Biomaterial Kelapa Sawit buat Industri Pertahanan hingga Konstruksi

Limbah tanaman kelapa sawit mulai dikembangkan jadi bahan baku industri pertahanan hingga bahan bangunan. Kolaborasi penelitian dan sektor industri.

Biomaterial Kelapa Sawit buat Industri Pertahanan hingga Konstruksi
Petani melakukan aktivitas bongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit hasil panen miliknya di Desa Cot Darat, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Jumat (17/7/2026). ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Daftar Isi

Limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) ternyata bisa dimanfaatkan sebagai biomaterial untuk berbagai industri strategis nasional. Jika selama ini limbah sawit lebih banyak dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau bahan bakar biomassa, kini hasil riset di berbagai lembaga menunjukkan TKKS dapat diolah menjadi bahan baku industri pertahanan hingga material konstruksi.

Perkembangan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas hilirisasi kelapa sawit, sekaligus meningkatkan nilai tambah salah satu komoditas unggulan Indonesia itu.

Tandan kosong bahan pendorong amunisi

Salah satu pemanfaatan paling strategis ini tengah dikembangkan PT Pindad (Persero). Perusahaan sektor pertahanan ini sedang mengembangkan teknologi pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku nitroselulosa, komponen utama propelan atau bahan pendorong amunisi yang selama ini masih bergantung pada pasokan luar negeri.

Direktur Technology and Development PT Pindad, Prima Kharisma mengatakan, pengembangan tersebut merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan selama sekitar lima tahun.

Senjata laras panjang produksi PT Pindad (Dok. PT Pindad)

Setelah melalui berbagai tahapan riset, proyek mulai memasuki pembangunan fasilitas produksi skala menengah, dengan kapasitas sekitar 50 ton per tahun yang didukung pendanaan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).

"Kami berusaha memanfaatkan bahan alam yang ada di Indonesia. Salah satunya tandan kosong kelapa sawit yang selama ini belum memiliki nilai tambah tinggi untuk menggantikan bahan baku impor," ucap Prima dalam Pekan Riset Sawit 2026 di Hotel Borobudur Jakarta, Senin (20/7/2026).

Menurut dia, industri propelan dunia hingga kini masih mengandalkan kapas (cotton linter) dan pulp kayu sebagai sumber selulosa dalam produksi nitroselulosa. Ketergantungan terhadap bahan baku tersebut membuat rantai pasok global menjadi rentan terganggu, ketika terjadi konflik geopolitik maupun pembatasan perdagangan internasional.

Baca juga:

Industri Sawit Cari Peluang Pasar Ekspor Baru ke 3 Negara Afrika
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) sedang menjajaki pasar ekspor ke 3 negara Afrika yaitu Tanzania, Kenya dan Namibia.

Situasi tersebut semakin terasa dalam beberapa tahun terakhir. Prima menjelaskan, sebelum perang Rusia-Ukraina pecah, harga propelan berada pada kisaran US$19-20 per kilogram. Setelah konflik berlangsung, harga melonjak menjadi sekitar US$40-50 per kilogram.

Kenaikan kembali terjadi ketika konflik di Gaza memanas sehingga harga meningkat menjadi sekitar US$70-80 per kilogram. Seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, harga propelan bahkan kini telah menembus lebih dari US$100 hingga US$140 per kilogram.

Selain lonjakan harga, proses pengadaan bahan baku juga semakin sulit. Indonesia harus menunggu hingga empat sampai lima tahun untuk memperoleh pasokan propelan, karena jumlah produsen dunia yang mampu memasok kebutuhan ekspor sangat terbatas.

Mencari sumber bahan baku alternatif

Kondisi tersebut mendorong Pindad mencari sumber bahan baku alternatif dari dalam negeri. Sejumlah tanaman berserat seperti rami, gambas, hingga tandan kosong kelapa sawit diuji sebagai pengganti bahan baku impor.

Dari berbagai alternatif tersebut, TKKS dinilai memiliki prospek paling besar karena Indonesia merupakan salah satu produsen minyak sawit terbesar di dunia, yang menghasilkan limbah tandan kosong dalam jumlah melimpah setiap tahun.

Prima menjelaskan, kebutuhan bahan baku untuk memproduksi nitroselulosa ini sekitar 1.000 ton per tahun, dan diperkirakan hanya membutuhkan sekitar 2.500 ton hingga 3.000 ton TKKS.

"Jumlah tersebut masih sangat kecil dibandingkan volume limbah sawit yang dihasilkan industri pengolahan kelapa sawit nasional setiap tahunnya, sehingga pasokan bahan bakunya dinilai sangat mencukupi," imbuhnya.

Menurutnya, hasil riset skala pilot juga telah memenuhi standar militer yang dipersyaratkan sehingga pengembangan dapat dilanjutkan menuju tahap produksi. Pindad menargetkan fasilitas produksi propelan berbasis TKKS mulai beroperasi pada pertengahan hingga akhir 2027.

 Tandan kosong atau biasa disebut Tankos sawit ini bisa dimanfaatkan untuk aneka kebutuhan, mulai dari bahan baku kertas hingga energi, yakni menjadi arang briket (Dok. BPDB)

Tidak berhenti pada propelan, perusahaan plat merah itu juga tengah mengembangkan pemanfaatan TKKS sebagai bahan komposit tambahan (add-on armor) untuk kendaraan tempur. Material komposit tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan perlindungan kendaraan sekaligus memanfaatkan bahan baku lokal yang lebih mudah diperoleh.

Ke depan, Pindad berencana membangun beberapa fasilitas produksi propelan di sekitar sentra perkebunan kelapa sawit.

Langkah tersebut, kata Prima, diharapkan dapat memangkas biaya logistik, memperkuat rantai pasok domestik, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi limbah sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Bahan baku material bangunan

Potensi biomaterial sawit ternyata tidak hanya terbatas pada sektor pertahanan. Di sektor konstruksi, limbah TKKS juga mulai dikembangkan menjadi bahan baku material bangunan yang lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomi.

Peneliti Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), Ahmad, saat ini sedang mengembangkan plafon berbasis TKKS yang telah memperoleh paten, dan dinilai berpotensi menjadi alternatif material plafon dengan biaya produksi yang lebih kompetitif dibandingkan sejumlah produk yang telah beredar di pasaran.

Menurut Ahmad, penelitian tersebut berangkat dari melimpahnya limbah tandan kosong kelapa sawit di berbagai daerah sentra sawit, khususnya di Sulawesi Selatan, yang hingga kini sebagian besar belum dimanfaatkan secara optimal.

"Jadi terkait dengan riset pembuatan plafon ini didasari dari banyaknya limbah yang ada di pabrik-pabrik sawit," kata Ahmad dalam paparannya.

Acara pembukaan Pekan Riset Sawit Indonesia 2026 di Jakarta, Senin (20/7/2026). Acara tersebut merupakan upaya pemerintah dalam memperkuat ekosistem riset kelapa sawit agar hasil penelitian dapat diterapkan dari hulu hingga hilir dan memberikan manfaat bagi masyarakat. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Ia menjelaskan, sebagian TKKS memang telah dimanfaatkan sebagai pupuk organik maupun bahan bakar, namun jumlahnya masih relatif kecil dibandingkan total limbah yang dihasilkan industri sawit setiap tahun. "Bayangkan kalau kita lihat itu per tahunnya bisa sampai 25 juta ton," ujarnya.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim peneliti mengembangkan komposit berbasis serat TKKS yang dikombinasikan dengan serat glass dan polimer. Kombinasi tersebut dipilih untuk mengatasi karakter alami serat sawit yang mudah menyerap air sehingga menghasilkan material yang lebih kuat, ringan, dan tahan terhadap kelembapan.

Dalam proses produksinya, serat TKKS terlebih dahulu melalui tahapan perendaman, pencucian, dan pengeringan hingga kadar air berada di bawah lima persen. Material tersebut kemudian dicetak menggunakan metode press molding agar menghasilkan papan komposit dengan ketebalan yang seragam.

Lebih kuat, lebih murah

Selanjutnya, tim peneliti melakukan berbagai pengujian, mulai dari uji tarik, lentur, impak, hingga analisis struktur menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dan Energy Dispersive Spectroscopy (EDS). Material juga diuji melalui simulasi panas dan perendaman air, untuk mengetahui ketahanannya terhadap perubahan kondisi lingkungan.

"Hasil penelitian menunjukkan komposit berbasis TKKS memiliki performa mekanik yang lebih baik dibandingkan sejumlah material plafon pembanding. Analisis mikroskopis juga memperlihatkan ikatan antara serat dan resin terbentuk lebih homogen serta tetap stabil setelah melalui berbagai perlakuan," jelas Ahmad.

Selain unggul secara teknis, produk tersebut juga dinilai memiliki prospek ekonomi. Berdasarkan simulasi skala komersial, biaya produksi diperkirakan berada pada kisaran Rp1.900-Rp3.400 per kilogram. Dengan struktur biaya tersebut, plafon berbasis TKKS diperkirakan dapat diproduksi dengan biaya sekitar Rp9.500-Rp17.000 per lembar.

Beberapa sampel plafon berbasis TKKS yang sedang diteliti Ahmad (Politeknik Ujungpandang)

Sementara itu, harga jualnya diperkirakan berada pada kisaran Rp20.000-Rp30.000 per lembar. Menurut Ahmad, produk tersebut menawarkan sejumlah keunggulan, antara lain ringan, tahan rayap, lebih ramah lingkungan, serta memanfaatkan limbah kelapa sawit yang tersedia dalam jumlah melimpah.

Ia mengatakan, prototipe plafon telah berhasil dibuat dan patennya telah terdaftar. Ke depan, Ahmad berharap jika inovasi tersebut dapat dikembangkan di berbagai wilayah sentra kelapa sawit, sehingga mampu menciptakan industri material bangunan berbasis sumber daya lokal sekaligus meningkatkan nilai tambah limbah sawit.

Siapkan skema hilirisasi

Melihat semakin luasnya peluang pemanfaatan biomaterial sawit, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menyiapkan berbagai skema hilirisasi agar hasil penelitian, tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi berkembang menjadi produk yang dimanfaatkan industri.

Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Kemdiktisaintek, Yos Sunitiyoso mengatakan, hilirisasi menjadi salah satu fokus pemerintah untuk memperkuat kontribusi riset terhadap pembangunan nasional, termasuk di sektor kelapa sawit.

"Kami mendorong supaya hasil-hasil penelitian tersebut tidak hanya menjadi sebuah publikasi, tetapi menjadi produk-produk yang bernilai tinggi, termasuk penelitian-penelitian yang terkait dengan kelapa sawit," tutur Yos.

Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek), Prof Yos Sunitiyoso ST MEng PhD. (Dok. Unair)

Menurut dia, kementerian menjalankan tiga pilar utama, yakni peningkatan talenta, penguatan penelitian, dan peningkatan hilirisasi. Untuk mendukung proses tersebut, pemerintah mengembangkan tiga skema hilirisasi, yakni Ajakan Industri, Dorongan Teknologi, dan Sinergis.

Melalui skema Ajakan Industri, kebutuhan teknologi berasal dari dunia usaha, kemudian pemerintah membuka pendanaan bagi peneliti yang mampu menawarkan solusi. Sementara Dorongan Teknologi difokuskan pada penilaian kesiapan komersialisasi suatu inovasi melalui kajian teknologi, pasar, dan investasi.

Adapun skema Sinergis mempertemukan peneliti dengan pelaku industri sejak awal pengembangan teknologi, sehingga proses hilirisasi dapat berlangsung lebih cepat. Pemerintah juga memfasilitasi pengembangan prototipe, pengujian produk, sertifikasi, serta penguatan perlindungan kekayaan intelektual.

Tantangannya saat masuk fase yang mematikan

Meski demikian, Yos mengakui hilirisasi masih menghadapi tantangan berupa valley of death, yakni fase ketika hasil penelitian kesulitan berkembang menjadi produk komersial akibat keterbatasan pembiayaan, kesiapan teknologi, maupun model bisnis.

Karena itu, menurut dia, kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, asosiasi, dan lembaga pembiayaan menjadi faktor penting agar inovasi dapat memasuki pasar.

Baca juga:

Minyak Sawit Indonesia Pasca Gejolak Perdagangan Global 2025
Di tengah ketegangan terkait tarif dagang di tahun 2025, dinamika perdagangan minyak sawit Indonesia ke Amerika Serikat dan Uni Eropa menunjukkan kemiripan. Di kedua pasar tersebut, volume ekspor minyak sawit Indonesia menurun, namun dari sisi nilai angkanya meningkat.

Ia menambahkan, hingga tingkat kesiapan teknologi atau Technology Readiness Level (TRL) 9, pemerintah masih dapat memberikan dukungan melalui berbagai program pendanaan dan pendampingan. Setelah itu, peran industri menjadi semakin dominan untuk membawa produk menuju tahap komersialisasi.

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kemdiktisaintek juga membuka berbagai skema pendanaan, termasuk melalui LPDP dan program Sinergis, yang dapat dimanfaatkan peneliti di bidang kelapa sawit. Sepanjang 2022 hingga 2025, pemerintah telah mendanai sekitar 3.600 proposal riset dengan melibatkan lebih dari 2.700 mitra industri melalui berbagai skema pendanaan, termasuk mekanisme matching fund.

Ke depan, pihaknya berharap dapat memperkuat sinergi dengan BPDP untuk mendukung pembangunan fasilitas mini plant maupun proyek percontohan yang membutuhkan investasi lebih besar. 

Penulis

Uswatun Hasanah
Uswatun Hasanah

Wartawan Pasar Modal

Baca selengkapnya