Sejumlah pakar menilai penurunan Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April 2026 sebagai sinyal awal pelemahan aktivitas industri yang perlu diwaspadai.
Purchasing Manager’s Index (PMI) manufaktur Indonesia pada April 2026 turun ke level 49,1, masuk ke zona kontraksi setelah bulan sebelumnya berada di 50,1. Penurunan ini merupakan pertama kalinya PMI masuk zona kontraksi dalam 9 bulan terakhir.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), M. Rizal Taufikurahman, menilai penurunan PMI bukan hanya akibat gejolak global, tetapi juga tekanan domestik yang melemah sehingga memperdalam kontraksi.
“Faktor global memang menjadi pemicu awal, tetapi masalah dalam negeri seperti daya beli yang tertekan dan biaya produksi yang meningkat justru memperburuk kondisi,” ujarnya kepada SUAR di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Baca juga:

Rizal menekankan sektor manufaktur berisiko masih akan tertahan dan belum cukup kuat untuk kembali ke jalur ekspansi. Ia menyebut pelemahan konsumsi kelas menengah, ketidakpastian usaha, serta tekanan biaya yang belum mereda sebagai faktor yang membuat pemulihan cenderung rapuh.
“Meski ada di fase kontraksi kategori ringan, Namun, penurunan ini masih harus tetap diwaspadai sebagai alarm dini untuk sektor riil., melainkan alarm dini bagi sektor riil,” katanya.
Menurut Rizal, prospek pemulihan tetap terbuka, namun tanpa intervensi kebijakan yang lebih tepat sasaran, rebound manufaktur akan terbatas dan tidak merata. Ia memperkirakan PMI dalam jangka pendek masih berpotensi bergerak di kisaran 49–51, zona abu-abu yang menunjukkan peluang perbaikan tetapi belum solid.
"Artinya, tanpa intervensi kebijakan yang lebih tepat sasaran, pemulihan manufaktur akan cenderung terbatas dan tidak merata,” kata dia.
Pengaruh eskalasi konflik perang
Dalam laporan terbaru lembaga pemeringkat S&P Global Market Intelligence, kemarin (4/5), pelamahan PMI pada April 2026 ini ke level 49,1 karena eskalasi konflik perang Iran yang berimbas ke seluruh kawasan.
Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti mengatakan penurunan aktivitas ini diiringi dengan berkurangnya penyerapan tenaga kerja dan pembelian dibandingkan bulan sebelumnya.
"Sektor manufaktur Indonesia pada bulan April lalu sudah mulai merasakan tekanan inflasi yang semakin intensif akibat eskalasi konflik perang di Timur Tengah," ucap Usamah dalam keterangan tertulisnya, Senin (04/05/2026).
Selain itu, tumpukan pekerjaan (backlog) juga terus menyusut, mencerminkan melemahnya permintaan yang belum sepenuhnya pulih. "Hal ini membuat perusahaan menggunakan input cadangan di tengah kesulitan mencari dan menerima bahan baku," kata dia.
Masuknya PMI manufaktur Indonesia ke zona kontraksi ini disebabkan oleh penurunan volume produksi yang berkelanjutan, ditambah terjadinya kenaikan harga bahan baku, kekurangan pasokan, hingga melemahnya daya beli konsumen yang dirasakan oleh perusahaan.
“Tekanan harga melonjak pada bulan April, dengan tingkat inflasi biaya melonjak ke level tertinggi sejak April 2022. Biaya yang lebih tinggi dibebankan kepada klien, yang mengakibatkan kenaikan harga jual paling tajam dalam 12 setengah tahun terakhir. Perusahaan secara umum mengaitkan inflasi harga dengan dampak perang dan tekanan pasokan berkelanjutan,” lanjutnya.
Sementara itu, dari sisi pesanan baru, perusahaan manufaktur Indonesia juga mengalami peningkatan meskipun kecil, sehingga hal tersebut juga menjadi kabar baik tersendiri. Data menunjukkan bahwa perbaikan data tersebut didukung oleh pasar domestik lantaran pesanan ekspor baru mengalami penurunan.
Laporan juga, menunjukkan bahwa hal ini sering terjadi karena klien melakukan pembelian di muka sebelum kemungkinan gangguan akibat konflik terjadi.
Sektor manufaktur Indonesia dalam 12 bulan mendatang dikatakan juga tetap optimis bahwa volume produksi akan naik. Tetapi, tingkat kepercayaan tersebut turun ke level terendah dalam lima bulan terakhir.
Optimisme pelaku usaha didorong dengan peluncuran produk baru dan cahaya harapan bahwa konflik Timur Tengah akan berakhir dalam waktu dekat, meskipun masih ada kekhawatiran bahwa konflik masih akan terus berlanjut.

Perlu perhatian
Sementara itu, ekonom Center of Reform on Economics (Core) Yusuf Rendy Manilet juga menilai penurunan PMI manufaktur Indonesia tersebut sebagai sebuah sinyal yang perlu diperhatikan. Penurunan PMI manufaktur Indonesia itu juga dikatakan cukup cepat jika dibandingkan dengan posisi puncaknya di awal tahun.
“Namun demikian, ini belum tentu mencerminkan pelemahan yang dalam, melainkan lebih menunjukkan perubahan momentum dalam jangka pendek,” kata Yusuf.
Ia menyoroti perubahan pola tekanan dalam sektor manufaktur. Jika sebelumnya kontraksi lebih banyak dipicu oleh melemahnya permintaan terutama dari pasar ekspor, kini tekanan justru bergeser ke sisi biaya produksi yang semakin membebani pelaku industri.
Kenaikan harga bahan baku dan gangguan pasokan membuat perusahaan mulai menahan laju produksi, meskipun permintaan belum sepenuhnya runtuh.
“Di saat yang sama, biaya input meningkat dan mulai diteruskan ke harga jual. Ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur sedang berada dalam fase penyesuaian terhadap kenaikan biaya, bukan semata menghadapi penurunan permintaan yang tajam,” jelasnya.

Penurunan level PMI manufaktur Indonesia ini juga sejalan dengan penurunan utilisasi di sejumlah sektor, penyesuaian terhadap tenaga kerja, hingga perubahan pada pola persediaan. PMI pada dasarnya menangkap arah perubahan aktivitas dari bulan ke bulan, tidak menggambarkan level aktivitas secara keseluruhan.
Artinya, kontraksi yang tercermin dalam PMI ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa kondisi industri sudah terpuruk, melainkan lebih kepada indikasi bahwa laju pertumbuhannya sedang melemah.
“Jadi angka di bawah 50 lebih mencerminkan perlambatan dibandingkan kontraksi yang luas. Selain itu, kondisi antar-subsektor juga tidak seragam, sehingga dampaknya cenderung terkonsentrasi pada sektor tertentu, terutama yang padat karya dan bergantung pada bahan baku impor,” sambung Yusuf.
Jika dibandingkan dengan negara lain terutama pada sejumlah negara ASEAN, kinerja manufaktur Indonesia belum berada pada posisi yang paling lemah, namun tekanan yang dihadapi relatif lebih besar.
Dijelaskan olehnya, negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand masih mendapatkan topangan dari permintaan di sektor seperti otomotif dan elektronik, sementara Indonesia dan Vietnam mengalami kerentanan akibat gangguan rantai pasok dan lonjakan harga energi yang menekan biaya produksi.
Perbedaan dampak antarnegara ini tidak semata dipengaruhi oleh siklus ekonomi, tetapi mencerminkan karakter dan struktur industri dari masing-masing negara yang kemudian menentukan tingkat ketahanan industrinya terhadap gejolak eksternal.
“Kalau dilihat lebih dalam, ini juga berkaitan dengan posisi struktural Indonesia di sektor manufaktur kawasan yang masih berada di tingkat menengah. Faktor seperti produktivitas tenaga kerja, kedalaman industri hulu, infrastruktur, dan kepastian regulasi masih menjadi area yang perlu diperkuat,” tegasnya.
Yusuf memproyeksikan PMI ke depannya masih berpotensi bergerak di zona kontraksi ringan. Akan tetapi, ia juga melihat adanya kemungkinan pemulihan, yang mana sangat dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti harga energi, nilai tukar, hingga kekuatan permintaan domestik.
Ia pun mengusulkan sejumlah langkah yang bisa diambil demi memperkuat daya tahan industri manufaktur dalam negeri. Langkah tercepat yang perlu dilakukan adalah dengan mempercepat belanja pemerintah dan stimulus agar mendorong aktivitas industri. Selain itu dalam jangka pendek ini, penting juga untuk melakukan berbagai upaya untuk meredam tekanan biaya terutama pada energi dan bahan baku industri.
“Untuk jangka menengah, penguatan struktur industri tetap menjadi agenda utama. Upaya substitusi bahan baku impor, pengembangan industri hulu, peningkatan produktivitas tenaga kerja, serta perbaikan infrastruktur dan regulasi akan menentukan seberapa tahan sektor manufaktur terhadap guncangan di masa depan,” jelasnya.