Ekonomi Tumbuh 5,6%, Rupiah Terus Melemah: Kok Bisa?

Artikel ini merupakan opini dari Mahasiswa Pascasarjana Pembangunan Internasional di Harvard University Irman Faiz

Ekonomi Tumbuh 5,6%, Rupiah Terus Melemah: Kok Bisa?
Irman Faiz (Foto: AI/SUAR)
Daftar Isi

Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama 2026 cukup mengejutkan. Ekonomi tumbuh 5,6 persen, melampaui ekspektasi pasar yang sebelumnya berada di kisaran 5,1–5,3 persen. Di tengah perlambatan global dan ketidakpastian pasar keuangan dunia, angka ini tentu patut diapresiasi.

Namun di saat yang sama, rupiah justru terus melemah.

Bagi banyak orang, ini terasa membingungkan. Bukankah ekonomi yang tumbuh tinggi seharusnya membuat mata uang ikut menguat? Kalau ekonomi sedang baik-baik saja, kenapa rupiah masih tertekan?

Jawabannya tidak sesederhana “ekonomi bagus” atau “ekonomi buruk”. Dalam ekonomi, yang penting bukan hanya seberapa besar pertumbuhan, tetapi juga dari mana pertumbuhan itu berasal dan bagaimana kualitasnya.

Pertumbuhan yang Ditopang Aktivitas Pemerintah

Kalau melihat lebih dalam data kuartal pertama, pertumbuhan ekonomi tahun ini banyak ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah.

Sumber: BPS, diolah

Salah satu pendorong utamanya adalah faktor musiman. Ramadan dan Lebaran tahun ini jatuh lebih awal sehingga lonjakan konsumsi masyarakat terkonsentrasi di kuartal pertama. Belanja masyarakat meningkat, mulai dari makanan, transportasi, pakaian, hingga kebutuhan mudik.

Di saat yang sama, pemerintah juga melakukan percepatan belanja. Gaji ke-13, THR, belanja barang dan jasa, hingga program-program pemerintah mulai lebih cepat mengalir sejak awal tahun.

Kalau biasanya mesin ekonomi pemerintah baru dipanaskan di tengah atau akhir tahun, kali ini gasnya sudah ditekan sejak kuartal pertama.

Dalam bahasa ekonomi, ini sering disebut front-loading belanja pemerintah.

Dan sebenarnya, ada sisi positif dari perubahan ini.

Selama bertahun-tahun, Indonesia sering menghadapi masalah klasik: anggaran besar, tetapi belanja menumpuk di akhir tahun. Akibatnya, efek belanja terhadap ekonomi menjadi kurang optimal. Ibarat menyiram tanaman sekaligus di akhir bulan, airnya banyak, tetapi sebagian terbuang sebelum sempat diserap tanah.

Tahun ini berbeda. Pemerintah mencoba membuat dorongan fiskal hadir lebih awal agar efek rambatannya terhadap konsumsi dan investasi juga lebih cepat terasa.

Sumber: BPS, diolah

Tapi Ada Efek Sampingnya

Masalahnya, ketika permintaan domestik naik cepat, tidak semua kebutuhan dipenuhi dari dalam negeri.

Sebagian justru dipenuhi oleh barang impor.

Di sinilah hubungan penting antara pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar mulai terlihat.

Dalam teori makroekonomi, ada identitas sederhana:

Y = C + I + G + X – M

Artinya, ekonomi dibentuk oleh konsumsi rumah tangga (C), investasi (I), belanja pemerintah (G), ekspor (X), dan impor (M).

Sederhananya, bayangkan ekonomi seperti sebuah warung.

Pendapatan warung berasal dari pembeli yang datang, investasi untuk memperbesar usaha, dan penjualan ke luar kota. Namun, kalau warung terlalu banyak membeli barang dari pemasok luar dibanding menjual keluar, uangnya justru lebih banyak “bocor” keluar.

Hal serupa terjadi pada ekonomi Indonesia.

Ketika konsumsi dan investasi meningkat, impor juga ikut melonjak. Barang modal, mesin, bahan baku, hingga barang konsumsi masuk lebih banyak dari luar negeri.

Akibatnya, kebutuhan dolar meningkat.

Data kuartal pertama menunjukkan kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan relatif kecil, sementara impor justru memberikan pengurangan cukup besar terhadap pertumbuhan. Artinya, lonjakan aktivitas ekonomi domestik belum sepenuhnya diimbangi kemampuan menghasilkan devisa dari ekspor.

Ibarat rekening, uang memang banyak masuk karena transaksi sedang ramai. Tetapi uang juga cepat keluar untuk membayar kebutuhan dari luar negeri.

Ketika kebutuhan dolar lebih besar daripada pasokannya, harga dolar naik. Dan ketika harga dolar naik, rupiah melemah.

Rupiah Bukan Hanya Soal Perdagangan, Tapi Juga Kepercayaan

Namun pelemahan rupiah tidak hanya dijelaskan oleh ekspor-impor.

Ada faktor lain yang sering lebih cepat bergerak: sentimen dan kepercayaan investor.

Pasar keuangan bekerja seperti manusia pada umumnya. Ketika suasana global sedang tenang, investor berani mencari peluang di negara berkembang seperti Indonesia. Tetapi ketika ketidakpastian meningkat, mereka cenderung mencari tempat yang dianggap lebih aman.

Mirip seperti orang yang tiba-tiba berlari mencari tempat berteduh saat hujan besar datang.

Beberapa tahun terakhir, dunia memang sedang tidak ramah bagi negara berkembang. Suku bunga Amerika Serikat masih tinggi, ketegangan geopolitik meningkat, dan investor global menjadi lebih hati-hati terhadap aset berisiko.

Dalam situasi seperti ini, arus modal asing menjadi sangat penting.

Sumber: Bank Indonesia, FRED

Masalahnya, sepanjang 2025 hingga awal 2026, arus modal asing di pasar keuangan Indonesia justru banyak keluar. Ketika investor asing menjual saham atau obligasi Indonesia, mereka perlu menukar rupiah menjadi dolar untuk membawa dananya keluar.

Tekanan terhadap rupiah pun bertambah.

Karena itu, nilai tukar sebenarnya bukan hanya cermin kondisi ekonomi hari ini, tetapi juga cermin kepercayaan terhadap arah kebijakan ke depan.

Investor tidak hanya melihat angka pertumbuhan. Mereka juga melihat: apakah pertumbuhan ini berkelanjutan? Apakah defisit fiskal tetap terkendali? Apakah belanja pemerintah produktif? Apakah ekspor cukup kuat menopang permintaan domestik?

Menjaga Pertumbuhan agar Tidak Cepat Kehabisan Napas

Pertumbuhan 5,6 persen tentu kabar baik. Tetapi ia juga membawa pesan penting: kualitas pertumbuhan sama pentingnya dengan besar pertumbuhan itu sendiri.

Pertumbuhan yang terlalu bergantung pada konsumsi domestik dan percepatan belanja pemerintah berisiko menciptakan tekanan terhadap impor, nilai tukar, dan defisit fiskal apabila tidak diimbangi penguatan sisi produksi dan ekspor.

Karena itu, tantangan Indonesia ke depan bukan hanya mengejar pertumbuhan tinggi, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut cukup kuat untuk bertahan.

Ekonomi ibarat mobil yang sedang melaju cepat. Kecepatan memang penting, tetapi keseimbangan mesin, bahan bakar, dan arah kemudi jauh lebih menentukan apakah mobil bisa melaju jauh atau justru cepat bermasalah di tengah jalan.

Pada akhirnya, menjaga rupiah bukan sekadar soal mempertahankan angka kurs. Rupiah yang stabil berarti daya beli masyarakat lebih terjaga, biaya produksi lebih terkendali, dan risiko utang tidak membesar terlalu cepat.

Dan di tengah dunia yang semakin tidak pasti, fondasi terpenting ekonomi tetap sama: kepercayaan.

Baca selengkapnya

Ω