Investasi Jumbo Ajaib: Sinyal Pulihnya Pendanaan Startup?

Investasi Jumbo Ajaib: Sinyal Pulihnya Pendanaan Startup?

Investasi jumbo yang diperoleh Ajaib dinilai belum cukup menjadi sinyal baik bagi pendanaan startup Indonesia yang menyurut.

Investasi Jumbo Ajaib: Sinyal Pulihnya Pendanaan Startup?
Dalam Artikel Ini

Investasi jumbo senilai USD 270 juta atau sekitar Rp4,8 triliun dari SBI Holdings, raksasa jasa keuangan asal Jepang, kepada perusahaan financial technology (fintech) Ajaib, dinilai belum cukup menjadi sinyal baik bagi pendanaan startup Indonesia yang menyurut.

Pendanaan yang diperoleh Ajaib menjadi pendanaan terbesar yang didapatkan oleh perusahaan teknologi Indonesia dalam lebih dari empat tahun terakhir. Meski demikian, peneliti di Center of Digital Economy and SMEs Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Izzudin Al Farras Adha mengatakan, investasi yang besar ini belum bisa dibaca sebagai sinyal positif secara menyeluruh terhadap ekosistem startup Indonesia. Pasalnya, investasi besar itu spesifik ditujukan kepada Ajaib yang dinilai secara fundamental dan perkembangan bisnisnya memang kuat.

“SBI sebagai institusi keuangan global memandang sektor jasa keuangan digital Indonesia masih prospektif. Ajaib sebagai salah satu platform keuangan digital Indonesia menunjukkan fundamental yang kuat serta perkembangan bisnis dan pengguna yang menarik perhatian institusi keuangan global tersebut,” kata Farras, Senin (07/09/2026).

Sebelum masuknya dana jumbo dari SBI Holdings, Ajaib juga disebut telah memiliki dukungan dari investor global lainnya, sehingga menjadi salah satu faktor penentu yang membuat SBI pada akhirnya memutuskan untuk menanamkan modal ke Ajaib. Kondisi ini pun tidak dimiliki oleh banyak startup lainnya di Indonesia.

Sebagaimana diketahui, Ajaib telah didukung investor kelas dunia seperti Horizon Ventures serta DST Global dan Ribbit Capital. Meski begitu, investasi besar tersebut tetap dinilai menjadi sinyal positif khususnya kepada startup dalam negeri yang memiliki fundamental bisnis baik.

“Menurut saya, investasi besar SBI ke Ajaib memberi sinyal positif kepada dunia dan berpotensi membuat investor global kembali melirik startup Indonesia yang memiliki profitabilitas, cash flow, tata kelola, dan sustainability baik,” ujarnya.

Ketergantungan Modal Asing

Ketergantungan startup digital di Indonesia pada pendanaan asing juga masih sangat tinggi, sehingga membuat ekosistem digital nasional menjadi sangat rentan terhadap gejolak ekonomi global. Penguatan porsi modal dalam negeri ini menjadi penting agar pertumbuhan startup Indonesia tidak terlalu bergantung pada pendanaan dari luar.

Maka dari itu, Farras menegaskan bahwa sumber pendanaan domestik ini perlu terus diperkuat, termasuk mendorong keterlibatan institusi dan dana investasi dalam negeri untuk membiayai startup potensial bangsa. Tantangannya, terletak pada ketidakpastian hukum di Indonesia yang masih tinggi. 

“Ketidakpastian hukum membuat talenta terbaik enggan membantu pemerintah, dana lokal lebih sulit dimobilisasi, dan akhirnya berdampak terhadap semakin menantangnya startup lokal mendapatkan sumber  pendanaan domestik,” lanjut Farras. 

Artikel Terkait:

Dari Valuasi ke Profit, Startup Ubah Orientasi Bisnis
Ketika dulu startup berlomba-lomba menggenjot valuasi mereka, kini mereka lebih fokus mencatat keuntungan dan menciptakan bisnis berkelanjutan.

Di tengah kebutuhan untuk memperkuat sumber pendanaan domestik, kapasitas investasi dari dalam negeri sebenarnya dinilai sudah cukup besar, apalagi dengan melalui konsolidasi aset dan dana badan usaha milik negeri (BUMN) di bawah Danantara.

Danantara Jadi Harapan

Pengamat BUMN sekaligus Direktur NEXT Indonesia Center Herry Gunawan menambahkan, dengan adanya Danantara harusnya peluang startup Indonesia untuk mendapatkan pembiayaan dana dari dalam negeri terbuka lebar. BUMN sendiri juga telah mendapatkan mandat tugas untuk tidak hanya mencari keuntungan semata, tetapi juga harus memberikan kontribusi terhadap perekonomian nasional.

“Karena itu, dengan besarnya dana yang dikelola oleh Danantara, seharusnya pembiayaan startup yang potensial dan hasil karya anak negeri turut mendapatkan perhatian,” ucap Herry, Senin (07/09/2026).

Kekhawatiran pelaku usaha startup dalam menerima investasi modal dari BUMN saat ini juga menurutnya seharusnya sudah tidak menjadi sebuah isu lagi, mengingat Undang-Undang BUMN telah mengatur bahwa kerugian BUMN tidak dihitung sebagai kerugian negara, begitu juga PP No.38 Tahun 2026 tentang Pengelolaan BUMN yang mengatur terkait cut loss BUMN.

Artikel Terkait:

Permintaan Pesat, Danantara Kejar Investasi Data Center
Danantara juga sudah memiliki task force bersama dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Kementerian Keuangan yang bergerak dalam lingkup penguatan pengawasan, stabilitas ekonomi, dan keamanan infrastruktur keuangan nasional.

Seperti diketahui, sejumlah pejabat perusahaan modal ventura yang dikelola oleh BUMN, yaitu Mantan Direktur Utama BRI Ventures Nicko Widjaja dan Mantan Direktur Utama MDI Ventures Donald Surjana dijatuhi hukuman pidana terkait investasinya yang merugi di grup usaha TaniHub. BRI Ventures adalah perusahaan modal ventura milik BRI dan MDI Ventures merupakan anak usaha PT Telkom Indonesia.

ADVERTISEMENT Google Adsense Banner (970x250)

Rekomendasi SUAR