Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis Standard & Poor's (S&P) Global hari ini, Rabu (1/7/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di level 46,9 pada bulan Juni 2026. Ini adalah tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun, akibat permintaan kembali menurun sehingga menyebabkan penyusutan volume output terbesar sejak bulan April 2025.

Pihak S&P Global mengungkapkan, PMI Indonesia ini menunjukkan penurunan lebih lanjut pada kinerja sektor produksi barang. Penyebab utama penurunan pada bulan Juni adalah penurunan permintaan atas barang manufaktur Indonesia. "Permintaan baru, turun untuk pertama kali dalam tiga bulan, dan pada laju tercepat dalam setahun," kata Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti dalam keterangan resminya yang diterima SUAR di Jakarta (1/7/2026).
Ia mengatakan, kinerja sektor manufaktur Indonesia menurun dua kali dalam tiga bulan, terakhir menutup semester pertama 2026. Dalam hal ini, S&P menilai tren negatif permintaan, mendorong perusahaan menurunkan output selama empat bulan berturut-turut dan paling tajam, sejak April 2025.
"Menghadapi keadaan ini, perusahaan menurunkan jumlah tenaga kerja dan aktivitas pembelian mereka besar-besaran, sementara inventaris juga menurun seiring melemahnya kondisi permintaan," kata Bhatti.
Kenaikan harga menekan pembelian bahan baku
Selain itu, S&P juga menyoroti kinerja sektor usaha yang mulai menurunkan jumlah tenaga kerja lebih banyak lagi pada bulan Juni. Laju PHK tergolong signifikan dan merupakan yang paling tinggi sejak bulan September 2021.
Pada saat yang sama, pembelian bahan baku turun selama empat bulan berturut-turut dan berada pada intensitas terendah sejak bulan Agustus 2021. Beberapa perusahaan mencatat, kenaikan harga bahan baku menghambat aktivitas pembelian.
Menurut Bhatti, tekanan harga masih tinggi secara historis seiring dengan produsen yang mulai mencatat kenaikan beban biaya rata-rata di tengah laporan kenaikan harga bahan baku. Ia menambahkan, laju inflasi saat ini merupakan tertinggi kedua sepanjang sejarah, dan mendorong kenaikan harga jual dari pabrik paling kuat selama hampir 13 tahun.

Aktivitas industri di fase ekspansi
Meski banyak hambatan, kinerja sektor manufaktur nasional masih menunjukkan resiliensi yang kuat di tengah meningkatnya tantangan global dan domestik. Adanya tantangan dari sisi produksi maupun permintaan selama Juni 2026, namun aktivitas industri tetap berada pada fase ekspansi.
Ini tercermin dari capaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sebesar 52,90, meski melambat 0,66 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Data tersebut menunjukkan optimisme pelaku industri masih terjaga, di tengah berbagai dinamika ekonomi.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief mengatakan, industri dalam negeri menghadapi tantangan berat di beberapa bulan belakangan, bahkan semakin menantang. Pada Mei 2026, tantangan hanya berasal dari sisi produksi, sedangkan pada Juni, pelaku industri menghadapi tantangan dari dua sisi sekaligus, produksi dan permintaan. Belum lagi ada kenaikan harga BBM.
"Meski demikian, sektor industri tetap menunjukkan resiliensi yang kuat sehingga aktivitas manufaktur nasional masih tetap berada pada fase ekspansi pada bulan Juni 2026 ini," ujar Febri dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (1/7/2026).
Menurutnya, dari sisi produksi, industri dalam negeri masih dibayangi kenaikan harga bahan baku impor sebagai dampak konflik geopolitik di Timur Tengah yang memicu peningkatan harga energi dunia. Di saat bersamaan, pelemahan nilai tukar rupiah turut meningkatkan biaya pengadaan bahan baku impor sehingga menambah beban biaya produksi industri.

Selain itu, pada Juni 2026, sejumlah industri dan kawasan industri juga menghadapi gangguan berupa pemadaman listrik yang menghambat proses produksi, terutama bagi industri yang operasional sepenuhnya bergantung pada pasokan listrik.
"Pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah industri dan kawasan industri menyebabkan sebagian perusahaan harus menghentikan proses produksinya selama gangguan berlangsung. Kondisi tersebut tentu mempengaruhi efisiensi operasional industri," tambah dia.
Angin segar dari harga gas
Tantangan lain berasal dari kenaikan harga gas industri, khususnya gas yang berasal dari hasil regasifikasi LNG. Terkait hal ini, Kementerian Perindustrian mengapresiasi langkah Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad yang berhasil mengawal penurunan harga gas regasifikasi LNG untuk industri dari US$23 per MMBTU menjadi US$13 per MMBTU.
Penurunan harga gas industri hasil regasifikasi LNG tersebut, menjadi angin segar bagi industri, khususnya industri yang menggunakan gas sebagai sumber energi maupun bahan baku produksi.
Kebijakan ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri nasional, terutama bagi industri yang masuk dalam skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). "Kami akan terus mengawal implementasi kebijakan ini untuk menghindari pengurangan atau pemotongan AGIT (Alokasi Gas Industri Tertentu)," ungkap dia.
Selain tantangan produksi, Kementerian Perindustrian juga mencermati mulai munculnya tantangan dari sisi permintaan terutama permintaan domestik. Kenaikan harga sejumlah barang konsumsi rumah tangga serta penyesuaian harga BBM non subsidi dinilai mempengaruhi ruang belanja konsumsi rumah tangga terhadap produk manufaktur.
Meski demikian, pemerintah menilai tekanan tersebut masih dapat dikendalikan. Inflasi diperkirakan tetap berada dalam sasaran nasional sebesar 2,5 persen, sehingga daya beli masyarakat secara umum masih terjaga.
"Kami mengapresiasi kebijakan Presiden Prabowo yang tetap mempertahankan harga BBM subsidi. Kebijakan tersebut memberikan kontribusi penting dalam menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat terutama daya beli atas produk manufaktur," katanya.
Harapan di ekspor manufaktur
Di sisi lain, prospek ekspor manufaktur masih menunjukkan perkembangan positif. Permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor nonmigas terus mengalami pertumbuhan, sehingga menjadi salah satu penopang kinerja industri nasional pada bulan Juni ini.
Ia menambahkan, kuatnya pasar domestik juga menjadi faktor penting yang menopang aktivitas manufaktur nasional. Berbagai program strategis pemerintah diperkirakan akan terus memacu peningkatan permintaan terhadap produk-produk industri dalam negeri.
"Belanja pemerintah melalui berbagai program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, implementasi mandatori biodiesel B50, hingga Program Kampung Nelayan, hari libur nasional serta pemenuhan kebutuhan murid memasuki tahun ajaran baru 2026/2027 akan memberikan efek berganda terhadap meningkatnya permintaan dan produksi produk manufaktur nasional," tutur dia.
Menurut Febri, kombinasi antara pasar domestik yang besar, dukungan belanja pemerintah, serta membaiknya prospek ekspor menjadi pondasi penting bagi industri manufaktur untuk tetap bertahan dan tumbuh di tengah ketidakpastian global.

Kementerian Perindustrian terus mencermati sejumlah tantangan yang berpotensi mempengaruhi aktivitas industri ke depan. Tekanan inflasi, kenaikan suku bunga acuan, pelemahan nilai tukar rupiah, serta meningkatnya biaya energi menjadi faktor yang perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan biaya produksi dan investasi.
Selain itu, potensi terjadinya fenomena El Nino mulai pertengahan tahun diperkirakan turut memberikan tekanan terhadap sejumlah sektor industri yang bergantung pada pasokan air dan energi, seperti industri makanan dan minuman, tekstil, logam dasar, petrokimia, pulp dan kertas, hingga semikonduktor.
Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian akan terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga daya saing industri nasional, termasuk memastikan kelancaran pasokan bahan baku, memperkuat pasar domestik, memacu hilirisasi, meningkatkan produktivitas industri, serta memperluas akses pasar ekspor
Permintaan domestik perlu diperkuat
Dihubungi terpisah, Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Danang Girindrawardana menjelaskan, salah satu cara mendorong peningkatan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur adalah dengan memperkuat permintaan domestik sebagai penggerak utama aktivitas industri.
Pemerintah dapat memperluas belanja negara yang memiliki kandungan produk dalam negeri tinggi, mempercepat realisasi proyek infrastruktur, serta memberikan insentif bagi masyarakat untuk meningkatkan konsumsi.
“Dengan meningkatnya permintaan, pelaku industri akan terdorong menambah produksi, meningkatkan pembelian bahan baku, dan merekrut tenaga kerja, yang pada akhirnya akan tercermin dalam kenaikan PMI Manufaktur,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (1/7/2026).
Di sisi lain, daya saing industri perlu ditingkatkan melalui penyediaan bahan baku dan energi dengan harga yang kompetitif. Kebijakan yang menjamin pasokan energi, menurunkan biaya logistik, serta mempercepat proses perizinan investasi akan membantu menekan biaya produksi.
Selain itu, pemberian insentif fiskal bagi sektor-sektor strategis dapat mendorong ekspansi kapasitas produksi sehingga perusahaan lebih optimistis dalam meningkatkan aktivitas manufakturnya.
Penguatan pasar ekspor juga menjadi faktor penting dalam mendukung perbaikan PMI Manufaktur. Pemerintah bersama pelaku usaha perlu memperluas akses ke pasar nontradisional, memperkuat diplomasi perdagangan, serta memanfaatkan berbagai perjanjian perdagangan internasional.
Ia mengatakan diversifikasi pasar ekspor akan membantu industri mengurangi ketergantungan pada negara tujuan tertentu sekaligus menjaga stabilitas permintaan ketika kondisi ekonomi global mengalami perlambatan.
Selain kebijakan pemerintah, transformasi industri melalui adopsi teknologi, digitalisasi proses produksi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia juga perlu dipercepat. Investasi pada otomasi, riset dan pengembangan, serta pelatihan tenaga kerja akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi industri manufaktur.