Industri Semen Terancam Krisis Pasokan Batu Bara
Rata-rata stok batu bara di seluruh pabrik, baik BUMN maupun non-BUMN mayoritas hanya bertahan dua sampai tiga hari
Rata-rata stok batu bara di seluruh pabrik, baik BUMN maupun non-BUMN mayoritas hanya bertahan dua sampai tiga hari
Industri semen Indonesia tengah mengalami krisis pasokan batu bara, membuat kelancaran produksi terganggu dan mengancam operasional sejumlah pabrik di Indonesia.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) Lilik Unggul Rajarjo mengungkapkan krisis yang berlangsung sejak awal tahun 2026 cukup mempengaruhi kinerja pabrik dari kualitas dan kelancaran produksi.
"Rata-rata stok batu bara di seluruh pabrik, baik BUMN maupun non-BUMN mayoritas hanya bertahan dua sampai tiga hari," ujar Lilik dalam Aspebindo Talkshow di Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026).
Lilik menjelaskan persoalan ini dipicu oleh kesenjangan regulasi Domestic Market Obligation (DMO).
Kebijakan harga khusus DMO saat ini hanya dinikmati BUMN, sementara pabrik non-BUMN harus membeli batu bara dengan harga pasar yang melonjak 39–40%. Kenaikan harga ini membengkakkan biaya produksi semen hingga 20%.
Oleh karenanya, Asperssi mendesak pemerintah agar memberlakukan skema DMO yang setara untuk seluruh pelaku industri.
Imbas dari krisis ini mulai dirasakan pemain besar seperti PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG). Beberapa lini produksi SIG terpaksa padam karena ketiadaan pasokan batu bara. Akibatnya, perusahaan kehilangan potensi produksi clinker (semen setengah jadi) hingga 1,2 juta ton serta potensi pasar ekspor, khususnya ke Bangladesh yang kini diambil alih oleh Vietnam.
Pada tahun 2025 lalu, produksi clinker sekitar 57 juta ton, di mana sebanyak 12 juta ton diekspor mengingat permintaan dari luar cukup tinggi.
“Kalau kita cek demand ekspornya tetap tinggi terutama untuk area Bangladesh, tapi sekarang diisi Vietnam karena keterbasan produksi clinker kita selain untuk memenuhi demand dalam negeri tetapi juga ada keterbatasan batu bara sehinggga kita juga tidak bisa menambah ekspor,” jelasnya.

Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batu Bara Indonesia (Aspebindo) Anggawira menjelaskan, kondisi cuaca dan mengeringnya sejumlah sungai akibat kemarau berkepanjangan ditambah fenomena El Nino turut menjadi kendala dalam pengangkutan batu bara, sehingga diperlukan adanya solusi untuk menjaga kelancaran pasokan terhadap industri-industri dalam negeri khususnya semen.
“Sungai-sungai itu pada kering saat ini, jadi memang harus ada strategi untuk pasokan batu bara ini teratasi sampai akhir tahun," kata Angga.
Kebutuhan batu bara dari sektor industri dalam negeri juga terus meningkat setiap tahunnya, sehingga tantangan dalam menjaga pasokan ini juga semakin besar ke depannya.
Industri semen ini termasuk sebagai industri dengan energy intensive production, di mana 30-40% dari total biaya produksinya merupakan biaya untuk bahan bakar. Saat ini, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia mencatat ada 23 pabrik semen terintegrasi, 9 grinding plant, dan juga 26 lokasi pengantongan semen di dalam negeri.

Menanggapi krisis pasokan tersebut, Direktur Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Nonlogam Kementerian Perindustrian Putu Nadi Astuti menjelaskan, kontribusi industri pengolahan nonmigas terhadap PDB triwulan II-2026 tercatat sebesar 16,83%, pertumbuhan industri pengolahan bahan galian nonlogam sendiri tercatat 8,8% secara tahunan. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan produksi semen dan peningkatan utilisasi industri.
“Dari pabrik semen terintegrasi dan pabrik tidak terintegrasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, menyerap tenaga kerja hampir 15 ribu orang di tahun 2025, kemudian kapasitas di data kami itu sekitar 127 juta ton semen, clinker 83 juta ton, per tahunnya,” ucap Putu.
Saat ini, industri semen dalam negeri tengah mengalami kelebihan kapasitas, di mana semen mencapai 55 juta ton dan clinker mengalami kelebihan kapasitas produksi hingga 26 juta ton. Kemenperin juga telah memiliki sejumlah upaya untuk mengatasi kondisi tersebut.
“Kami upayakan peningkatan demand dalam negeri, jadi untuk semen ini sebenarnya potensi ke depan pemanfaatannya cukup tinggi. Konsumsi semen nasional per kapita itu 230 kilogram, jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara lainnya,” ungkapnya.
Untuk peningkatan ekspor clinker, pemerintah memberikan insentif ekspor agar produk Tanah Air ini lebih berdaya saing. Kemenperin juga mulai mengidentifikasi sejumlah produk berbahan dasar semen yang masih memiliki tingkat impor cukup tinggi. Langkah tersebut dilakukan untuk melihat peluang substitusi impor dengan produk yang dapat diproduksi dalam negeri.
“Misalnya beton yang seharusnya kalau beton ini menggunakan produk lokal nantinya juga akan meningkatkan pemanfaatan semen di beton tersebut. Upaya yang kami lakukan adalah mengusulkan penerapan SNI wajib untuk beton,” ujarnya.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Batu Bara Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Asep Kurnia Permata mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk memastikan kewajiban pemenuhan DMO bagi pemegang IUP dan IUPK. Perusahaan tambang dalam PP 29/2025 juga telah diwajibkan untuk mengalokasikan 25% dari realisasi produksinya untuk kebutuhan dalam negeri termasuk sektor strategis seperti industri semen.
Adapun Kementerian ESDM mencatat kebutuhan batu bara domestik untuk industri semen pada tahun 2025 sekitar 12,2 juta ton dan tahun 2026 12,3 juta ton.
“Jadi memang hampir setiap tahun kebutuhannya sama, tidak ada perubahan dari rencana terkait dengan pemenuhan tersebut,” kata Asep.
Pemerintah menyebut pasokan batu bara untuk kebutuhan kelistrikan maupun nonkelistrikan termasuk industri semen pada dasarnya telah tercukupi melalui skema DMO. Namun, pemenuhan pasokan ini tidak hanya bergantung pada volume, melainkan juga harus disesuaikan dengan spesifikasi yang dibutuhkan masing-masing industri.
“Kemudian juga ditambah saat ini adalah isu terkait dengan El Nino yang menyebabkan beberapa sungai mengering dan sebagainya, menyebabkan transportasi logistik kebutuhan pasokan batu bara ini menjadi tantangan sehingga perlu kita selesaikan,” tegasnya.
Untuk mengatasi persoalan kekurangan pasokan, sudah ada sejumlah upaya yang dilakukan seperti Kementerian ESDM yang menugaskan sejumlah perusahaan tambang untuk mengantisipasi kekurangan pasokan.
Sementara itu, Sekretaris Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Catur Gunadi mengusulkan, industri semen harus sudah mulai mengembangkan teknologi yang mampu memanfaatkan batu bara berkalori rendah. Langkah tersebut menurutnya penting mengingat batu bara berkalori rendah melimpah di Indonesia, sementara industri semen masih menjadikan batu bara dengan kalori 4.200-4.500 sebagai primadona.
“Industri semen ini di spesifikasi 4.200 ke atas, inilah spesifikasi batu bara yang laris manis, PLTU butuh, semua butuh, dan industri semen berada di area yang sama, ini tantangannya. Untuk jangka pendek, industri semen harus menyiapkan stockpile untuk mixing dari 3.200 ditambah untuk memenuhi spesifikasinya atau mengadaptasi teknologi yang mampu memakai batu bara dengan kalori rendah,” ujar Catur.
Pengembangan teknologi ini penting juga untuk mendukung proses transisi energi, sehingga industri tidak selalu terus bergantung pada batu bara.