Performa Dunia Usaha Triwulan Pertama Relatif Stabil, Waspadai Potensi Kenaikan Beban di Triwulan Kedua

Kinerja triwulan pertama ditopang banyaknya hari besar keagamaan. Ini melanjutkan perform dari triwulan sebelumnya. Namun, dunia usaha perlu mewaspadai tekanan kenaikan berbagai biaya produksi di triwulan II-2026 dampak konflik berkepanjangan gejolak di Timur Tengah.

Performa Dunia Usaha Triwulan Pertama Relatif Stabil, Waspadai Potensi Kenaikan Beban di Triwulan Kedua
Ilustrasi produksi industri manufaktur. Pekerja menyelesaikan proses produksi cat di pabrik PT Jotun Indonesia yang baru diresmikan di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (15/4/2026).
Daftar Isi

Kinerja dunia usaha Tanah Air pada triwulan I-2026 relatif stabil meneruskan kinerja pada triwulan IV-2026. Namun, dunia usaha perlu mewaspadai tekanan kenaikan berbagai biaya produksi di triwulan II-2026 dampak konflik berkepanjangan gejolak di Timur Tengah.

Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dirilis Bank Indonesia (BI) pada Jumat (17/4/2026) menunjukkan, kapasitas produksi yang terpakai pada triwulan I-2026 tercatat sebesar 73,33% meningkat tipis dibandingkan triwulan IV-2025 yang sebesar 73,15%. Kenaikan kapasitas produksi ditopang oleh lapangan usaha pertanian; kehutanan dan Perikanan; serta lapangan usaha Industri Pengolahan.

“Perkembangan ini sejalan dengan peningkatan permintaan masyarakat pada berbagai Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) di triwulan I 2026 seperti Tahun Baru Imlek, Hari Suci Nyepi, periode Ramadan dan Idulfitri 1447 H, serta dimulainya musim panen pada komoditas pertanian,” ujar Direktur Departemen Komunikasi BI Anton Pitono, Jumat.

Data ini sejalan dengan hasil laporan Prompt Manufacturing Index (PMI) triwulan I-2026 yang juga dirilis BI pada Jumat. Laporan ini menyebutkan PMI pada triwulan I-2026 pada level 52,03% meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang pada level 51,86%. Angka di atas 50% menunjukkan industri manufaktur dalam fase eskpansif, sebaliknya angka di bawah 50% menunjukkan fase kontraksi.

Berdasarkan komponen pembentuknya, Volume Persediaan Barang Jadi, Volume Produksi, dan Volume Total Pesanan tercatat berada pada fase ekspansi.

Berdasarkan Sublapangan Usaha (Sub-LU), PMI-BI pada sebagian besar Sub-LU juga berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada Industri Kertas dan Barang dari Kertas, Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman, Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki, serta Industri Makanan dan Minuman.

Lebaran tak cukup dongkrak

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai peningkatan tipis kapasitas produksi terpakai pada triwulan I-2026 73,33% dari 73,15% triwulan sebelumnya itu merupakan sinyal bahwa mesin perekonomian Indonesia saat ini belum cukup kuat. Menurutnya, pada periode tersebut didukung dengan berbagai HBKN yang bisa membuat peningkatan tersebut lebih tinggi

Menurutnya, masalah utamanya terletak dari sisi permintaan, di mana daya beli masyarakat masih cukup untuk menjaga konsumsi tetap berjalan tetapi belum kuat untuk mendorong ekspansi yang lebih agresif. Terlihat dari persediaan barang jadi yang naik lebih cepat dibanding jumlah pesanan.

“Artinya industri sudah mulai produksi di atas serapan pasar, dan itu biasanya sikap hati-hati. Sinyal kehati-hatian itu makin jelas dari tenaga kerja yang masih kontraksi. Perusahaan memilih menaikkan utilisasi mesin, bukan menambah pekerja. Jadi pertumbuhan yang terjadi sekarang sifatnya dangkal, belum menciptakan pendapatan baru di masyarakat,” kata Yusuf, Minggu (19/04/2026).

Pekerja mengoperasikan salah satu mesin pabrik usai peresmian PT. Elecmetal Longteng Indonesia di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (15/4/2026). ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/nz

Waspadai tekanan di triwulan kedua

Yusuf mengingatkan, pelaku dunia usaha agar mewaspadai potensi tekanan kenaikan biaya yang bisa mengganggu kinerja di triwulan kedua.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi dari Pertamina pun memberikan tantangan bagi dunia usaha. Seperti diketahui, harga BBM nonsubsidi mengalami peningkatan imbas gejolak harga minyak dunia seperti Dexlite dan Pertamina Dex yang naik sekitar Rp9.400. Lonjakan tersebut pun dinilai tergolong cukup besar dalam satu kali penyesuaian. Dari struktur biaya, bahan bakar sendiri bisa mengambil porsi 30-40% dari operasional.

“Sektor seperti makanan-minuman, tekstil, dan furnitur yang tadi diharapkan mendorong Q2 akan menghadapi tekanan margin. Mereka ada di posisi sulit,” jelasnya.

Jika harga dinaikkan, permintaan bisa turun lantaran daya beli yang sudah melemah. Tetapi di satu sisi jika tidak dinaikkan, margin perusahaan akan semakin tergerus. Pelaku usaha pun kemungkinan besar diperkirakan akan menahan harga sehingga ekspansi akan melambat.

“Di sisi rumah tangga, dampaknya tidak langsung lewat BBM, tapi lewat harga barang. Kenaikan ongkos distribusi cepat atau lambat akan masuk ke harga pangan dan kebutuhan sehari-hari,” ucap Yusuf.

Baca juga:

Industri Petrokimia Hadapi Kelangkaan Pasokan di Tengah Larangan Lintasi Hormuz
Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan biaya produksi industri, terutama yang bergantung pada bahan baku berbasis energi

Kondisi dari sisi permintaan ini juga perlu mendapatkan perhatian yang serius, lantaran kenaikan harga sedikit pun bisa langsung menggerus daya beli, khususnya masyarakat kelas menengah ke bawah. Yusuf memproyeksikan pertumbuhan pada Q2-2026 masih bisa dalam fase ekspansi ditopang oleh sektor pertanian, industri pengolahan, serta sektor berbasis konsumsi, meskipun kualitasnya dinilai semakin rapuh

“Kita bisa melihat ekonomi tetap tumbuh, tapi tanpa penyerapan tenaga kerja yang berarti dan dengan tekanan harga yang meningkat. Ini kombinasi yang tidak sehat, karena produksi naik tanpa diikuti peningkatan daya beli,” tutupnya.

Apabila kondisi tersebut berlanjut hingga kuartal-kuartal selanjutnya, efeknya akan bisa lebih terasa ketika dampak kenaikan biaya sudah terasa sepenuhnya masuk ke dalam harga dan bantalan konsumsi musiman tidak ada.

Sementara itu dari sisi dunia usaha, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani memproyeksikan pertumbuhan pada Q2 mendatang akan lebih rendah dan semakin tertekan akibat pelemahan nilai tukar rupiah yang bisa terjadi sewaktu-waktu hingga inflasi barang impor khususnya BBM atau biaya transportasi dan imported staple food seperti beras, gandum, dan bawang-bawangan.

“Tekanan ini pun masih belum bisa diprediksikan akan seberapa lama, seperti apa, dan bagaimana dampaknya terhadap daya beli masyarakat dan pertumbuhan konsumsi di Q2,” kata Shinta.

Baca juga:

Ekonomi Triwulan Pertama 2026 Diperkirakan Masih Tumbuh 5%
Perekonomian akan ditopang oleh tingkat konsumsi masyarakat. Namun, dunia usaha masih perlu tetap waspada dan berhati-hati.

Pelaku usaha masih terus berupaya untuk mempertahankan produktivitas dan kinerja usahanya. Namun tentu saja, kerja keras ini perlu diikuti dengan respons regulasi dan kinerja pasar yang memadai.

Konflik di Timur Tengah dan juga perubahan-perubahan lain yang bisa terjadi dalam waktu dekat ini juga masih terus menjadi perhatian para pelaku usaha, khususnya yang dalam bentuk inflasi impor, transportasi atau logistik, hingga daya beli pasar domestik.

“Beberapa pelaku sudah pre-emptive mengupayakan diversifikasi supply impor dan diversifikasi rekan dagang untuk mengantisipasi disrupsi ssupply atau pelemahan kinerja ekspor yang dapat terjadi karena efek konflik Timur Tengah,” jelasnya.

Kerja keras pelaku usaha itu pun perlu diikuti dengan dukungan dari pemerintah. Tanpa adanya stimulasi pertumbuhan atau konsumsi dari pemerintah, baik yang bersifat fiskal, belanja, ataupun dalam bentuk regulasi, kinerja pertumbuhan dunia usaha dan perekonomian diperkirakan akan berjalan lebih lambat akibat tekanan-tekanan yang terjadi.

“Lagi-lagi sejauh mana kinerja usaha bisa dipertahankan atau ditingkatkan untuk mendukung pertumbuhan di Q2 dan seterusnya sangat-sangat tergantung pada dukungan kebijakan pemerintah di dalam negeri, baik yang bersifat makroprudensial maupun stimulasi," ujarnya.

Sementara itu dari laporan PMI yang dirilis BI, kegiatan dunia usaha pada triwulan II 2026, diperkirakan masih berada pada fase ekspansi pada level 52,26%

Ekspansi terutama didorong oleh Volume Produksi, Volume Persediaan Barang Jadi, dan Volume Total Pesanan. Mayoritas Sub-LU diprakirakan berada pada fase ekspansi, dengan indeks tertinggi pada Industri Furnitur, Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki, serta Industri Makanan dan Minuman.

Baca selengkapnya

Ω