Memasuki pertengahan tahun 2026, industri farmasi nasional menghadapi tantangan berat akibat melemahnya nilai tukar rupiah. Kurs yang sempat menyentuh Rp 18.000 per dolar AS dan kini masih tertahan di kisaran Rp 17.700-an per dolar AS memicu lonjakan harga obat-obatan di dalam negeri.
Pencapaian tersebut diraih di tengah berbagai tantangan eksternal, mulai dari perlambatan ekonomi global, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga tingginya ketergantungan industri farmasi nasional terhadap impor bahan baku.
Saat ini masyarakat dan petani di berbagai daerah belum merasakan dampak langsung dari kehadiran perusahaan ini dalam pengembangan potensi obat-obatan herbal di Indonesia.
Lebih dari 95% kebutuhan bahan baku obat nasional masih bergantung pada pasokan luar negeri. Kimia Farma menjadi perusahaan farmasi pertama yang berhasil menerapkan program change source dengan mengganti sejumlah bahan baku impor menggunakan bahan baku produksi dalam negeri.
Nilai tukar rupiah yang menembus Rp 17.700 per dolar AS menjadi alarm keras bagi industri yang memiliki ketergantungan tinggi pada bahan baku dari luar negeri. Industri farmasi nasional menjadi salah satu yang paling rentan terkena dampak guncangan ini.
Ketergantungan terhadap impor bahan baku tinggi karena industri hulu farmasi yang belum berkembang dan keterbatasan bahan baku lokal yang belum sesuai standar.
Menampilkan 12 dari 6 total postingan
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.