Dari Wartel ke Smartphone: Bagaimana Teknologi Mengubah Monopoli Alamiah

Artikel ini merupakan opini dari Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) dan Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) Mohamad Ikhsan

Dari Wartel ke Smartphone: Bagaimana Teknologi Mengubah Monopoli Alamiah
Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Mohamad Ikhsan (Foto: AI/ SUAR)
Daftar Isi

Generasi muda mungkin sulit membayangkan bahwa dahulu menelepon keluarga dari luar kota bukanlah perkara mudah. Kita harus mencari wartel, mengantre, menghitung menit percakapan sambil melirik argometer yang terus berputar—dan berdoa agar sambungannya tidak terputus di tengah kalimat penting.

Pada masa itu, telepon adalah contoh klasik dari monopoli alamiah (natural monopoly). Mengapa? Karena biaya membangun jaringan kabel telepon luar biasa mahal. Masuk akal jika hanya ada satu perusahaan yang membangunnya; menduplikasi jutaan kilometer kabel hanya akan memboroskan sumber daya. Karena itu, hampir semua negara—termasuk Indonesia—menyerahkan layanan telepon kepada satu perusahaan monopoli yang diatur pemerintah.

Natural monopoly.  Sebuah pasar disebut monopoli alamiah bila biaya tetapnya sangat besar dan biaya rata-rata terus menurun seiring bertambahnya pelanggan (skala ekonomi). Dalam kondisi ini, satu penyedia lebih murah daripada banyak penyedia—sehingga negara biasanya memberikan hak eksklusif, tetapi mengatur tarifnya. Kuncinya: syarat ini melekat pada teknologi, bukan pada barangnya.

Namun kemudian datang telepon seluler—dan seluruh logika itu mulai runtuh.

Ketika Teknologi Menghapus Monopoli

Telepon seluler tidak sekadar mengganti kabel dengan sinyal radio. Ia mengubah struktur biaya seluruh industri. Membangun jaringan memang tetap mahal, tetapi jauh lebih efisien daripada menarik kabel ke setiap rumah. Yang lebih penting, beberapa operator kini bisa berbagi spektrum dan bersaing dalam cakupan, harga, dan kualitas.

Monopoli alamiah pun melemah. Persaingan menjadi mungkin. Di Indonesia, pergeseran ini dikukuhkan oleh Undang-Undang Telekomunikasi No. 36 Tahun 1999, yang mengakhiri era monopoli-duopoli dan membuka pintu bagi banyak operator seluler. Dari satu pemain yang diatur ketat, pasar berubah menjadi arena yang ramai dan kompetitif.

Inilah pelajaran ekonomi yang penting: monopoli alamiah bukanlah hukum alam. Ia adalah konsekuensi dari teknologi yang berlaku pada suatu masa. Ketika teknologi berubah, struktur pasar ikut berubah.

Contestable markets (Baumol, 1982).  Yang mendisiplinkan pasar bukan hanya jumlah pemain, melainkan kemudahan pemain baru masuk. Begitu teknologi menurunkan biaya masuk, ancaman pendatang baru saja sudah cukup memaksa petahana bersaing dalam harga dan mutu—meski secara formal pasarnya belum ramai.

Wartel Menghilang karena Nilainya Berubah

Wartel tidak kalah karena pelayanannya buruk. Wartel kalah karena fungsi ekonominya hilang. Dulu wartel menjual akses komunikasi; kini hampir setiap orang membawa akses itu di dalam kantongnya. Nilai ekonominya berpindah—dari sebuah gerai bersekat ke sebuah benda dalam genggaman.

Angkanya menggambarkan keruntuhan yang nyaris tanpa suara. Wartel pertama berdiri di Kuta, Bali, pada 1982, lalu menyebar ke seluruh negeri sebagai penyambung lidah jutaan orang. Namun jumlah sambungan wartel anjlok dari sekitar 282.400 pada 2010 menjadi hanya 816 pada 2014, dan praktis nol pada 2015. Pada saat yang sama, jumlah langganan seluler di Indonesia justru meledak hingga sekitar 352 juta pada 2023—melampaui jumlah penduduknya yang sekitar 277 juta. Dengan kata lain, rata-rata orang Indonesia kini memegang lebih dari satu nomor. Akses komunikasi berubah dari barang langka yang diantre menjadi barang sehari-hari yang berlimpah.

Merupakan materi penulis

Smartphone Mengubah Definisi Telepon

Perubahan berikutnya bahkan lebih radikal. Smartphone bukan sekadar alat menelepon. Ia sekaligus menjadi kamera, bank, televisi, kantor, dompet, peta, perpustakaan—dan kini bahkan asisten berbasis AI.

Yang kita beli bukan lagi layanan telepon. Yang kita beli adalah sebuah platform digital. Ironisnya, fungsi menelepon justru menjadi bagian terkecil dibanding fungsi-fungsi lainnya—sebagian orang bahkan hampir tak pernah lagi melakukan panggilan suara.

Ekonomi platform.  Nilai sebuah platform tumbuh dari banyaknya sisi yang dipertemukannya—pengguna, pengembang aplikasi, pedagang, pengiklan—dan menguat lewat efek jaringan. Operator telepon menjual satu layanan; platform menjual sebuah ekosistem. Di sinilah nilai berpindah untuk kesekian kalinya: dari jaringan ke ekosistem.
Pengunjung mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari layar gawai di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (7/8/2026). (Foto: Humas)

Beasiswa yang Menguap ke Sambungan Internasional

Izinkan saya menyisipkan sebuah kenangan pribadi. Ketika menjadi mahasiswa pascasarjana—mula-mula di Nashville, lalu di Urbana-Champaign—sebagian besar uang beasiswa saya justru menguap ke sambungan telepon internasional: menelepon kekasih dan keluarga di Indonesia. Satu panggilan beberapa menit bisa berarti beberapa dolar. Menelepon rumah adalah sebuah kemewahan yang harus dianggarkan, bukan kebiasaan yang bisa dinikmati sesuka hati.

Hari ini pengeluaran itu nyaris lenyap sama sekali. Dengan panggilan video WhatsApp, saya bisa berbicara berjam-jam lintas benua tanpa sekali pun memikirkan argometer. Yang berubah bukan keinginan untuk terhubung—hasrat itu abadi. Yang berubah adalah teknologinya: dari satelit yang dahulu mengangkut suara melintasi samudra, ke kabel serat optik bawah laut, hingga internet yang menjadikan biaya marjinal sebuah panggilan hampir nol.

Marginal cost & over-the-top.  Selama biaya sebuah panggilan ditentukan oleh jarak dan menit, operator bisa memasang tarif tinggi. Begitu suara berubah menjadi paket data yang mengalir lewat internet (layanan over-the-top seperti WhatsApp), biaya marjinal satu panggilan jatuh mendekati nol—dan model bisnis “menjual menit” pun runtuh, persis seperti wartel.
Warga menunjukkan Surat Izin Mengemudi (SIM) digital melalui gawainya di kawasan Pancoran, Jakarta, Kamis (23/7/2026). (Foto: Humas)

Difusi Teknologi: Ketika Harga Sebuah Saluran Runtuh

Ada satu lapisan lagi di balik cerita ini yang jarang terlihat: sisi perangkatnya. Selama bertahun-tahun, teknologi sentral telepon (switching) dikuasai segelintir raksasa Barat—kita, praktis, memonopolinya. Lalu Jepang dan Korea masuk dengan nama-nama seperti NEC, Fujitsu, dan Samsung, mengikis dominasi itu. Kemudian datang China, lewat Huawei dan ZTE, yang menekan harga sampai titik yang dahulu tak terbayangkan.

Dari catatan yang saya ingat, harga per saluran (per line) sentral telepon runtuh dari sekitar seribu dolar menjadi hanya sekitar lima puluh dolar—penurunan hampir dua puluh kali lipat. Ketika biaya membangun jaringan anjlok sedrastis itu, seluruh premis monopoli alamiah—bahwa jaringan terlalu mahal untuk diduplikasi—ikut runtuh. Persaingan bukan lagi sekadar mungkin; ia menjadi tak terhindarkan.

Difusi teknologi & kurva pembelajaran.  Setiap kali kapasitas produksi kumulatif berlipat, biaya per unit turun secara sistematis (experience curve). Ketika manufaktur menyebar dari Barat ke Asia Timur lalu ke China, skala dan persaingan mendorong harga menuruni kurva itu dengan cepat—mengubah barang mahal menjadi komoditas murah, dan menyebarkan akses ke miliaran orang baru.

Pelajaran bagi Regulasi

Perubahan ini memberi pelajaran penting bagi pembuat kebijakan. Regulasi kerap dibangun berdasarkan struktur pasar hari ini, padahal teknologi bisa mengubah struktur itu dalam waktu sangat singkat. Karena itu, regulator semestinya tidak hanya bertanya “Siapa yang menguasai pangsa pasar terbesar?”, tetapi juga “Apakah teknologi baru akan mengubah sifat industrinya?”

Banyak industri yang dahulu dianggap monopoli alamiah kini menghadapi bentuk persaingan yang sama sekali baru:

Industri

Dulu (monopoli/oligopoli alamiah)

Teknologi pengubah → kini

Telepon

Satu jaringan kabel nasional

Seluler & satelit → banyak operator bersaing

Pos & telegram

Jaringan fisik tunggal

Internet & surel → nyaris gratis

Media & siaran

Spektrum dan lisensi terbatas

Streaming → kanal tak terbatas

Pembayaran

Jaringan antarbank

Dompet digital & QRIS → banyak pemain

Pola yang sama berulang: begitu teknologi menurunkan biaya dan meruntuhkan hambatan masuk, benteng yang tampak kokoh berubah menjadi pasar terbuka.

Creative Destruction Tidak Pernah Berhenti

Dari wartel menuju smartphone, kita belajar bahwa teknologi bukan hanya menciptakan produk baru. Teknologi mengubah struktur biaya, struktur pasar, bahkan konsep monopoli itu sendiri. Apa yang dahulu tampak sebagai monopoli alamiah bisa berubah menjadi pasar yang kompetitif.

Dan mungkin pelajaran yang paling penting adalah ini: dalam ekonomi, tidak ada model bisnis yang abadi, tidak ada teknologi yang permanen, dan tidak ada monopoli yang kebal terhadap inovasi. Creative destruction terus bekerja, memindahkan nilai dari mereka yang bertahan pada masa lalu kepada mereka yang mampu membaca masa depan.

Sejarah wartel bukan sekadar nostalgia. Ia adalah pengingat bahwa dalam ekonomi, keunggulan terbesar bukanlah ukuran perusahaan, melainkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan teknologi.

Penumpang memindai kode QR untuk membayar tiket bus Trans Jateng di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (14/8/2026). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/kye)

Creative Destruction yang Diterima Tanpa Perlawanan

Ada satu hal yang luar biasa, tetapi mudah luput diperhatikan, dari ketiga kisah dalam seri ini. Tidak ada satu pun demonstrasi menolaknya. Tidak ada pemilik wartel yang turun ke jalan, tidak ada penjaga toko DVD atau pegawai penyewaan film yang berunjuk rasa menuntut agar teknologinya dihentikan. Mereka kehilangan pekerjaan dan usaha—namun menerima perubahan itu nyaris tanpa perlawanan.

Ini sesungguhnya tidak biasa. Sejarah penuh dengan penolakan terhadap creative destruction: kaum Luddite menghancurkan mesin tenun pada awal abad ke-19, dan—jauh lebih dekat dengan kita—para sopir taksi berdemonstrasi, kadang hingga ricuh, menolak aplikasi transportasi daring di Jakarta pada 2016. Mengapa gelombang yang satu dilawan keras, sementara gelombang wartel dan DVD diterima begitu saja?

Jawabannya terletak pada siapa yang menanggung biaya dan siapa yang menikmati manfaatnya. Dalam kisah wartel, yang kalah ternyata juga termasuk yang paling diuntungkan: pemilik wartel yang sama kini menggenggam smartphone dan menelepon keluarganya nyaris gratis. Kerugiannya menyebar tipis pada ribuan pelaku kecil, bukan menumpuk pada satu pabrik besar dengan satu “musuh” yang jelas untuk didemo. Dan adaptasinya mudah—banyak kios wartel cukup berganti wujud menjadi konter pulsa dan paket data, justru menumpang gelombang yang menggeser mereka.

Biaya terpusat vs manfaat menyebar (Olson)Biasanya creative destruction ditolak karena kerugiannya terpusat pada sedikit orang yang mudah berorganisasi, sedangkan manfaatnya menyebar tipis pada banyak orang yang diam. Di sini polanya larut: para “pihak yang kalah” sekaligus menjadi pemenang sebagai konsumen, dan transisinya menawarkan anak tangga baru untuk dipanjat. Perlawanan pun kehilangan bahan bakarnya.

Ada pelajaran halus di sini bagi pembuat kebijakan: perubahan teknologi paling mulus diterima ketika mereka yang tergeser bisa dengan cepat menemukan tempat baru dalam tatanan yang baru. Tugas kebijakan bukanlah membendung gelombang, melainkan memperlancar perpindahan—memastikan pintu menuju babak berikutnya terbuka bagi mereka yang datang dari babak sebelumnya.

Dengan catatan ini, lengkaplah sebuah trilogi. Tiga pasar yang berbeda, tiga teknologi yang berbeda, tetapi satu hukum ekonomi yang sama—setiap kali biaya memperoleh sesuatu jatuh mendekati nol, nilai tidak lenyap; ia berpindah ke lapisan yang lebih tinggi.

Bagian 1 — Toko Buku.  Informasi menjadi gratis; perhatian menjadi berharga.

Bagian 2 — Netflix.  Kepemilikan menjadi tak perlu; akses menjadi berharga.

Bagian 3 — Wartel.  Monopoli alamiah runtuh; kemampuan beradaptasi menjadi keunggulan.

Dan kini sebuah gelombang baru datang: kecerdasan buatan. Bila pola tiga babak ini benar, AI akan melakukan hal yang sama terhadap “monopoli” hari ini—data, platform, bahkan keahlian profesional. Konten menjadi berlimpah; yang akan menjadi langka, dan karenanya berharga, adalah penilaian (judgment), makna, dan kebijaksanaan. Itulah babak keempat yang sedang kita tulis bersama—dan, seperti tiga babak sebelumnya, pemenangnya bukan yang paling besar, melainkan yang paling sigap membaca ke mana nilai berpindah.

“Tidak ada monopoli yang kebal terhadap inovasi—yang abadi hanyalah perpindahan nilai itu sendiri.”

Sumber data

—  Keruntuhan sambungan wartel (±282.400 pada 2010 → 816 pada 2014 → nol pada 2015) — data Kementerian Kominfo, dikutip MerahPutih; sejarah wartel (Kuta, 1982) — Wikipedia/RRI/Kompas.

—  Langganan seluler Indonesia ±352 juta (2023), melampaui populasi — World Bank, dikutip Trading Economics.

—  Liberalisasi telekomunikasi Indonesia — UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi.

—  Teori contestable markets — William Baumol, Panzar & Willig (1982), Contestable Markets and the Theory of Industry Structure.

—  Difusi manufaktur telekomunikasi & keunggulan harga China (Huawei/ZTE) — Institute of Developing Economies (IDE-JETRO); Britannica, “Huawei”. Angka $1.000→$50 per saluran: ilustrasi/ingatan penulis, searah dengan pola penurunan harga terdokumentasi.

—  Creative destruction — Joseph A. Schumpeter (1942), Capitalism, Socialism and Democracy.

Opini ini sepenuhnya merupakan pandangan penulis. Bila Anda tertarik untuk menjadi kontributor opini, silakan mendaftarkan diri Anda dengan kirim email ke [email protected]

Author

Mohamad Ikhsan
Mohamad Ikhsan

Guru Besar Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) dan Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi Masyarakat (LPEM) UI

Baca selengkapnya