahan jadwal perjalanan maupun pengembalian dana sesuai ketentuan yang berlaku. Dukungan layanan lainnya juga akan diberikan dengan mempertimbangkan kondisi dan durasi penundaan masing-masing penerbangan.
Garuda Indonesia terus memantau perkembangan situasi dan mengkaji langkah mitigasi operasional yang diperlukan, termasuk kemungkinan penyesuaian maupun pengalihan rute penerbangan. Koordinasi bersama seluruh pemangku kepentingan terus dilakukan agar informasi terkini dan opsi penanganan perjalanan dapat disampaikan kepada penumpang secara cepat dan akurat. Berkenaan dengan dinamika operasional ini, Garuda Indonesia menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi kepada seluruh penumpang yang terdampak.

TransNusa Airlines terus melakukan pemantauan dan penyesuaian operasional dengan mengutamakan keselamatan dan keamanan penerbangan. TransNusa memahami bahwa penyesuaian operasional ini dapat memengaruhi rencana perjalanan penumpang.
TransNusa terus memantau perkembangan situasi serta berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, AirNav Indonesia, BMKG, dan VAAC Darwin.
Setiap keputusan terkait operasional penerbangan, termasuk penundaan, pembatalan, maupun pengalihan rute, dilakukan berdasarkan kondisi terkini, informasi dari otoritas terkait, serta regulasi keselamatan penerbangan yang berlaku.
Pada 6 September 2026, sejumlah penerbangan Transnusa dari dan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) serta Bandara Internasional Radin Inten II (TKG) mengalami penyesuaian operasional, termasuk penundaan dan pengalihan rute.
Penyesuaian tersebut dilakukan sebagai langkah antisipatif untuk menghindari area yang berpotensi terdampak sebaran abu vulkanik, dengan mengacu pada NOTAM serta informasi dan arahan dari otoritas penerbangan terkait.

Bagi penumpang yang terdampak, pihaknya akan melakukan penjadwalan ulang, berupa perubahan jadwal penerbangan ke tanggal lain tanpa biaya tambahan sesuai ketentuan. Selain itu, pihaknya juga menganjurkan pengalihan rute, melalui bandara alternatif yang masih beroperasi normal apabila
memungkinkan.
Pihaknya juga melakukan pengembalian dana, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tak hanya itu, pihaknya akan memberikan layanan bagi penumpang berupa makanan, minuman, dan akomodasi bagi penumpang yang memenuhi ketentuan akibat keterlambatan penerbangan.
Pengamat Penerbangan Arista Atmadjati mengatakan penutupan sementara operasional penerbangan saat terjadi erupsi gunung api merupakan langkah penting untuk menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat.
Abu vulkanik yang masuk ke jalur penerbangan bukan sekadar debu biasa, melainkan dapat mengandung partikel silika yang berbahaya bagi mesin dan berbagai sistem pesawat. Karena itu, ketika sebaran abu terdeteksi di ruang udara atau sekitar bandara, otoritas penerbangan perlu mengambil langkah pencegahan dengan menghentikan sementara aktivitas penerbangan.
“Abu vulkanik dapat masuk ke mesin pesawat dan meleleh akibat suhu tinggi, kemudian menempel pada komponen mesin serta menghambat aliran udara. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan mesin kehilangan tenaga hingga mengalami kegagalan. Selain itu, abu dapat mengganggu instrumen penerbangan, menyumbat sensor kecepatan, mengurangi jarak pandang pilot, serta mengikis permukaan pesawat. Risiko ini membuat penerbangan di wilayah yang terdampak abu vulkanik harus dihindari sampai kondisi dinyatakan aman,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (6/9/2026)
Atas pertimbangan tersebut, penutupan bandara dan penghentian sementara penerbangan bukan semata-mata untuk menghindari gangguan operasional, tetapi merupakan bagian dari prosedur keselamatan penerbangan.
Plt. Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Andri Ramdhani mengungkapkan, Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta Tangerang bergerak cepat dengan menerbitkan Significant Meteorological Information (SIGMET, adalah peringatan dini untuk cuaca penerbangan) pertama sesaat setelah erupsi awal pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB. Hingga saat ini, BMKG telah menerbitkan sebanyak 18 SIGMET secara berkala guna menjamin keselamatan navigasi udara.
“Pembaruan SIGMET terkini mencatat sebaran debu bergerak hingga ketinggian 20.000 kaki ke arah timur serta ketinggian 50.000 kaki ke arah barat,” kata Andri, Minggu (6/9).
Lebih lanjut, Andri menjelaskan bahwa abu vulkanik pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan, mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya. Sementara pada ketinggian hingga 50.000 kaki, abu bergerak ke arah barat daya hingga barat laut mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia.

Terkait hal ini, berdasarkan Notice to Airmen (NOTAM adalah pemberitahuan resmi penting mengenai penerbangan) yang diterbitkan Perum LPPNPI/Airnav pada 6 September, terdapat penutupan sementara operasional Bandar Udara Soekarno-Hatta, Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Bandar Udara Radin Inten II, dan Bandar Udara Budiarto pada waktu yang berbeda. Kondisi operasional penerbangan dapat berubah mengikuti perkembangan sebaran abu vulkanik dan informasi keselamatan penerbangan.
Langkah penutupan sementara bandar udara akibat sebaran abu vulkanik GAK merupakan hasil kolaborasi dan keputusan bersama seluruh stakeholders penerbangan nasional.
Keputusan strategis ini diambil oleh Otoritas Bandar Udara melalui koordinasi intensif bersama BMKG, Perum LPPNPI (AirNav Indonesia), serta para pengelola bandar udara yang mencakup Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU), InJourney, otoritas setempat, dan TNI. Sinergi lintas sektor ini dilakukan untuk memastikan bahwa setiap kebijakan darurat yang diambil menempatkan keselamatan operasional penerbangan sebagai prioritas utama.
Guna menyampaikan kebijakan operasional tersebut secara cepat dan akurat Perum LPPNPI mempublikasikan NOTAM sebagai pemberitahuan resmi yang bersifat mendesak mengenai perubahan kondisi operasional atau potensi bahaya penerbangan.
Penerbitan NOTAM ini melengkapi peringatan dini Volcanic Ash Advisory dan SIGMET yang dirilis secara berkala oleh BMKG, sehingga para pemangku kepentingan penerbangan dapat merespons perubahan situasi cuaca dan ruang udara secara terukur serta terkoordinasi.
Wakil Ketua PHRI Bali Rai Suryawijaya mengatakan Erupsi Gunung Anak Krakatau turut memberikan dampak terhadap mobilitas para pebisnis yang memiliki agenda perjalanan menuju Jakarta.
Sebaran abu vulkanik menyebabkan operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat dihentikan sementara, sehingga sejumlah penerbangan mengalami pembatalan, penundaan, penjadwalan ulang, maupun pengalihan.
“Gangguan penerbangan tersebut berpotensi mempengaruhi aktivitas bisnis, terutama bagi pelaku usaha dan profesional yang memiliki agenda pertemuan, konferensi, maupun kegiatan kerja di ibu kota,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (6/9/2026)
Penumpang dengan perjalanan menuju Jakarta harus menyesuaikan jadwal dan mengantisipasi perubahan rute karena kondisi abu vulkanik dapat mempengaruhi keselamatan penerbangan. Sejumlah penerbangan dari dan menuju Jakarta, termasuk rute internasional, tercatat mengalami pembatalan dan penyesuaian operasional.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat di wilayah terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau untuk membatasi aktivitas di luar rumah. Imbauan tersebut disampaikan menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau yang berstatus Siaga (Level III) dan berlangsung terus-menerus sejak Jumat (4/9/2026).
Paparan abu vulkanik terdeteksi menyebar ke wilayah Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat akibat embusan angin. Ia menjelaskan, intensitas abu vulkanik yang tinggi berisiko memicu gangguan kesehatan akut, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, dan gangguan pada kulit.
Kelompok anak-anak, lanjut usia, serta penderita penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak paparan abu vulkanik.
"Kalau tidak ada kegiatan mendesak, usahakan tetap di dalam rumah. Namun, jika harus keluar, pastikan selalu menggunakan masker dan kacamata," ujar Menkes Budi dalam konferensi pers Situasi dan Kondisi Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau secara daring, Minggu (6/9/2026).
Menkes Budi juga memberikan instruksi terkait penanganan awal apabila warga terpapar abu vulkanik, terutama pada area sensitif seperti mata dan kulit.
“Kalau debu sudah masuk ke mata, jangan dikucek. Bersihkan dengan air dan bila perlu gunakan obat tetes mata. Semua puskesmas sudah kita siapkan untuk menangani kondisi tersebut,” tegas Budi.

Ia juga menyarankan warga segera membersihkan tubuh dan pakaian setelah beraktivitas di luar rumah karena partikel abu vulkanik bersifat tajam.
Budi meminta masyarakat hanya merujuk pada informasi resmi pemerintah dan tidak mudah terpancing oleh isu yang belum terverifikasi.
“Sekali lagi, jangan panik. Tetap di rumah apabila tidak ada keperluan untuk keluar, gunakan masker dan lindungi mata. Jika mengalami keluhan, segera datang ke puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” ujar Budi.