Dari Bensin Hingga Sirup, Terobosan Kelapa Sawit Mencari Panggung

Terobosan industri kelapa sawit kian diperhitungkan sebagai produk hilir yang menjanjikan. Dari bensin hingga sirup, inovasi membuktikan produktivitas sawit tidak berhenti pada produk pangan.

Dari Bensin Hingga Sirup, Terobosan Kelapa Sawit Mencari Panggung
Pengemudi mengisi bahan bakar Biosolar B50 di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/bay/kye
Daftar Isi

Carolus Borromeus Rasrendra memikul beban berat. Sebagai Pengajar Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung, ia dipercaya meneruskan usaha Prof. Dr. Subagjo meningkatkan skala produksi bensin berbahan dasar minyak kelapa sawit atau bensa. Inovatif, tetapi langkah menuju skala industri masih terganjal bagi eksperimen yang telah dirintis sejak 1982 itu.

Percobaan tersebut memiliki jejak keberhasilan yang cemerlang. Dari laboratorium, hasil perengkahan katalitik terhadap stearin minyak sawit telah terbukti menghasilkan kualitas bahan bakar dengan oktan setara RON 113. Namun, seperti kisah getir semua industri yang mencoba menerobos arus utama, upaya pionir itu tak pernah mencapai tahap komersial.

“Ketika berhasil menemukan katalis reaksi skala kecil, kami di perguruan tinggi umumnya sudah siap kalau riset ini terjebak di jurang kematian, berhenti di tengah jalan karena tidak ada mitra yang bisa mendorong kami naik ke level berikutnya, yaitu hilirisasi dan transisi komersial,” kisah Rasrendra.

Titik terang muncul pada 2016. Ketika itu, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) membuka program yang memungkinkan ITB mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kembali eksperimen ini. Tak hanya menyandang pendanaan, fasilitas BPDP juga mendorong tim Katalis Merah Putih untuk mengoptimalkan skema keekonomian dan memetakan potensi kelapa sawit lain selain menjadi bahan bakar.

Dalam langkah-langkah selanjutnya, riset Bensa mengalami kemajuan signifikan. Keluar dari laboratorium, bensin jenis drop in yang dapat dicampurkan bensin Nafta dengan komposisi 45:55 untuk menghasilkan bensin RON 90 itu kini telah mempersiapkan pembangunan kilang produksi.

Meski inovatif, Rasrendra mengakui perlu berstrategi agar tim Katalis Merah Putih tidak mengulang kesalahan masa lalu, ketika suplai kelapa sawit untuk bahan bakar berbenturan dengan kebutuhan untuk industri pangan. Salah satu strategi itu adalah membangun kilang bensa berkapasitas kecil dan terdistribusi ke daerah pelosok. 

“Bensa akan menyelesaikan persoalan di area yang tidak terjangkau BBM fosil. Ini adalah jalan tengah yang memungkinkan keekonomian tercapai dari aspek logistik sekaligus membantu ketahanan energi di daerah tersebut,” jelasnya.

Saat ini, selain minyak kelapa sawit segar, penelitian Tim Katalis Merah Putih juga tengah mendorong agar bensa memenuhi kriteria sirkularitas dengan mendorong konversi minyak jelantah menjadi bahan bakar nabati. Pengembangan teknologi mengubah impurity minyak jelantah dengan skala tepat dan daya tahan operasi yang lama itu juga dibantu BPDP. 

“Strategi kami bukan kilang besar, tetapi kilang kecil dan terdistribusi, dengan feedstock mini untuk kilang ini sehingga keekonomian tercapai. Jangan sampai untuk menciptakan bensin murah, justru feedstock menjadi mahal. Implementasi hilirisasi dan diversifikasi bahan baku itu yang kini menjadi fokus kami,” tandasnya.

Sirup sawit untuk ibu hamil

Lain cerita Rasrendra, lain pula kisah Ratu Ayu Dewi Sartika. Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia itu menargetkan agar salah satu produk turunan kelapa sawit berupa minyak makan merah (Red Palm Oil/RPO) dapat dikonversi menjadi sirup emulsi yang menjadi suplemen ibu hamil dan menyusui.

Dorongan inovasi tersebut berangkat dari keprihatinannya melihat 1 dari 20 ibu hamil di Indonesia kekurangan Vitamin A, sementara Indonesia masih bergantung pada Vitamin A sintetis impor. Defisiensi ini, ia menegaskan, bukan sekadar masalah kurang makan, tapi ancaman nyata bagi stunting generasi masa depan.

Di Indonesia, kekurangan vitamin A relatif terkategori subklinis dengan cakupan 4.533 dari 100.000 penduduk. Masalahnya, penderita defisiensi ini lebih banyak adalah ibu hamil yang menyebabkan dampaknya paling dirasakan janin. 

Akibatnya, dari sampel bayi berat lahir rendah (BBLR) akibat kekurangan vitamin A, 26,8% di antaranya terdiagnosis mengalami anemia, 11,4% terkena stunting, dan 9,2% tumbuh dengan rendahnya berat lahir konstan/kurus. Bagi ibu menyusui, defisiensi vitamin A juga menyebabkan kualitas kolostrum menurun, sistem imun bayi rentan, tumbuh-kembang terhambat, dan rentan infeksi.

“Kesenjangan nutrisi yang sangat lebar disebabkan belum ada program pemerintah untuk Ibu Menyusui antara 0-6 bulan. Hanya ada kapsul untuk balita mulai 6-59 bulan. Ada kapsul merah diberikan pada Ibu Nifas dengan dosis 200.000 IU, tetapi hanya 70% cakupannya. Di sini, produk turunan kelapa sawit merah dapat dimanfaatkan dengan baik,” ujarnya.

Dari realitas tersebut, fokus penelitian Ratu adalah menghasilkan satu produk turunan minyak kelapa sawit merah berupa sirup emulsi. Menyasar segmen ibu hamil, sirup emulsi tersebut diposisikan sebagai suplemen untuk memutus rantai masalah langsung dari hulunya, yaitu sebelum bayi dilahirkan, lewat intervensi harian yang spesifik.

Sebagai suplemen, Ratu bekerja keras agar formulasi sirup emulsi tersebut enak, stabil, dan mudah dikonsumsi. Emulsi sirup F17 ini melewati eksperimen laboratorium ketat, sehingga menghasilkan produk akhir yang teruji. 

“Perbaikan gizi ibu yang mengonsumsi meningkatkan hemoglobin secara signifikan pada ibu hamil, diikuti peningkatan serum retinol yang jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa intervensi. Artinya, pangan lokal kini memiliki efektivitas setara intervensi medis,” ungkapnya.

Baca juga:

Ubah Limbah Jadi Laba, Ekspor Lidi Sawit Mendunia
Limbah pelepah sawit bernilai tinggi menjadi sapu lidi yang diekspor ke berbagai negara seperti Bangladesh, India dan Vietnam

Dengan mengonsumsi sirup turunan minyak makan merah, penelitian terbaru menemukan bahwa ibu hamil yang mengonsumsi sirup tersebut berhasil menurunkan risiko BBLR 4,4 hingga 18 kali lebih rendah. “Ini adalah jaring pengaman utama mencegah stunting sejak dari dalam kandungan,” tegas Ratu. 

Dengan memosisikan sirup emulsi sebagai suplemen pelengkap Pemberian Makanan Tambahan (PMT), Fortifikasi, dan kapsul, stabilitas hemoglobin dan retinol harian ibu hamil diharapkan tercukupi. 

“Asupan stabil memastikan ibu hamil tidak bergantung pada suplemen sesekali, melainkan asupan fungsional harian. Melalui inovasi ini, kami membuktikan sawit bukan hanya bahan baku minyak goreng, tetapi juga dapat menjadi fondasi memperkuat gizi pada 1.000 hari pertama kelahiran anak Indonesia di masa depan,” tuturnya.

Memetakan masa depan

Pengalaman inovasi tersebut dua contoh produk hilir turunan industri kelapa sawit yang akan dipamerkan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dalam Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) yang akan diselenggarakan di Jakarta, Senin-Selasa, 20-21 Juli 2026 yang akan datang.

Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP Mohammad Alfansyah menjelaskan, PERISAI menjadi ajang mengoptimalkan kegiatan riset yang difasilitasi untuk memanfaatkan teknologi dan inovasi terkini mendorong transformasi industri kelapa sawit yang semakin produktif, efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan.

“Tahun ini, lebih dari 1.330 peserta telah terdaftar dan menampilkan 29 inovasi hasil riset yang didanai BPDP. Sejumlah produk inovatif lain juga akan kami tampilkan, mulai dari beton precast foam concrete berbasis sawit, drone penyerbuk kelapa sawit berbasis AI, hingga astaxanthin berbasis limbah cair kelapa sawit,” ujarnya dalam taklimat di Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Sejak 2015, BPDP telah membiayai 465 proposal riset, dengan 320 dinyatakan selesai dalam kurun waktu 11 tahun, sementara 145 lain masih berjalan, termasuk riset sirup emulsi RPO dan riset Tim Katalis Merah Putih ITB. Dari pendanaan tersebut, Rp917,58 miliar dana riset telah digelontorkan ke berbagai perguruan tinggi mitra BPDP. 

“Sebagai komoditas strategis, riset mengembangkan kelapa sawit itu harus ada dananya dan menjadi prioritas yang didukung BPDP. Kami mendorong terciptanya produk dan pasar baru, peningkatan efisiensi industri, serta penguatan nilai tambah dan daya saing industri kelapa sawit Indonesia di tingkat global,” ujar Alfansyah.

Dalam gelaran PERISAI 2026, BPDP mengundang 43 perguruan tinggi yang akan menjabarkan strategi industri dalam peningkatan produktivitas kelapa sawit, kebijakan peningkatan produktivitas, ketahanan ekonomi, hingga peluncuran pedoman pengarusutamaan gender di sektor kelapa sawit.

“Industri sawit berperan besar dalam kesejahteraan dan memberikan kontribusi nyata terhadap negara. Narasi negatif akan dibuktikan dan diuji secara ilmiah untuk mengungkap besarnya andil industri sawit bagi perekonomian. Dukungan pekan riset akan tetap kami berikan tanpa batas jumlah maupun dana, untuk memetakan potensi industri ini hingga masa yang akan datang,” tandasnya.

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ekspor-Impor, dan Teknologi

Baca selengkapnya