Tianjin, Sepenggal Cerita tentang Mimpi yang Tak Terbeli

Tianjin, Sepenggal Cerita tentang Mimpi yang Tak Terbeli

Bagi mereka, beasiswa bukan sekadar bantuan, tetapi tali tambang untuk mampu menguasai teknologi, mendorong perubahan, dan memberdayakan bangsa.

Tianjin, Sepenggal Cerita tentang Mimpi yang Tak Terbeli
Dalam Artikel Ini

Suara Vidya Putri Nuridzati (18) pecah. Di atas panggung, penerima Beasiswa Dharma Bumiputra 2026 itu teringat pesan gurunya waktu masih menuntut ilmu di SMP Negeri 1 Wonosobo, Jawa Tengah.

"Kamu jangan hanya sekolah di Wonosobo. Kamu harus ke luar, menemukan dunia yang lebih luas." Sepercik tekad menyala. Vidya ingin menyibak dunia yang lebih jauh dari kota kecil di kaki Gunung Sindoro itu.

Ia terpikirkan untuk mencari cara berkuliah ke universitas unggulan, di Indonesia maupun di luar negeri. Kesempatan yang lebih luas ingin ia gapai, meski kedua orang tuanya hanya tamat sekolah menengah atas. Baginya, pengorbanan, doa, dan kerja keras orang tuanya perlu ditebus kesungguhan mengejar cita-cita.

Kesempatan itu datang ketika Yayasan Warga Bumiputra Indonesia (YWBI) membuka pendaftaran Beasiswa Dharma Bumiputra angkatan pertama. Siswi SMA Taruna Nusantara Magelang itupun tak ragu untuk mendaftarkan diri.

Beasiswa ini mempersiapkan para penerimanya melanjutkan pendidikan tinggi ke Universitas Tianjin di Tiongkok. Lembaga pendidikan tinggi berusia lewat 130 tahun yang terhitung salah satu universitas terbaik di negeri tirai bambu itu memang kesohor dengan standar masuknya yang sangat ketat.

"Jujur, saya pernah merasa lelah dan bertanya pada diri sendiri apakah benar-benar siap. Namun, ketika menerima nama saya tertera di e-mail penerimaan sebagai Mahasiswi Teknik Lingkungan Universitas Tianjin, harapan sebelum tidur itu kini memiliki tanggal keberangkatan," kata Vidya dalam acara pelepasan penerima Beasiswa Dharma Bumiputra di Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

Ketua Kadin Indonesia Komite Tiongkok Garibaldi "Boy" Thohir dan Ketua Yayasan Warga Bumiputra Indonesia A.M. Hendropriyono mengapit para penerima Beasiswa Dharma Bumiputra 2026 yang menandatangani pakta integritas. Foto: SUAR/Chris Wibisana

Lain cerita Vidya, lain pula cerita Al Farrel de Tata (18). Siswa SMA Taruna Nusantara itu berkisah bahwa alasan terkuatnya berkuliah ke Tiongkok berangkat dari keingintahuannya sebagai peserta ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) di sekolahnya.

"Saat itu, saya menemukan ada flaw pada produk hasil KIR, dan karena saya tahu produk itu bermanfaat, saya ingin tahu cara memproduksinya secara massal. Ternyata jurusan yang tepat untuk mengetahui itu adalah Teknik Kimia, dan Tianjin University menjadi salah satu universitas dengan jurusan Teknik Kimia terbaik," ujarnya kepada SUAR.

Kebetulan, menjelang pekan ujian akhir, Farrel mendengar adanya pembukaan pendaftaran Beasiswa Dharma Bumiputra 2026. Ia tak membendung antusiasme saat mendaftar dan mulai mengikuti proses, termasuk mempersiapkan dan mengikuti Chinese Scholastic Competency Assessment (CSCA) yang terkenal sulit itu.

Setelah mengikuti rangkaian tes dan wawancara, Farrel terpilih sebagai 1 dari 3 penerima Beasiswa Dharma Bumiputra 2026 yang akan berangkat ke Tiongkok hari Senin (31/8/2026) untuk memulai perkuliahan bulan September. Selain Vidya, ia berangkat bersama Nadhira Izzati Wahyunadi, siswi SMA PB Islam Sudirman Cijantung.

"Target saya lulus tepat waktu dan menjadi mahasiswa berprestasi. Saya ingin masuk organisasi-organisasi mahasiswa Indonesia di sana untuk bisa meningkatkan skill. Setelah cukup, saya ingin kembali ke Indonesia, membangun negara, menjadi pengusaha sukses," tukas Farrel.

Menjembatani mimpi

Ketua Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT) Garibaldi "Boy" Thohir mengungkapkan, mimpi-mimpi besar Vidya, Nadhira, dan Farrel tak hanya menjadi cambuk meraih cita-cita, melainkan juga sinyal agar dunia usaha memperbesar manfaat kerja sama bilateral Indonesia-Tiongkok lebih dari sekadar perdagangan.

"Inisiatif kami adalah bekerja sama dengan Universitas Tianjin dan mengirim putra-putri terbaik Indonesia mengenyam pendidikan di bidang STEM yang sudah sangat maju. Kami ingin mereka mempelajari bagaimana Tiongkok maju dalam 30 tahun terakhir, kembali ke Tanah Air untuk berkontribusi bagi negara ini," kata Boy.

Pilihan atas Tianjing University tidak lepas dari observasi Boy saat pergi meninjau langsung fasilitas dan kurikulum, bertemu mahasiswa di sana, dan melihat lingkungan yang sangat mumpuni untuk mengembangkan kompetensi dan kecakapan di bidang industri berhaluan masa depan.

"Saya bertemu beberapa profesor yang bukan hanya menjadi peneliti, tetapi juga menciptakan, menjadi inventor. Contohnya Profesor Xu Kaihua, pendiri GEM Co., perusahaan hilirisasi nikel. Juga Robin Zeng, pendiri CATL, produsen baterai terbesar di dunia. Saya lihat dari situ, perkembangan ilmu pengetahuan Tiongkok ini sudah sangat maju," tuturnya.

Dalam kapasitas sebagai Ketua KIKT, Boy menemukan kesamaan visi dengan keinginan YWBI, yayasan sosial yang diketuai Jenderal TNI (Purn.) A.M. Hendropriyono untuk memberikan beasiswa bagi orang-orang muda yang mumpuni dan mempunyai talenta besar untuk kemajuan Indonesia, khususnya mengejar ketertinggalan di bidang STEM.

Proses menyeleksi para penerima beasiswa jauh dari kata mudah. Dari 50 pendaftar, hanya 3 peserta yang dinyatakan lulus. Kemitraan menyelenggarakan tes CSCA dengan ChinaLink membantu proses seleksi menjadi lebih terukur dalam 4 bulan, dengan biaya persiapan per peserta tidak kurang dari Rp75.000.000.

"Siswa-siswa ini mungkin yang terbaik dari yang terbaik. Dalam penyaringan, saya sempat mengikutsertakan peserta dari SMA Negeri 3 Jakarta, almamater saya. Unfortunately tidak ada yang lulus, padahal itu juga SMA unggulan. Memang berat sekali dan standar Tianjin memang tinggi, tidak bisa ditawar-tawar," imbuh Boy.

Al Farrel de Tata, Vidya Putri Nuridzati, dan Nadhira Izzati Wahyunadi menerima laptop untuk melengkapi kebutuhan studi pendidikan tinggi mereka. Foto: SUAR/Chris Wibisana

Memulai dengan 3 peserta pertama, Boy menegaskan bahwa pengiriman mahasiswa angkatan pertama ini merupakan langkah awal. Meski sulit, tetapi tidak ada kata menyerah ke depan. Tahun depan, YWBI dan KIKT berusaha untuk mencoba peluang yang lebih besar, termasuk untuk universitas-universitas besar lain, termasuk Tsinghua University.

Selain mengirimkan mahasiswa untuk level pendidikan sarjana, Beasiswa Dharma Bumiputra ke depan direncanakan akan terbuka juga untuk mahasiswa yang menempuh level pendidikan lanjutan, baik tingkat magister maupun spesialisasi dan pendidikan profesi untuk bidang studi seperti kedokteran.

"Kita nanti mau coba cari beberapa mahasiswa kedokteran yang sudah sampai tahapan akhir, tetapi berat dari sisi pendanaan. Biasanya 'kan mahasiswa kedokteran tingkat akhir itu berat untuk terus spesialisasi, kita coba mengirim mereka juga. Ini sesuai dengan arahan Presiden agar kita fokus mendorong pendidikan tinggi STEM dan kedokteran," pungkas Boy.

Ulurkan tali

Sementara itu, Ketua YWBI Jenderal TNI (Purn.) A.M. Hendropriyono menekankan, terdapat dua pendekatan dalam upaya memajukan sebuah bangsa. Pertama, mengangkat masyarakat secara luas atau massal. Kedua, memacu kelompok elite sebagai katalis perubahan.

Sejarah menunjukkan, pendekatan pertama yang dilakukan negara-negara sosialis era Perang Dingin terbukti gagal. Untuk itu, kelompok elite yang mencapai kemajuan sosial, ekonomi, dan pendidikan harus bertanggung jawab ikut menarik kelompok masyarakat lain untuk dapat maju bersama-sama.

"Elite adalah mereka yang sudah berhasil menyeberangi 'sungai penderitaan'. Nah, mereka yang sudah mencapai seberang sungai ini tidak boleh melupakan yang masih tertinggal. Lempar tali kalian agar bisa menarik yang lain," ucap mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu.

Baca juga:

Ada Beasiswa LPDP King’s College London di KEK Singhasari
Dengan menggandeng LPDP animo calon mahasiswa yang mendaftar cukup besar, namun memang proses seleksinya yang ketat dengan persyaratan yang cukup tinggi

Dalam hal ini, Hendropriyono menekankan bahwa elite pemberi beasiswa bukan sekadar menyandang dana, melainkan juga menggunakan jejaring mereka untuk menciptakan peluang baru, terutama bagi talenta yang kembali pulang ke negerinya, tetapi tidak menemukan jalan di pasar ketenagakerjaan yang fluktuatif.

Ia mencontohkan dua orang talenta terbaik negeri yang telah meraih kejuaraan dunia dalam AI coding dan pemrograman machine learning. Setelah meraih kejuaraan, hadiah uang yang mereka terima kini telah habis.

Hampir saja mereka memutuskan merantau ke negeri jiran Malaysia untuk mencari pekerjaan. Sekuat tenaga, Hendro meyakinkan mereka agar talenta mereka tetap di Tanah Air.

"Saya pikir apa mau begini saja mereka yang sudah lulus ini? Kita harus memikirkan apa langkah berikutnya. Jangan sampai anak-anak berbakat ini, yang sudah disekolahkan, hanya dipakai oleh orang-orang tertentu untuk kepentingan mereka sendiri. Kita harus mengonsentrasikan kekuatan di negeri sendiri, supaya Indonesia ini maju," kata Hendro.

Baca juga:

LPDP Janji Sediakan Akses Pendidikan Inklusif Kelompok Rentan
Fokus inklusivitas menjadi salah satu penekanan dalam pengelolaan beasiswa.
ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Lainnya Dalam Beasiswa

Rekomendasi SUAR