Meningkatnya tensi geopolitik global dan pelemahan nilai tukar rupiah menjadi dua faktor yang paling diwaspadai PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) terhadap kualitas kredit emiten pada semester II tahun 2026. Kedua risiko tersebut dinilai berpotensi memicu aksi pemeringkatan (rating action), terutama pada perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap transaksi valuta asing, impor bahan baku, maupun aktivitas usaha yang terdampak konflik global.
Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan (NJK) 1 Pefindo, Martin Pandiangan, mengatakan proses pemeringkatan tidak hanya melihat kondisi keuangan perusahaan saat ini, melainkan juga memproyeksikan kemampuan emiten memenuhi kewajiban finansial dalam satu hingga tiga tahun ke depan.
Karena itu, perubahan peringkat pada suatu periode belum tentu dipicu oleh perkembangan terbaru, melainkan dapat merupakan kelanjutan dari evaluasi yang telah dilakukan sebelumnya.
"Dalam melakukan analisis pemeringkatan, kami menggunakan spektrum satu hingga tiga tahun ke depan untuk melihat kualitas kredit masing-masing perusahaan. Karena itu kami tidak hanya melihat kondisi semester I-2026, tetapi juga rekam jejak pada tahun-tahun sebelumnya. Bisa jadi perubahan rating pada semester ini merupakan kelanjutan dari rating action yang sudah dilakukan sebelumnya, atau justru tidak ada perubahan karena seluruh risikonya sudah di-price in sejak periode sebelumnya," kata Martin dalam konferensi pers Pefindo, Rabu (22/7/2026).
Menurut Martin, setiap perubahan peringkat memiliki karakteristik yang berbeda karena dipengaruhi kondisi fundamental masing-masing perusahaan. Sementara itu, berbagai risiko makroekonomi maupun tantangan industri yang bersifat struktural umumnya telah diakomodasi dalam proses pemeringkatan sebelumnya.
Memasuki paruh kedua tahun ini, perhatian Pefindo beralih pada meningkatnya ketidakpastian global. Konflik geopolitik yang masih berlangsung dan pelemahan rupiah dinilai dapat memperburuk profil kredit perusahaan yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap transaksi mata uang asing, baik untuk pembelian bahan baku, pembayaran utang, maupun aktivitas ekspor.
"Faktor utama yang kami nilai adalah risiko geopolitik dan pelemahan rupiah. Sektor-sektor yang memiliki aktivitas pembelian ataupun penjualan dalam mata uang asing tentu akan terdampak apabila rupiah melemah," tutur Martin.
Selain perusahaan yang memiliki eksposur terhadap valuta asing, Pefindo juga mencermati emiten yang rantai pasok maupun pasarnya berada di kawasan terdampak konflik. Martin menyebut sektor hilirisasi, seperti industri stainless steel, High Pressure Acid Leach (HPAL), dan aluminium termasuk kelompok usaha yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan kondisi global.
Tekanan serupa diperkirakan juga membayangi sektor transportasi, pariwisata, jasa konstruksi, ritel, dan properti. Kenaikan biaya impor material akibat pelemahan rupiah serta potensi penurunan daya beli masyarakat sebagai dampak inflasi dinilai dapat mengurangi kemampuan perusahaan menjaga kinerja keuangan.
Untuk sektor konstruksi dan properti, tekanan tersebut bahkan telah terlihat sejak semester pertama tahun ini. Analis Divisi Pemeringkatan NJK 2 Pefindo, Qorri Aina, mengatakan kedua sektor masih menghadapi tantangan berupa likuiditas yang ketat, tingkat leverage yang tinggi, serta kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing) dalam jumlah besar.
"Kami memandang sektor konstruksi dan properti masih menghadapi tekanan likuiditas, tingginya leverage, dan kebutuhan refinancing yang besar sehingga dalam jangka pendek hingga menengah profil kreditnya masih berada di bawah tekanan," ujar Qorri.
Baca juga:

Di sisi lain, kondisi berbeda terlihat pada sektor jasa keuangan. Analis Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan Pefindo, Kreshna Dwinanta Armand, mengatakan stabilitas peringkat perusahaan jasa keuangan masih ditopang oleh kuatnya dukungan perusahaan induk.
"Untuk portofolio jasa keuangan, banyak dipengaruhi oleh kekuatan induknya. Selama dukungan parent tidak berubah, maka outlook maupun peringkat juga relatif tetap," jelas Kreshna.
Martin turut menambahkan bahwa dukungan grup usaha merupakan salah satu faktor penting dalam proses pemeringkatan. Dukungan tersebut dapat berupa bantuan operasional, pembiayaan, maupun model bisnis yang saling terintegrasi.
Namun, ketergantungan yang terlalu besar terhadap grup juga menjadi faktor risiko yang turut diperhitungkan karena dapat menciptakan konsentrasi terhadap pelanggan, pemasok, maupun sumber bahan baku.
"Ketergantungan terhadap grup bisa berasal dari dukungan operasional, dukungan keuangan, model bisnis, maupun ketergantungan terhadap pembelian bahan baku. Semua itu kami nilai dalam proses pemeringkatan," ungkap Martin.
Beralih ke Obligasi
Di tengah meningkatnya berbagai risiko tersebut, Pefindo menilai pasar obligasi korporasi masih memiliki prospek yang cukup baik hingga akhir tahun.
Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto, mengatakan kebutuhan refinancing akan menjadi pendorong utama penerbitan surat utang karena nilai obligasi yang jatuh tempo pada semester II-2026 mencapai sekitar Rp107,5 triliun, hampir dua kali lipat dibandingkan semester I yang sebesar Rp55 triliun.
Selain didorong kebutuhan pendanaan, permintaan terhadap obligasi korporasi diperkirakan tetap terjaga. Menurut Suhindarto, kondisi pasar saham yang masih berfluktuasi membuat investor mulai mencari instrumen investasi berpendapatan tetap dengan tingkat imbal hasil yang lebih menarik.
"Permintaan dari investor masih cukup kuat. Ini terjadi seiring dengan kondisi investor yang masih mencari alternatif imbal hasil di tengah tertekannya pasar saham. Dengan kondisi yield yang ditawarkan di pasar surat utang korporasi lebih tinggi, maka instrumen ini menjadi lebih menarik dibandingkan pasar saham yang masih tertekan dan relatif volatil," ucap Darto, sapaannya.
Meski demikian, ia mengingatkan pasar obligasi tetap menghadapi sejumlah tantangan. Ketidakpastian geopolitik, suku bunga yang masih tinggi, pelemahan rupiah, meningkatnya penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), serta tingginya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) diperkirakan membuat investor semakin selektif dalam memilih surat utang.
Dalam kondisi tersebut, investor diperkirakan akan lebih memprioritaskan obligasi yang diterbitkan emiten dengan peringkat kredit tinggi, terutama kategori AAA, AA, dan A.
Perkembangan peringkat dan outlook, kemampuan refinancing, struktur utang, eksposur terhadap pelemahan rupiah, serta sensitivitas sektor usaha terhadap risiko geopolitik menjadi sejumlah faktor yang dinilai penting dalam menilai kualitas kredit obligasi korporasi.
Sebagai gambaran kondisi awal sebelum memasuki semester II, Pefindo mencatat kualitas kredit mayoritas penerbit obligasi nasional masih relatif terjaga sepanjang Januari-Juni 2026. Martin mengungkapkan sebagian besar emiten yang diperingkat masih mampu mempertahankan status investment grade, dengan outlook stabil yang tetap mendominasi.
Selama semester I-2026, Divisi NJK 1 Pefindo menerbitkan 111 publikasi peringkat terhadap 58 entitas. Aktivitas tersebut didominasi perusahaan sektor pulp and paper, kehutanan, telekomunikasi, dan pertambangan.
"Dari sebaran peringkat mayoritas berada pada kategori Single A, baik A+, A maupun A-, kemudian disusul oleh kategori Triple A," ujar Martin.
Ia menjelaskan seluruh entitas dalam cakupan Divisi NJK 1 mempertahankan outlook stabil selama semester pertama tahun ini. Tidak terdapat perubahan peringkat maupun revisi outlook, sementara sekitar 60% aksi pemeringkatan berupa afirmasi atau penegasan kembali peringkat yang telah ada dan 26% merupakan peringkat baru.
Kondisi serupa juga terjadi pada Divisi NJK 2 yang menerbitkan 54 publikasi peringkat terhadap 37 entitas, terutama dari sektor konstruksi dan rekayasa, material konstruksi, serta pengembang properti. Mayoritas perusahaan yang diperingkat berada pada kategori A, diikuti Triple B dan Double A, sehingga masih berada dalam kelompok investment grade.
"Dari sisi outlook sendiri mayoritas masih didominasi oleh stable outlook karena tidak terdapat perubahan yang signifikan pada profil kredit selama masa berlaku peringkat," ucap Qorri.
Meski demikian, sepanjang semester I-2026 Pefindo mencatat 11 aksi pemeringkatan yang dipengaruhi tekanan likuiditas, risiko refinancing, perbaikan kondisi keuangan, serta perubahan ekspektasi risiko.
Sejumlah emiten konstruksi mengalami penurunan peringkat maupun revisi outlook akibat tekanan pendanaan, sementara beberapa perusahaan memperoleh kenaikan peringkat setelah berhasil memperbaiki profil keuangan melalui restrukturisasi kewajiban dan peningkatan kinerja operasional.
Investor diminta tetap selektif
Di satu sisi, status investment grade yang masih disandang Indonesia juga tidak otomatis membuat pasar saham semakin menarik bagi investor.
Peneliti Center of Macroeconomics and Finance INDEF, Sia Nawir, mengatakan investor perlu melihat kondisi fundamental ekonomi, konsistensi kebijakan, hingga prospek perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.
Sia menjelaskan peringkat utang Indonesia dari lembaga pemeringkat internasional hanya mencerminkan kemampuan pemerintah memenuhi kewajiban utangnya, bukan jaminan bahwa aliran modal akan deras masuk ke pasar keuangan.
"Indonesia masih berada dalam kategori Investment Grade dari tiga lembaga sovereign credit ratings. Artinya, ketiga lembaga ini masih menilai pemerintah Indonesia memiliki kemampuan dan kemauan yang memadai untuk memenuhi kewajiban utang-utangnya," kata Sia dalam diskusi publik INDEF, Rabu (22/7/2026).
Namun, ia mengingatkan dua dari tiga lembaga pemeringkat, yakni Moody's dan Fitch, masih memberikan outlook negatif. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya risiko dalam satu hingga dua tahun ke depan, meski belum berarti akan terjadi penurunan peringkat.
Menurutnya, investor tidak hanya membaca level utang atau defisit fiskal, tetapi juga arah kebijakan, beban bunga utang, ketahanan eksternal, hingga kemampuan pemerintah meningkatkan penerimaan negara.
Sia menjelaskan terdapat perbedaan mendasar antara creditworthiness dan investability. Creditworthiness mengukur kelayakan kredit suatu negara berdasarkan kemampuan membayar utang, sedangkan investability mencerminkan kemudahan, likuiditas, transparansi, dan efisiensi pasar dalam menerima investasi.
"Negara dapat layak secara kredit, tapi belum tentu memperoleh alokasi besar apabila kursnya volatil, biaya hedging-nya besar, likuiditasnya rendah, dan regulasi sulit diprediksi," jelas Sia.