Di tengah tekanan yang masih membayangi industri farmasi nasional, PT Phapros Tbk (PEHA) berhasil membukukan pemulihan kinerja yang signifikan sepanjang 2025. Perseroan berhasil membalikkan kerugian dari kerugian Rp290,64 miliar pada 2024 menjadi laba bersih sebesar Rp27,44 miliar pada 2025.
Pencapaian tersebut diraih di tengah berbagai tantangan eksternal, mulai dari perlambatan ekonomi global, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga tingginya ketergantungan industri farmasi nasional terhadap impor bahan baku.
Direktur Utama Phapros Intan Abdams Katoppo mengatakan, tahun 2025 merupakan periode yang penuh tantangan bagi industri farmasi. Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok turut menekan rantai pasok bahan baku farmasi global, sementara perlambatan ekonomi dunia dan gejolak kurs meningkatkan biaya impor.
Meski demikian, kondisi domestik masih memberikan ruang pertumbuhan bagi industri farmasi. Menurut Intan, konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, perluasan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), serta meningkatnya anggaran kesehatan pemerintah menjadi faktor penopang permintaan.
"Konsumsi rumah tangga yang tetap solid, sehingga ini juga menjadi pangsa pasar yang baik bagi PT Phapros. Dan program Jaminan Kesehatan Nasional yang terus meluas dan anggaran kesehatan APBN juga meningkat," kata Intan dalam paparan publik, Kamis (11/6/2026).
Namun, tantangan struktural industri farmasi belum sepenuhnya teratasi. Ketergantungan terhadap bahan baku impor yang masih mencapai lebih dari 90% membuat industri rentan terhadap fluktuasi nilai tukar maupun gangguan rantai pasok global.

Di tengah kondisi tersebut, Phapros justru mampu mencatat pertumbuhan penjualan yang kuat. Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan SDM Ferdinand Troedu mengungkapkan penjualan bersih konsolidasian tahun buku 2025 mencapai Rp940,9 miliar, meningkat 26,3% dibandingkan Rp744,7 miliar pada 2024.
Menurut Ferdinand, peningkatan tersebut merupakan hasil dari strategi fundamental yang telah dijalankan perusahaan selama dua tahun terakhir. Langkah-langkah yang ditempuh meliputi perbaikan rantai pasok, penguatan komersialisasi produk, serta diversifikasi segmen pelanggan.
Perbaikan juga terlihat dari sisi profitabilitas. Laba kotor konsolidasian meningkat menjadi Rp492,5 miliar dari Rp270,66 miliar pada tahun sebelumnya.
"Adapun penyebabnya karena disebabkan oleh penurunan rasio HPP terhadap penjualan sebesar 16,0 percentage point secara year-on-year. Dan ini juga mencerminkan keberhasilan inisiatif efisiensi produksi dan procurement," ungkap Ferdinand.
Dari sisi pengembangan bisnis, Phapros memperoleh tujuh nomor izin edar produk baru dan berhasil memperpanjang 36 izin edar tanpa keterlambatan. Perseroan juga memperluas kemitraan dengan perusahaan asuransi dan jaringan rumah sakit serta meningkatkan nilai tender pusat hingga 257%.
Tren pemulihan tersebut berlanjut pada awal 2026. Direktur Pemasaran Maraja Jeson Siregar mengatakan penjualan bersih konsolidasian pada periode Januari-Maret 2026 mencapai Rp221,1 miliar atau tumbuh 10,2% dibandingkan Rp200,7 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Peningkatan penjualan turut mendorong pertumbuhan EBITDA sebesar 64% menjadi Rp24,6 miliar dari Rp15 miliar pada kuartal I-2025. Sementara itu, laba komprehensif periode berjalan berbalik positif menjadi Rp761,5 juta setelah pada periode yang sama tahun lalu masih mencatat kerugian Rp5,9 miliar,” kata Jeson.
Likuiditas perusahaan juga menunjukkan perbaikan. Hingga kuartal I-2026, kas dan setara kas tercatat sebesar Rp137,2 miliar, meningkat dibandingkan posisi Rp121 miliar pada akhir 2025. Gross profit margin juga naik menjadi 47% dari 44,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Manajemen menilai tren pemulihan yang terbentuk sepanjang 2025 masih berlanjut pada 2026 meskipun industri farmasi tetap dibayangi ketidakpastian ekonomi global, fluktuasi nilai tukar, dan tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Kejar pasar ekspor dan perkuat efisiensi
Memasuki 2026, Phapros menyiapkan sejumlah strategi baru untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah ketidakpastian global. Fokus perusahaan diarahkan pada ekspansi pasar ekspor, peluncuran produk baru, penguatan efisiensi operasional, serta mitigasi dampak pelemahan rupiah.
Intan menjelaskan strategi perseroan tetap bertumpu pada lima pilar utama yang mencakup penguatan keuangan, peningkatan kepuasan pelanggan, pengembangan portofolio produk dan bisnis, transformasi proses bisnis, serta optimalisasi sumber daya manusia dan budaya perusahaan.
Penguatan keuangan dilakukan melalui perbaikan modal kerja dan pengendalian biaya yang lebih terukur. Sementara itu, dari sisi pemasaran, perusahaan terus berupaya meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan.
Di sisi ekspansi, Phapros berencana memperluas pasar ekspor dengan memanfaatkan momentum penguatan dolar AS. Sejumlah negara yang menjadi target antara lain Timor Leste, Kamboja, Filipina, Myanmar, Papua Nugini, hingga Peru.
"Dari sisi penguatan portofolio produk, Phapros juga akan melakukan ekspansi pasar untuk ekspor," ujar Intan.
Ferdinand menambahkan, tren pemulihan kinerja yang tercipta pada 2025 masih berlanjut hingga kuartal I-2026. Penjualan perseroan hingga Maret 2026 tumbuh 10,17% menjadi Rp221 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp200 miliar.
Menurut Jeson, peluncuran produk multivitamin anak sejalan dengan fokus perusahaan dalam mendukung program pemerintah untuk menurunkan angka stunting.
Selain pengembangan produk, Phapros juga akan meningkatkan penjualan melalui penguatan kepuasan pelanggan, perluasan portofolio produk, transformasi digital, serta pengembangan pasar ekspor dan domestik.
"Kita melakukan intensifikasi pada pasar eksisting dan juga melakukan ekstensifikasi untuk pasar baru di overseas market," ujar Jason.
Sementara itu, untuk mengantisipasi dampak pelemahan rupiah terhadap dolar AS, perusahaan telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Ida mengatakan Phapros bersama Holding BUMN Farmasi Bio Farma menyusun berbagai skenario guna meminimalkan dampak kenaikan biaya bahan baku dan logistik.
Langkah tersebut antara lain melalui lindung nilai (hedging), diversifikasi sumber pemasok, penggunaan mata uang selain dolar AS dalam transaksi impor, hingga memperluas kerja sama langsung dengan pemasok dari negara asal.
"Yang kita upayakan kendali adalah mitigasi untuk meminimalisir dampak negatifnya," kata Ida.
Perusahaan juga melakukan renegosiasi kontrak dengan pemasok luar negeri agar kenaikan harga bahan baku tidak langsung dibebankan kepada perusahaan. Selain itu, kontrak pengadaan jangka panjang dipertimbangkan untuk menjaga kontinuitas pasokan sekaligus memperoleh harga yang lebih kompetitif.
Untuk mendukung berbagai program tersebut, Phapros mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp68,7 miliar pada 2026.
"Jumlah ini memang kami fokuskan untuk pemenuhan compliance atas regulasi terkini bagi industri farmasi yang memang harus dipatuhi, termasuk untuk juga inovasi dan rejuvenasi produk-produk eksisting," ujar Ferdinand.
Selain bisnis farmasi, Phapros juga membuka peluang ekspansi ke industri kosmetik. Menurut Intan, dua anak usaha perseroan, yakni PT Lucas Jaya dan PT Marin Liza, telah memiliki izin untuk memproduksi kosmetik dan alat kecantikan.
Peluang tersebut saat ini masih dikaji seiring pertumbuhan pasar kosmetik nasional dan meningkatnya permintaan jasa manufaktur kosmetik di Indonesia. Dengan fondasi keuangan yang mulai pulih, ekspansi produk dan pasar diharapkan menjadi motor pertumbuhan baru bagi perseroan dalam beberapa tahun mendatang.
Substitusi impor
Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dinilai menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera membangun ekosistem industri farmasi nasional yang lebih kuat.
Guru Besar Universitas Andalas (Unand) Syafruddin Karimi menilai upaya mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat tidak cukup hanya melalui imbauan penggunaan produk lokal, melainkan harus didukung kebijakan yang menciptakan kepastian usaha dari hulu hingga hilir.
Menurut Syafruddin, tekanan terhadap industri farmasi saat ini tidak hanya berasal dari kenaikan harga bahan aktif obat yang masih banyak diimpor, tetapi juga eksipien, kemasan tertentu, peralatan produksi, hingga biaya logistik internasional yang bergantung pada mata uang asing.
Ketika rupiah berada di kisaran Rp17.940 per dolar AS dan pasar forward mengindikasikan potensi pelemahan lebih lanjut, biaya produksi industri farmasi ikut meningkat. Di sisi lain, penyesuaian harga obat tidak selalu dapat dilakukan secara cepat, terutama untuk produk yang masuk dalam pengadaan publik, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), maupun katalog pemerintah.
Kondisi tersebut menyebabkan perusahaan farmasi menghadapi tekanan margin usaha, risiko gangguan pasokan, serta kebutuhan modal kerja yang lebih besar untuk menjaga keberlangsungan produksi.
Syafruddin mengatakan program substitusi impor perlu dipercepat, namun harus diawali dengan pemetaan bahan baku yang memiliki nilai impor terbesar agar pengembangan industri domestik lebih terarah. Pemerintah juga perlu memberikan dukungan berupa kontrak pembelian jangka panjang, insentif fiskal bagi produsen bahan aktif obat, serta percepatan perizinan bagi produk yang beralih menggunakan bahan baku lokal.
"Substitusi impor tidak cukup hanya memerintah industri membeli produk lokal, negara harus menciptakan ekosistem produksi, standar mutu, pembiayaan, permintaan pasti, dan kepastian regulasi," jelas Syafruddin kepada SUAR, Kamis (11/6/2026).
Baca juga:

Ia menilai keberhasilan pengembangan bahan baku dalam negeri juga bergantung pada kemitraan antara perguruan tinggi, industri farmasi swasta, dan BUMN farmasi untuk memperkuat riset dan inovasi. Selain itu, pemerintah perlu menjamin kepastian permintaan agar industri memiliki insentif berinvestasi dan mampu mencapai skala ekonomi yang kompetitif.
Dalam jangka panjang, transformasi industri farmasi perlu diarahkan pada kemandirian bahan baku, penguasaan teknologi proses produksi, integrasi riset dengan manufaktur, serta penguatan rantai pasok domestik.
Syafruddin juga melihat fitofarmaka berpotensi menjadi bagian dari strategi nasional memperkuat industri farmasi. Namun, pengembangannya tetap harus melalui tahapan ilmiah yang ketat, mulai dari uji praklinik, uji klinik, standardisasi bahan baku, hingga pengawasan mutu yang konsisten.
Menurutnya, pemerintah perlu menghubungkan seluruh rantai nilai fitofarmaka agar sektor tersebut dapat berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat ketahanan industri farmasi nasional terhadap tekanan kurs dan ketidakpastian global.