Di tengah ketidakpastian global, Indonesia menunjukkan ketangguhan yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi pada triwulan pertama 2026 yang mencapai 5,61% secara tahunan (Year on Year/YoY). Pertumbuhan ini ditopang dua faktor utama yang signifikan yaitu percepatan belanja pemerintah yang dibarengi oleh pertumbuhan konsumsi masyarakat karena dorongan permintaan pada periode lebaran.
“Capaian ini melampaui periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87%,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) pada jumpa pers, Selasa (5/5/2026). Pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 tersebut jadi yang tertinggi sejak kuartal III-2022 yang mencatatkan 5,73 persen, sekaligus menjadi rekor dalam 14 kuartal terakhir.
Percepatan belanja negara
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), dilihat dari komponen pengeluaran, pertumbuhan paling signifikan dicatat oleh belanja pemerintah yang mencapai 21,81% YoY. Angka ini jadi yang tertinggi dari berbagai komponen pengeluaran lainnya yakni konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52% YoY, konsumsi lembaga non profit yang melayani rumah tangga (LNPRT) yang tumbuh sebesar 6,28% YoY, dan komponen investasi/pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang sebesar 5,96% YoY.
Adapun pertumbuhan ekspor hanya bertumbuh 0,90% YoY lebih rendah ketimbang pertumbuhan impor yang sebesar 7,18% YoY.
Komponen belanja pemerintah pada triwulan I-2026 ini memberi kontribusi pertumbuhan 1,26% dari total pertumbuhan 5,61%.
Lonjakan pertumbuhan belanja pemerintah ini sejalan dengan data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang menunjukkan realisasi belanja negara yang memang dipercepat pada triwulan I-2026. Mengutip data Kemenkeu, belanja pemerintah pada triwulan I-2026 bertumbuh 31,4% YoY pada angka Rp 815,0 triliun.
Dihubungi Rabu (20/5/2026), Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (FEB UNDIP), Akhmad Syakir Kurnia menilai salah satu sumber dorongan pertumbuhan tersebut berasal dari stimulus fiskal melalui peningkatan belanja pemerintah. Menurutnya, peran fiskal pada awal tahun dapat menjadi pemantik aktivitas ekonomi dan menjaga momentum pertumbuhan di tengah ketidakpastian global.
Stimulus fiskal, lanjutnya, memiliki peran penting dalam menjaga akselerasi ekonomi, namun efektivitasnya akan lebih optimal apabila mampu mendorong peningkatan kapasitas produksi nasional, termasuk kualitas tenaga kerja, teknologi, infrastruktur, serta efisiensi logistik.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro mengatakan, ada beberapa hal yang meningkatkan belanja pemerintah pada triwulan I-2026. Hal itu antara lain pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) serta belanja barang dan jasa. Selain itu, juga ada rangsangan belanja negara dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan pembangunan sekolah rakyat.
Percepatan belanja pemerintah di triwulan pertama merupakan fenomena yang jarang terjadi. Biasanya pertumbuhan belanja pemerintah ini baru melaju pada triwulan tiga dan triwulan empat.
Pada tahun lalu misalnya komponen pertumbuhan belanja pemerintah pada triwulan I-2025 malah terkontraksi 1,22% YoY. Kontraksi pertumbuhan berlanjut di triwulan II-2025 yang sebesar 0,32% YoY. Baru kemudian pada triwulan III-2025 belanja pemerintah tumbuh 5,66% dan diikuti triwulan IV-2025 sebesar 4,55%.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya N Bakrie mengatakan, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 yang mencapai 5,61% tak lepas dari program pemerintah yang dieksekusi dengan cukup baik.
Percepatan belanja pemerintah sejak Januari, program makan bergizi gratis (MBG) yang berjalan masif hingga lebih dari Rp80 triliun, pembangunan 3 juta rumah yang cukup agresif, dan sejumlah program prioritas lainnya ikut mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi. Demikian pula dengan kegiatan investasi langsung yang berjalan sejak awal tahun.
“Kami mengapresiasi kinerja pemerintah. Program pemerintah yang diterapkan sejak awal 2025 mulai menunjukkan hasil tahun ini,” ujar Anindya, dalam siaran persnya, Selasa (05/05/2026).
Lebaran picu kenaikan konsumsi masyarakat
Faktor signifikan kedua yang mendorong pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 adalah kenaikan konsumsi masyarakat yang didorong oleh momentum lebaran. Masih dari data BPS, komponen konsumsi masyarakat bertumbuh 5,52% YoY pada triwulan I-2026.
“Ekonomi Indonesia pada triwulan 1-2026 tumbuh 5,61% YoY, salah satunya didorong oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga,” ungkap Amalia.
Pertumbuhan konsumsi masyarakat jadi signifikan pada pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 lantaran memiliki kontribusi terbesar pada pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026. Konsumsi masyarakat berkontribusi sebesar 54,36% pada pertumbuhan ekonomi.
Kontribusi komponen lainnya adalah investasi/PMTB sebesar 28,29%, belanja LNPRT sebesar 1,40%, dan perubahan inventori sebesar 3,50%. Adapun belanja pemerintah berkontribusi sebesar 6,72%. Sementara itu, ekspor barang dan jasa berkontribusi sebesar 21,22% tetapi dikurangi impor barang dan jasa sebesar 20,29%.
Kenaikan konsumsi masyarakat pada periode Lebaran juga tampak dalam Survei Penjualan Eceran yang dirilis Bank Indonesia (BI). Indeks Penjualan Riil (IPR) Maret 2026 diprakirakan tumbuh 2,4% secara tahunan dan tumbuh 9,3% dibanding bulan Februari 2026. BI menegaskan, kenaikan ini ditopang permintaan konumsi rumah tangga selama periode perayaan hari besar keagamaan Ramadan dan Idulfitri.
Menurut Asmo dari Bank Mandiri, panggilan akrab Andry Asmoro, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 masih bertumpu pada kuatnya konsumsi domestik, terutama dari kelompok masyarakat menengah dan generasi muda (Gen Z) selama momentum Ramadan hingga Idul Fitri.
Penguatan belanja masyarakat tersebut tercermin dari kenaikan aktivitas konsumsi sepanjang periode Ramadan-Lebaran 2026 yang dinilai lebih solid dibandingkan dua tahun sebelumnya, meski perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian.
Berdasarkan catatan Mandiri Institute, Mandiri Spending Index (MSI) meningkat 2,9% dibandingkan periode pra-Ramadan. Angka itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama dalam dua tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 2,8%.
Asmo mengatakan pengeluaran rumah tangga sepanjang Ramadan hingga Lebaran tahun ini didorong oleh kelompok kelas menengah yang menjadi motor utama konsumsi nasional. “Kelompok menengah menjadi penggerak utama akselerasi belanja, khususnya pada periode THR, sehingga berkontribusi besar terhadap penguatan konsumsi secara keseluruhan,” tutur Asmo.
Lonjakan sektor akomodasi dan makan minum
Jika dilihat dari aspek pasokan atau dari komponen lapangan usaha, sektor yang alami pertumbuhan signifikan dan mendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2026 adalah sektor penyediaan akomodasi dan makan minum.
Lapangan usaha akomodasi dan makan minum mampu tumbuh 13,14% YoY. Ini menjadi lapangan usaha dengan pertumbuhan tertinggi diantara lainnya. Lonjakan ini membuat lapangan usaha akomodasi dan makan minum menyumbang 0,42% dari total pertumbuhan ekonomi 5,61%.

BPS menjelaskan, lapangan usaha ini ditopang perluasan cakupan program MBG dan momen libur nasional.
Sejalan dengan data BPS, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Maret 2026 mencapai 1,09 juta kunjungan, naik 10,50% YoY. Jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) pada Maret 2026 mencapai 126,34 juta perjalanan, naik 42,10% YoY.
Jumlah perjalanan wisatawan nasional (wisnas) pada Maret 2026 mencapai 793,16 ribu perjalanan, naik 36,26% YoY. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada Maret 2026 mencapai 42,78%, naik 9,22 persen poin secara YoY.
Ketahanan di tengah ketidakpastian
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam, mencerminkan ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global, sekaligus memperlihatkan bahwa permintaan domestik masih menjadi motor utama penggerak pertumbuhan.
Momentum Lebaran menjadi salah satu faktor pendorong signifikan. Peningkatan konsumsi masyarakat selama periode Ramadan hingga Idulfitri mendorong aktivitas perdagangan, transportasi, hingga sektor jasa. Tradisi belanja dan mudik yang kuat di Indonesia, terbukti kembali memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional.
Hal senada juga dikemukakan oleh Anindya dari Kadin. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% di tengah kondisi global yang memburuk merupakan capaian yang luar biasa dan perlu diapresiasi. Kadin akan terus bekerja sama dengan pemerintah, mendukung, dan berpartisipasi penuh terhadap semua program untuk mendongkrak laju pertumbuhan ekonomi dan menciptakan pemerataan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, Sabang hingga Merauke.
Selain itu, berbagai insentif yang digelontorkan pemerintah turut memperkuat daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas ekonomi. Kebijakan seperti bantuan sosial, stimulus fiskal, serta program perlindungan ekonomi dinilai mampu menjaga konsumsi rumah tangga tetap tumbuh positif, yang selama ini menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dari sisi dunia usaha, capaian pertumbuhan ini menjadi sinyal positif yang meningkatkan optimisme pelaku bisnis. "Stabilnya permintaan domestik memberikan ruang bagi sektor usaha untuk memperluas produksi dan investasi, sekaligus memperbaiki kinerja keuangan perusahaan di berbagai sektor,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (5/5/2026).
Syakir dari Universitas Diponegoro mengatakan, capaian tersebut berada di atas perkiraannya sebelumnya. “Saya harus menyampaikan secara jujur, saya pribadi cukup terkejut dengan pertumbuhan ini,” cetus Syakir.
Ia menambahkan pertumbuhan ekonomi juga perlu dilihat dari sisi kualitas dan distribusinya di masyarakat. Menurut dia, indikator pertumbuhan perlu dibarengi dengan peningkatan layanan publik, pengurangan kemiskinan, serta akses pendidikan dan kesehatan yang lebih merata.
“Membaca pertumbuhan itu saja penting, tetapi tidak cukup untuk dikaitkan dengan kualitas pertumbuhan. Kita harus lihat distribusinya bagaimana,” ujarnya.
Syakir berharap capaian pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada triwulan I-2026 dapat menjadi fondasi bagi penguatan ekonomi nasional ke depan, terutama apabila momentum tersebut diikuti peningkatan produktivitas dan penguatan sektor riil secara berkelanjutan.
Baca juga:

