Demi mendorong terwujudnya swasembada pangan dan ketahanan energi, Pemerintah melalui BUMN di sektor perkebunan akan meningkatkan produktivitas sektor ini melalui beberapa program strategis.
Langkah ini menjadi fokus pembahasan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar oleh Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) bersama degnan PT Agrinas Palma Nusantara dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III di Kompleks Parlemen DPR RI, Jakarta Pusat, Senin (06/07/2026).

Pada kesempatan tersebut, Plt. Direktur Utama PTPN III Iswahyudi mengatakan, pihaknya telah mendapatkan penugasan dari pemerintah melalui tiga pilar strategi utama, yang bertujuan mendukung swasembada pangan dan ketahanan energi nasional.
Intensifikasi, ekstensifikasi dan hilirisasi
Strategi pertama adalah intensifikasi, di mana dilakukan pemupukan yang presisi, standarisasi panen, hingga optimalisasi pabrik untuk komoditas-komoditas strategis.
“Contohnya untuk kelapa sawit, kami punya aspirasi sejak tahun 2025 dan 5 tahun ke depan TBS sudah meningkat dari 20,63 ton per hektare, menjadi 21,5 ton per hektare. Rendemen juga aspirasi kami meningkat dari 23,27% menjadi 23,55%,” ucap Iswahyudi.
Sementara itu untuk komoditas tebu, dalam intensifikasi yang dilakukan hingga tahun 2030 mendatang, ditargetkan produktivitas yang cukup agresif yakni dari 66,6 ton per hektare menjadi 83,2 ton per hektare, dengan rendemen gula dari 6,19% menjadi 7,55%.
Di pilar ekstensifikasi, yang berarti perluasan area komoditas pangan dan energi, PTPN akan memanfaatkan lahan idle, bekerja sama dengan Perhutani serta alokasi lahan penugasan pemerintah sumber lainnya.
“Untuk komoditas eksisting, sawit kami akan menambah 270 ribu hektare sampai dengan tahun 2030, kemudian tebu kami akan menambah 500 ribu hektare untuk mendukung aspirasi swasembada pangan maupun energi khususnya yang kaitan dengan gula dan bioetanol,” jelasnya.
Ada pula komoditas-komoditas penugasan baru yang diterima oleh PTPN Group, di antaranya singkong, jagung, kedelai, dan bawang putih. Untuk komoditas singkong, ditargetkan akan ada 104 ribu hektare yang dipergunakan untuk pangan dan juga energi, jagung 4,2 ribu hektare, kedelai 250 ribu hektare, dan bawang putih 24 ribu hektare.
Produk-produk yang dikelola oleh PTPN ini tidak hanya sekadar dimanfaatkan sebagai bahan mentah, tetapi melalui hilirisasi juga didorong menjadi produk-produk hilir yang bernilai tambah. Seperti sawit yang menjadi biodiesel, compressed biomethane gas, margarine, hingga cocoa butter equivalent.
Demi mendukung realisasi dari strategi dan program tersebut, PTPN membutuhkan modal sebesar Rp140 triliun dan pembangunan kurang lebih 71 fasilitas hilirisasi.
“Tentunya, karena kapasitas yang akan kita kembangkan baik lahan maupun pabrik sangat-sangat masif, membutuhkan dukungan baik dari aspek pendanaan maupun kesiapan secara organisasi yang sangat fundamental. Karena hitung-hitungan sementara kami untuk bisa merealisasikan ini di 5 tahun ke depan kami butuh capex kurang lebih sebesar Rp140 triliun,” ungkapnya.
Di tahun 2026 sendiri, seluruh target produksi yang berada dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) juga diproyeksikan meningkat dibandingkan realisasi pada tahun 2025.
“Kami bersama pemegang saham menetapkan target yang cukup tinggi dibandingkan realisasi tahun 2025, CPO total kami menargetkan 10% lebih tinggi dibandingkan realisasi, dalam hal ini kami menargetkan 2,8 juta ton di tahun 2026 ini,” ucap Iswahyudi.
Begitu juga dengan gula yang ditargetkan akan diproduksi sebesar 600 ribu ton, karet kering 144 ribu ton, dan teh kering 49 ribu ton. Produktivitas tanaman juga ditargetkan lebih tinggi, dengan CPO 5,3 ton per hekatre, gula 5,37 ton per hektare, karet 1,29 ton per hektare, dan teh 2,4 ton per hektare.
Sementara itu, Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani menjelaskan, pihaknya juga tengah berupaya untuk mempercepat penugasan dari pemerintah terkait swasembada pangan dan ketahanan energi.
Perluasan lahan, dongkrak jumlah bahan baku energi
PT Agrinas Palma Nusantara saat ini telah diamanahkan untuk mengelola perkebunan yang berada di kawasan hutan dengan luas 4,1 juta hektare, melalui 7 tahapan penyerahan. Tahap penyerahan yang sudah terverifikasi pun luasnya sebesar 1,7 juta hektare, di mana kebun sawitnya seluas 730 ribu hektare. Dengan penambahan luasan lahan yang dikelola ini, volume produksi PT Agrinas Palma Nusantara pun ditargetkan bertambah hingga tahun 2030 mendatang.
“Dalam rangka swasembada pangan dan energi, kami diberi tugas untuk memperluas kebun sawitnm 400 ribu hektare, kemudian kami juga mengembangkan tanaman kedelai 400 ribu hektare, singkong yang akan kita gunakan untuk etanol 300 ribu hektare, dan jagung 250 ribu hektare,” ucap Ghani.
Komoditas kelapa sawit itu pada tahun 2030 mendatang ditargetkan akan diproduksi untuk CPO sebesar 1,884 ribu ton, dan minyak goreng sebanyak 174 ribu ton. Selain itu, lahan untuk kedelai ditargetkan pada tahun 2030 akan seluas 400 ribu hektare guna memproduksi 1,200 ribu ton, singkong 300 ribu hektare untuk produksi 7,500 ribu ton, dan jagung 250 ribu hektare untuk 2,500 ribu ton.
“Kami juga akan mereaktivasi fasilitas produksi biodiesel di Rengat, Riau, 600 ribu hektare. Mudah-mudahan akhir tahun depan sudah bisa berproduksi karena ini sebenarnya reaktivasi saja, kemudian kami juga akan membangun pabrik yang mengolah singkong menjadi bioetanol pada tahun 2030 dengan kapasitas produksi 185 ribu kiloliter,” ungkapnya.
Pentingnya penelitian dan pengembangan
Komisi VI DPR RI pun menegaskan komitmennya dalam mengawal percepatan program swasembada pangan dan energi nasional melalui penguatan sektor perkebunan dan hilirisasi tersebut.

Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Nasim Khan menilai, hilirisasi ini perlu dilakukan dengan modernisasi. Modernisasi hilirisasi menurutnya perlu menjadi perhatian agar komoditas yang diproduksi oleh PTPN III maupun PT Agrinas Palma Nusantara ini tidak berhenti hanya sebagai bahan mentah saja, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk turunan yang memiliki nilai tambah tinggi dan tentunya bermanfaat untuk masyarakat.
“Ini sangat penting, apa yang kita pakai, apa yang kita makan, apa yang kita semua lakukan di Indonesia ini, hilirisasi dari bahan turunan baik dari kelapa sawit, gula, itu semua bisa digunakan oleh kita, sehingga bisa menekan impor kita,” ucap Nasim.
Demi mendorong percepatan hilirisasi, sejumlah upaya pun perlu dilakukan. Menurut Nasim, perlu adanya langkah konkret seperti studi yang matang hingga melibatkan para ahli dan peneliti guna mempercepat pengembangan produk turunan komoditas strategis nasional tersebut.
“Lakukan studi, ciptakan laboratorium, ambil ahli. Penelitian itu bisa dilakukan, di beberapa negara sudah dilakukan, bahkan pakaian yang kita pakai sekarang ini bisa kita lakukan dengan turunan dari kelapa sawit, minuman juga, termasuk bahan bakar semuanya,” sambungnya.
Anggota komisi lainnya dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Budi Sulistyono ikut mendorong PT Agrinas Palma Nusantara mengambil langkah nyata dalam mendukung dan mewujudkan swasembada pangan dan ketahanan energi nasional, khususnya melalui sektor kelapa sawit.
Menurutnya, langkah konkret perlu disusun agar target-target dari swasembada dan hilirisasi bisa diwujudkan.
“Tentang ketahanan energi, ini merupakan swasembada energi yang diidamkan oleh semua orang dan negara, di mana apabila ini sukses, maka energi terbarukan, hilirisasi, ini tercapai,” kata Budi.
Cita-cita menuju swasembada pangan dan energi melalui hilirisasi sawit ini tidak boleh berhenti pada tahap perencanaan saja, perlu dibarengi dengan langkah nyata demi memberikan manfaat dan hasil yang kemudian dirasakan oleh negara dan khususnya masyarakat.
“Tidak hanya sekadar bagaimana kita bermimpi saja, tapi ada action plan yang dilahirkan sehingga Agrinas Palma ini betul-betul melahirkan mimpi kita semua,” harapnya.